Urusan Perut

on
Senin, 04 Juni 2018

Sudah separuh lebih bulan Ramadhan. masih lancar kan puasanya? Saya bolong hari pertama nih. Nah mumpung lagi 'free', sini saya ceritain sesuatu 😁

Saya bekerja di sebuah lembaga yang membawahi bidang pendidikan dan kesehatan. Bidang pendidikannya terdiri dari TK sampai tingkat Perguruan Tinggi. Setiap tahun setelah libur lebaran, salah satu agenda rutin kami adalah mengadakan halal bihalal akbar yang mengundang seluruh entitas lembaga.

Namanya ngundang orang, pastilah kami menyediakan snack yang dibagikan di awal, dan nasi kotak yang diberikan saat acara berakhir. Sedihnya, adaaa aja yang buru-buru ingin meninggalkan tempat acara sebelum acara berakhir. Yah, namanya juga orang banyak. Mau dibikin sebagus apapun acaranya, tetep aja gak bakal bisa bikin semua orang bertahan sampai acara tuntas.

Tapi sebagai panitia, tentu saja kami berusaha mengatur siasat dong. Gimana caranya biar yang pergi sebelum acara selesai bisa seminimal mungkin. Nah, salah satunya dengan membuat kebijakan bahwa bagi siapapun yang meninggalkan tempat acara sebelum acara berakhir, maka tidak berhak mendapatkan nasi kotak.

Karna kalo satu-dua orang keluar tempat acara dan dapet nasi kotak, pasti seolah yang ditangkap sama undangan yang lain adalah memang sudah boleh keluar. Dan dijamin, gak sampe 10 menit pasti BRUULLLL keluar hampir separuh undangan.

Yang kemudian bikin saya menghela nafas adalah, meski kebijakan itu sudah selalu disosialisasikan lengkap beserta alasannya, masih adaaaa aja lho yang protes dan sewot. Fyi, kebetulan saya tiga tahun berturut-turut jadi seksi konsumsi, jadi ngadepin langsung soal ini.

Yang bikin lebih nyesek lagi, beberapa yang sewot adalah orang-orang dengan beberapa gelar pendidikan di depan dan belakang namanya. Kemapanan finansial jelas lah gak perlu dijelasin. Ketika yang seperti itu sewot dengan kalimat kurang elegan hanya karna nasi kotak, mmm gimana yaa... kutakut mendefinisikannya 😪

Pengalaman pertama jadi seksi konsumsi dulu, dan ngadepin yang ginian, saya shock banget jujur aja. Gak nyangka sama sekali bakal ketemu kejadian gitu. Saya pikir, ah nasi kotak doang. isinya juga apa sih -- cuma ayam goreng kok paling. Saya bilang 'cuma ayam goreng' bukan karna nganggap sepele ayam goreng ya. Bukan. Tapi saya pikir, ayam goreng pastilah makanan sehari-hari blio-blionya.

Makanya kaget (dan sedih) banget ketika ada yang sebegitu sewotnya ketika kami bilang kami gak bisa ngasih nasi kotak kalo acara belum selesai 😭

Tapi momen itu bikin saya merenung dan sadar. Bahwa ternyata urusan perut tuh gak pernah sesederhana itu. Mau menu sebiasa apapun,gak otomatis bikin orang merasa 'ah udahah, gitu doang, udah tiap hari makan'.

Semacam ada dorongan nafsu yang bikin gak rela kalo gak dapet. Padahal gak jarang begitu sampai rumah, nasi itu tergeletak begitu saja gak termakan. Bagian ini saya sendiri pun pernah melakukannya 😔

Pernah gak datang ke suatu acara yang menghidangkan berbagai macam menu? Sebagian dari kita, pasti ingin berusaha untuk mencicipi semuanya. Kalau ada satu menu saja yang terlanjur habis dan kita gak kebagian, dongkol banget, padahal perut udah kenyang. 

Melamun lebih jauh lagi, saya jadi inget berbagai macam pertikaian yang terjadi. Kalo dipikir-pikir, sebagain besar sebabnya gak jauh-jauh dari urusan perut.

Ambil satu contoh, soal pertikaian dunia maya antara pendukung capres A dan capres B saat itu. Sebabnya kalo dijabarkan sih panjang banget. Ada yang sangat ilmiah, ada pula yang sungguh relijiyes.

Tapi menurut saya, ujung-ujungnya urusan perut lagi. Orang-orang di atas sana, dukung kubu A atau kubu B salah satunya pasti dengan iming-iming posisi, yang akan berdampak pada besarnya pendapatan. Pendapatan buat apa sih kalo gak sebagian besarnya untuk ngurusin perut?

Atau kita level rakyat jelata ini. Dukung kubu A atau kubu B juga salah satunya yang bikin tergiur pasti janji-janji akan lebih sejahteranya kehidupan kan? Apalagi kalo bukan urusan perut diantaranya. Pun berbagai tindak kriminal yang terjadi. Maling, begal, dll. Urusan perut lah yang membuat mereka para pelaku menjadi kehilangan akal sehat. Demi bisa makan. Demi anak-istri kenyang 😭

Mungkin ini hikmah terbesar puasa ya. Terutama untuk kita-kita yang hampir gak pernah ngerasa kelaparan karna keadaan. Untuk kita-kita yang tiap harinya tanya 'mau makan apa hari ini?' saking banyaknya pilihan.

Supaya kita mendidik perut kita, biar lebih jinak. Biar gak makin buas jika dituruti terus-menerus apa maunya, tanpa pernah di-rem.

Semoga hikmah itu beneran bisa kita ambil. Bukan puasa sekedar menggugurkan kewajiban. Yang ujung-ujungnya hanya akan mengendalikan di siang hari, lalu menge-gas sekencang-kencangnya selepas magrib.

Selamat menunaikan ibadah puasa. Selamat mendidik perut kita dari ketamakan 😇


1 komentar on "Urusan Perut"
  1. Iya bener banget, mba. Makanya dalam Islam ada kewajiban Zakat, Infaq, Sedekah, supaya saudara-saudara kita yang nggak mampu tidak kelaparan. Karena kalau sudah urusan perut, orang baik pun bisa jadi jahat :(

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)

Signature

Signature