Ketika Perempuan Saling Menyakiti

on
Senin, 04 Desember 2017

Ketika heboh berita tentang seorang artis yang dilabrak di mall itu, lagi-lagi terlintas pikiran yang muncul berulang-ulang setiap denger cerita tentang kasus ginian.

Kenapa perempuan itu tega sekali? Tidakkah ia membayangkan perasaan istri si lelaki? anak si lelaki? Bukankah sesama perempuan harusnya mengerti dan bisa membayangkan perasaan antara satu sama lainnya?

Ah, jangankan soal kasus begituan, yang mana mereka punya seribu alasan. Ya gimana dong, namanya juga cinta, misalnya. Cih, makan tu cinta.

Bahkan untuk urusan-urusan sepele menyangkut pilihan hidup pun perempuan sering dengan tega saling menyakiti kan?

Ada perempuan lain memutuskan kerja. Kita bilang dia gak amanah sebagai istri dan ibu. Sebaliknya, yang kerja bilang ibu cuma di rumah gak produktif, dll.

Ada perempuan lain gak bisa kasih ASI anaknya, bukannya mendukung eh malah pamer foto freezer penuh ASI dan bilang "aku aja bisa, masa kamu enggak?". Tidakkah kita membayangkan bahwa gak bisa kasih ASI itu menyedihkan sekali? Percayalah, bagi perempuan yang tertatih memberikan ASI untuk anaknya, melihat foto freezer penuh ASI itu bukannya menyemangati malah bikin tambah minder.

Baca juga: Bicara ASI, Bicara Rizki

Jarang banget ya kita lihat kasus ada perempuan kerja kantoran, terus ada laki-laki yang ribet komentar 'Ih istri macam apa itu kok kerja di kantor, anaknya gak diurus' -- mentang-mentang istrinya ibu rumah tangga. Jarang banget. Seringnya yang sibuk komentar ya sesama perempuan.

Padahal kita sendiri sadar, bahwa yang namanya pilihan hidup itu gak bisa diusik. Dan kita sendiri pun gak suka kalo ada orang lain mengusik pilihan hidup kita. Lalu kenapa pula kita hobi mengusik pilihan orang lain?

Begitulah. Kadang tanpa kita sadari, kita perempuan ini sering saling menyakiti.

Tapi gak jarang juga kita perempuan ini hobi menyakiti diri kita sendiri.

Tetangga bisa ganti motor, langsung gak enak makan gak enak tidur. Sibuk mutar otak gimana caranya ganti motor juga. Ada teman pake jilbab dan gamis baru, branded pula, tanpa pikir panjang order juga. Gak mau kalah. Padahal hati kecil teriak-teriak, bahwa itu semua gak sesuai sama kemampuan. Yakin yang kayak gini bikin tersiksa. Iya apa iya?

Atau kita masih sering menyakiti diri sendiri sesederhana: teman kantor bicara nyolot karna lagi PMS, lalu kita kebakaran jilbab dan kepala terasa jadi panas membara? Padahal kalo orang lain nyolot, kitanya emosi, kita gak bakal dapet apa-apa selain jadi tau bahwa kita dan dia gak ada bedanya.

Hmm. Panjang kalau mau diteruskan. Mungkin ini salah satu penyebab kenapa tingkat kebahagiaan perempuan jauh lebih rendah dibanding tingkat kebahagiaan laki-laki, berdasarkan hasil survey BPS tahun 2017 -- seperti yang diceritakan oleh Mbak Nurin Ainistikmalia dalam artikelyang berjudul "Laki-Laki Hidup Lebih Bahagia, Kok Bisa?".

Kalau begitu, jika kita sering merasa gak bahagia, ada baiknya kita introspeksi. Bisa jadi yang salah bukan orang lain. Bukan pula karna hidup kita masih sangat banyak kurang. Bisa jadi, hidup kita gak bahagia karna kita masih sering memubadzirkan pikiran dan lisan kita untuk hal-hal yang seharusnya gak perlu.
5 komentar on "Ketika Perempuan Saling Menyakiti"
  1. good taft bener banget cha :D

    BalasHapus
  2. iya, cerita yang ngelabrak itu kukira cuma ada di tv-tv, ternyata di real life (lambe tu***) juga ada. hahaha, aku baru tau.

    BalasHapus
  3. perihal pilihan hidup orang lain, biasanya kujadikan pelajaran atau refleksi buat kehidupanku. justru ambil banyak cerita dari mereka, lalu dikembalikan lagi ke aku, bagaimanakah denganku

    BalasHapus
  4. "Percayalah, bagi perempuan yang tertatih memberikan ASI untuk anaknya, melihat foto freezer penuh ASI itu bukannya menyemangati malah bikin tambah minder."

    Saya juga sebenarnya nggak ngerti. Maunya memotivasi, tapi kok kadang kalimatnya malah bikin jengkel.
    Makanya, sekarang saya lebih tutup kuping sih. Dan malah jadi enteng beban buat dampingin anak2.

    Nice article :)

    BalasHapus
  5. Untung saya lelaki, tidak pernah ada rasa minder walau saya tidak bisa memberi ASI.
    Atau jika tetangga beli barang mewah, saya tetap biasa-biasa saja. Itulah enaknya jadi bujangan. Tidak ribet.

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)

Signature

Signature