Tentang Kejamnya Komentar Netizen dan Isu Kesehatan Mental

on
Rabu, 16 Oktober 2019
Kalau dulu, lidah itu udah yang paling tajam. Sekarang, ternyata ada yang sama tajamnya. Bahkan kadang jauh lebih tajam.

Apa itu?

Oh, right. Jari tentu saja.

Dulu saya pernah nulis tentang lidah yang mampu menghancurkan hidup seseorang. Hari ini, kisah demi kisah kita dengar, tentang jari yang ternyata juga mampu menghancurkan hidup seseorang.


Jujur ya, saya tu salah satu orang yang bertanya-tanya, kenapa sih akhir-akhir ini isu kesehatan mental santer banget dikampanyekan? Sedarurat apa sih? Ada apa sih sebenernya?

Iya, sebut saja saya enggak peka.

Lalu pada suatu hari (kayak dongeng aja yak 😂), saya nonton vlognya Ussy Sulistyowati. Fyi, saya lagi suka nonton yutubnya keluarga Pratama itu.

Vlog yang saya tonton dua diantaranya adalah yang pas lagi ngobrol sama Heidy istrinya Sunan Kalijaga.



Dalam Vlog Ussy, Heidy Sunan mengungkapkan tentang koemntar-komentar pedas netizen tentang putrinya yang sempat membuatnya sangat sedih, dan memberikan dampak besar dan negatif pada putrinya.

"Hanya karna ketikan kalian itu, kalian nggak akan terbayang dampak apa yang akan terjadi dari ketikan tersebut" (Heidy Sunan).

Dari situ, saya makin ngeh. Oh, pantesan ya kesehatan mental sedang diangkat banget. Lha gimana, era sosmed ini kan hate speech bertebaran di mana-mana. Apalagi kalo public figure. Kayaknya udah jadi makanan sehari-hari mereka.

Nah, terus kemarin, GONG-nya, saya baca berita tentang salah satu public figure asal Korea yang bunuh diri, dan gara-garanya -- salah satunya -- adalah karna kesehatan mentalnya terganggu sejak jadi bulan-bulanan hujatan netizen.

Subhanallah 😭

Dulu saya pikir, dampak dari hate speech itu, paling dampaknya cuma bikin sakit hati. Ternyata enggak sesederhana itu.

Hate speech ternyata bisa banget mengoyak kesehatan mental seseorang :(

Iya juga sih. Dikomentarin, "kok sekarang jerawatan" sekali-dua kali aja udah bikin nelangsa dan hilang percaya diri. Apalagi kalo komentarnya  -- Subhanallah, kejem-kejem bangettt.

Jadi masuk akal banget kalo kampanye isu kesehatan mental bener-bener jadi fokus banyak orang sekarang ini. Lha gimana, dunia maya makin guanaasss. Huhu. Kalo emang belum semua orang sadar tentang betapa pentingnya kesehatan mental.

Kalo ngerasa sakit perut, kita akan enteng aja datang ke dokter. Tapi kalo kita insomnia gara-gara stress mikirin masalah, pasti nggak akan seenteng itu kita memutuskan datang ke psikolog atau psikiater, kan? Nah itu contoh kesadaran tentang kesehatan mental yang masih rendah.

Anyway, mereka para netizen yang hobinya komentar kejam, mungkin habis ngetik, terus udah, lupa dan bisa kembali melanjutkan aktivitas seperti biasa. Tapi kebayang nggak sih, yang menjadi sasaran komentar kejam si netizen tersebut, mungkin menimbulkan dampak yang panjang dan nggak pernah kita pikirin sedetik pun.

Huhu, sedih banget yaaa. Beneran deh, kalo kita punya hati nurani, harusnya kita sedih kalo kita jadi penyebab atas kesedihan orang lain. Apalagi atas terganggunya kesehatan mental orang lain.

Artis tu juga manusia lho. Pejabat juga manusia. Sama seperti kita. Bisa sedih, bisa terpukul, bisa marah. Coba dong sebelum nulis komentar tuh dibayangin dulu, 'kalo aku yang dikomentarin gini gimana ya rasanya?'

Terus, kebayang nggak sih, pas di hari perhitungan nanti, kita tiba-tiba dituntut sama Allah atas kesalahan yang bisa jadi sama sekali kita udah lupa karna melakukannya nggak pakai mikir. Kan kadang kalo habis komentar atau ngetik apapun di sosmed, kita langsung lupa gitu aja kan?

Itu kita bakal kayak apa kagetnya nanti di akhirat? 😭

Kebebasan berekspresi di sosial media itu tetap dibatasi sama banyak hal, seharusnya. Terutama, dibatasi oleh rasa kemanusiaan kita.

Mari jadi manusia yang memanusiakan manusia :)
2 komentar on "Tentang Kejamnya Komentar Netizen dan Isu Kesehatan Mental"
  1. Begitulah. Seringkali atas dasar demokrasi, merasa bebas berpendapat. Padahal kita belajar di sekolah bahwa kebebasan itu juga harus disertai tanggung jawab. Ga asal aja kan ��

    BalasHapus
  2. Aku sendiri berusaha buat nahan-nahan diri dari berkomentar baik secara lisan/jari untuk hal-hal yang gak perlu. Apalagi kalo komentar kita nggak ngubah keadaan, mending disimpan aja :3

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)

Signature

Signature