Minggu, 01 November 2015

Tentang Dunia Kerja

'Duh, bos gue tuh nyebelin banget. Sama karyawan gak care, gak pernah peduli sama kesejahteraan bla bla bla'

'Ih, tempat kerjaku tuh gak oke banget. Masa' iya bla bla bla...'

Pernah gak dengar keluhan-keluhan semacam itu dari teman kita? Keluhan yang ladang bernada menjelek-jelekkan tempat kerja kita. Atau jangan-jangan kita sendiri pelakunya? Hehehe. *tutupmuka*

Saya pernah dengar (atau baca, ya? Lupa) sebuah nasehat. Bahwa menjelek-jelekkan tempat yang menjadi perantara kita menjemput rizki itu ibarat kita meludahi sumur yang airnya kita pakai untuk minum sehari-hari. Jijik banget gak sih?? Hiii....

Sayangnya, sepertinya hal seperti itu sudah sangat 'umum' di masyarakat kita. Anehnya lagi, tiap hari mengeluhkan macam-macam tentang tempat kerjanya, tapi kok ya tetap tahan bertahun-tahun dan gak resign. Ehehehe. Mengeluh wajar sih ya. Manusia memang sifat dasarnya suka berkeluh-kesah, kan? Tapi kita selalu bisa berusaha meminimalisir sifat-sifat 'bawaan' yang kurang baik itu tersebut, Insya Allah.

Saya belum lama ada di dunia persilatan (baca: dunia kerja) ini. Tapi saya sudah belajar beberapa hal. Tentang rizki, tentang bermuamalah dengan teman kerja, dan tentang bijak menerima penilaian orang lain.

Pernah gak melihat teman kita dengan pandangan iri. Merasa pekerjaan dia lebih ringan, lebih santai... Sementara kita seolah harus jungkir balik menyelesaikan pekerjaan yang tak ada habisnya. Dulu saya juga gitu. Merasa pekerjaan saya adalah yang paling berat bla bla bla.

Tapi kemudian saya belajar. Segala sesuatu di dunia ini relatif. Rumput tetangga seringkali terlihat lebih hijau. Sawang-sinawang kalo kata orang jawa. Coba tukar posisi dengan orang yang kamu anggap lebih enak kerjanya itu. Dijamin kamu akan merasa posisimu sebelumnya tetap lebih enak setelahnya -- selama kamu gak berusaha merubah sudut pandang hatimu dalam melihat sesuatu. Kuncinya ada pada syukur memang. Saya sudah belajar tentang ini, sudah menemukan pointnya... Tapi memang tidak mudah kok aplikasinya :) Maka dari itu saya menulis. Bukan karna saya sudah pandai mempraktekkan. Saya menulis untuk menasehati diri saya sendiri.

Belajar bijak di tengah 'keras'nya dunia kerja tak ubahnya belajar tentang kehidupan itu sendiri. Pahit-manis, susah-senang, liku-terjal. Apapun itu, pointnya selalu ada di hati. Kuncinya ada pada seberapa lapang dada kita memandang semuanya.

Kata Bang Tere Liye dalam novel Pulang, 'Hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan orang lain. Hidup ini adalah tentang mengalahkan diri sendiri'. Setuju sekali :)

4 komentar:

  1. segalanya harus di jalani dengan penuh rasa syukur dan ikhlas pasti semua nya tidak akan terasa berat ya mba

    BalasHapus
  2. Segala sesuatu di dunia ini relatif, yap, setuju. Dan alhamdulillah saya nggak pernah ngeluh dengan kegiatan saya. Im so happy ~~

    BalasHapus
  3. Merasa diingatkan lewat tulisan ini mbak. Trims ya :)

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)