Entah Harus apa Judulnya...

on
Jumat, 17 Agustus 2012

Ramadhan telah menjemput penghujungnya…
Ah, terlalu naïf kah jika selalu ada sedih menyambangi di detik – detik menjelang perisahan, sedangkan terlalu banyak detik yang begitu saja terlewat dengan banyak hal tanpa guna
Terlalu naïf kah jika selalu berharap pertemuan kembali di tahun – tahun berikutnya, sedang tiap kesempatan bertemu yang di berikan-NYA tak pernah membuat kita benar – benar memuliakan Ramadhan dan mengesampingkan dunia…
Menyesal… hanya itu yang selalu tertinggal saat Ramadhan beranjak pergi meninggalkan…
Menyesal karna selalu menyadari ada teramat banyak waktu tersiakan di bulan mulia ini… saat penduduk langit riuh turun ke bumi menjemput tiap untai doa dari mulut – mulut kita, sementara kita? Sibuk entah oleh urusan apa yang amat remeh temeh…
Tapi Rabb… ijinkan kami tetap berharap atas pertemuan kembali…
Ijinkan kami tetap berharap bahwa kami tetap mendapat kemuliaan Ramadhan – MU, meski hanya sepercik saja…
Ijinkan kami Rabb… ijinkan kami…
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…. Laa ilaa ha illallah huwallahu akbar…. Allahu Akbar, Walillahilkham….

Rosa,
Sehari menjelang Idul Fitri 1433 H

Ini Pendapatku, Bagaimana Pendapatmu??

on
Selasa, 07 Agustus 2012

Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, saya (dan mungkin juga kalian) sudah mendapatkan penanaman pemahaman tentang kita sebagai makhluk social. Bahwa kita hidup di tengah – tengah masyarakat yang harus saling mengharagai hak serta kewajiban masing – masing individu, saling toleransi, dan lain sebagainya.

Tentu saja saya setuju dengan penanaman itu. Kenyataanya kita memang nggak akan pernah bisa hidup sendiri tanpa pertolongan orang lain, bahkan sebanyak apapun harta kita. Selain itu, hidup bermasyarakat menurut saya juga secara nggak langsung ngasih kita sebuah ‘kontrol’, atau yang lebih sering disebut sebagai control social. Seperti apa contohnya? Yah contoh paling gampang  kita merasa malu melakukan perbuatan – perbuatan yang di luar norma.

Emm, tapi jujur aja… saya kadang juga merasakan dampak negative dari status kita sebagai makhluk social. Ini sekedar pendapat saya pribadi sih, jadi jangan di debat (kalo ditanggapi tentu saja boleh). ‘Gara-gara’ status sebagai makhluk social, kita secara tidak sadar seringkali seolah ‘dipaksa’ untuk selalu memikirkan ‘omongan’ orang – orang di sekitar kita. Dan seringkali kita ngrasa tersiksa oleh itu semua. Bahkan malangnya kadang kita lebih memilih tersiksa asal nggak ‘dikomentarin’ sama orang-orang sekitar.

Contohnya? Yang paling sederhana dulu… anak – anak ABG sekarang malu kalo nggak punya pacar karan takut dianggap ‘kampungan, de el el’ oleh teman – temannya, meskipun mungkin beberapa dari mereka tau dan sadar bahwa pacaran nggak ada manfaatnya tapi banyak mudhorotnya. Yang lebih serius lagi… banyak banget nggak sih sekarang yang ‘memaksakan diri’ membeli sesuatu (mobil, de el el) demi menjaga gengsi dan pendapat orang, meski mereka harus setengah mati berjuang untuk membayar angsuran tiap bulan dan menjaga agar asap di dapur tetap mengepul. Ah, banyak… banyak sekali konsekuensi yang harus ditanggung dari status kita sebagai makhluk social.

Sedihnya lagi, control social yang merupakan dampak baik dari status kita sebagai makhluk social toh nyatanya (menurutku) udah nggak  berjalan sebagaimana mestinya. Anak gadis menginap dirumah ‘pacarnya’ sudah dianggap masyarakat sebagai ‘hal biasa’ sebagai dampak perubahan zaman. Intinya, sekarang ini kita udah nggak bisa ngandelin ‘omongan orang’ sebagai tolok ukur baik dan buruk. Jadi, harus pinter – pinter deh nyaring opini masyarakat yang terbentuk untuk hal – hal tertentu. Ya karna sekali lagi, nggak selamanya pendapat lebih banyak orang itu benar, dan pendapat sedikit orang itu salah.

Oh ya, jadi pengen ikut komentar tentang kasus yang sedang hangat saat ini. Nggak tau sih ini ada hubungannya apa nggak. Yaitu tentang kasus H. Rhoma Irama yang ‘dituduh’ mengangkat tema SARA dalam salah satu kesempata khotbah seusai sholat tarawih. Saat itu intinya beliau mengatakan bahwa umat muslim dilarang memilih pemimpin dari golongan non-muslim, karna sanksinya adalah menjadi musuh Allah. Lalu, mulailah masyarakat (melalui berbagai media) rame – rame berkomentar, ada yang  mendukung, tidak sedikit yang mengecam. Katanya Bang Haji merusak persatuan bangsa dengan ceramahnya itu, bahkan ada yang menganggap beliau menghina agama lain dengan itu. Nah lho… dimana letak menghinanya?? Beliau kan menyampaikan itu di masjid. Jadi apa salah kalo beliau menyampaikan apa yang ada dalam Al-qur’an?? Kalau, (maaf sekali sebelumnya) seorang pendeta khotbah di sebuah kebaktian, menyampaikan bahwa kami (yang tidak beragama nasrani) adalah domba tersesat, apa itu berarti menghina dan kami berhak pula marah – marah dan mengecam?? So, harus dibedakan mana yang menghina, dan mana yang menyampaikan ajaran agama. Bagiku agamaku, dan bagimu agamamu J

Pesen saya sekali lagi, pinter – pinter menyaring opini public yang saat ini semakin liar terbentuk yaahh… jangan mudah terprovokasi (dalam hal apapun, diluar kasus Rhoma Irama). Lalu bagaimana solusinya untuk menentukan sikap? Kembali pada kaidah – kaidah agama saya pikir menjadi jalan keluar terbaik J

#maaf ya tulisannya kacau dan mungkin bikin pusing waktu dibaca, hehe


Rosa
7 Agustus 2012 (Malam ke-19 Ramadhan)

Kadang (atau seringkali?)

on
Senin, 06 Agustus 2012

Kadang aku bertanya, mengapa aku harus ada disini hari ini

Meskipun sebenarnya aku tahu jawabannya… bahwa jika hari ini aku ada di titik ini, maka suatu hari aku aka nada di titik dimana aku tahu bahwa tempatku saat ini-lah yang mengantarkanku atau menjadi perantara untuk aku ada di tempat selanjutnya di masa yang akn datang…

Kadang aku bertanya, mengapa aku harus mengenal seseorang

Meskipun akhirnya aku menyadari bahwa dating dan perginya seseorang dalam hidupku merupakan satu rangkaian yang tiada terputuskan… dan bahwa setiap orang yang hari ini ada, tidak mungkin dihadirkan tanpa maksud… semua membawa misi untuk aku pelajari…

Kadang aku bertanya, seperti aku di hari – hari ke depan

Meskipun aku sangat mengerti bahwa hidup menjadi tak indah lagi tanpa dinamika dan teka – teki tentang waktu yang akan dating… pastilah langit akan hampa tanpa ribuan doa yang bergemuruh meluncur dari hati – hati penuh harapan, dan pastilah dunia akan sepi tanpa helaian nafas – nafas perjuangan dan ikhtiar…

Dan kadang aku bertanya… mengapa aku harus mengambil keputusan ini kemarin

Tapi kemudian aku sadar… bahwa mengapa Allah terkadang membiarkan kita salah melangkah, ialah tak lain agar kita tidak merasa ‘besar’… ialah agar kita mau belajar dari kesalahan – kesalahan yang ada… ialah agar kita selalu teguh meyakini bahwa kita bukan apa – apa tanpa pertolongan-NYA…

Laa hawla walaa kuwwata illaa billah…

... :)

on
Minggu, 29 Juli 2012
Lama sekali ya kita tidak berbincang ringan seperti waktu-waktu yang lalu…

Tentang hal – hal kecil, tapi selalu mengesankan bila membahasnya denganmu
Seperti malam itu… saat aku menceritakan tentang ejekan kakakku, dan pembelaan pakdheku melalui telfon. Oh ya, satu hal yang membuatku candu padamu aku piker adalah ini, kesediaanmu menyisihkan satu dua jam di sela kesibukanmu hanya untuk menelfon dan mendengarkan ocehan tidak jelasku…

“Masku ngledekin aku gini ‘jiahh, payah… wisuda tapi nggak ada pendamping wisudanya, nggak punya pacar… payah!!”, lalu kamu menyela dengan tawa renyah.

“Tapi trus pakdhe belain… ‘cari pacar itu gampang, cari jodoh yang susah!’, wahh… setuju banget aku…”

“Tapi au nggak setuju…”, jawabmu ringan sambil terdengar sambil menyerutup kopi. Pasti kopi susu favoritmu, tebakku dalam hati.

“Kenapa kok nggak setuju?” tanyaku heran.

“Jodoh itu justru nggak perlu dicari… dia akan hadir pada waktu dan tempat yang tepat meski seringkali sangat tidak terduga… bahkan sosok yang hadir pun bisa aja sosok yang nggak pernah kamu duga…”

Ah, lagi – lagi hatiku menggumamkan doa yang sama.

“Allah… jaga dia untukku…”

Untuk'mu' Yang Ku Rindu (repost note FB)

on
Minggu, 15 Juli 2012
Rasanya baru saja kemarin engkau melepasku dari pelukanmu,
Seperti baru kemarin pula rasanya hatiku bergetar haru mendengar nada syahdu pengiring kepergianmu
Aku tau, saat itu Kau Melangkah pergi mungkin dengan rasa kecewa karena aku belum memberikan sepenuhnya diriku untukmu
Mungkin kau luka karna aku tak pernah bersungguh – sungguh menjadi orang yang benar – benar mengistimewakanmu
Ah, aku memang selalu banyak alasan mengutarakan berbagai pembelaan atas kemalasanku…

Kini, aku mendengar kabar bahwa sebentar lagi kau akan kembali datang
Membawa sejuta janji istimewa yang tak pernah ragu engkau persembahkan untukku
Aku bahagia… selalu tak sabar menanti hari – hari mesra denganmu,
Menikmati tiap syahdu irama alam yang senantiasa merasuk sukma jika kau disini denganku

Masih berapa hari lagi aku harus menunggumu ?? aku sungguh tak sabar…
Aku berjanji akan berusaha menjadi orang yang lebih pantas atas tunainya janji – janjimu
Meski sebelumnya pun aku selalu menyambut kedatanganmu dengan berbagai janji, harapan serta berderet rencana… aku janji akan lebih bersungguh – sungguh kali ini
Dari mulai hari ini pun aku sudah mencoba menanamkan azzam itu dalam sanubariku : aku akan mulai ‘bersolek’ untuk menyambut kehadiranmu, hanya untukmu…
Tentu saja bukan bersolek dengan gaun selutut dan dada terbuka bak penyanyi – penyanyi papan atas yang di puja – puji kemolekannya itu..
Karna aku tau itu bukan seleramu !
Kau ingin aku cantik dengan basuhan air wudhu, kau ingin bibirku indah dengan polesan dzikir serta tilawah, kau ingin tubuhku bugar dengan berbagai aktivitas kebaikan. Iya kan??
Ah, aku tau kau memang selalu ingin menggandengku mesra menuju taman Surga
Aku saja yang kadang tak bersyukur bisa berjumpa denganmu dan tak mau memanfaatkan perjumpaan itu untuk menyelaraskan keinginanmu itu
Bodoh ya aku ?!

Kini aku dengar engkau akan segera datang… masih beberapa saat lagi memang…
Aku berjanji akan sabar menantimu kembali memelukku hangat dalam dekap nan syahdu
Meskipun kadang ada rasa cemas apa aku benar – benar  masih punya waktu untuk pertemuan indah itu
Ah, tak perlu cemas. Aku hanya perlu berdoa supaya kesempatan itu kembali menjadi milikku. Begitu kan??

Yang jelas…percayalah, bahwa hari ini aku begitu merindukanmu
Percayalah bahwa aku akan berusaha untuk tak lagi mengecewakanmu
Semoga pertemuan kita beberapa saat lagi akan jauh lebih berkesan dari pertemuan – pertemuan yang lalu, itu harapku…

Salam rindu selalu *Ramadhan*-ku….


Rhosa Al - Rosyid

Aku Ingin Kalian Membaca Ini

on
Rabu, 11 Juli 2012
Aku itu pencemburu, kalian pasti tahu.
Aku itu tidak suka perpisahan dan tidak suka ditinggalkan, kalian juga pasti tahu.
Tapi bisa apa? Tidak menyukai sesuatu yang sudah menjadi Sunatullah, bukankah akan membuat luka di hati sendiri?!

Dan malam ini, aku ingin kalian membaca ini.
Tentang apa yang bergolak di hatiku, agar tak lagi ada tanya 'kenapa' atau 'ada apa'.

Ketika kebersamaan telah samapi pada tapal batas, lalu perpisahan menggantikan semuua canda tawa kita... maka, ah, sepertinya tak perlu aku menjelaskan seperti apa rasanya karna aku yakin kalian tahu.

Dan di saat seperti itu, kalian tahu apa perasaanku? Aku, dari hati yang terdalam, selalu ingin tahu sedang apa kalian, baik - baikkah kalian, dan apapun tentang kalian. Tapi, saat aku bertanya lewat sebaris pesan pendek, dan tak lama kemudian jawaban terang kalian sampai ditangan, dadaku justru bergejolak. Aku dilanda cemburu tak tertahan. Cemburu karna kalian telah memiliki dunia baru yang aku tak lagi ada didalamnya. Cemburu karna di sekeliling kalian kini telah ada orang - orang baru, menggantikan posisiku yang dulu selalu ada di dekatmu. Ya, aku cemburu di atas segala kata-kata kalian untuk meyakinkanku bahwa aku akan tetap punya tempat tersendiri di hati kalian yang tidak akan pernah terganti.

Dan yang lebih menyakitkan di fase seperti ini, hatiku selalu seperti membentuk benteng pertahanan untuk bisa menerima orang baru sebagai 'pengganti' kalian. Aku selalu membanding-bandingkan 'orang-orang baru' di sekelilingku dengan kalian, dan mereka akan tampak penuh dengan kekurangan yang tak termaafkan. Kalian tahu, menyiksa sekali rasanya. Tapi memang bukan salah kalian, tapi salahku.

Ya, semua ini salahku. Bukankah kata seorang novelis bijak dalam salah satu novelnya mengatakan bahwa hakikat cinta sejati adalah ketika kita tulus melepaskan?! Ya, aku akan terus berprosees untuk tulus setulus yang aku bisa untuk melepaskan kalian merenda kisah baru, menggapai setiap rajut mimpi-mimpi kalian.

Hanya satu pintaku... Tolong, jangan lupakan aku, dan kalaupun telah ada yang lebih 'istimewa' dariku dalam hari-harimu, maka jangan pernah bercerita padaku. Karna aku akan amat cemburu!

"Tidak ada pertemuan yang abadi. 
Tapi aku percaya, seperti pertemuan, perpisahan pun tak ada yang abadi"

Rosa,
di iringi lagu "Doa Perpisahan (Brothers)"

Ini Untukmu

on
Kamis, 28 Juni 2012
Untuk kamu yang aku sebut sahabat, saudara, belahan jiwa, atau entah apa....
Untuk kamu yang pernah mengisi hari-hariku dengan berbagai cerita, tangis pun tawa...
Untuk kamu yang baru saja melewati moment pengulngan hari lahir... aku ingin sekali membuat tuulisan ini: sekedar tulisan biasa, sekedar ngkapan sederhana...

Terimakasih atas semua cerita yang turut kamu untai menjadi bagian dari sejarah tak terlupa dalam hidupku
Cerita awal kebesamaan kita, menyusuri jalan-jalan setapak desa Bulu Lor
Menjadi panitia Ramadhan di kampus yang hasilnya amat tidak karuan tapi cukup ampuh mempersatukan kita
Mengayun langkah antara Paragon menuju Gramedia yang ternyata saat itu belum buka, lalu melanjtkan menuju DP
Menikmati syahdunya perjalanan menuju UNTID di Magelang, lalu melewati 2 hari kerbesamaan penuh kepolosan disana
Bergelut dengan menggigitnya hawa Bandungan dalam acara AKDA
Mengompresku saat demam menyerang

Dan entah bagaimana harus kutulis semua cerita kita... terlalu banyak, dan aku tak mampu

Terimakasih tak terhingga atas semuanya... Tak terkecuali...
Termasuk untuk pemberian tak ternilai dengan harga ini:

 Sebuah benda yang membuatkuu selalu merasa hampa jika ada di suatu tempat dalam waktu lebih dari sehari tanpanya...
Sebuah benda yang meski belum seberapa aku membacanya, memahaminya apalagi mengamalkannya, tapi ingin selalu dan selalu aku baca meski hanya satu ayat tiap harinya...
Sebuah benda yang aku pikir fisiknya amat mencerminkan kita berdua: sampulnya coklat (aku), dalemnya ungu (kamu)

Terimakasih untk semuanya...
Semoga Allah selalu menjagamu dari keburukan, dan memudahkanmu menuju kebaikan....

Dari yang amat merindukanmu,
Rosa


Signature

Signature