}); Archive for Mei 2014

Antara Setia, Bodoh dan Jodoh

on
Kamis, 29 Mei 2014
Siang tadi temen saya nge-WA. Dia nanya saya dapet undangan resepsi dari si X nggak. si X ini temen saya yang sekaligus 'mantan' dia. *Ups :D

Saya jawab nggak dapet, karna memang nggak dapet. Trus saya nanya si X akhirnya nikah sama siapa. Dia jawab nikah sama pacarnya yang jaman duluuuu sekali.

"Setia banget ya, Cha, pacarnya itu..." komentar dia.

"Iya. Kadang Setia dan bodoh itu beda tipis, ya..." balas saya spontan. Kenapa saya reflek bilang gitu? Soalnyaaa sedikit banyak saya tau kalo pacarnya itu beberapa kali diselingkuhi dan diduakan -- bahkan secara terang-terangan. Dulu sampe pernah kejadian 'perang' di kost kami, dan ada adegan nangis-nangis plus pingsan gitu. Beneran kayak sinetron deh :D.

Lalu temen saya bales lagi. Dan balesannya JLEB banget. "Setia dan bodoh tetep akhirnya kembali lagi ke jodoh, Cha..."

Ah ya, saya lupa. Ada faktor yang letaknya di atas segalanya yang saya lupakan. Soal jodoh, soal ketetapan 'Garis Langit'. Sekeras apapun kamu berusaha setia, sengotot apapun kamu berusaha mendapatkan hati sang pujaan, sekukuh apapun kamu bertekad menjaga hubungan dengan 'si dia', toh akhirnya 'Garis Langit' yang akan sepenuhnya mengambil alih atas endingnya :)

TUMBUH

on
Rabu, 28 Mei 2014
Kemarin, untuk pertama kalinya saya nyetir sepeda motor sampe Pati. So? Bagi saya ini Amazing. Bagaimana tidak? sepertinya baru kemarin saya nggak lebih dari seorang anak yang masih enggan menyadari bahwa dirinya mulai dewasa. Saya nggak lebih dari seorang gadis yang masih hobi menggantungkan segala sesuatu pada orang-orang sekitar. Jangankan sampe Pati dengan jarak tempuh kurang lebih dua jam, melewati jalur Pantura yang saingannya container dan truck besar-besar, ke fotocopy-an yang jaraknya nggak lebih dari seratus meter aja dulu saya lebih mlih di anter.

Kenapa bisa gitu, sih? Apa karna saya anak bungsu? Bisa jadi. Kalo anak bungsu diidentikkan dengan manja, dan manja diartikan dengan apapun yang dipengenin harus selalu dikabulkan, maka saya sama sekali nggak termasuk di dalamnya. Kalopun ada yang bilang saya manja, maka manja disitu sepertinya lebih sering diartikan sebagai ‘selalu pengen ada di zona nyaman’. Gimana saya nggak berada di zona nyaman, sedangkan hidup saya selalu dikelilingi sama orang-orang yang amat loyal. Bapak-Ibu yang… ah, nggak perlu dijabarkan. 2 kakak yang… bagi saya terbaik di dunia, lalu pertemuan-pertemuan dengan orang-orang tulus yang kemudian mengakui saya sebagai sahabatnya. Mereka bikin saya selalu merasa ada di zona nyaman.

Tapi toh saya akhirnya menyadari, terlalu lama ada di zona nyaman nggak selamanya baik. Harus diakui mungkin salah satu efek buruknya adalah saya bisa dibilang ‘agak’ terlambat menyadari tugas dan tanggung jawab sebagai manusia dewasa, serta kesiapan untuk menghadapi hitam-putihnya dunia. Mungkin nggak perlu saya ceritakan detail, karna akan lebih mirip sebagai ajang buka aib :D

Iya, mau nggak mau saya akhirnya menyadari bahwa nggak bisa selamanya merasa aman di zona nyaman. Ketika keadaan perlahan mulai berubah: kakak perempuan nikah, disusul kakak laki-laki yang diterima kerja dan ditugaskan di luar kota, kemudian lulus SMA dan harus pisah sama 3 sahabat yang luaaarrr biasa baiknya dan manjain saya banget, lalu saya yang harus hidup di kost – satu atap dengan orang-orang baru dengan berbagai karakter, dll. Ya, meskipun ‘mungkin’ terlambat, akhirnya saya menyadari semuanya nggak sama lagi. Saya nggak bisa terus-terusan berharap ada banyak kaki yang akan membantu ‘menopang’ saya. Saya akhirnya ngerti bahwa akan ada saat di mana bener-bener nggak ada orang yang bisa diandalkan, dan saya harus berdiri diatas dua kaki saya sendiri.

Tentu saja melewati setiap proses tersebut nggak se-enteng menuliskannya seperti di atas itu. Saya dikepung resah, sedih dan cemburu saat dua kakak nikah. Saya berbulan-bulan menangisi perpisahan dengan 3 sahabat SMA. Dan masih banyak lagi. Growth is painful – tumbuh itu menyakitkan, begitu kata banyak orang. Seperti seorang anak yang harus merasakan sakit ketika hendak tumbuh gigi, atau berkali-kali jatuh untuk bisa jalan, kita pun begitu. Tumbuh menjadi dewasa juga seringkali diwarnai banyak sekali hal yang terasa menyakitkan. Saya yakin di luar sana banyak sekali yang fase tumbuhnya ditandai dengan kejadian menyakitkan yang berpuluhkali lebih menyakitkan dari yang saya alami.

Yah, bagaimanapun… dunia ini berputar, hidup ini penuh perubahan. Maka, kalo nggak pengen tergilas habis oleh perputaran dan perubahannya, kita juga harus bergerak, tumbuh. Begitu, kan? Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.


**Saya pengen banget bilang ke Mas saya – orang yang sepertinya masih sering ‘lupa’ bahwa saya sudah ‘tumbuh’, “Hei, Mas… lihatlah… aku bukan lagi adik kecilmu yang bisanya cuma bergantung, meskipun bukan berarti aku nggak akan lagi butuh kamu”. Ah, adakalanya saya kangen kemana-mana di antar-jemput sama dia, kangen menyusuri jalan Jepara-Kudus di petang hari :)**

Tentang Perasaan

on
Jumat, 23 Mei 2014
Beberapa minggu yang lalu seorang temen ngechatt saya sesaat setelah saya update status di BBM. Kalo nggak salah waktu itu saya bilang saya tuh nggak mudah pindah ke lain hati, tapi kali ini saya harus melakukannya, lalu saya kasih keterangan bahwa saya sedang ngomong sama provider. Yup, maksudnya pindah ke lain hati saat itu tuh pindah provider buat internetan -- setelah kesabaran saya habis sama provider yang sebelumnya.

Eeehh, si temen saya itu bilang, katanya saya kenapa saya tuh selalu ngomongin soal perasaan... di status FB, BBM, atau apapun. Hah? Saya mikir cepet... Masa' sih?? Apa iya? Waktu itu saya bilang ke dia, apa yang saya tulis nggak selalu benar-benar menggambarkan apa yang saya rasakan. Lagian ya, kan waktu itu saya lagi ngomongin soal provider, cuma sengaja dibikin diksinya mellow aja. Jelas, niatnya becanda kali, ah!

ini salah satu depe saya kemaren. keliatan galau kah? :p

Truuuss, kemarin terulang lagi. Kemarin saya dilanda ngantuk berat di kantor (biasa sih sebenernya). Trus sayanya maenan hape buat ngalihin fokus biar ngantuknya nggak tambah parah (alibi!). Sehari ganti-ganti depe BBM terus. Hihi, ababil banget yah (ngaku :p). Kebetulan saya milh depenya kemaren itu tulisan-tulisan mellow gitu -- tapi beneran saya milihnya random. Eehhh, sore-sore, salah satu sahabat karib saya ada yang nge-chat, tanya saya kenapa, lagi kepikiran soal apa, bla bla bla... dia juga bilang jadi khawatir sama aku karna aku sepertinya sedang nggak baik-baik saja.

Saya speechless. Hihi. Terharu, tapi campur geli. Terharu karna ternyata saya punya sahabat yang begitu pedulinya sama saya. Tapi juga geli soalnya saya beneran random aja milih depenya. Tapi saya jadi mikir... apa image sebagai 'penggalau' terlampau kuat menempel pada saya? Sampe-sampe saya lagi nggak galau pun akan terlihat seperti lagi galau :D. etapi, bagus kali yaa kalo 'potensi' itu saya salurkan ke arah positif. Nulis novel romance galau gitu, misalnya. Hihi.

Yang perlu saya tekankan di sini (omaigad, berasa artis aja, sok bikin klarifikasi :D),saya mungkin memang hobi curhat, hobi nge-galau. Tapi saya rasa nggak selalu menggambarkan apa dan bagaimana sebenernya kondisi hati saya. Apalagi kalo sekedar status FB atau BBM - nggak pernah deh perasaan saya curhat masalah hati. Mislapun iya, pasti yang ringan-ringan, yang nggak masuk wilayah privasi. Kalo di blog ini, iya siih lumayan banyak curhatan. Tapi yaa balik lagi -- saya nggak pernah bisa nyeritain sebenar-benarnya isi hati saya. Akan tetep ada bagian-bagian yang saya jaga hanya buat saya dan Tuhan saya. Intinya, yang saya curhatin di ranah publik tuh cuma 'kulitnya' aja.

Ah, udah ah... cukup segitu presscon-nya. Ahahaha.

Selamat menyambut akhir pekan, semuaaaa... :*

TOPENG

on
Selasa, 20 Mei 2014
Saya baru tau betapa jabatan bisa sebegitu menyilaukan dan bikin kita nggak peduli banyak hal. Oke, saya memang sudah sering dengar tentang formula 'harta, tahta dan wanita' yang begitu memabukkan itu. Tapi baru sekarang melihatnya. Emm, mungkin memang nggak 'se-Wow' kasus-kasus di tivi atau di portal berita online. Tapi sudah cukup bikin saya heran.

Iya, saya heran. Heran sama orang-orang yang jauh lebih rela kehilangan hubungan baik sama teman-temannya demi pujian atasan. Saya heran sama orang-orang yang sebegitu berubah sikapnya seiring perubahan jabatannya. Emang apa enaknya terus-menerus disanjung atasan tapi semua teman enggan lagi berdekatan? Entahlah.

Saya juga pernah denger, semua orang itu punya 'topeng'-nya masing-masing. Dalam artian setiap orang punya 'cara' masing-masing dalam mengatur sikap untuk menghadapi sebuah situasi, agar tujuannya tercapai. Oke harus diakui pernyataan itu kadang ada benarnya. Tapi tetep nggak habis pikir rasanya sama orang yang tega memakai topeng, lalu jatuhin orang lain -- apalagi itu temannya sendiri.

Budaya cari muka juga bukan hal aneh lagi kali yaa di dunia kerja. Sampe-sampe di tempat kerja saya ada guyonan begini, "Makanya kalo berangkat kerja tuh mukanya jangan ditinggal di rumah, biar di kantor nggak sibuk nyari muka kemana-mana". Hihi

Merasa Bersalah

on
Senin, 19 Mei 2014
Merasa bersalah tuh rasanya nggak enak banget, yah? Saya paling nggak suka ngerasain perasaan itu, sumpah. Menyiksa sekali.
Beberapa tahun lalu saya pernah merasakan perasaan itu, pada salah satu sahabat saya di SMA. Saat pagi-pagi, tepat setelah upacara saya mendengar kabar Ayahandanya meninggal dunia. Ah, bahkan saya masih ingat persis perihnya. Rasa bersalah seketika mengepung saya ketika ingat bahwa tepat sehari sebelumnya dia menghampiri saya dengan wajah gundah, seperti hendak bercerita sesuatu. Tapi saya, dengan teganya malah mengabaikan itu, lalu justru merecokinya dengan rengekan kekanak-kanakan hanya karna sebuah konflik dengan sahabat saya yang lain (yang juga sahabatnya). Padahal bukankah saat itu saya pun sudah tau bahwa Ayahnya tengah terbaring di Rumah Sakit, dan kondisinya nggak bisa dibilang baik?! Seketika saya merasa menjadi sahabat paling egois sedunia.

Ya, itu kejadian yang membuat saya harus pasrah membiarkan perasaan bersalah bercokol di hati saya, bahkan hingga bertahun-tahun. Perasaan yang membuat saya selalu ingin menangis -- apalagi ketika melihatnya berusaha menunjukkan pada kami bahwa ia baik-baik saja dengan senyumnya yang selalu terkembang, meski gundah tak mampu tertutupi sepenuhnya.

Rasanya belum lama ini rasa bersalah itu mulai luntur. Lalu hari ini, saya tiba-tiba dibayang-bayangi perasaan itu lagi. Pada orang lain, dengan latar belakang lain. Mungkin memang jauh lebih sederhana dari kasus sebelumnya. Saya nggak pengen bercerita detail. Saya sendiri bahkan belum yakin apakah ini hanya perkiraan saya (yang ternyata salah), atau memang seperti yang saya perkirakan. Yang jelas, saat ada seseorang yang tadinya asyik dijadikan teman ngobrol dan berbagai cerita, bahkan saling mencela... tiba-tiba berubah menjadi kaku seperti baru kenal, sungguh sangat cukup membuat saya dibayangi perasaan merasa bersalah. Apakah karna keputusan yang saya ambil?!

Kalau boleh dan kalau bisa, saya pengeeen banget bilang ke dia, "Ayolah, kita masih tetep bisa sahabtan kayak dulu... jangan berubah gitu!!!". Tapi tentu saja saya nggak bisa egois. Dia punya hak untuk nentuin sikapnya.

Yasudahlah, pilihan terbaiknya bagi saya ya menerima perasaan merasa bersalah ini dan berusaha menghilangkannya. Semoga sih perkiraan saya salah, dan ini hanya perasaan saya saja -- jadi sebenernya dia nggak berubah, saya saja yang sensi. Satu lagi, berdoa, agar jika memang saya salah dan dia tersakiti, semoga dia lekas menemukan obatnya (dari Allah) :)

DARE TO DREAM!!! :)

on
Jumat, 16 Mei 2014
Dulu saya paling enggan ngomongin soal mimpi. Kenapa? mungkin karna saya pengecut :p. Iya, saya memang pengecut. Saya terlalu takut jika mimpi-mimpi saya ternyata tidak mampu saya gapai, lalu saya jatuh dalam lubang kecewa yang terlalu dalam *halah!*. Tapi nggak begitu dengansekarang. Sejak mulai (lumayan) rajin nge-blog dan cukup sering baca rancangan mimpi banyak orang, saya baru sadar bahwa berani bermimpi itu keren. Keren banget. Dan saya pikir berani bermimpi juga bisa jadi salah satu indikasi bahwa saya punya 'iman'. Bukankah Tuhan saya berjanji bahwa Dia akan memperkenankan permintaan Hamba-Nya yang mau meminta? Dan bukankah Dia juga berkata melalui sebuah hadist bahwa Dia sesuai persangkaan Hamba-Nya? Lalu, kenapa nggak saya kombinasikan saja: Bermimpi, berdoa, yakin akan tercapai, plus usaha tentunya :)

Yup! Jadi, entah kapan mulainya -- yang jelas belum lama, saya memutuskan untuk berani belajar bermimpi. Apa buktinya? Salah satunya saya memutuskan untuk bikin 'ruang baru' di rumah maya saya ini, yang saya kasih nama 'Kotak Mimpi'. Di situ saya 'memberanikan diri' untuk membiarkan mimpi-mimpi saya dibaca orang lain. Dulu jangan harap saya berani melakukan hal tersebut. Kan sudah saya bilang, dulu saya pengecutnya nggak kira-kira :D. Oh iya, tuh di deskripsi profil saya juga saya bilang saya sedang belajar bermimpi. Haha
dr. Google

Terus kemarin waktu lagi jalan-jalan (bahasa kerennya sih Blogwalking), saya nemuin giveaway menggiurkan dari Mbak Winda. Gimana nggak menggiurkan... kita disuruh nulis mimpi kita, terus di janjiin hadiah yang bikin mata ijo *oke, lebay!* :D. So, rugi banget deh rasanya kalo nggak ikut. Kali ini saya mau nulis beberapa mimpi saya yang saya yakin sekali akan mampu mewujudkannya (dengan ijin Allah, tentu saja). Saya bakal nulis 4 mimpi (saja) di tulisan kali ini. Salah satu udah pernah saya tulis sih di Kotak Mimpi. hihi. Oke, saya tulis dari mimpi yang paling kurang penting ke yang paling penting, yah. Emm, penting semua sih sebenernya bagi saya. Mungkin yang tingkat manfaatnya paling rendah lebih tepatnya :p.

1. Saya pengeeeeennn banget nonton live konser Kahitna. Kalo boleh ditambahkan lagi, saya pengen nontonnya nggak sendirian, tapi sama 'Bapaknya anak-anak' :D. Iya, saya tuh sukaaa banget sama Kahitna, terutama sama Kang Hedi Yunusnya. Saya nge-fans sama tuh orang sejak SD loh! *siapa nanya?!*. Saya juga pengennya nonton pake golden tiket -- biar nyaman dong tentunya. Tiketnya kayaknya lumayan mahal, ya? Nah, makanya saya pengen sama 'Bapaknya anak-anak'. Kenapa? Biara ada yang bayarin lah! :p. Ehh ehh, satu lagiii... saya nanti mau naik ke panggung, terus ngasih bunga ke Kan Heidi. Semoga diijini sama 'Bapaknya anak-anak'. Ahahaha. Saya berharap impian ini bisa terealisasi Tahun depan -- pokoknya pas Kahitna bikin konser. *udah ada si 'Bapaknya anak-anak' belum yaaa pas ituu T.T*. Kalo mimpi ini gak tercapai? Saya tetep bakal nonton konser Kahitna: LEWAT YOUTUBE!! :p

2. 23 tahun saya hidup di dunia, saya belum pernah naik kereta lhooo *nangis guling-guling*. Teruuuussss??? Ya saya pengen naik kereta!!! Terserah tujuannya ke mana, terserah sama siapa (cuma kalo bisa nggak mau sendiri). Pengeeeen banget segera mewujudkan impian yang ini. Cuma bener-bener nggak tau sama siapa. Mungkin kalo tujuannya bisa yang deket-deket dulu kali yaaa. Dari Semarang ke Jogja, misalnya. Lebih jauh lagi sih pengen kayak film 5cm tuh... ke Mahameru, trus kesananya naek kereta. Haha. Ayoookkk dooong, siapa yang mau ajak/temenin saya naik keretaaa???!!! *muka melas*. Saya berharap sudah bisa ngrasain naik kereta sebelum akhir tahun ini. Maka, mulai sekarang mau maksa-maksa temen buat mau nemenin saya kali yaaa. Haha. Kalo nggak ada yang mau atau keadaan nggak memungkinkan, emm, saya mau naek kereta wisata di Pantai Kartini - Jepara aja kali yaaaa.

3. Punya perpustakaan di rumah. Ini sih sebenernya impian udah nggak tau dari jaman kapan, udah lamaaaa. Dari segi usaha, yah paling nggak jumlah koleksi buku saya sudah mengalami peningkatan yang lumayan dibanding sejak pertama mimpi saya tercetus. Tapi ironisnya, saya belum punya rak buku! *tersedu*. Saya udah berencana beli rak buku beberapa kali, tapi nggak tau kenapa adaaaa aja yang bikin jadi tertunda. Kenapa pengen punya perpustakaan di rumah? Motivasinya jangka panjang banget sih kalo ini. Berharap dengan ada perpustakaan di rumah, anak-anak saya nanti jadi cinta baca. Kalo saya sih belum bisa dibilang cinta-cinta banget -- tapi kan saya pengen generasi penerus saya jauh lebih baik dari emaknya. Heuheu. Pengen banget lihat mereka kelak akan jauh lebih tertarik pada buku cerita dibanding acara-acara televisi yang bakal bikin mereka lihat joget kayak kebanyakan acara akhir-akhir ini T.T. Emm, pokoknya sebelum akhir tahun ini saya sudah HARUS beli rak buku dan bikin perpustakaan mini di ruangan yang sudah saya siapin di rumah.

4. Mimpi terakhir yang mau saya deklarasika di sini adalah: Jadi Ibu yang bisa ngasih ASI eksklusif ke anak-anak saya nanti sampe mereka umur 2 tahun. Kenapa? Yah, alasan utamanya tentu saja tentang kelebihan ASI yang segambreng dan kayaknya nggak perlu saya jabarkan di sini (pasti udah banyak yang tahu lah, ya!). Yang saya tahu, kalo anak ngASI tuh pasti ikatan batin sama ibunya jauh lebih kuat. Motivasi lain, saya pengen membuktikan pada diri saya sendiri bahwa saya pasti bisa. Soalnya, lingkungan saya akhir-akhir ini, yang dulunya 'fanatik' sama ASI tuh mulai bergeser pemahamannya, dan seolah beranggapan "Ya nggak papa nggak ASI, asal dikasih Sufor yang Muahaaal!". Ya Allah... yakin deh sufor yang mahal sekali itu tetep nggak bakal bisa ngalahin produknya Allah. Iya, nggak?! Waktu Mbak saya hamil, terus saya mencoba menekankan agar dia kasih ASI eksklusif ke anak nanti, dia bilang, "Saya nggak se-naif kamu! Lihat sikon aja!". Omaigad, saya naif?! Iya, soalnya dia beranggapan saya belum bener-bener tau susahnya kasih ASI eksklusif sambil tetep kerja. Tapi kaaann.. itu buktinya banyak juga kok yang bisa. Bahkan sampe ada yang stok ASI-nya berlimpah dan cukup buat berbulan-bulan ke depan. So, saya bertekad akan membuktikan bahwa saya BISA! Emm, saya udah nge-keep botol-botol yang buat nyimpen ASI itu sih (punyanya kakak ipar yang nggak jadi ke-pake). Jadi nanti nggak usah beli. Heuheu. (Nikah aja belum udah nge-keep botol penyimpan ASI??? Ya nggak papa!!!). Semoga akhir tahun depan saya sudah benar-benar bisa merasakan menjadi BundASI. *berdoa khusyuk*, Aamiin.

Itu dulu aja kali yaaa mimpi yang saya deklarasikan di sini. Tentu saja bukan berarti mimpi saya cuma itu. Yang jelas, sejauh ini saya percaya bahwa menuliskan mimpi berarti berdoa dalam cara yang lain. Saya harap saya selalu ingat untuk menyertakan Allah dalam tiap impian saya. Dan saya harap, dengan menuliskan mimpi di tempat yang memungkinkan untuk di baca orang (banyak), semoga akan semakin banyak pula yang bersedia turut mengaminkannya :)

Diary Sang Zombigaret

on
Kamis, 15 Mei 2014
Aku terbaring di ruangan sepi yang seluruh temboknya dicat warna putih. Mataku menatap kosong langit-langit kamar. Hening. Tiga orang yang paling aku kasihi pun seperti terbungkam, hanya tangan mereka yang sesekali tampak menyeka sudut mata.

Ah, sesak sekali rasanya dadaku. Tak sedikitpun pernah terlintas dalam benakku bahwa aku akan menjelma zombie seperti ini. Bukankah dua bulan lalu sakit di lidahku ini tak lebih dari sekedar sariawan biasa? Ya, hanya sariawan – yang semakin hari semakin nyeri.

“Ayolah, Yang… periksa ke dokter yang lebih ahli…”

“Kamu apaan sih… nggak usah parno berlebihan gitu deh! Ini tuh cuma sariawan, Cuma agak parah. Lagian kemarin kan aku juga udah periksa!”

Begitulah. Berkali-kali dia mengingatkan, berkali-kali pula aku membantah. Hingga seminggu lalu aku tak lagi mampu menahan rasa sakit di mulutku, lalu memilih menuruti apa katanya. Dia pula yang susah payah mengatur pertemuanku dengan Dokter Ridwan – dokter spesialis Onkologi paling senior di kotaku.

“Saya curiga ini adalah tumor ganas…”

Kalimat Dokter Ridwan tersebutlah yang menjadi awal kiamat bagi diriku. Kalimat yang seperti menobatkan gelarku sebagai zombie – manusia setengah mayat. Dan di sinilah aku hari ini. terbaring dalam ruangan sepi, dengan baju warna hijau menyerupai daster ibuku, orang-orang berbaju putih bersih, dan berbagai peralatan yang mengerikan sekali di mataku.

“Harus di biopsy – untuk tahu tingkat keganasan tumornya…”

oOo
“Ayolah… lo laki bukan, sih? Ini bakal bantu kamu banget biar mata tetep bisa melek!” Kata Andre, temanku. Malam itu kami sedang mengerjakan laporan praktikum semalam suntuk. Ah, aku tidak pernah membayangkan kuliah di jurusan teknik yang sejak dulu menjadi impian akan seberat ini. Dan entah begaimana aku memulainya, akhirnya benda kecil panjang berwarna putih itu menjelma sahabat karibku. Agar tetap terjaga, begitu dalih pembenaranku ke Ibu dan pacarku yang tak begitu suka pada sahabat baruku tersebut.

Ya, ternyata aku memang tidak salah. Sahabat karibku itu memang ampuh sekali membuat aku selalu terjaga. Bahkan hingga hari ini. Aku terjaga bersama rasa sakit yang entah bagaimana harus mendeskripsikannya. Sakit luar biasa yang tak sedikitpun pernah terlintas di benakku.

“Ya, positif kanker… stadium 3…” ucap Dokter Ridwan lirih.

Aku menangis. Meraung. Meratapi takdirku. Kenapa? Kenapa harus aku? Kenapa bukan teman-temanku yang mempengaruhiku mengakrabi benda laknat itu??!! Ibuku pingsan. Ayahku tersedu. Kekasihku memilih menyembunyikan wajahnya dariku. Oh, Tuhan…

Sejak saat itulah aku ‘resmi’ menjadi zombie. Tak ada lagi wajah ganteng yang kata banyak orang pantas jadi artis. Yang tersisa hanya wajah tirus serupa tengkorak hidup. Tak ada lagi rambut a la Boyband Korea, karna satu persatu helainya mulai rontok – sebagai efek kemoterapi dan radioterapi.

Lalu bagaimana masa depanku? Kuliahku yang tinggal dua semester lagi? Kuliah yang dulu aku jadikan alasan terkuat mengakrabi barang laknat itu. Ah, terlambat. Tak lagi ada guna semua sesal itu. Lihatlah, semua orang memandang dengan raut – entah iba atau takut – melihatku berjalan dengan di papah salah satu temanku serta seorang suster pendamping. Ya, aku memaksa datang untuk melakukan seminar atas tugas akhirku. Aku tidak tahu apa ini masih ada gunanya bagi hidup seorang zombie. Yang pasti, aku ingin membuktikan pada orangtuaku bahwa aku berani bertanggung jawab atas resiko apapun di balik setiap pilihan hidupku – termasuk pilihan untuk pernah menjadikan benda putih itu sebagai teman.

oOo
**Tulisan ini saya tulis sambil terkenang sosok seorang teman yang telah berpulang ke Haribaan Allah hampir setahun lalu: Gandhung Wahyu Irawan. Meski saya tak tahu persis apa sebenarnya penyebab utama atas kanker lidah yang menuntunnya pada ajal. Semoga Allah melapangkan alam kuburnya, serta mengganti tempatnya di dunia dengan tempat yang lebih baik 'di sana'. Aamiin.

Etika Jalan Raya

on
Selasa, 13 Mei 2014
Yup, ternyata etika itu nggak cuma cukup kita terapin waktu berinteraksi dengan orang yang lebih tua, ya! Tindak-tanduk kita harusnya selalu dikawal sama yang namanya etika. Apalagi buat kita yang hidup di Indonesia -- yang setau saya sih menjunjung tinggi etika.

Tapi herannya, Indonesia yang terkenal menjunjung tinggi etika itu kok konon kalah di beberapa sisi, ya? Salah satunya etika di jalan raya. Kalo kata kakak saya, di Indonesia tu banyaaakkk sekali yang bisa berkendara (naik motor/mobil), tapi jaraaaang sekali yang tau etika berkendara di jalan raya. Yah, mungkin salah satunya saya, sih.

Emm, jujur saya suka geram sih sama ulah beberapa orang waktu di jalan raya. Salah satunya? Ituuu lhooo... orang-orang yang hobi ngrumi di jalan. Yup, yang nggak tau sengaja ato nggak ketemu temennya di jalan, terus sengaja menyejajarkan sepeda motor mereka, trus mereka ngrumpi dengan sangat santainya -- santai kayak di pantai -,-". Duhh, beneran saya geraaammmm sekali (plus heran). Saya masih nggak habis pikir aja... tema obrolan Maha Penting apa yang sampai nggak bisa di tunda dan harus di obrolin sambil naik motor gitu??!! Kalo memang penting, kenapa nggak berhenti dulu, trus ngobrol deh di tepi jalan. Duhh, Pliisss deehhh... jalan raya gitu lhooo... dan mereka ngobrol santai, sepeda motor berjajar dan dengan kecepatan amat rendah. Berasa jalan raya milik pribadi aja -______-.

gb diambil dr sini

Satu lagi! Saya juga baru tau loh kalo sekarang banyak mobil sam motor yang bagus-bagus tapi lampu sign-nya 'nggak bisa nyala'. Adududuhhh... kasian sekali. Alhasil, ya belok kanan belok kiri asal slundap-slundup ajaa... nggak peduli motor/mobil di belakangnya hampir copot jantungnya demi biar nggak nubruk. *tepok jidat*

Saya tau sih sewot kayak gini juga nggak baik sebenernya. Tapi gimanaa dong.... kalo cuma menyangkut keselamatan masing-masing individu sih mungkin saya nggak akan sewot, ya. Itu udah jadi urusan masing-masing orang atas keselamatan dirinya sendiri. Masalahnya kaaann... Kalo di jalan raya itu nggak bisa gitu. 'Tingkah laku' kita juga sangat menentukan keselamatan orang lain. Coba bayangin, kalo orang lain udah berusaha hati-hatiiii sekali, tapi kitanya nggak hati-hati dan akhirnya bikin orang lain yang udah hati-hati itu juga jadi 'celaka'? Bayangin betapa dzalimnya kita?!

Jadiii... Yuk mulai belajar bijak di jalan raya. Yuk mulai belajar ber-etika saat berkendara. Inget, perilaku kita juga menentukan keselamatan orang lain :)

Apa Saya Nekat? Entahlah!

on
Kamis, 08 Mei 2014
Hmm, Oke... saya harus prihatin karna beberapa hari ini saya tega sekali membiarkan blog ini berdebu. Tidak, saya bukan tak mempedulikannya sama sekali. Saya masih selalu menengoknya. Tapi hanya sekedar itu, menengok -- tidak lebih.

Ide dan kemampuan saya menuangkan pikiran melalui tulisan seperti menguap. Saya lebih banyak berpikir, merenung. Terutama tentang beberapa hari terakhir ini -- yang (mungkin) akan jadi salah satu fase paling penting saya selama hidup di Bumi Allah ini. Kata orang saya nekat. Saya terlalu 'berani' mengambil keputusan ini. Benarkah?

Tapi bukankah tiap gerak hati saya sepenuhnya dikendalikan oleh Allah? Semoga. Saya berkali-kali dihadapkan dengan situasi hampir sama, malah bisa dibilang jauh lebih sederhana. Tapi apa saya dengan enteng mengambil keputusan serupa? Nyatanya tidak. Jadi apa sebenarnya yang membuat saya 'berani' kali ini? Saya tidak tahu. Saya benar-benar tidak tahu. Saya lebih memilih untuk berusaha memasrahkan semua pada Allah -- atas apapun yang akan terjadi besok dan beratus-ratus hari ke depan, setelah 'keberanian' ini.

Kalau banyak orang bilang saya nekat, saya lebih memilih menyebutnya dengan Jalan dari Allah. Semoga memang begitu adanya.

Saya tidak tahu saya bicara apa. Yang saya tahu saya ingin menuliskan apa yang berkelindan dalam benak saya saat ini. Laa Hawla waLa Kuwwata illa billah...

Tanpa Judul

on
Minggu, 04 Mei 2014

Entah darimana saya harus memulai menceritakannya... Entah bagaimana saya harus memaparkan kisahnya...

Saya hanya berharap Allah memudahkan semuanya, bahkan jauh melampaui kemampuan matematis otak manusia dalam menyusun berbagai rencana...

Signature

Signature