Jumat, 01 Agustus 2014

Ketika Ucapan Maaf Sekedar Formalitas

Beberapa hari menjelang lebaran saya membaca tweet dan tulisan salah satu penulis novel terkenal. Dia mengungkapkan betapa dia rindu romantisme mendapat ucapan selamat lebaran melalui kartu yang dikirim khusus untuknya. Melalui kerinduan itu, ia membuat sendiri beberapa kartu lebaran, lalu ia kirimkan ke beberapa sahabatnya.

Saat itu saya belum benar-benar paham. Ah, hanya soal ucapan. Sebegitu melibatkan perasaan kah??

Tapi kini saya paham. Sangat paham. Setelah beberapa hari lalu, saat lebaran tiba, hape saya digempur serbuan broadcast dari teman-teman berupa ucapan selamat lebaran dan permohonan maaf lahir batin. Ya Allah... Saya tiba-tiba merasakan kehilangan yang amat menyesakkan.

Dulu, moment lebaran adalah saatnya saling menyapa dengan teman-teman yang biasanya tidak intens komunikasi. Saat kembali saling menyapa dengan teman yang tadinya tak lagi saling sapa. Ya, meskipun sama saja melalui pesan elektronik, setidaknya masih ada sapaan di sana. 'Sa, Cha, Mbak, Dek, dll'. Sekarang? Saya hanya menerima dua atau tiga yang ada sisipan sapaannya. Dan, Wow... Betapa buncah saat membacanya.

Meminta maaf lewat broadcast? Dingin sekali rasanya. Nggak ada hangat sapaan. Entahlah. Apa saya yang terlalu su'udzon?! Tapi saya merasa gempuran BC itu tak lebih hanya semacam formalitas. Jangan-jangan saat mengirim BC permintaan maaf kita bahkan nggak bener-bener sadar siapa saja yang kita kirimi? Ah, entahlah. Tapi sungguh saya merasa kehilangan. Hampa. Bilang saya lebay, tapi saya bahkan menitikkan air mata untuk perkara ini.

Tidak. Sungguh saya tidak sedang nyinyir pada para pengirim BC. Saya hanya tengah mengungkapkan sesaknya kehilangan saya.

Saya lalu teringat tulisan Alit Susanto dan Faris BQ. Tentang betapa mereka merasa hampa di tengah hiruk pikuk manusia yang lebih sibuk dengan gadgetnya. Hampa di tengah dunia maya yang semakin semarak. Ya, dan sekarang saya merasakan itu. Merasakan kehampaan itu.

4 komentar:

  1. bagi saya sms BC sebagai ganti jika belum sempat berjabat erat. Jika ada momen berjabat erat perlu dilakukan. salam silaturrahim

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yg saya sedih, yg kirim BC adalah orang2 yg sepetinya gak mungkin utk bs ketemu dan berjabat tangan mas :((

      Hapus
    2. semoga kelak bisa berjabat erat mbak.

      Hapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)