Jumat, 22 Agustus 2014

Ahmad Nasikun: From Zero To Hero

Beberapa hari lalu saat blogwalking secara acak, nggak sengaja nyasar ke blog milik salah satu kakak kelas saya di SMP dulu. Seneng, kagum, geleng-geleng kepala… campur-campur saat itu rasanya. Kenapa? Ini cerita singkatnya.

Namanya Ahmad Nasikun. Putra asli Jepara – tepatnya desa Plajan. Saya juga bener-bener baru tau kalo beliaunya berasal dari desa Plajan setelah baca blognya. Kebetulan saya sudah pernah ke desa itu. Jauuhhh lah kalo dari pusat kota Jeparanya – kalo nggak mau dibilang terpencil (11-12 sama desa saya sih kalo soal terpencilnya, haha). Oh ya, di desa Plajan juga tempat asal dari World Peace Gong yang sering dibawa ke mana-mana itu. Di lokasi Monumen Gong perdamaian dunia itu juga ada kumpulan tanah dari Negara-negara sedunia, loh.

Emm, oke, kembali ke soal Mas Nasikun. Yang bikin saya jadi penasaran adalah: beliau berasal dari Desa Plajan. Trus kok SMP-nya di SMP negeri 1 Pecangaan, ya? Fyi, jauuhh bangettt lho itu. Oke, lupakan soal itu.

Saat saya duduk di kelas 1, Mas Nasikun duduk di kelas 3. Namanya sering disebut-sebut oleh guru saat tengah memberikan selingan motivasi ditengah jam pelajaran. Anak orang kurang mampu, orangnya ceking, pendiam, kalo bicara agak gagap, tapi luar biasa pintar -- begitu garis besar cerita para guru. Penasaran banget waktu itu. Hingga akhirnya saya bisa melihat sosoknya secara langsung meskipun dari jauh adalah saat test semester. Kami seruangan waktu itu. Kesan saya? "Masa' sih Mas itu pintar?!"

Tapi waktu akhirnya membuktikan segalanya. Saat kelulusannya, SMP kami dibuat 'heboh' oleh berita diterimanya beliau di SMA yang konon keren banget -- di Kota Semarang. Dengan beasiswa tentunya. Sampe di situ, saya nggak banyak dengar cerita lagi tentang beliau. Hingga saya menemukan blognya, dan jadi tau cerita luar biasa tentang hidupnya yang saya lewatkan. Ternyata kini ia tengah melanjutkan sekolah di Korea. Saat SMA dia juga sempat ke Amerika. Saya terperangah membaca deretan pencapaian luar biasanya.

dr blog Mas Nasikun
  1. 1st rank of Dept. of Electrical Engineering and Information Technliogy student with 3.92 GPA (2nd in Fac. of Engineering, Top 10 in UGM) on February 2012 Graduation (2012)
  2. 1st rank in Best Student (Mahasiswa Berprestasi) Competition of Universitas Gadjah Mada (2010).
  3. 1st rank in the class from 1st year of Elementary School to 3rd year of High Scholi (1994-2007)
  4. Recipient of Rector Award during 62nd Anniversary (Dies Natalis) of Universitas gadjah Mada for University Networking Support (2012).
  5. Participant of Students Exchange Program to Daejeon University held by ASEAN University Networks (AUN) and Republic of Korea (2009).
  6. Best Paper Award in WCOMLIS (World Congress of Muslim Librarians and Scientists) 2011 in IIUM (International Islamic University Malaysia), Malaysia, 2011
  7. Participant of Student World Forum (SWF 2011) in Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand organized by Academic Consortium 21 (AC21) (2012).
  8. Bronze Winner in International Category of English Essay Writing held by Korea Times (2010).
  9. Recipient of Student Research Grant from PPKB UGM for Web-based application research on Insect Identification for Entomliogy Students Group (2011).
  10. Recipient of KGSP (Korean Government Scholarship Program) for Korean Language and Master Degree in South Korea (2012-2015).

Lalu saya merinding baca tulisannya yang berjudul 'Hidup Adalah Anugrah'

Teringat kembali masa dimana saat masih berseragam putih-merah dulu setiap pagi buta kami menyingsing fajar menuju sekolah kami tercinta. Sekolah di pojokan desa yang lebih sering kami gunakan sebagai tempat bermain kasti dan kelereng dibandingkan dengan mempelajari Geografi. Tak terasa satu setengah windu telah terlewat dan kini saya bisa bangun di negeri bersalju, dimanjakan oleh musim dingin yang membuat matahari lebih malas bangun, salah satu negeri dengan transformasi ekonomi tercepat di penjuru planet ini.
Betapa indahnya ketika jiwa ini diberikan karunia untuk bisa merasakan sendiri betapa kerja keras dan sifat pantang menyerah akan selalu diberikan-Nya hadiah terbaik, jauh lebih baik dibandingkan dengan apa yang kita harapkan. Saat dulu hendak meninggalkan bangku sekolah demi membantu ekonomi orang tua, kini saya hati saya bisa merasa tentram melihat senyum di wajah penuh keletihan beliau yang penuh kebanggaan membicarakan dimana anaknya sekarang belajar. Ketika dulu selama 12 tahun tidak pernah keluar dari desa bernama Plajan, berkat kemurahan-Nya, Tomyam di Siam Paragon Bangkok bisa masuk ke lambung; kaki yang dulu hanya terbiasa dengan tanah sawah pun bisa merasakan dinginnya udara di sekitar The Mall, Washington D.C. saat musim dingin; hingga sekarang ketika banyak kawan hanya bisa menonton Boys Before Flowers, saya bisa menikmat belajar bahasa Korea di kampus tempat drama tersebut dibuat.
Seketika itu muncul kata 'From Zero To Hero'. Ya, Mas Nasikun yang tadinya 'bukan siapa-siapa' -- nggak lebih dari anak kampung yang mungkin secara hitungan matematis akan begitu-begitu saja hidupnya, telah menjemput takdir baiknya. Takdir yang pasti nggak datang serta merta begitu saja, tapi ia perjuangkan dengan sepenuh upaya dan bongkah-bongkah doa. Saya jadi ingat kata-kata Mas Assad dalam buku 'Notes From Qatar' yang baru semalam saya tamatkan. Ia berkata bahwa manusia sebenernya punya kemampuan untuk menembus batas-batas limit yang ditentukan oleh kebanyakan orang. Tergantung seberapa kuat manusia itu yakin dan seberapa keras perjuangannya. Dan saya melihat bukti nyata atas kalimat itu dalam sosok Mas Nasikun.

Lalu saya malu pada diri saya sendiri. Saya masih disini-sini saja, belum kemana-mana. Apa pencapaian luar biasa yang sudah saya buat selama 20 tahun lebih ada di dunia? Belum ada. Apa karna saya tidak pintar? Atau karna saya nggak bisa? Bukan! Saya tau itu semata-mat karna saya nggak pernah benar-benar berjuang untuk itu.

Seperti kata Mas Nasikun dalam tulisannya yang berjudul Bersungguh-Sungguh dalam Hidup berikut ini:

Salah satu jurang pemisah antara kondisi kita sekarang dan keberhasilan yang seharusnya bisa kita raih sekarang adalah perbedaan jarak antara rencana dan eksekusi tersebut. Kita sering punya rencana, tetapi tidak sanggup mengeksekusi, dengan segala alibi kita. Konsekuensinya jelas: kita tidak bisa ke tempat yang seharusnya bisa kita capai. Semakin jauh jarak tersebut, maka makin lebar pula jarak kita dengan impian kita.
Begitulah cara kita menjemput kesempatan: kita “layakkan diri” untuk capaian yang kita harapkan. Ketika kita senantiasa bersungguh-sungguh dan konsisten atas apa yang kita kerjakan, maka berbagai kesempatan besar akan menjemput kita di masa depan. Setelah melalui proses yang benar dalam kerja-kerja keras itu, maka hasil yang sesuai, nan layak kita terima, yang pantas dengan kapasitas diri kita, akan datang.
Yup, fix! Saya semakin tau bahwa ternyata selama ini saya masih sangat-sangat-sangat belum sungguh-sungguh berusaha mencapai apa yang saya impikan. Doa saya untuk Mas Nasikun, semoga beliau tetap istiqomah dalam kebaikan dan ada dalam jalan yang lurus. Hingga suatu hari, ia akan menjadi salah satu sosok bersinar yang membawa Indonesia menjadi negeri yang jauh lebih cemerlang dari hari ini. Aamiin.

6 komentar:

  1. Bannernya membelakangi para pengunjung ya. Sebelum nya saya mohon maaf kalau berkomentar header atau bannernya. TIdak sopan membelakangi para pembaca atau pengunjung dengan menampilkan banner seperti itu. Jika wajah tidak ingin diketahui bisa diambil atau dipasang gaya apa saja asal wajah tidak terlihat. Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih pak masukannya. Nanti saya belajar design blog dulu ya supaya lebih menarik tampilannya :)

      Hapus
  2. Hebat ya Mas Nasikun
    Semoga selalu menjadi pribadi yang rendah hati dengan semua hal yang telah diraih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak... keren banget. Satu almamater juga sama pakbudh ya berarti ;)

      Aamiin...

      Hapus
  3. Saya secara pribadi salut pada mas nasikun.

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)