Tentang Sinetron

on
Jumat, 09 November 2012


Akhir-akhir ini saya sedang suka nonton sebuah sinetron di salah satu station tivi swasta di Indonesia. Sinetron klise seperti pada umumnya sinetron2 di Indonesia sih… tentang kisah cinta segitiga, tentang seorang laki-laki yg jatuh cinta pada sahabat masa kecilnya, tentang pemain utama yg mengidap penyakit kronis yg tinggal menunggu waktu kematian… ah, klise sekali bukan?!

Tadinya nggak suka sih… nggak tertarik sama sekali nonton sinetron itu. Mulai tertarik waktu temen2 di kantor pada ngrumpiin sinetron itu, sampe bela-belain nyari synopsis ceritanya dari awal sampe akhir, sama nonton di you tube juga! Oh ya, satu lagi… semakin tertarik nonton soalnya salah satu pemain prianya adalah actor idola saya! *jiiaaahh :D

Cuma, di dua episode ini, saya kok tiba-tiba dibuat termenung oleh beberapa potong percakapannya. Saat dua pemeran utama yang ceritanya sama-sama punya sakit parah, dan saling suka menggumam, “Kalaupun aku harus mati hari ini, bagiku nggak masalah asal aku menghabiskan waktu-waktu terakhirku bersama kamu….” *kurang lebih begitu lah ya!*

Yah, waktu itu aku seketika termenung. Hah? Penting ya? Emang akan punya arti apa menghabiskan waktu terakhir dengan laki-laki yang disukai, setelah raga ditutup tanah lalu dikerubuti berbagai hewan-hewan menjijikkan???

“Tuhan, sekarang aku tak lagi takut pada kematian… karna aku tau Engkau telah mengirimkan seseorang yang cintanya akan selalu menemaniku bahkan sampai aku mati…”

Itu satu lagi kalimat yang bikin aku tercenung. Duh, lagi2… emang bisa bantu apa “cinta” itu saat kita dihadapkan dengan gertakan malaikat penjaga kubur tentang apa yang kita lakukan bersama “cinta” itu?! Peluk2an, cium2an, dll dengan orang yang… ah, saudara bukan, suami apalagi!!!

Trus amal sholih itu letaknya dimana??? Emang mati segampang dan se-enteng itu untuk bisa dilewati hanya dengan hal yang sama sekali nggak penting, bahkan malah penambah siksa di alam sana?! Ini nih yang bikin banyak remaja enteng banget mutusin bunuh diri cuma karna putus cinta!

“duh, pliss deh… itu kan cuma sinetron!!” ada yg berpendapat seperti itu kali ya?!

Trus kalo Cuma sinetron kita nggak perlu peduli tentang seberapa salah kaprah isi “ajaran” di dalamnya gituu?? Mungkin kelihatannya “cuma” sinetron yang nggak berdampak apa-apa dalam watu singkat, tapi perlahan tapi pasti, tontonan2 yang salah akan sukses memporak-porandakan moral saudara2 kita!

Dulu itu di kampong saya anak perempuan ngobrol berdua sama laki-laki yang bukan apa-apanya aja malu setengah mati. Sekarang? Udah mulai 11-12 sama tingkah remaja-remaja sinetron itu!

Jadi inget perkataan seorang kakak di organisasi kampus dulu. “sekarang itu perang tidak lagi dengan mengangkat senjata, tapi dengan pemikiran. Mereka, orang-orang yang ingin merusak kita (islam), akan selalu mencari cara-cara paling ringan dan seringkali nggak kita sadari...”
Heemm… takut sih sebenernya waktu mau nulis ini, mengingat saya sendiri juga belum bener, dan mungkin juga masih banyak terpengaruh hal-hal nggak bener lainnya yang belum saya sadari.

Tapi kalo semua orang harus nunggu bener2 bener *bahasaku kok kacau sih!* untuk menyampaikan kebenaran, pasti nggak akan ada ‘saling mengingatkan dan menasehati’ dong ya??

Yah intinya sih, yang nulis dan yang menyampaikan bukanlah yang paling baik ataupun yang paling benar! Wallahu a’lam Bisshawwab…


Rosa, 09 November 2012

Berharap Semua Perokok Membacanya: “TELAN SAJA ASAPNYA!”



Bicara tentang hak dan kewajiban, kita ini *termasuk saya, pastinya!* seringkali hanya rajin menuntut hak kita terpenuhi, disbanding berusaha memenuhi kewajiban kita. Kita juga sering sekali lupa kalau hak kita itu dibatasi oleh hak orang lain.

Jadi, sepertinya akan menjadi kesalahan yang teramat besar menurut saya jika ada orang yang berteriak, “Ini kan hak Gue!!”, tapi di sisi lain ada hak orang lain yang terampas karenanya.
Duh, mau bicara apa sih saya sebenarnya? Oke, langsung saja lah!

Saya hendak bicara tentang PARA PEROKOK!

Saya marah. Saya tidak suka. Saya benci pada para perokok. Tapi tidak semua perokok saya benci. Saya masih menaruh rasa hormat pada segelintir perokok yang masih punya sedikit rasa tenggang rasa pada orang sekitarnya. Tapi saya amat benci pada para perokok yang tidak tahu diri. Kebal-kebul di sembarang tempat tanpa mau sedikit saja peduli ada orang yang amat tersiksa di dekatnya.

Kebencian saya memuncak, ketika di suatu waktu, di sebuah angkutan umum, ada seorang laki-laki yang sedang asyik menghisap sebatang rokoknya tepat di depan muka saya. Dengan nada sesopan mungkin saya pun berkata, “Maaf pak, asap rokoknya… bisa minta tolong diarahkan ke luar jendela?”

Lalu apa tanggapan dia? Dengan wajah amat menyebalkan dia berkata, “Kalo nggak mau kena asap rokoknya sana nggak usah naek angkutan mbak! Ini kan hak-ku!!”

Sungguh, saat itu ingin sekali rasanya saya berteriak sekeras yang saya bisa, “ANDA BERHAK MEROKOK, TAPI SAYA JUGA BERHAK MENGHIRUP UDARA BERSIH TANPA ASAP ROKOK!!!”

Ah, bagi saya perokok adalah orang terdzalim di dunia! Bagaimana tidak? Ia menyakiti dirinya sendiri dengan amat sadar dan sengaja. Bahkan ia juga menyakiti entah berapa ribu orang yang secara amat terpaksa harus mau menghirup udara penuh ancaman penyakit. Ah, tapi saya tidak peduli tentang itu. Yang jelas, lewat “rumah maya” saya ini, saya ingin mengungkapkan ketidak-sukaan saya, kemarahan saya, dan segala uneg-uneg saya tentang mereka. Dan satu lagi, saya ingin sekali mengatakan pada setiap perokok: “Silahkan merokok, tapi TELAN SAJA ASAPNYA!”. Win-win solution bukan? Anda tetap bisa merokok, dan saya tetap bisa menghirup udara bersih tanpa asap rokok!!

**oh ya, saya objektif. Bapak saya peroko. Dan saya pun mengatakan apa yang telah saya tulis pada beliau langsung *dengan bahasa yang lebih santun, sebagaimana harusnya anak berbicara pada Bapak tentunya!*


Rosa, 09 November 2012

Ini Untukmu :)

on
Jumat, 26 Oktober 2012

Apa kabar, kak? Aku kangen…

Pasti bosen ya denger aku bilang kangen, kangen, kangen… mungkin kadang terkesan klise dan sekedar basa-basi saja…

Hmm… beri tahu aku kata lain yang mampu mendefinisikannya, atau cara yang lebih baik untuk mengungkapkannya… maka aku pasti akan memakainya untuk menyampaikan rasa kangen ini…

Kenapa aku kangen? Apa yang aku kangenin dari kakak? Banyak!

Bukankah kita pernah hidup bagai dua mata koin yang selalu bersisian selama hampir tiga tahun? Mengetahui gerak-gerikmu apapun itu, begitupun juga sebaliknya. Membicarakan obrolan-obrolan ringan, hingga tumpahan berbagai rasa yang memenuhi dada. Bertengkar kecil hingga saling mendiamkan beberapa hari, atau adu mulut saling mempertahankan ego. Aku kangen itu semua.

Aku nggak peduli pada apapun penilaian orang. Tentang mereka yang masih saja ada yang menganggap perasaan sayangku adalah murni sayang pada sahabat adalah ketidakmungkinan, aku tak lagi peduli. Semoga juga nggak aka nada lagi wanita-wanita terdekatmu yang menganggapku saingan, atau bahkan ancaman, seperti beberapa tahun lalu ;)

Ehmm, tapi mungkin aku tau salah satu sebab kenapa kamu akan selalu penting untukku. Karna kamu adalah orang yang pernah menjadi saksi sekaligus pengisi satu tahapan proses pendewasaanku yang, kalau hari ini akuinget pun rasanya “nggak banget!”. Tahapan dimana seorang rosa hanya mengandalkan air mata sebagai tameng untuk menghadapi apapun yang menerpanya. Kenapa kamu akan selalu penting untukku? Karna kamu tahu, betapa aku berterimakasih untuk kesabaranmu menghadapiku saat itu J

Aku rindu kak… rindu punya beberapa menit waktu untuk sekedar ngobrol ringan seperti dulu bersamamu. Ah, tapi aku sudah sangat tahu tentang segala sesuatu yang tak bisa lagi sama seperti dulu. Ya, pada akhirnya kita memang harus berjalan di jalan kita masing-masing, lalu merajut lembar-lembar baru bersama orang-orang baru pula. **apa kamu tahu? Lucunya, aku kadang cemburu. Cemburu karna aku tak lagi jadi orang yang tahu segala sesuatu tentangmu. Tapi, never mind… itu hanya pikiran angin lalu!

Semoga, saat suatu hari kita punya waktu untuk berbincang hangat seperti dulu… kamu akan melihatku sebagai rosa yang tak lagi sama seperti dulu.

Semoga kini aku benar-benar tahu…

Bahwa hidup tak hanya sekedar menangis saat sakit, tapi bagaimana kita bisa bangkit setelah kesakitan itu

Bahwa hidup bukan sekedar bagaimana merancang apa yang kita inginkan, tapi bagaimana kita berusaha untuk bisa menggapainya, dan mengikhlaskan apa-apa yang pada akhirnya memang tak menjadi ‘jatah’ kita

Meski tetap saja, adakalanya saat badai terasa begitu kencang hingga membuatku hendak jatuh dan luruh, aku akan berhenti, tersedu… sembari menunggu badai itu reda, lalu bangkit lagi dengan dada yang lebih lega…



Rosa,
21 Oktober 2012

Balada menantu Wanita vs Ibu Mertua

on
Selasa, 09 Oktober 2012
Perasaan saya jadi bak gado-gado menanggapi fenomena ini. Sebelah hati heran dan tidak habis pikir. Sebelahnya lagi amat miris. Ya miris. Karna suatu saat insyaallah saya juga aka nada di situasi seperti itu.
Entah sudah berapa ratus kisah yang saya dengar tentang adanya konflik antara menantu wanita dan ibu mertua. Dari konflik yang tersembunyi, hingga perang terbuka yang kemudian jadi rahasia umum. Sedangkan kisah sebaliknya, yaitu “persahabatan” antara keduanya, jujur saja baru satu kisah saja yang saya lihat langsung. Hmm… jadi saya kira nggak berlebihan kan ya kalau saya mengibaratkannya dengan 1:1000 ??!!

Kisah yang pernah saya dengar juga beraneka rupa. Ada menantu yang amat baik dan menganggap ibu mertuanya seperti ibunya sendiri, tapi teteeeppp aja terlihat buruk di mata ibu mertuanya. Ada juga yang sebaliknya. Sang ibu mertua sudah amat berusaha nggak membedakan antara anak menantu dan anak kandungnya, tapi teteeeppp aja ada kurangnya di mata menantu. Yang lebih parah sih ada juga yang dua-duanya nggak pernah ada itikad untuk baikan. Jadi serasa ngelihat “persaingan” tingkat dewa gitu. (emang persaingan tingkat dewa yang kaya’ apa yah?)

Bagi saya yang belum pernah memerankan langsung salah satu dari dua peran tersebut, terasa amat mengherankan bagi saya melihat fenomena ini. Kenapa hampir selalu seperti itu? Kenapa nggak saling berdamai aja dengan ego masing-masing biar keadaan jadi lebih baik?

Nggak sesederhana itu!!” sergah seseorang yang sudah memerankan salah satu peran tersebut.

Saya jadi penasaran. Apa sih sebenarnya sebabnya? Apa karna fenomena itu sudah menjadi mitos yang amat mengakar, lalu mampu menyugesti pikiran orang-orang hingga akhirnya ada di situasi seperti itu? Satu sebab yang pernah saya baca entah di artikel apa (lupa!) sih katanya: seorang ibu dari seorang anak lelaki, konon merasa amat “cemburu”. Anak lelakinya yang sejak bayi ia rawat, ia layani apapun keperluannya, dan lain-lain dan lain-lain, tiba-tiba harus ia “ikhlaskan” untuk di urus wanita lain. Jadi katanya ada semacam ketakutan. “jangan-jangan wanita itu akan menggeser posisiku di hati anak lelakiku!

Dan dari sisi menantu wanita, perasaan cemburu itu pula yang memicunya. Kan seorang istri harus mengutamakan suami, tapi suami harus mengutamakan ibunya (bukan istrinya) kan yah? Nah, bisa jadi itu jadi salah satu pemicu. Tapi ada ribuan alasan lain sih. Itu Cuma satu diantaranya.

Hmm… jadi mikir, kita (para lajang wanita), umumnya hanya berdoa “ya Allah, anugrahkan-lah padaki seorang suami sholih, yang bisa menjadi sahabat bagi urusan dunia maupun akhiratku…,” tapi sering lupa (bahkan nggak kepikiran) untuk doa “ya Allah, anugrahkanlah padaku seorang mertua yang baik, yang bisa menyayangiku sebagai menantu dengan tulus….” Iya kan?! :D

Intinya sih, nikah memang nggak mudah (meski selalu dinanti kedatangan waktunya). Jadi harusnya nggak perlu galau ya nunggu waktunya tiba? Banyak bangeeettt yang harus dipelajari dengan amat sungguh-sungguh. Termasuk, belajar berdamai dengan ego, dan pandai-pandai menempatkan diri di posisi dengan hak dan kewajiban yang pas dan seimbang.

Oke okee… sekian ya…

Bagi yang punya kisah tentang persahabatan menantu wanita dan ibu mertua, komen doooong…. Buat penyeimbang!
Bagi yang tau apa alasan perseteruan tiada akhir antara mereka berdua juga komen dooong…. Biar saya bisa belajar! Hehe…
Terimakasih semuanyaaa… :*

Rosa,
08 Oktober 2012

Yang ini memalukan!



“Kesalehan seseorang tidak bisa dinilai sekedar dari mulut atau penampilannya saja,” begitu kira-kira quote dari salah satu novel favorit saya, karya Tere Liye. Dan saya setuju. Karna apa? Karna saya melihat kebenaran dari kalimat itu, bahkan dari diri saya sendiri.

Saya ini pinter ngomong macem-macem. Sering sekali menasehati teman yang sedang curhat, seolah saya sudah pinter dan sering mengamalkan apa yang saya nasehatkan. Padahal kenyataannya? Nol besar. Omong kosong. Saya lebih sering hanya bisa menasehatkan, tapi amat kepayahan untuk mengamalkan. Duh, padahal di Al-qur’an tertulis jelas tentang ancaman untuk orang yang bicara  tapi tidak mengamalkan kan yah?! T.T

Salah satu contohnya, *yang saat ini sedang saya rasakan* adalah soal syukur. Rasa-rasanya saya sering nasehati sahabat saya yang hobi galau (baca: isty) tentang itu. Tapi saya sendiri, coba lihat? Hamper nggak pernah melewati hari tanpa keluhan. Selalu merasa ada yang kurang dari hari-hari dan hidupku, selalu berharap lebih untuk apapun yang saat ini ada dalam genggaman. Duh, Allah… sebegitu menjijikannya-kah akhlak saya?? Hingga mata saya seolah tertutupi oleh begitu pekatnya ribuan titik hitam dosa untuk bisa melihat betapa sebenarnya Allah selalu dan selalu member apapun yang saya butuhkan. Sebegitu bodoh-kah saya, hingga saya seperti tak punya kemampuan untuk berucap “Segala puji hanya bagiMU, Rabb…” dari hati yang paling dalam, dari kejujuran yang paling jernih.

Ahh, apalgi di saat-saat seperti ini… detik-detik menjelang kedatangan tami rutin (bukan hal tabu kan ya?!). entah tersugesti oleh anggapan tentang pengaruh perubahan hormon wanita yang cenderung menjadi lebih sensitive saat menjelang menstruasi, atau bagaimana… saya kok jadi seolah sangat punya hak untuk selalu emosi, uring-uringan, menganggap ini-itu salah, dia-mereka menyebalkan, dan sebagainya dan sebagainya. Hmm… kalau dipikir-pikir, memangnya dalam tiga minggu masa suci saya, ada berapa gelintir amal sholeh yang saya cetak, hingga berani-beraninya melakukan “dosa rutin” seperti itu?! Astaghfirullah… astaghfirullah…

Yah, saya nggak punya tujuan apapun dari tulisan ini. Ini kan “rumah” saya kan ya? Jadi boleh kan saya mengeluarkan uneg-uneg bahkan yang amat memalukan ini. Emm, oh ya… tapi sepertinya saya harus memberi pesan seperti di tayangan-tayangan kekerasan di acara berita televisi: JANGAN DITIRU!!


Rumahku,
07 Oktober 2012

Signature

Signature