Jumat, 21 Maret 2014

Karna Kita Hidup Dalam Realita

Saya akan mengawali tulisan saya kali ini dengan sepenggal ‘kisah hidup’ kakak saya.
Kakak laki-laki saya – sebut saja Mas Acunx, dan kakak ipar saya – Mbak Lily, tadinya bekerja dalam satu kantor – di Purworejo. Garis takdir akhirnya mengatakan bahwa mereka berjodoh, lalu menikah dengan tenggat waktu yang tidak begitu lama dari saat pertama kali kenal. Tapi seperti kebanyakan lembaga lain, kebijakan kantor mengatakan mereka harus ‘dipisah’ jika menikah dengan teman satu kantor. Maka, Mas Acunx akhirnya dipindah ke cabang lain yang ada di Purwokerto – tepat saat Mbak Lily tengah hamil tua.

Ehm, mari saya sederhanakan. Jadi, Mas Acunx asli Jepara. Mbak Lily asli Pati. Mereka bertemu di Purworejo, lalu menikah. Setelah menikah Mas Acunx dipindah ke Purwokerto. Jadilah Mbak Lily harus hidup ‘sebatang kara’ di Purworejo. Jauh dari suami, pun dari keluarga. Sementara Mas Acunx pulang seminggu sekali ke Purworejo. See? Sampai sini saja rasanya saya sesak jika membayangkan.

Kini mereka telah dikaruniai seorang jagoan kecil berumur 18 bulan bernama Danish Maula Arfian. Dan situasi kadang menjadi cukup pelik rasanya bagi Mbak Lily. Jika sewaktu-waktu Danish kurang sehat atau rewel, belum lagi saat badan sendiri rasanya kurang fit, tentu kehadiran suami secara fisik amat dibutuhkan. Apalagi, belum lama ini asisten rumah tangga yang biasa ‘momong’ Danish berhenti mendadak karna sakit cukup serius. 

Ah, kalau Mbak Lily ditanya, jika boleh memilih tentu saja mungkin ia akan memilih memiliki keluarga ‘ideal’. Tinggal satu atap dengan suami, dekat dengan keluarga, bisa mengasuh Danish sendiri sepenuhnya, dll. Tapi apa? Inilah hidup. Sayangnya kita tengah hidup dalam realita yang seringkali tak selalu sesuai dengan apa yang kita rancang, angan-angankan, serta impikan. Hidup selalu punya misterinya sendiri. Kita juga tidak tengah hidup dalam cerita novel yang jika saat ini kita tengah sampai pada bagian yang amat menyesakkan, maka beberapa lembar berikutnya kita pasti sampai pada bagian yang amat melegakan. Tidak. Realita seringkali mempertemukan kita dengan serangkaian hal-hal menyesakkan yang silih berganti, bahkan terkadang saling tumpang tindih.

Tapi beruntungnya, kita diberi dua senjata yang akan bisa membuat dada kita tetap lapang ditengah situasi semenyesakkan apapun. Apalagi kalau bukan sabar dan syukur. Dua kata yang sederhana sekali dikatakan, namun pelik sekali untuk diaplikasikan.

Ya, dari keluarga kakak saya, saya belajar banyak. Bahwa hidup saya esok – yang sudah saya rancang dengan begitu manisnya, tentu saja sangat mungkin untuk tak berjalan sama persis seperti itu. Punya suami sholih, kaya raya, pengertian, anak-anak yang sehat, pintar dan berbakti, dll… siapa yang tidak mau?

Tapi apa hal tersebut tidak mungkin? Tentu saja mungkin! Apa yang tidak mungkin jika Allah menghendaki hal tersebut terjadi? Saya pun mengenal orang yang kehidupannya tampak mat sempurna di mata kebanyakan manusia. Iri? Sebagai manusia manusiawi rasa itu terkadang ada. Tapi lantas apa? Iri toh tidak serta merta membuat hidup kita menjelma menjadi seperti yang kita inginkan. Oh ya, tapi iri tak selalu negative bukan? Boleh iri, tapi transformasikan menjadi iri positif yang memacu kita untuk memperbaiki ikhtiar-ikhtiar kita.

Jadi, saya akan tetap bermimpi, berdoa, lalu meyakini sepenuh hati – karna saya percaya bahwa Tuhan saya sesuai dengan yang saya sangkakan. Tapi saya juga tidak boleh lupa, bahwa tetap ada Dzat yang Maha Menentukan segala sesuatunya. Bukankah apa yang kita kira baik, belum tentu benar-benar baik untuk kita? Dan bukankah kita tidak bisa dikatakan beriman jika kita belum diuji?

Ya, karna iman setengahnya adalah sabar, setengahnya lagi adalah syukur. Bersabar saat kondisi jauh dari yang diangankan, lalu bersyukur atas apapun yang ada di hadapan. Maka, semoga dada kita akan menjadi lapang. Aamiin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)