Kamis, 21 Agustus 2014

Luka Yang Menyembuhkan Luka


Dua malam terakhir ini, saya mendengarkan lagu tersebut – entah berapa puluh kali. Di malam pertama saya kembali mendengarkannya setelah beberapa lama sengaja menghindari lagu ini… emm, oke… perih. Ya, akhirnya saya merasa harus jujur pada diri saya sendiri, bahwa saya tidak benar-benar baik saja. Emm, tidak… saya baik-baik saja. Mungkin lebih tepatnya saya harus mengakui bahwa saya tidak sebaik-baik saja seperti yang selalu berusaha saya tunjukkan pada sahabat-sahabat saya.

Meski perih, saya justru memutuskan untuk terus mengulang-ulang lagu tersebut. Karna saya ingin membuktikan pada diri sendiri, bahwa rasa sakit bukan untuk dihindari. Bahwa rasa sakit harus tetap dihadapi. Bahwa rasa sakit seringkali justru menjadi obat bagi rasa sakit itu sendiri. Apa orang-orang bilang? Katarsis, ya?

Dan benar saja. Entah diputaran keberapa, saya mulai bisa menikmati lagu itu lagi – meski belum sama persis seperti saat pertama kali saya tau lagu ini. Ah, oke, tidak perlu diratapi. Saya menyebut ini sebagai konsekuensi hidup – dimana kita harus siap menghadapi setiap konsekuensi dari keputusan-keputusan kita. Sepahit apapun yang saya telan hari ini, semoga menjadi ‘obat’ terbaik di masa depan.

Ya, mungkin saya memang tidak benar-benar baik-baik saja. Tapi setidaknya saya tetap yakin mampu melewatnya dengan baik. Setidaknya saya tetap yakin bahwa Allah membersamai saya melalui banyak sekali orang baik yang Ia pinjamkan untuk saya.

Dan akhirnya, se-menikmati apapun saya mendengarkan lagu Marry Your Daughter ini, tetap saja tak sedikitpun mampu mengalahkan syahdu dan amat leganya mendengar suara Ustadz Yusuf Mansur membaca Surah Al-Mu’minun : )

2 komentar:

  1. Ini memang sering dialami oleh banyak orang. Setiap dari diri kita tentu memiliki pengalaman masa lalu yang bisa saja baik menyenangkan ataupun pengalaman yang menyakitkan. Setiap orang punya masa lalu nya masing masing. Kadang dengan mengingat kejadian yang menyakitkan bisa menjadi "obat" dari rasa sakit diri ini. Sakit secara jiwa bukan sakit secara fiisik. Banyak mendengarkan Siraman Rohani, banyak banyak dekat keapda Allah SWT Insya Allah hati akan tentram

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)