Selasa, 12 Agustus 2014

Surat Terbuka Untuk Sahabatku :)

Dear, Sahabatku...

Kita barusan ketemu, ya... dan aku tiba-tiba ingin menulis surat ini buat kamu. Kenapa? Karna aku nggak pernah merasa mampu ngomong langsung. Aku cukup sadar diri kemampuan komunikasi verbalku saat berbicara kualitasnya ada di bawah saat aku mengkomunikasikannya melalui tulisan. Yang perlu kamu tau saat membaca surat terbuka ini, aku harap kamu tau motivasi terbesarku adalah perasaan sayangku sebagai sahabat. Mungkin aku akan mengungkapkan perasaan serta pikiranku secara gamblang tentangmu di sini. Sesuatu yang -sekali lagi - nggak pernah mampu aku omongin langsung. Jadi, jika ada kalimat yang nanti sedikit terasa menukik, tolong sediakan dada yang lapang dan maaf yang luas buatku. Ah, tapi aku cukup kenal kamu. Aku tau kamu bukan tipe orang yang mudah marah :))

Sahabat, beberapa bulan terakhir ini pikiranku cukup sering terusik olehmu. Jujur aku sedih melihat 'hidupmu' saat ini. Hidupmu cenderung stagnan. Kalo diumpamakan tumbuh kembang anak-anak, pertumbuhanmu lambat sekali. Aku tau karna apa. Karna kamu ada di zona nyaman -- teramat nyaman malah. Padahal, there is no growth in the comfort zone, kan?

Aku tau, sahabat... zona nyaman itu berat sekali untuk ditinggalkan. Banyak orang yang menginginkan, nggak terkecuali aku. Tapi zona nyaman yang kamu punya sudah sangat nggak sehat - menurutku. Kata banyak orang, hidup adalah perjuangan. Sedang kamu (setauku) hampir nggak pernah tampak berusaha keras memperjuangkan sesuatu. Hidup dimulai dari mimpi - kata banyak orang-orang keren di luar sana. Sedangkan kamu nggak terlihat punya mimpi yang membuat kakimu tegak berlari mengejarnya.

Kamu tau, aku pernah menaruh iri padamu. Betapa hidupmu terasa tanpa riak. Kamu punya keluarga yang amat tentram, berkecukupan, dll. Di mataku dulu, hidupmu seperti di surga. Yang aku tau, kamu hampir selalu mendapatkan apa yang kamu mau tanpa terlebih dahulu berusaha. Contoh kecil, hape, sepatu, baju, dll. Sedang aku? Untuk punya hape yang agak 'layak', aku harus menunggu hingga mampu menghasilkan uang sendiri. Ah, apalagi baju. Aku tau, kamu pasti kadang heran sama aku. Bajuku itu-itu saja, kamu mungkin sampai hafal baju mana saja yang aku pakai. Kamu tau, aku pernah pulang dari rumahmu dengan pikiran tak karuan dan mata yang hampir menangis. Gara-gara saat itu kamu menunjukkan padaku beberapa bajumu yang belum sekalipun kamu pakai sejak membelinya. Saat itu aku merasa kamu keterlaluan -- amat tidak menghargai uang. Sedang kamu tau, sayang... di luar sana masih banyak sekali yang menganggap uang lima ribu rupiah setara dengan makanan sehari. Kamu punya orangtua dan sanak saudara yang tak pernah sungkan 'menyokong' keuanganmu - hingga kamu mungkin tak pernah merasakan tak punya selembarpun uang di dompet. Aku? Jangan ditanya - sering. Orangtuaku nggak pernah memberiku 'uang jajan' cuma-cuma. Waktu kost, ya uang sakuku estimasi 3x makan untuk lima hari, plus ongkos angkot - itu saja. Jadi bagaimana bisa aku beli barang-barang di Citra Land, dll?!

Tapi kini tidak lagi, karna aku punya sudut pandang yang juga tak lagi sama. Alhamdulillah, kini aku justru amat bersyukur dengan hidupku yang penuh riak gelombang, serta serba prihatin dalam hal keuangan. Karna dengan begitu aku jadi merasa lebih mengenal warna-warni dunia. Aku lebih bisa menghargai uang. Aku jadi sangat paham bahwa tidak semua yang aku inginkan harus aku punya. Aku jadi tau bahwa saat ingin mendapatkan sesuatu, maka aku harus mengusahakannya sendiri. Yang paling utama, aku punya kaki yang lebih tegak dan kepal tangan yang lebih erat tergenggam untuk memperbaiki hidupku (mungkin ini dari segi finansial).

Tentu saja aku tau sahabat, hidupku belum seberapa baik untuk dijadikan teladan. Tapi untukmu, mungkin sudah cukup untuk dijadikan bahan pembelajaran di tahap awal. Tentu saja aku tau, hidupmu nggak sepenuhnya baik-baik saja. Setidaknya apa yang aku ulas tentu saja hanya sebatas pengetahuanku tentangmu yang pasti masih sangat minim. Peristiwa kehilangan beberapa saat lalu, sama sekali nggak pernah aku anggap cobaan remeh buatmu. Tapi kamu nggak harus terus-terusan 'bersantai' dengan alasan melipur lara, bukan?

Sahabatku sayang, melalui tulisan ini aku cuma pengen lihat kamu jadi punya mimpi. Punya visi. Hidupmu nggak boleh cuma seperti air mengalir. Jangan lupa, air mengalir itu dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, kan? Aku pengen ketika ketemu kamu, kamu berapi-api meceritakan cita-cita dan keinginanmu tentang masa depan. Bukan sekedar mendengarkan kamu berceloteh tentang sepatu sekian ratus ribu yang kamu pengen, model baju terbaru yang kamu suka, tempat-tempat menarik yang pengen kamu kunjungi, dll. Aku pengen kita bisa berdiskusi hangat tentang mimpi-mimpi masa depan dan saling menguatkan langkah untuk menggapai mimpi kita masing-masing. Ingat, hidup ini perjuangan, sayang...

Sahabatku sayang... sekali lagi, semoga kamu tau aku menulis ini semata karna aku sungguh menyayangimu, dan ingin melihatmu menjadi sosok yang lebih mempesona. Sungguh, aku tak ingin melihatmu semakin terlihat 'kosong' karna bagai berjalan tanpa tujuan.

Sekian, semoga kamu berkenan.

Peluk sayang,

Rosa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)