Sabtu, 15 Oktober 2016

Hari Pernikahan: Impian VS Realita

Gara-gara baca tulisan Mbak Windi Teguh soal impian VS realita menikah, saya jadi inget dulu pernah nulis soal pernikahan impian. Duluuu, waktu saya belum kenal banyak blogger kece seperti kalian *halah*. Nah, jadi kepikiran untuk bikin tulisan impian VS realita versi saya, hanya saja saya cuma pas soal hari pernikahannya, bukan kehidupan setelah pernikahan.

Hampir semua single pasti punya angan-angan tentang mau seperti apa nanti hari pernikahannya, ya. Dari hal-hal simpel seperti mau pakai kebaya warna apa, atau mau pakai adat apa, sampai ke yang detail banget soal printilan acara. Wajar sih, kalau gak punya malah agak mengherankan, ya. Nah, termasuk saya. Saya juga punya impian-impian kecil di hari pernikahan saya. Beberapa diantaranya ya yang saya tulis di blogpost Pernikahan Impian itu. Sayangnya, realitanya seringkali gak sesuai sama apa yang jadi impian saya.

Mau tau apa aja? Mau ya, ya, ya?! *maksa*. Yawis, langsung aja yukk...

1. Undangan Pernikahan

Impian:

Saya dulu pengennya di undangan pernikahan ada tulisan satu-dua paragraf yang merupakan karya saya dan si mas. Semacam tulisan-tulisan romantis nan berbunga-bunga gitu lah. Jadi pengennya undangannya agak lebar biar spacenya cukup. Terus pengennya gak ada foto wajah kami sang calon mempelai. Dan desainnya dulu pengen banget orisinil, hasil ideku dan si mas. Jadi gak akan ada yang menyamai. Bagian ini gak tertulis di blogpost pernikahan impian itu sih, cuma tersimpan dalam hati *halah*.

Ohya, satu lagi. Impian saya, undangan pernikahan saya harus MURAH. Jiahahaha. Impian macam apa ini.

Baca: 5 Pertimbangan Saat Memilih Kartu Undangan Pernikahan

Realita:

Dua aja sih dari impian soal undangan pernikahan yang tercapai. Yang pertama, ya MURAH itu. Ahaha. Undangan saya cuma seharga 1.500/eks, itupun masih didiskon lagi pas pembayaran akhir. Order ke kakak angkatan kuliah sih. Ceritanya memang karna pengen pakai jasa teman sendiri waktu itu. Yang kedua, gak ada foto wajah saya dan si mas. Yah, kayaknya kami tau diri foto kami gak seberapa enak dipandang. Lagian, ujung-ujungnya pasti dicampakkan ke  tempat sampah, kan. Hihi.

Terus gimana soal tulisan romantis karya saya dan si mas itu? Boro-boro kesampaian, lha wong kemampuan saya merangkai kata aja seperti menguap entah kemana kok saat menjelang nikah. Yawislah dipasang hadist soal pernikahan aja, sekalian dakwah *alibi*. Desain orisinil juga bye-bye hanya jadi impian belaka. Gak tau kenapa si mas yang punya ilmu dikit-dikit soal desain grafis juga tiba-tiba ilang kemampuannya saar menjelang nikah. Haha. Yah, lagian maunya murah mau desain macem-macem. Mana adaaa!

2. Foto Pre Wedding

Impian:

Gak pake foto pre wedding-pre weddingan! Simpel. Hehe

Realita:

Sesuai sih sama impian. Hihi. Tadinya sempat dipaksa Mbak juga suruh foto, meskipun dua-tiga jepretan. Soalnya dia kan perias manten, yang pastinya punya beberapa rekanan fotografer. Nah, salah satu rekanannya bersedia kasih harga sahabat gitu deh. Tapi saya dan si mas tetep kekeuh gak mau. Duh, hemat, cyiinn... perjalanan masih panjang. Haha.

pake' undangan ini lebih irit :P
3. Pemilihan Hari Pernikahan

Impian:

Gak pake hitung-hitungan hari, dan pengen pas weekend.

Baca: Perhatikan 3 Hal Ini Saat Menentukan Tanggal Pernikahan


Realita:

Tercapai, Alhamdulillah, Yes! Hehe. Dapet bonus pula, hari pernikahannya pas libur panjang. Jadi cutinya berasa lebih lamaa. Hehe.
4. Rangkaian acara akad nikah dll-nya

Impian:

Saat itu saya menulis seperti ini:

"...pengennya, akad nikahnya tuh pagi, pas waktu dhuha gitu. Lalu langsung dilanjut walimahan alias resepsi sederhana. Pokoknya maksimal setengah dua acara formal sudah harus beres! Kenapa? Alasan utamanya tentu saja karna saya nggak mau ‘dipaksa’ untuk tetap tampil dengan rias lengkap ala pengantin itu, lalu ‘mengikhlaskan’ kewajiban dhuhur saya lewat begitu saja. Karna  acara pernikahan nggak bisa digolongkan ke dalam kondisi yang ‘membolehkan’ kita meninggalkan sholat, kan yah?? Lagian menurut saya ‘agak’ nggak pas, ya… menikah itu kan dalam rangka menunaikan sunnah, eeehhhh malah ‘dimulai’ dengan melupakan kewajiban."
Untuk tempat akad nikah, saya memimpikan di teras masjid sebelah rumah. Saya juga gak pengen duduk di sebelah si mas, pengennya duduk di belakangnya saja, atau nunggu di rumah. Sebelum akad nikah, saya pengen ada yang membacakan surah Ar Rahman. Lalu setelah akad nikah saya pengen dikasih waktu berdua sama si mas di kamar, agar si mas dapat membacakan doa barakah sembari memegang ubun-ubun saya, dan dilanjutkan sholat sunnah dua rakaat bersama.

Realita:

dokumentasi pribadi
 Alhamdulillah, sesuai impian, akad nikah dilaksanakan pagi, saat waktu dhuha. Sedangkan resepsi dimulai pukul 11.00 dan selesai pukul 14.00. Yeay, lagi-lagi sesuai impian! Sebenarnya pukul 14.00 belum benar-benar selesai sih, cuma saya maksa pengen segera turun dari pelaminan dan mencopot segala macam aksesoris sebagai ratu sehari. Alasannya? Kalau dalam tulisan di atas saya resah memikirkan kewajiban sholat dhuhur, qodarullah saat hari H menikah saya sedang kedatangan tamu hari ke-2 =D, jadi bebas tugas. Si mas juga Alhamdulillah sempat sholat dhuhur, meskipun di sisa waktu =(( Terus kenapa saya tetap maksa baju pengantin dll dicopoti pukul 14.00. Yang sesama wanita pasti tau seperti apa rasanya menstruasi hari ke-2 =(( Pengen segera rebahan di kasur!

Tempat akad nikah berlangsung, Alhamdulillah lagi-lagi sesuai dengan impian. Posisi duduk saya saat akad nikah berlangsung juga sesuai dengan impian. Jujur tadinya saya lebih prefer nunggu di rumah. Tapi si mas dan calon ibu mertua (saat itu) meminta saya untuk turut ikut ke tempat akad nikah. Untuk surah yang dicakan sebelum akad nikah berlangsung, sayangkan bukan Ar Rahman. Saya udah gak kepikiran request saat itu atau sebelumnya. Pikir saya, ah sudahlah, toh semua ayat Al Qur'an baik.

Apakah kami sempat dikasih waktu berdua saja di kamar sesaat setelah akad nikah? Tidak! Boro-boro... kami dikejar waktu. Setelah akad nikah usai, kami harus segera berganti kostum resepsi. Doa barakah dibacakan si mas masih di lokasi akad nikah. Sholat sunnah juga kesampaiannya enam hari setelah menikah. Ya gimana dong, kan saya sedang mens. Hehe.
5. Baju Akad Nikah dan Resepsi

Impian:

Pengen pakai baju warna putih, tapi bukan kebaya, melainkan gaun. Sedangkan kostum resepsi saat itu saya cenderung belum punya impian spesifik soal warna maupun model. Ohya, saya juga memimpikan jilbab yang tidak dililit-lilit. Pengennya yang menjuntai menutup dada gituu.

Realita:

Baca: Baju Akad Nikah

Baju akad nikah, sesuai impian, bahkan melebihi apa yang ada di ekspektasi saya. Saya sudah cerita lumayan detail soal baju akad nikah di sini. Sedangkan baju akad nikah, meskipun saat itu gak menuliskan secara spesifik, Alhamdulillah bisa juga dibilang sesuai keinginan saya. Karna mbak saya pesan baju pengantin khusus buat saya (maksudnya yang pertama pakai saya). Jilbab gimana? Ini agak melenceng dari impian saya sih =(( Model jilbab tetap dibikin melilit-lilit. Gimana ya, mbak, ibu dan anggota keluarga saya masih agak susah nerima model jilbab menjuntai lebar gitu. Yasudah saya ngalah. Tapi saya tetap minta jalan tengah sih, dengan cara dikasih semacam kain yang seolah aksesoris untuk dijuntaikan ke dada saya, meskipun gak terlalu lebar =((

6. Rias Pengantin

Impian:

No kerik alis, No menor!

Realita:

Ini bagian yang lumayan sulit buat saya. Meskipun saya beruntung sekali bisa dirias oleh kakak kandung sendiri yang mana saya bisa mendiskusikan banyak hal, tapi  ternyata tetap ada beberapa hal yang bagi seorang perias pengantin seperti mbak saya adalah sesuatu yang susah dinegosiasi. Salah satunya: kerik alis! Meskipun saya sudah wanti-wanti jangan dikerik sedikitpun, tetap saja hal itu ia lakukan. Dikiittt banget sih, gak sampai mengubah bentuk. Cuma ya tetep aja =(( Semoga Allah mengampuni saya. Menor gak? Bagi mbak sayadan banyak orang yang melihat ya gak menor, udah sesuai lah sama gimana seharusnya pengantin itu. Tapi bagi saya yang gak terlalu suka pakai make up dan bagi si mas yang gak suka lihat cewek ber-make up ya tetep aja menor banget!

dokumentasi pribadi
Bahkan ada kejadian lucu soal ini. Beberapa saat setelah akad nikah, saat kami sudah didudukkan di pelaminan, si mas memandang saya. Kirain beliaunya bakal bilang, "Kamu canti banget" atau apalah yang manis-manis, eeehhh malah bilang, "kok kamu jadi tua banget didandani gini!" Huaaaaaaa... *pengen nyakar-nyakar tembok!*

7. Soal Musik Saat Acara

Impian:

Gak pengen ada unsur dangdut di pernikahan saya, terutama saat resepsi. Pengen menyiapkan playlist khusus yang berisi lagu-lagu pop romantis yang temanya pernikahan gitu, terutama lagunya Kahitna yang judulnya "Menikahimu". Huhu, romantis banget kayaknya.

Realita:

Dari awal saya sudah pesimis soal ini =(( Dan benar saja, impian ini full GATOT! Gimana ya, di daerah saya masih susah banget memisahkan dangdut dengan acara seperti ini. Rasanya saya udah gak punya cukup energi buat mendebat banyak orang soal ini. Bahkan, playlist yang sudah disiapkan oleh si mas dalam sebuah CD, yang bikinnya juga karna saya yang maksa-maksa gak jelas padahal beliau sedang mengurusi banyak hal lain yang lebih penting saat itu pun sama sekali gak terpakai. Entahlah, lagi-lagi saya seperti udah gak punya energi buat wanti-wanti yang ngurusi musik buat play CD tersebut. Takutnya malah sayanya emosi kalau gak dituruti. Yasudah akhirnya CD itu hanya tersimpan rapi di laci meja rias saya sampai sekarang =((

Apa hikmah yang hendak saya bagi buat teman-teman lewat cerita panjang-lebar saya kali ini?

Jadi, bagi kalian yang saat ini sedang merencanakan pernikahan, atau masih sekedar memimpikan, tak apa. Rencanakan dan rancanglah impianmu tentang hari pernikahan sebaik mungkin. Tapi jangan lupa untuk tetap menyiapkan ruang di hati kamu untuk mengikhlaskan jikalau ada beberapa point yang gak sesuai saat hari H nanti.

Bagaimanapun, hari pernikahan itu gak sepenuhnya hanya milik kita. Ada banyaaakk sekali orang yang turut berbahagia yang tentunya juga punya beberapa impian di hari pernikahan kita. Terutama adalah orangtua dan keluarga. Kita harus bijak dan berkompromi dengan mereka agar gak terkesan geois.  Lagipula percayalah, saat hari pernikahan, buanyaaakkk sekali yang bakal memenuhi pikiran kita dan mungkin bikin kita jadi mengabaikan beberapa impian kita sendiri. No problem, poin terpenting tetap bukan pada hari H pernikahannya kok, melainkan hari-hari panjang setelah hari H pernikahan tersebut =))

10 komentar:

  1. Waa..aku juga nggak suka dangdut mb. Klo ke nikahan paling seneng yang pop2 romantis. Tapi di tempatku...bnyakan lagu campursarišŸ˜¢

    BalasHapus
  2. jaman gini sih harapannya kirim undangan cukup via email aja cha hahahhaa
    murcee

    BalasHapus
  3. Aku bangeeeet yang ga mau denger lagu dangdut pas resepsi kelak. Takut sakit kepala. Apalagi ada yang koplo-koploan begitu. Haish.

    Btw, riasannya cantik, mbak. Ga berlebihan sepertinya ya. :)

    BalasHapus
  4. Iya yaaa. Hari pernikahan itu gak sepenuhnya milik kita. Harus siap bgt ya mba dgn segala kemungkinan saat itu

    BalasHapus
  5. hahaha. komen si masnya kok ga enakin banget, ca. :)) tapi kalau orang ga biasa dandan pas didandanin jadi beda banget emang, apalagi kalo rias pengantin. katanya manglingi banget.

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah, tapi banyak yang kesampean yahh mba :)

    kalo aku ttng musik,makeup,undangan sma kayk mba hihi
    klo makeup pengenya yang natural no bulu mata palsu, no alis dikerok,
    musik aku gak suka dangdtt hoho

    aku suka sekali kata kata bijak ini hoho :D
    Rencanakan dan rancanglah impianmu tentang hari pernikahan sebaik mungkin.
    Tapi jangan lupa untuk tetap menyiapkan ruang di hati kamu untuk mengikhlaskan jikalau ada beberapa point yang gak sesuai saat hari H nanti.

    BalasHapus
  7. ahahaa....
    luar biasa tulisannya Mbak....

    Impian vs Realita

    Salam kenal :D

    BalasHapus
  8. sedihnya berharap lagu romantis ternyata dapat dangdutan
    tapi saya pikir lagi mending dangdutannya yang ceria2 macam kereta malam, lha kalau sambalado
    ancur momennya :(

    BalasHapus
  9. jadi degdegan kak, sebentar lagi saya kan melangsungkan pernikahan.

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)