Jumat, 07 Agustus 2015

Tentang Hubungan Menantu Dan Ibu Mertua (Lagi)

Dua hari lalu saya dicurhati sama seorang ibu, tentang sikap menantu wanitanya. Hihi. FYI, beliau masih punya dua anak laki-laki yang belum menikah loh! *Sooo???* *apa hubungannya cobaaakk?!!* *Abaikan!!* Ahahaha.

Oke, kembali ke cerita. Beliau bercerita tentang sikap anak menantu perempuannya yang sering sekali bersikap nggak sepantasnya -- gak cuma sama beliau sang ibu mertua, bahkan sama suaminya sendiri (anak laki-laki si ibu) pun mbaknya sering kebangetan. Emm, saya gak cuma semata percaya sama cerita si ibu lho, yaa... saya beberapa kali melihat dan mendengar pake mata dan telinga sendiri. (Eits, tapi mereka yang saya ceritakan ini bukan termasuk keluarga saya, ya. Ga perlu saya sebut siapa, yang jelas saya 'dekat' dengan mereka secara fisik). Saya miris, sih. Lagi-lagi jadi inget tulisan saya yang ini. Soalnya, yang saya tahu sanga ibu mertua itu sama sekali bukan tipe ibu mertua yang 'ceriwis' dan yang suka menyalahkan ini-itu. Tentang sikapnya ke sang suami apalagi... makin miriiiissss. Setahu saya sih hal itu dipacu karna kesenjangan pendapatan -- mbaknya punya pendapat lebih 'pasti' dibanding sang suami. Ah, tapi yasudahlah. Saya ga mau nge-judge macem-macem. Saya gak bener-bener tahu apa yang terjadi.

Cuma saya jadi bertanya-tanya. Nanti saya ini bakal jadi menantu yang kayak apa, ya. Kalo dipikir, berbakti sama ibu kandung sendiri yang jelas-jelas 'mengantarkan' kita ke dunia aja kadang beraaatttt banget rasanya. Iya gak, sih? Apalagi berbakti ke ibu yang baru beberapa saat menjadi bagian dari hidup kita?! Duh, Naudzubillah... semoga kita (kelak) gak jadi menantu durhaka, ya. Kalopun ga baik-baik banget atau ya paling gak jangan buruk-buruk banget lah. Hehe.

Alhamdulillahnya, contoh tentang seperti apa menantu yang baik itu ada dekaaattt sekali dengan saya. Siapa? Ibu saya sendiri. Mbah putri dari Bapak saya (mertua ibu saya) tinggal serumah dengan kami. Usianya sudah senja. Kesehatannya sudah sangat menurun. Perilakunya sudah mendekati anak-anak. Dan kita semua pasti tau, sama sekali bukan perkara mudah membersamai orang tua yang sudah seperti itu. Dibutuhkan kesabaran luaaarrr biasa.

Dan untuk baktinya pada ibu mertua saat kondisinya sudah seperti itu, saya angkat topi untuk ibu saya. Beberapa bulan lalu, saat mbah putri masuk Rumah Sakit, saya benar-benar dibuat terharu sekaligus takjub. Ibu saya sama sekali gak segan membantu mbah saya (maaf) BAB, menungguinya di dalam kamar mandi, memakaikan dan mencopot diapers, menyuapi, mengurusi saat muntah, dan lain sebagainya... FULL ibu saya yang mengurusi. Ibu sempet sedih sih, karna pada ibu kandungnya sendiri ibu saya gak punya kesempatan untuk berbakti setotal itu. Bahkan bapak saya yang notabene anak kandungnya juga gak cukup sabar menghadapi mbah putri saya. Saya? Mbah saya muntah malah saya-nya ikut-ikutan muntah :D

Apa ibu saya gak pernah jengkel sama mbah saya? Pernah. Ibu saya manusia yang tingkat sabarnya fluktuatif seperti kebanyakan orang. Apa Ibu dan Mbah putri saya pernah bertengkar? Pernah, dan saya kira itu sangat wajar. Tapi sepanjang yang saya ingat, hubungan mereka gak pernah memburuk hingga menyerupai musuh yang selalu saling menyalahkan. Mbah saya yang sudah 'kekanak-kanakan' seriiiiiing sekali menginginkan macem-macem layaknya orang ngidam. Dan ibu saya, semampu beliau selaluuuu saja berusaha memenuhi keinginan si mbah -- bahkan saat bapak saya bilang 'Gak perlu selalu dituruti!'. Saat ibu saya sakit -- beberapa tahun lalu -- mbah saya adalah orang yang pertama menangis tersedu-sedu mengkhawatirkan kondisi ibu bahkan sebelum saya dan kakak-kakak saya. Indah sekali, ya :)

Yah, bagi yang ibu mertuanya masih samar-samar, semooga kita dapet ibu mertua yang bisa jadi 'sahabat' ya, kakak... bukan ibu mertua yang bikin jadi tekanan jiwa :D Tapi semuanya tinggal gimana hati kita mengelola emosi sih, katanya. Dan semoga kita diberi kemampuan untuk menjadi partner bagi pasangan kita untuk berbakti pada ibu-bapaknya.

Ohya, sedikit tambahan. Kata seorang Ustadz (saya lupa namanya, yang jelas saya denger ceramah beliau di TV One), kalo soal harta laki-laki itu wajib menomorsatukan istrinya. Tapi kalo soal nyawa, laki-laki wajib menomorsatukan ibunya. Wallahu a'lam.

6 komentar:

  1. alhamdulillah hubungan saya sama ibu mertua baik2 saja,paling seneng kalo tanya seputar masak,seru aja..soalnya ibu mertua jago masak..^^

    BalasHapus
  2. Hubungan anak-orangtua, istri-suami, dan menantu-mertua semestinya diusahakan selalu harmonis, akur, dan romantis, ya, Mbak. InsyaAllah Mbak Rosa bakalan bisa mewujudkan itu.. :)

    BalasHapus
  3. semoga nanti bisa dapat ibu mertua yg sejalan dan sepikiran ya...

    BalasHapus
  4. aku gk setuju dgn ustad itu. Justru harta anak laki2 itu milik ibunya berdasarkan hadis. coba deh cari.

    BalasHapus
  5. aku alhamdulillah dpt ibu mertua yg baik banget,,cuma aku nya mgk yg kurang bantu hik hik

    BalasHapus
  6. ini jadi semacam ilmu buat persiapan jadi menantu kelak ya hihihi

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)