Tentang Kejamnya Komentar Netizen dan Isu Kesehatan Mental

on
Rabu, 16 Oktober 2019
Kalau dulu, lidah itu udah yang paling tajam. Sekarang, ternyata ada yang sama tajamnya. Bahkan kadang jauh lebih tajam.

Apa itu?

Oh, right. Jari tentu saja.

Dulu saya pernah nulis tentang lidah yang mampu menghancurkan hidup seseorang. Hari ini, kisah demi kisah kita dengar, tentang jari yang ternyata juga mampu menghancurkan hidup seseorang.


Jujur ya, saya tu salah satu orang yang bertanya-tanya, kenapa sih akhir-akhir ini isu kesehatan mental santer banget dikampanyekan? Sedarurat apa sih? Ada apa sih sebenernya?

Iya, sebut saja saya enggak peka.

Lalu pada suatu hari (kayak dongeng aja yak 😂), saya nonton vlognya Ussy Sulistyowati. Fyi, saya lagi suka nonton yutubnya keluarga Pratama itu.

Vlog yang saya tonton dua diantaranya adalah yang pas lagi ngobrol sama Heidy istrinya Sunan Kalijaga.



Dalam Vlog Ussy, Heidy Sunan mengungkapkan tentang koemntar-komentar pedas netizen tentang putrinya yang sempat membuatnya sangat sedih, dan memberikan dampak besar dan negatif pada putrinya.

"Hanya karna ketikan kalian itu, kalian nggak akan terbayang dampak apa yang akan terjadi dari ketikan tersebut" (Heidy Sunan).

Dari situ, saya makin ngeh. Oh, pantesan ya kesehatan mental sedang diangkat banget. Lha gimana, era sosmed ini kan hate speech bertebaran di mana-mana. Apalagi kalo public figure. Kayaknya udah jadi makanan sehari-hari mereka.

Nah, terus kemarin, GONG-nya, saya baca berita tentang salah satu public figure asal Korea yang bunuh diri, dan gara-garanya -- salah satunya -- adalah karna kesehatan mentalnya terganggu sejak jadi bulan-bulanan hujatan netizen.

Subhanallah 😭

Dulu saya pikir, dampak dari hate speech itu, paling dampaknya cuma bikin sakit hati. Ternyata enggak sesederhana itu.

Hate speech ternyata bisa banget mengoyak kesehatan mental seseorang :(

Iya juga sih. Dikomentarin, "kok sekarang jerawatan" sekali-dua kali aja udah bikin nelangsa dan hilang percaya diri. Apalagi kalo komentarnya  -- Subhanallah, kejem-kejem bangettt.

Jadi masuk akal banget kalo kampanye isu kesehatan mental bener-bener jadi fokus banyak orang sekarang ini. Lha gimana, dunia maya makin guanaasss. Huhu. Kalo emang belum semua orang sadar tentang betapa pentingnya kesehatan mental.

Kalo ngerasa sakit perut, kita akan enteng aja datang ke dokter. Tapi kalo kita insomnia gara-gara stress mikirin masalah, pasti nggak akan seenteng itu kita memutuskan datang ke psikolog atau psikiater, kan? Nah itu contoh kesadaran tentang kesehatan mental yang masih rendah.

Anyway, mereka para netizen yang hobinya komentar kejam, mungkin habis ngetik, terus udah, lupa dan bisa kembali melanjutkan aktivitas seperti biasa. Tapi kebayang nggak sih, yang menjadi sasaran komentar kejam si netizen tersebut, mungkin menimbulkan dampak yang panjang dan nggak pernah kita pikirin sedetik pun.

Huhu, sedih banget yaaa. Beneran deh, kalo kita punya hati nurani, harusnya kita sedih kalo kita jadi penyebab atas kesedihan orang lain. Apalagi atas terganggunya kesehatan mental orang lain.

Artis tu juga manusia lho. Pejabat juga manusia. Sama seperti kita. Bisa sedih, bisa terpukul, bisa marah. Coba dong sebelum nulis komentar tuh dibayangin dulu, 'kalo aku yang dikomentarin gini gimana ya rasanya?'

Terus, kebayang nggak sih, pas di hari perhitungan nanti, kita tiba-tiba dituntut sama Allah atas kesalahan yang bisa jadi sama sekali kita udah lupa karna melakukannya nggak pakai mikir. Kan kadang kalo habis komentar atau ngetik apapun di sosmed, kita langsung lupa gitu aja kan?

Itu kita bakal kayak apa kagetnya nanti di akhirat? 😭

Kebebasan berekspresi di sosial media itu tetap dibatasi sama banyak hal, seharusnya. Terutama, dibatasi oleh rasa kemanusiaan kita.

Mari jadi manusia yang memanusiakan manusia :)

Pengalaman Berinvestasi Reksadana Melalui Tokopedia

on
Selasa, 01 Oktober 2019
Sejak ada jouska.id, siapa sih yang nggak kenal reksadana?

Termasuk saya. Reksadana termasuk hal baru bagi saya sejak sekitar dua tahun lalu. Tapi, setahun ini, reksadana seperti menggaung di mana-mana. Banyak orang yang ngomongin soal salah satu instrumen investasi tersebut.

Dulu, satu-satunya yang saya tau itu ya menabung. Saat kenal istilah investasi pun, saya kira tabungan merupakan salah satu bentuk investasi selain tanah, rumah, dan emas. Ternyata, bukan. Investasi dan tabungan itu sama sekali nggak sama.

Lalu beberapa tahun belakangan ini, investasi dalam bentuk reksadana semakin dikenal. Konon, reksadana merupakan salah satu instrumen investasi yang paling ramah untuk orang-orang dengan pengetahuan terbatas, terutama soal pasar modal. Yah, kayak saya ini lah contohnya.

Tapi, meski sudah cukup sering mantengin soal reksadana, tetap aja belum membuat saya berani untuk mulai berinvestasi dalam bentuk reksadana. Tertarik. Tapi masih maju-mundur terus. Masih merasa harus nambah pengetahuan lagi dulu terus.

Sampai akhirnya, pada suatu siang, tema obrolan di grup Emak-Emak Blogger adalah tentang investasi. Lalu salah satu emak bercerita bahwa ia sering 'iseng' investasi emas dan reksadana melalui Tokopedia. Saya langsung amaze dong. wah, bisa ya ternyata?

Saya termasuk juarang banget makai Tokopedia sebagai sarana berbelanja online. Jadi ya jarang buka juga. Tapi sejak obrolan siang itu, langsung deh saya kulik-kulik Tokopedia.

Dan gak tau kenapa, tanpa pikir panjang saya apply permohonan untuk bisa berinvestasi reksadana di Tokopedia. Biasa sih, isi identitas lengkap, lalu foto KTP. Permohonan diproses kurang-lebih dalam waktu dua hari.

Setelah diapprove, gak pake lama saya langsung nyoba berinvestasi reksadana melalui Tokopedia. Tapi namanya nyoba, ya nominalnya kecil dulu dong, hihi. Cuma biar gak penasaran aja.

Tokopedia ternyata bekerjasama dengan bareksa sebagai pihak agen penjual reksadananya. Sedangkan pilihan produk reksadananya, Tokopedia hanya menyediakan 2 pilihan, yaitu: Mandiri Pasar Uang Syariah Ekstra dan Syailendra Dana Kas. Keduanya merupakan reksadana pasar uang.


Kalian yang bener-bener belum ngeh soal reksadana, pasti agak bingung, apa sih itu reksadana pasar uang? Jadi, reksadana itu ada 4 jenis. Yaitu reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran dan reksadana saham. Untuk keterangan deskripsi dari masing-masing reksadana, silakan googling yaa. Hihi.

Sebenernya, sebelum memilih mau beli reksadana jenis yang mana, kita harus tau dulu tuh profil resiko kita. Apakah kita tipe orang yang beraninya sama resiko rendah, sedang atau tinggi. Karna masing-masing jenis reksadana di atas punya tingkat resiko masing-masing.

Tapi berhubung di Tokopedia hanya ada reksadana pasar uang, dan niat saya masih sekedar coba-coba, yaudah saya ambil aja langsung yang Mandiri Pasar Uang Syariah. Kekurangannya, di Tokopedia ini keterangan produk reksadananya kurang lengkap. Nggak ada prospektusnya, nggak ada keterangan Bank Kustodiannya siapa (meskipun kalo yang Mandiri Pasar Uang mah jelas bank kustodiannya Bank Mandiri. Tapi gak dicantumkan keterangannya). Lalu nggak ada keterangan tentang alokasi asetnya bakal ditaruh mana, dll.



Ohya, kelebihan dari investasi reksadana melalui Tokopedia ini adalah bisa dimulai dengan nominal yang sangat ringan. Yaitu, sepuluh ribu rupiah. Wah, itu sih anak SMA juga bisa ya.

Nah, pada pembelian pertama, saya beli reksadana sebesar lima puluh ribu rupiah. Pembelian diproses sekitar dua hari bursa kalo gak salah. Sebagai pemula, saya sering banget tuh intip-intip. Tiap hari saya intipin. Penasaran, investasi saya tumbuh jadi berapa yaaa hari ini, gitu. Hehe.

Dan wow, saya seneng karna tiap hari, pasti ada penambahan. Ya jangan bayangin akan banyak ya, lha wong investasinya aja lima puluh rebu rupiah, masa mau untung banyak. Wkwkwk.

Terus saya semangat dong. Nambah lagi sepuluh ribu rupiah. nambah lagi delapan puluh ribu rupiah. Tapi belum beli lagi sampai sekarang, karna saya sedang mencoba investasi reksadana di marketplace sebelah yang pilihan produknya jauh lebih banyak. Nanti saya review di blog juga deh ya, Insya Allah.

Nah, ada yang penasaran uang delapan puluh ribu rupiah saya sekarang jadi berapa dalam waktu kurang dari sebulan?

Nih saya kasih lihat.

Dapet 300 rupiah. Mayan yaaa buat beli permen =D
Kesan saya selama sebulan investasi reksadana di Tokopedia ini, puas banget sih. Menurut saya ini recomended banget untuk orang-orang yang nggak punya waktu untuk datang langsung ke Bank Kustodian urus pembukaan rekening dll. Dan lebih user-friendly dibanding jika beli langsung melalui agen penjual reksadana online macam bareksa.

Kira-kira, tertarik nggak kalian investasi reksadana lewat markeplace gini?

Cara Memilih dan Manfaat Keju Cheddar

on
Kamis, 26 September 2019
credit: Pixabay

Keju cheddar merupakan keju yang paling sering digunakan untuk memasak. keju ini berasal dari Inggris. Tekstur keju keras dan berwarna kuning pucat, keju ini dikenal karena sangat mudah diolah untuk berbagai jenis makanan terutama untuk pembuatan kue. Rasa yang diberikan cukup kuat karena memiliki susu yang rendah lemak dan rendah laktosa. Untuk mengolah keju dengan menyimpannya di kulkas menggunakan wadah tertutup. Keju dapat diparut dengan memanjang untuk topping dan dipotong seperti daun sebagai bahan isian kue dan nasi goreng.

Berikut adalah cara memilih keju cheddar diantaranya:
 
•    Sebaiknya memilih sesuai dengan area tempat keju dimana diproduksi karena memiliki rasa autentik, negara yang memproduksinya adalah Australia, Amerika Serikat dan Jepang.

•    Tentukan tingkat kematangan yang diinginkan dengan kategori mild dengan tingkat keasaman dan rasa lembut, kategori medium dan sharp dengan tingkat keasaman serta rasa yang jauh lebih kuat dan kategori extra yang lebih matang karena dibuat selama lebih dari satu tahun dibandingkan dengan kategori lainnya.

•    Cheddar merah atau biasanya berwarna orange yang diambil dari tanaman dengan mengonsumsinya sebagai dressing salad dan menjadi penghias saji.

•    Cheddar putih untuk pilihan tanpa warna dengan rasa yang sama.

•    Membeli keju sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan, biasanya harga ditentukan oleh berat keju.
 
Manfaat keju jenis ini adalah memiliki kandungan serat dan protein karena terdiri atas lemak, fosfor dan lemak. Memiliki kandungan 20% untuk kebutuhan kalsium dan kebutuhan fosfor 14% yang dibutuhkan oleh tubuh, serta 6% untuk riboflavin dengan vitamin B2 dan vitamin B12 4%. Keju ini dapat menstimulasi air liur yang dapat mencegah terjadinya karies pada gigi.

Keju cheddar dapat mencegah terjadinya kanker hati karena mengandung spermidine dan mencegah fibriosis hari dan karsinoma hepatoselular. Setiap potongan kejunya akan menjaga kekebalan tubuh dan mencegah kerusakan imun dikarenakan pertambahan umur. Olahan susu yang terdapat pada keju akan menekan tekanan darah dan menjaga kadar lemak pada tubuh. Keju dan coklat batangan bisa dibeli pada Tokowahab yang dapat dikirim melalui kurir pengiriman umum atau melalui pengiriman yang lebih cepat.

Disamain Sama Orang Lain

on
Selasa, 10 September 2019
Kemarin, salah satu teman blogger membagi gosip pada saya. Iya, sekarang saya payah banget soal ngikutin berita. Sering banget kudet.

Nah, si teman ini cerita tentang seorang public figur, yang habis mencak-mencak gara-gara nama anaknya disamain alias dipakai oleh orang lain untuk nama anaknya. Yang mana, katanya nama tersebut merupakan nama yang si artis buat sendiri, murni dari pemikirannya sendiri, nggak cari-cari dari buku manapun, dll.

Ini jadi heboh gara-gara si artis komen langsung di salah satu foto si anak yang namanya sama dengan nama anak si artis itu. Gak cuma komen di salah satu foto, bahkan si artis kirim DM panjaaaaang banget ke ortu si anak. Secara blak-blakan menunjukkan kemarahan karna nama anaknya dijiplak, plek setulisan-tulisannya. Bahkan sampe bilang 'anakmu gak pantas pakai nama ini', gitu. Ahihihi.



Btw, ada yang belum tau soal gosip ini juga sebelum baca tulisan saya ini? Atau saya doang yang kemarin ketinggalan? Haha.

Pas pertama kali tau soal kasus ini, saya melongo sih. Antara geli, lucu, heran, dll. Soalnya kayaknya belum pernah ada kasus kayak gini ya sebelumnya?

Nama anak artis disamain bukannya udah hal yang sangat sering terjadi? Bahkan biasanya sebuah nama akan jadi nama yang sangat pasaran saat ada artis yang makai nama tersebut untuk anaknya.

Tapi sebenernya, saya ngerti banget sih perasaan si mbak artis. Saya mungkin juga salah satu orang yang kurang suka kalo ada orang lain yang nyama-nyamain apa-apa tentang kita.

Waktu kecil, saya pernah dibikinin baju sama ibu. Eh terus ada teman yang bikin baju dengan model yang sama. Sayanya ngambek nggak mau pake baju itu. Haha. Pun sebaliknya. Misal saya pengeeennn banget gamis warna A karna lagi hits. Terus tiba-tiba orang-orang di lingkungan saya udah ada yang makai. Saya seringnya lebih milih untuk nggak jadi beli aja, karna nggak mau banget dikira nyama-nyamain.

Pun tentang nama anak. Saya nggak sekreatif itu untuk bikin nama anak yang nggak ada yang nyamain di dunia ini sih. Tapi saya emang bertekad untuk ngasih nama anak saya dengan nama yang setidaknya nggak pasaran banget. Makanya saya menghindari nama-nama yang ada di hasil pencarian "daftar nama anak laki-laki" dll di google, nama anak yang udah dipakai sama artis, dan nama tokoh-tokoh. Karna fix deh, pasti udah banyak banget yang pakai.

Tapi ya tetep aja bukan berarti nama si Faza nggak ada yang nyamain. Dan saya akui, kalo ketemu anak yang namanya sama dengan si Faza, ada sedikit perasaan nggak nyaman. 'Ih, kok namanya sama sih, 'Mafaza''. Tapi yaudah. Lha wong nama itu dari Al-Qur'an, emang bisa saya larang orang lain untuk pakai?

Point dari cerita saya di atas adalah, memang ada kok orang yang nggak nyaman banget kalo disamain sama orang lain. Iya, kan?

Makanya, saya bisa ngerti sikap si mbak artis itu. Dia pasti geraaaam bangetttt, karna udah berusaha banget bikin nama anaknya beda, eeehh malah ada yang nyamain, plek-ketiplek pula 😂 Jelaslah mencak-mencak.

Jadi, menurut saya nggak adil kalo netijen langsung semena-mena ngejudge negatif banget si mbak artis, tanpa mempertimbangkan perasaan si mbak artis. Hmmm. Tapi netijen julid sih emang pernah pake pertimbangan perasaan? 😅

Tapi di sisi lain, ya emang sih si mbak artis agak berlebihan. Bukan soal ketidaksukaannya ada yang nyamain nama anaknya. Tapi, heii... si mbak apa lupa kalo belionya seorang public figure? Yang mana, saat dia melakukan tindakan seperti itu, haqqul yaqin pasti akan jadi viral. Apalagi sampai ngatain 'anakmu gak pantes pakai nama itu'. Hmmm.


Kecuali emang sengaja pengen viral sih ya apa boleh buat. Hahaha.

Dan apa mbaknya nggak tau, bahwa nama anak artis itu salah satu rujukan banyak orangtua dalam memberi nama untuk anaknya? Kalo misal emang dari awal nggak pengen nama anaknya ditiru, ya nggak usah dong dipublish nama si anak. Kan bisa pake inisial aja, misalnya. Atau pake nama julukan aja. Kan ada juga ya yang kayak gitu? Yang saya tau Blogger sih ada, kalo artis saya kurang tau. Ada gak sih?

Atau kenapa gak dari awal daftarin hak paten nama anaknya itu. Ahihi. Eh, bisa nggak sih nama orang dihak patenkan? 😂

Yah, gitulah. Jadi postingan ini memang bukan postingan berfaedah sih. Cuma pengen ngoceh receh aja 😅

Kalian termasuk yang cuek aja kalo ada yang nyamain kalian, atau sebel juga kayak saya?

Cara Mengatur Uang Gaji Untuk Pengeluaran Bulanan

on
Selasa, 03 September 2019
Saya seriiiing sekali heran. Dulu, sebelum punya anak, dengan nominal gaji saya dan suami yang katakan saja nggak jauh beda dengan saat ini, kok besarnya pengeluaran kami gak jauh beda ya? nabungnya juga segitu-segitu aja. Padahal pos pengeluarannya, jelas jauh lebih banyak sekarang -- setelah punya anak.

Dulu gak harus mikir bayar Budhe yang jaga Faza selama saya kerja. Gak mikir beli susu, pampers dan segala macam juga. Harusnya bisa nabung jauuhh lebih banyak dibanding sekarang dong? Tapi kok kenyataannya gak gitu?

Setelah berkelana mencari petunjuk *halah*, akhirnya saya menemukan jawabannya.

Apa sebabnya? Ya, yang pertama saya harus tau dulu apa penyebabnya, biar bisa mencari solusi yang paling tepat.

Sebabnya adalah: karna pengeluaran bulanan kami NGGAK DIATUR. Ngalir aja, tanpa punya patokan dan arah yang jelas. Semrawut.

Iya sih, dulu hampir tiap hari kami makan siang dan makan malam jajan mewah (mewah untuk ukuran kami lho ya, wkwkwk). Budget buat jajan kami dulu sebulan, mungkin bisa dipake buat makan dua bulan kalo sekarang.

Nah, jadi apa solusinya?

Kalo dulu semrawut karna gak diatur, ya solusinya jelas, berarti HARUS DIATUR.


Cara Mengatur Uang Gaji Untuk Pengeluaran Bulanan

Gaji cuma segini, gimana ngaturnya sih?

Ada yang merasa seperti itu? Bahwa kalo gaji pas-pasan itu ya nggak perlu diatur, toh akan habis juga.

Selama ini mindset saya juga seperti itu. Ternyata, mindset itu salah. Justru karna gaji pas-pasan itulah maka harus diatur, biar penggunaannya tepat guna.

Tapi saya sempat bingung, gimana ngaturnya ya? Mulainya dari mana? Nominal yang harus dialokasikan per-pos pengeluaran berapa idealnya? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Alhamdulillah, saat iseng scroll Bestseller Books di Gramedia Digital, saya nemuin buku yang menarik hati saya. Judulnya:10 langkah Menjadi Financial Planner Untuk Diri Sendiri, yang ditulis oleh Lutfi Trisandi Rizki, SE, MM, RFA, CFP, QWP, AEPP & Iin Susanto.

Yang bikin saya suka dari buku ini, karna saya merasa seperti mendapat pencerahan tentang bagaimana cara mengatur pengeluaran bulanan tanpa harus menyewa financial planner. Hehe.

Selain menjelaskan dengan gamblang tentang masing-masing pos yang harus ada di pengeluaran bulanan, penulis juga menjelaskan berapa persentase ideal untuk masing-masing pos.

Nah, ini nih yang saya cari-cari! Kalian mau tau juga? Cuss saya kutipkan dari buku tersebut di atas yaaa:

1. Kebutuhan rumah tangga (termasuk uang kos/kontrak rumah, dll): 25%
2. Transportasi: 10%
3. Makan: 15%
4. Kebutuhan pribadi (termasuk pakaian): 10%
5. Dana darurat: 5%
6. Asuransi: 10%
7. Investasi: 5%
8. Tabungan: 5%
9. Kredit: 10%
10. Hiburan: 5%

Nah, bulan ini saya mulai nyoba untuk mengatur uang gaji dengan persentase di atas, Gak persis plek sih. Contohnya bagian asuransi. Berhubunga saya gak ada niatan pake asuransi, maka pos asuransi saya alokasikan untuk yang lain.

Apakah efektif setelah melakukan pengaturan seperti di atas? Ya belum kerasa lah, wong baru bulan pertama. Hehe.

Tapi yang jelas, saya jadi mereka lebih 'terkendali'. Saya biasanya boros banget di bagian makan. Jajaaaaan terus. Begitu udah di bagi-bagi dengan persentase di atas, saya jadi punya patokan, berapa sih anggaran buat makan selama sebulan, lalu dibagi jadi per minggu, lalu dibagi lagi jadi per hari. Jadi saya bisa tau, untuk hari ini masih ada anggaran jajan gak emangnya? Kalo udah melebihi limit ya ditahan.

Apa gak jadi tersiksa kalo diatur kayak gitu?

Ya balik lagi ke goals kita sih. Kalo kitanya emang pengen banget uang gaji jadi lebih teratur penggunaannya, Insya Allah gak akan tersiksa. Mungkin butuh penyesuaian saja. Doakan saya istiqomah ya!

Ohya, yang dimaksud dana darurat tuh ternyata bukan dana yang bisa kita gunakan sewaktu-waktu lho. Misal, duh pulsa habis, tapi posnya udah gak ada nih. Yaudah ambil dulu deh dari dana darurat. Bukan gitu ternyata. Hihi.

Kapan-kapan saya akan nulis tentang dana darurat yaa. Semoga inget. Aamiin.

Selamat mengatur uang gaji 😀

Cerita Idul Adha

on
Senin, 12 Agustus 2019
Idul Adha ini saya lewati di kampung halaman, setelah dua kali idul adha saya lewati di kota kelahiran suami. Seneng banget. Pertama karena, ya pokoknya seneng aja kalo pas di rumah. Bisa melepas kangen sama keluarga tercinta.

Seneng keduanya, karena melihat kesadaran untuk ber-qurban di desa saya ternyata sudah sangat bagus. Jauh banget jika dibanding dengan 4 tahunan lalu ke belakang.




Saya takjub sih, jujur aja. Masyaa Allah. Dulu tuh di desa saya yang qurban bisa dihitung pake jari sebelah tangan, itupun gak semua terpakai. Seringnya disembelih sendiri oleh yang berqurban. Jadi masjid tu habis sholat idul adha, yaudah sepi kayak gak ada apa-apa. Jangan tanya ada panitia qurban gak. Ya jelas gak ada dong.

Nah, 3 tahun belakangan ini, masjid mulai ada panitia qurban bersama gitu. Gabungan dari beberapa masjid dan beberapa RT sih kalo gak salah. Dan jumlahnya pun gak tanggung-tanggung. Tahun ini, hewan qurbannya terdiri dari 1 ekor sapi, dan 28 ekor kambing. WOW!

Apa karna tingkat perekonomian di desa saya meningkat pesat? Emm, kalo secara kasat mata sih kayaknya enggak ya. Masih gitu-gitu aja kok kayaknya.

Menurut saya sih lebih ke kesadarannya yang sudah mulai tumbuh. Kesadaran bahwa qurban itu ibadah yang sangat dianjurkan jika kita mampu. Jadi kalo harga kambing 3 juta, terus kita punya tabungan 3,5 juta, itu ya artinya mampu. Jadi enggak harus nunggu kita kaya berlimpah-ruah dulu, baru qurban.

Dulu, ada 1 orang yang semua orang di desa kami tau beliau lebih dari mampu juga seingat saya enggak qurban. Balik lagi, karna dulu kesadarannya belum ada. Makanya, Masyaa Allah, seneng banget lihat kesadaran masyarakat desa saya udah bagus banget untuk berqurban.

Nah, kalo itu cerita idul adha dari desa tercinta saya. Lalu gimana cerita idul adha di tempat tinggal saya saat ini?

Antara senang dan sedih sih. Senangnya karna sejak pertama kali datang, kesadaran untuk berqurbannya memang sudah bagus. Mungkin dari latar belakang pendidikan juga emang jauh lebih bagus sih ya.

Cumaaa, sedihnya, banyaknya hewan qurban di lingkungan kami, bisa dibilang gak terdistribusi secara merata. Distribusinya ya ke lingkungan-lingkungan situ aja. Tempat tinggal saya biasanya dapat pembagian dari dua masjid -- yang memang dua-duanya dekat dengan rumah, dan dua-duanya hewan qurbannya banyak.

Apa akibatnya? Ada penumpukan hewan qurban di rumah-rumah tertentu. Banyak yang sampe freezer kulkasnya aja gak muat buat nampung semua daging yang didapat. Padahal kalo mau dilihat lebih luas, masih banyaaaakkk banget daerah yang belum tersentuh hewan qurban.

Daerah-daerah macam desa saya beberapa tahun lalu. Yang entah karna kesadarannya belum bagus, atau karna kemampuan ekonominya yang di bawah rata-rata hingga gak mampu berqurban. Beneran, masih banyak bangettt daerah yang kayak gitu. Hiks.

Dua tahun ini, saya dan mas suami memutuskan untuk berqurban melalui Lembaga Amil Zakat yang memfasilitasi orang-orang yang ingin berqurban. Kami pasrahkan kepada mereka untuk didistribusikan ke daerah yang minim hewan qurban.

Dan tau gak, tahun lalu, hewan qurban kami menjadi satu-satunya hewan qurban di sebuah desa. Padahal hewan qurban kami keciiilll 😢 Sediiihh, entah cukup dibagi ke berapa orang doang. Semoga kita dimampukan untuk qurban dengan hewab qurban yang jauh lebih baik di tahun-tahun berikutnya. Aamiin.

Pesan moralnya buat saya pribadi, kalaupun kita tinggal di daerah yang hewan qurbannya berkelimpahan, alangkah jauh lebih baik kita ambil secukupnya, lalu berikan selebihnya ke yang jauh lebih membutuhkan. Ke orang-orang yang sekiranya bukan idul adha, rasanya kesulitan saat ingin makan daging.

Bukankah hikmah idul adha adalah agar kita menyembelih nafsu kepemilikan kita terhadap hal-hal duniawi? Apa kabar hikmah itu, jika kita justru menampung sebanyak mungkin daging saat idul adha tiba?

Sekian cerita idul adha saya. Wallahu a'lam bishawwab.

Kalau daerah kalian termasuk yang mana? Yang minim hewan qurban, atau malah yang hewan qurbannya numpuk-numpuk?

Pengalaman Pertama Memakai Jasa Go-Clean

on
Jumat, 19 Juli 2019
Dua minggu yang lalu, ibu mertua saya ngeluh. Kamar mandinya sudah kotor banget, menurut beliau. Kalo menurut saya mah bersiiihh. Ahahaha.

Standar bersihnya saya dan bumer memang njomplang parah sih.

Kotor yang dimaksud bumer itu semacam keramik yang udah ada noda-noda kuningnya gitu lho. Beliau gatel banget lihatnya, tapi sedang tidak ada tenaga untuk bersih-bersih sendiri. Biasanya sih semua juga dilibas sendiri sama beliaunya. Saya? Ongkang-ongkang kaki. Haha. Mantu gak tau diri!

Nah, terus bumer bilang ke saya, minta tolong untuk dipesankan Go-Clean.

Saya gercep baca-baca review para blogger dulu dong tentang pengalaman menggunakan jasa Go-Clean. Seperti biasa.

Dari situ saya jadi tau, ada pilihan waktu yang ingin kita pesan. 1 jam, 2 jam, atau lebih. Tergantung ruang apa saja yang ingin kita bersihkan. Jam berapa petugas kita minta datang juga ada opsinya. Dan kita harus melakukan minimal 1 jam dari waktu yang kita inginkan.


Selain itu, kita juga diberi pilihan, nanti petugas Go-Cleannya cewek apa cowok, terus mau sekalian bawa alatnya (with tools) atau enggak. Total biayanya akan ditentukan berdasarkan lamanya waktu yang kita inginkan dan apakah kita menyiapkan sendiri peralatan bersih-bersihnya, atau meminta petugas Go-Cleannya untuk membawa peralatan.



Singkat cerita, setelah bumer menentukan jadwal, saya pesenin deh.

Saat itu saya pesan agar yang datang petugas perempuan, untuk jangka waktu 2 jam, dengan membawa peralatan dari sana. Dengan kriteria itu, biaya yang dikenakan sebesar 75.000.

Setelah pesan, nggak lama kemudian petugas Go Clean-nya telfon tanya alamat detail. Datangnya tepat waktu sih, sesuai jam yang saya pesan.

Lalu gimana kinerjanya?

Ini relatif ya. Bagi saya yang standar kebersihannya gak tinggi-tinggi banget, menurut saya udah bersih banget. Tapi kalau menurut ibu mertua saya yang perfeksionis soal bersih-bersih, masih kuraaaang.

Yang bikin saya agak kecewa adalah, si ibu petugas terkesan terburu-buru. Karna apa? Di depan ditungguin suaminya, Zzzzzz -_- Ya gimana sih rasanya kerja dan tau kalo di depan ada yang nungguin gitu?!

Saya pesan untuk 2 jam kan ya. Tapi baru 1 jam 45 menit ibunya sudah pamit minta pulang. Hmmm.

Ibu mertua saya langsung pesen, jangan dikasih bintang 5 ya. Hehehehe.

Tapi bagi saya pribadi, Go Clean beneran jadi solusi untuk orang-orang yang nggak punya waktu atau orang-orang males seperti saya, tapi nggak punya pembantu. Bener-bener ya jaman ini tu, semuanya serba mudah.

Gimana pengalaman kalian memakai jasa Go-Clean selama ini? Kecewa? Puas?

Signature

Signature