Tampilkan postingan dengan label Book. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Book. Tampilkan semua postingan

Happy Pregnancy: Semua Tentang Kehamilan Ada di Sini

on
Selasa, 20 Desember 2016
Judul Buku: Happy Pregnancy
Penulis: Nana Aditya, S.Si
Penerbit: Stiletto Book
No. ISBN: 987-602-7572-73-7
Jumlah Halaman: 202 Halaman


Hamil merupakan salah satu impian setiap perempuan. Maka, saat kesempatan merasakannya datang, berbagai buncah perasaan pun bercampur menjadi satu. Bahagia tiada tara, tapi sekaligus resah dan gelisah. Apalagi jika itu merupakan kehamilan yang pertama. Yang namanya hamil pertama, pasti kita masih minim pengalaman dan pengetahuan. Saat merasakan suatu keluhan, karna ketidaktahuan, kita menyepelekan. Padahal bisa jadi itu tanda bahwa kita harus waspada.

Hal itu juga saya rasakan di kehamilan pertama ini. Saya yang pada dasarnya lumayan gampang parno, seringkali menyikapi hal-hal yang saya rasakan secara berlebihan. Maklum, karna 90% jawaban atas keluhan saya seringkali saya temukan melalui browsing. Tau sendiri kan, jawaban hasil browsing, terutama bersangkutan dengan kesehatan, seringkali bukannya mencerahkan malah membuat semakin ketakutan.

Karena itu, suami saya suka sebel kalau saya kebanyakan browsing. Mules dikit browsing, pusing dikit browsing, dll. Kata mas suami, lebih baik saya baca buku, apalagi berkaitan dengan kehamilan. Agar informasi yang saya dapat gak grambyang tanpa arah.

Makanya, saya senang sekali ketika bertemu dengan buku berjudul Happy Pregnancy karya Nana Aditya, S.Si terbitan Stiletto Book. Buku ini berisi tentang serba-serbi kehamilan dari A sampai Z, dari mulai tanda-tanda awal kehamilan (halaman 65), ulasan tentang perkembangan janin dari bulan ke bulan (halaman 15-54), hingga mitos-mitos kehamilan yang sering bikin galau pun dibahas lengkap dalam buku ini (halaman 122-132). Padahal bukunya gak tebal-tebal banget, ya. Tapi justru itu yang nyenengin bagi saya. Singkat, padat dan jelas, tapi lengkap!

Sayangnya, saya baru ketemu sama buku Happy Pregnancy ini saat usia kehamilan saya sudah memasuki usia 28 minggu. Ah, andai dari dulu ketemu buku ini, pastinya berbagai ketakutan saya bisa diminimalisir. Pasalnya, banyak gejala yang sebenarnya wajar dirasakan oleh ibu hamil di usia kehamilan tertentu, tapi terlanjur membuat saya takut lantaran saya gak punya sumber bacaan yang tepat.

Dari segi pemaparan, buku Happy Pregnancy juga memakai tutur kalimat yang gak kaku dan gak bikin booring saat baca. Juga selalu menyelipkan kata-kata bermuatan positif, sehingga kata 'Happy' dalam judul buku ini bisa benar-benar saya rasakan saat membacanya.

Meski saya cukup menyayangkan kenapa baru ketemu sama buku ini di usia kehamilan 28 minggu, tapi saya tetap mensyukurinya. Karena mulai bab 7 ke atas, buku Happy Pregnancy ini memaparkan tema-tema yang saat ini sedang menjadi kegelisahan saya. Di antaranya tentang persiapan melahirkan baik mental maupun berbagai hal teknisnya (halaman 148-158), gambaran dan penjelasan tentang saat proses melahirkan (halaman 160-178), hingga pemaparan tentang apa saja yang harus dilakukan pasca melahirkan (halaman 180-193).

Tuuu, lengkap banget, kan? Makanya, saya ingin sekali merekomendasikan buku ini untuk teman-teman yang sedang hamil, sedang merencanakan kehamilan ataupun yang baru bercita-cita hamil. Gak ada kata terlalu cepat untuk belajar, kan? Daripada kayak saya yang baru kelimpungan cari informasi setelah hamil, hayoo?

Nah, kabar baiknya, Stiletto Book sedang baik hati sekali karena menyediakan 2 buku Happy Pregnancy ini untuk teman-teman, dan meminta tolong pada saya sebagai perantaranya. Gimana biar bisa mendapatkan buku ini? Gampang bangettt! Berikut caranya:

  1. Follow Twitter @Stiletto_Book dan Twitter saya (@Rosa_Alrosyid)
  2. Like Fanpage Stiletto Book atau akun IG Stiletto Book (pilih salah satu)
  3. Share info giveaway blog tour ini di media sosial kalian masing-masing dengan mention Stiletto Book dan saya, dan jangan lupa kasih hashtag #HappyPregnancy ya
  4. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar postingan ini, dan jangan lupa sebutkan akun media sosial kalian, ya :)

    Pertanyaannya gampang kok:
 "Apa sih yang terlintas di benak kalian ketika melihat atau bertemu seorang perempuan yang sedang hamil besar?"



Gampang banget, kan? Saya tunggu jawabannya sampai tanggal 23 Desember 2016, ya :)

HADIAH

on
Senin, 03 Maret 2014
Entah sejak kapan tepatnya teman-teman terdekat saya seringkali memilih buku sebagai hadiah untuk saya. Emm, mungkin bukan murni pilihan mereka, sih... adakalanya mereka terlebih dahulu bertanya pada saya, pengen hadiah apa, lalu seringkali saya menjawab buku. Yang jelas saat saya mulai punya mimpi bahwa kelak, di salah satu sudut rumah sederhana saya ada sebuah rak buku yang berisi buku-buku koleksi saya.

Mengapa buku? Ya itu tadi, karna sejak saya kuliah, berteman dengan manusia-manusia luar biasa yang menularkan virus baca membuat saya selalu terobsesi memiliki banyak buku. Tapi lebih dari itu, ketika saya memilih buku saat ada yang hendak memberi hadiah, saya selalu berkeyakinan bahwa si pemberi hadiah tidak akan 'rugi', karna jika buku yang ia berikan pada saya bermanfaat, maka ia akan terus mendapatkan pahala atas hadiahnya untuk saya tersebut. Insya Allah...

Kemarin, waktu ketemu salah satu sahabat (baca: kak uni), saya lagi-lagi dapat hadiah buku dari dia, untuk kesekian kalinya. 2 novel, yang satu novel lama yang 'keramat' bagi saya berjudul Cintapuccino karya Icha Rahmanti, dan yang kedua novel London karya Windry Ramadhina. Ceritanya mungkin ini hadiah ulang tahun. Haha... kapan ulang tahunnya, kapan hadiahnya. Tapi, tetap saja... Terimakasiiiiih kakak uniiiii.... *Peluuukkkk

Dan pagi tadi, saya tercengang. ketika security kantor datang ke ruangan saya mengantarkan sebuah paket untuk saya. Dari siapa? Untuk satu dan lain hal, saya sepertinya memilih untuk tidak dulu menyebutkan namanya :) Hadiah dalam rangka apa? Saya juga bingung sih sebenernya. Kado ulang tahun juga mungkin. hehe. Yang jelas isinya bikin saya benar-benar speechless. Dua buku juga, tapi genre-nya bumi langit sama hadiah buku dari Kak Uni. Dua-duanya buku tentang parenting! **Terimakasih, kamu yang merasa :P

Bagaimana saya nggak tercengang... akhir-akhir ini saya sedang agak 'nakal' suka membaca-baca artikel tentang parenting. Dua hari terakhir ini bahkan sedang suka membaca artikel tentang ASI, MPASI, dll yang semacamnya. Dan tiba-tiba mendapat kiriman buku yang isinya juga memuat tentang hal tersebut??!! Subhanallah Walhamdulillah...

Yah, walaupun jujur sih 2 hadiah buku yang terakhir itu bikin saya cukup galau. Karna secara nggak langsung bikin kerinduan saya seperti yang saya tulis di kotak mimpi beberapa hari lalu itu akan semakin menggebu. Ah, tapi tetap saja galau nggak boleh bikin saya enggan belajar!

(Bukan) Review "Temui Aku di Surga"

on
Rabu, 18 September 2013
Setelah beberapa lama nggak nulis, membiarkan mimpi-mimpi kembali stagnan dan blog terbengkalai, mala mini bertekad untuk kembali menggerakkan jari jemari. Meskipun sekedar torehan yang tak bisa dikata indah, namun semoga tetap ada manfaatnya, setitik pun tak apa.

Karna untuk nulis fiksi merasa sedang nggak mungkin, maka saya putuskan untuk menulis sesuatu yang sebenarnya pernah saya janjikan pada seseorang. Bukan, saya bukan lupa. Saya masih ingat pernah berjanji pada Mbak Ella Sofa untuk me-review novel beliau yang berjudul “Temui Aku di Surga”. Tapi jujur saja saya nggak pede. Kenapa nggak pede? Banyak! Tapi yang utama,karna  saya belum pernah sekalipun me-review novel. Selama ini saya murni hanya seorang penikmat. Lalu misalpun diminta bercerita tentang isi novel yang say abaca, saya akan menceritakannya tanpa alur, loncat sana loncat sini sesuka hati saya.

Tapi janji tetaplah janji. Saya akan tetap berusaha me-review “Temui Aku di Surga” dengan gaya saya sendiri. Bagi teman-teman yang sudah terbiasa me-review atau membaca review sebuah novel, pastilah akan berkata bahwa ini (bukan) review “Temui Aku di Surga”.

Oke, langsung saja. Novel “Temui Aku di Surga” bercerita tentang dua orang pemuda bernama Yudho dan Malik yang bersahabat baik. Lewat persahabatan, mereka berdua membangun mimpi-mimpi masa depan. Mereka memulai langkah menjemput mimpi tersebut dengan bekerja sama mendirikan sebuah kios kaca. Malik punya modal, dan Yudho punya keahlian.

Seperti kebanyakan anak muda, Yudho dan Malik juga punya sisi idealisme. Terutama dalam memandang masalah-masalah berbau politis. Pejabat desa yang “itu-itu saja”, pembangunan jalan yang tidak pernah beres, kemajuan desa yang tampak nihil, dan berbagai masalah lain diam-diam menggelitik hati mereka. Dan siapa sangka, Malik tiba-tiba mengungkapkan keinginannya menjadi kepala desa pada sahabatnya, Yudho. Yudho terkejut, tapi tak urung dia pun sangat mendukung mimpi teman terbaiknya itu.
Tapi apa boleh buat. Manusia memang memiliki hak penuh untuk merangkai mimpi-mimpi kehidupannya. Tapi di atas segalanya, ada Allah yang Maha berhak untuk menyeleksi mana saja impian yang layak mendapat ACC-Nya, dan mana yang tidak. Termasuk Malik. Di tengah mimpi mulianya menjadi pemimpin desa yang jauh lebih amanah, Izrail justru mendekapnya melalui sebuah kecelakaan (tak) disengaja.

Dan Yudho serta Bapak-Ibu Malik, hanya bisa tertunduk sedih, berusaha melapangkan hati menerima suratan yang amat menyesakkan dada itu. Tapi hidup harus tetap berjalan. Sesakit apapun, Bapak-Ibu Malik serta Yudho yang dengan setia menemani mereka melewati masa sedih harus kembali bangkit. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Ketika semuaanya sudah mulai kembali berjalan normal tanpa kehadiran Malik, tiba-tiba Yudho dihampiri kesempatan untuk melanjutkan mimpi sahabatnya yang terhalang oleh ajal. Oleh para sesepuh kampong, ia di percaya untuk “nyalon” kepala desa. terkejut? Tentu saja! Yudho tak lebih dari seorang pemuda anak orang tak punya, hingga keinginan kuliah pun terpaksa ia lipat dibawah bantalnya. Dan kini tiba-tiba ia ditawari untuk menjadi kandidat orang nomor satu di Desa Randu Asri, tanah tumpah darahnya? Bahkan mereka para sesepuh kampong tak hanya bersedia menyokong spirit, tapi juga materi.

Ya, bukankah sudah jadi rahasia umum kalau “nyalon” kepala desa itu membutuhkan modal besar?! Dan darisinilah konflik utama novel ini muncul. Berbagai intrik licik, dan “kesibukan” dalam rangka  usaha memenangkan diri di paparkan dengan sederhana namun mengena. Namun bagaimanapun, kebenaran memang selalu menemukan jalannya sendiri untuk muncul di permukaan. Begitu pun dengan ending novel ini.

Yah, hanya itu yang bisa saya ceritakan. Pengen lengkap? Baca sendiri tentunya J
Novel ini sangat cocok untuk orang-orang yang suka “to the point”, nggak berbelit-belit, dan nggak banyak deskripsi yang nggak perlu. Singkat, padat dan jelas. Meski di sisi lain, jadi seperti ada kesan “tergesa-gesa” dalam pengerjaannya. Tapi saya tau itu sama sekali nggak benar. Sedikit banyak saya tau perjuangan Mbak Ella menuntun novel ini hingga ada di toko buku. Perjuangan yang selalu bikin saya malu, sekaligus termotivasi. Yang jelas, buku ini bikin saya termangu dan merenung, betapa kecurangan-kecurangan dalam dunia politik masih sangat berakar bahkan di ranah politik paling bawah.

Lalu mana kritiknya? Ya, rasanya saya terlampau tidak objektif kalau nggak mau memberikan kritik. Meski saya mulai belajar keras mengurangi “kenyinyiran” saya dalam mengkritik novel. Duhh, saya ini siapa sih… nyoba nulis novel aja belum pernah kelar, sudah sok-sok-an ngritik karya orang. Baiklah, saya punya dua catatan utama untuk novel ini. Pertama di bagian kisah cintanya, kisah cinta Hesti dan Malik yang terasa “kurang mengena” dan jadi terkesan hanya pelengkap. Kedua, tentang kejadian yang dijadikan sebuah titik balik bagi kehidupan Malik, yang juga kurang terasa mengena. Jadi waktu saya baca, saya jadi punya kesan “kok gampang banget ya tobatnya, hanya karna peristiwa seperti itu?!”

Yah, tapi di atas itu semua, saat pertama kali tau bahwa “Temui Aku di Surga” di ACC sama penerbit, saya seperti bisa membayangkan dengan jelas perasaan bahagia saat novel saya sendiri yang di ACC.

**Bahagiaku untukmu juga Mbak Ella… terima kasih untuk banyak sekali tauladan, inspirasi juga motivasinya. Eh, juga untuk pinjeman-pinjeman bukunya selama  ini. Maaf yaa kalo (bukan) review “Temui Aku di Surga”-nya Cuma kaya’ gini, dan ada yang kurang berkenan J

Perjalananku Menemukan'mu'

on
Selasa, 02 April 2013


Hallo, udah beberapa hari nggak nge-blog. Kangen. Selain karna ‘menikmati’ long weekend, koneksi inet juga emang sempet nggak bisa diajak kompromi. Allah Maha Adil. Biar saya nggak sibuk sama gadget saat sedang bersama keluarga kali yaa…
Emm, kali ini mau cerita pengalaman norak ah. Yaituuu… taraaaa…. Tentang pengalaman pertama saya beli buku online. Hihihihi :D

Yah, sejak lulus kuliah dan kembali ke habitat asli saya (baca: Jepara), saya harus berlapang-dada menerima kenyataan bahwa di kota kelahiran saya ini nggak ada toko buku yang “mapan” :(

Ada sih toko buku, tapiiiii…. Jauh sekali dari bayangan saya tentang toko buku ideal yang dulu sering saya sambangi di Semarang. Jelas lah yaa… saya sih amat bisa memaklumi ini. 2 kota ini kan beda banget kastanya.

Emm, awalnya saya enjoy aja sih, karna saya punya teman yang puny ataman baca. Jadi setelah lepas dari dunia kampus, saya jadi rajin jadi salah satu peminjam di taman baca beliau. Tapi setelah sekian bulan, novel-novel di rak buku beliau kok hampir semua sudah saya baca.

Nah, kemarin itu ceritanya saya benar-benar lagi nggak ada bacaan. Ditambah, saya jadi korban provokasi status teman penulis di FB yang me-share berbagai pujian atas novel beliauyang judulnya “Yang Kedua” karya Mbak Riawani elyta. Dan lagi, beberapa kali beberapa karya beliau, saya memang suka sih.

Nah, dimulailah perjalanan cinta #eh, maksudnya perjalanan saya mencari novel tersebut. Awalnya saya berniat titip teman yang rumahnya Kudus, setelah dapet nfo dari salah satu temen kalo di Kudus ada tobuk yang ‘lumayan’. Tapi temen saya yang rumahnya Kudus itu rupanya nggak bisa. Terus saya juga sempet minta dicariin teman yang orang Temanggung buat nyariin #hihihi, jauh banget kan yah?. Nah, setelah itu saya dengan ragu-ragu memutuskan buat beli online lewat toko buku online afra (milik Ibu Afifah Afra yang juga penulis). Etapi, niat saya menemui batu sandungan #halah!. Harga novel tersebut setelah diskon 32ribu+ongkir 6rb. Waktu itu saya titip transfer sama driver-nya kantor saya yang lagi disuruh transfer. Eehhh, ternyata kata mbak tellernya nggak bisa TT kurang dari 50rb. Huaa huaaa
 Nah, setelah itu saya sempet mengurungkan niat beli online sih. Bagi saya ribet! Mikir transfer, masih juga ntar harus nunggu beberapa hari buat bukunya dateng. Terus saya sempetin ke salah satu tobuk di Jepara yang kata temen saya ‘lumayan’ besar. Bismillah, semoga ada, batin saya. Dan saat sampai, taaraaaa…. Kecewa beraaadd!!
Yah singkat cerita saya akhirnya kembali pada keputusan beli online, dan ‘terpaksa’ menambah pesanan satu buku lagi biar lebih dari 50rb. Buku yang satu itu, “Sakinah Bersamamu” karya Asma Nadia, udah saya taksir sejak masih kuliah, dan entah kenapa justru baru hari ini saya membelinya. Yah begitulah, terkadang jodoh justru bertemu saat tak lagi ada harapan untuk memilikinya. #lho, ini apa???
 Dan Alhamdulillah, setelah 3 hari penantian saya, buku tersebut sampai di kantor (saya sengaja mengalamatkannya ke kantor). Tapi malangnya, buku sampai saat saya sudah mulai libur. Jadilah saya harus datang ke kantor, demi mengambil buku itu T.T

Kalo ditanya lebih seneng mana beli buku langsung atau online, masing2 ada kurang lebihnya sih. Kalo beli buku langsung ke toko buku itu saya sering melenceng dari tujuan semula. Dari rumah rencana beli buku A ato B, eh sampe rumah bawanya buku C! Nah kalo beli buku online, jujur saya nggak begitu tahan sama waktu penantian menunggu buku tersebut sampai di tangan saya. Sampe saya bilang ke temen, bahwa menanti paketan buku datang itu tak ubahnya seperti menanti paketan jodoh meminang. #halagh, lebay!!!!


PS: yang jelas salah besar kalo ada temen yang ngira saya pengen novel itu karna sedang memeprsiapkan diri jadi “Yang Kedua”!!

:: Tentang 9 Matahari ::

on
Senin, 17 Desember 2012
Saya membeli novel 9 Matahari ini sekitar sebulan yang lalu di Gramedia Amaris (Semarang). Pertama tertarik beli novel ini karna say abaca tulisan di salah satu blog favorit saya (Rumah Matahari, red). Mbak Syam, si pemilik blog memberikan sedikit uraian tentang kelebihan novel ini.

 gb. ambil dr gugel

Awal-awal baca, jujur saya agak kecewa sih sama novel ini. Mungkin karna saya udah punya ekspektasi cukup tinggi kali ya gara-gara baca uraian mbak Syam tentang ini novel. Kenapa saya kecewa? Pertama, karna novel ini saya rasa nggak bikin penasaran dan nggak bisa bawa jiwa saya ikut masuk ke dunia si Matari. Kedua, novel ini lebih mirip seperti buku harian si Matari. Pembaca sama sekali nggak di ajak untuk benar-benar mengenal detail dunia Matari. Nggak ada penggambaran tentang fisik Matari, fisik orang-orang di kehidupan Matari, dll. Juga nggak ada penggambaran ekspresi dalam dialog-dialog antar tokohnya (yang juga sangat minim). Kenapa itu penting bagi saya? Karna penggambaran fisik, cara berpakaian, dan ekspresi-ekspresi saat bicara berbanding lurus dengan pengahayatan pembaca dan keinginan untuk terus membaca sampai ending. Juga sangat berpengaruh pada imajinasi pembaca atas apa yang ia baca.

Tapi, sampai di pertengahan Bab novel tersebut, emosi saya mulai terbawa. Saat si Matari “tumbang” atas peliknya masalah-masalah hidupnya, dan saat ia mencoba bangkit dan menguatkan kaki untuk kembali tegak menghadapi apapun di depannya setelah bertemu orang-orang baik yang memberinya semangat.

Well, di tengah ‘sedikit’ rasa kecewa saya pada novel ini, saya tetap salut pada sosok Matari. Seorang anak muda yang penuh energy,  dan yang punya tekad teramat besar untuk memperjuangkan mimpi-mimpiny meski dihadang beribu macam kesulitan.
Malu juga kalau inget bahwa dulu aku rajin sekali mengeluh merasa banyak sekali mengalami kekurangan saat masa-masa kuliah. Aku lupa, bahkan mungkin belum sadar, bahwa ada orang-orang seperti Matari yang harus memperjuangkan kuliahnya meski taruhannya adalah nasib perutnya sendiri.

**Ampuni aku yang rajin mengeluh ini Rabb…

Rosa,
17 Desember 2012

Signature

Signature