Review Himalaya Purifying Neem Face Wash dan Purifying Neem Scrub

on
Senin, 27 Februari 2017
Review Himalaya Purifying Neem Face Wash dan Purifying Neem Scrub. Sebelum nulis review ini, saya geli sendiri ingat komentar Mbak Ninda di postingan saya tentang Mud Mask Jafra.

"Bertanya2 dedeknya ocha cewek apa cowok yaaaa
jadi banyak kosmetik disini hahaha"


Haha. Menurut USG, dedek dalam perut Insya Allah cowok. Justru karna cowok, kata orang-orang, maka wajah saya jadi penuh jerawat. Karna penuh jerawat, maka saya jadi terus mencari-cari produk perawatan kulit yang sekiranya bisa menolong wajah saya ini.

Tapi saya gak percaya sih kalau jerawat-jerawat ini muncul karena saya hamil anak cowok. Teman saya hamil anak cowok wajahnya mulus bersih bersinar kok. Ini semata-mata karena saya kelewatan males aja rawat wajah di trimester pertama dan kedua kehamilan. Gak tau kenapa, bahkan sekedar pakai face wash aja males banget. Apalagi bedak atau pelembab. Yang tetap rutin tiap pagi cuma lipstik.

Kepanjangan yaa pembukaannya =D

Yaudah, yuk mulai ngobrolin Himalaya Purifying Neem Face Wash dan Purifying Neem Scrub.

Kenapa tiba-tiba saya memilih Himalaya Purifying Neem Face Wash dan Purifying Neem Scrub, padahal tadinya kenal produk itu aja enggak?

Iya, tadinya saya sama sekali belum pernah dengar tentang merk kosmetik Himalaya. Yang mengenalkan pertama kali adalah teman saya yang Konsultan Jafra itu. Jadi dia mengaku bahwa dia sendiripun belum total pakai produk-produknya Jafra, karna harganya yang ampuh. Dia lalu cerita bahwa sabun wajah yang ia pakai adalah Himalaya Purifying Neem Face Wash. Menurut beliau ini sabun wajah herbal, gak mengandung paraben, harganya murah, mudah ditemukan di swalayan, dan dia cocok.

Saya kepo dong pasti.

Pas jadwal belanja bulanan sama mas suami ke swalayan, eh mata saya menangkap deretan kosmetik bertuliskan Himalaya Herbals. Duh, dasar jodoh =D Tapi saya gak langsung beli. Baca-baca dulu, menimbang-nimbang dulu, minta pendapat mas suami dulu.

Ohya, kenapa saya merasa harus ganti face wash? Karena face wash yang sebelumnya saya pakai -- face wash yang salah satu brand ambassadornya adalah Inneke -- makin lama makin gak 'menolong'. Setelah cuci muka tetap terasa kotor. Dan komedo makin banyaaakkk. Hiks.

Nah, terus gimana setelah pakai Himalaya Purifying Neem Face Wash dan Purifying Neem Scrub? Saya bahas satu-satu, yaa.

Himalaya Purifying Neem Face Wash


Himalaya Purifying Neem Face Wash teksturnya seperti gel. Baunya gak nyolok, ada aroma-aroma herbalnya gitu. Harganya bisa dbilang murah, karna untuk kemasan berisi 100 ml harganyanya gak sampai 30.000.

Saat dipakai, Himalaya ini gak menghasilkan banyak busa. Di daftar komposisi gak ada kandungan paraben ataupun SLS-nya yang konon punya efek gak bagus. Jadi makin mantep pakai produk ini. Setelah dipakai, rasanya... enak. Gak kering, gak bikin wajah kerasa ketarik, tapi terasa bersih dan segar. Komedo juga berkurang banget dibanding saat masih menggunakan face wash merk sebelumnya. Saya pakainya sehari dua kali, pagi dan sore.


Nah, di belakang kemasan ada keterangan bahwa untuk hasil maksimal, sebaiknya juga gunakan  Purifying Neem Scrub dan Purifying Neem Mask. Akhirnya saya ambil juga deh Purifying Neem Scrub-nya, sedangkan Purifying Neem Mask-nya enggak dulu soalnya kan masih punya Mud Mask Jafra.

Himalaya Purifying Neem Scrub


Himalaya Purifying Neem Scrub teksturnya seperti scrub wajah kebanyakan produk lain. Hanya saja scrub-nya agak lembut, kecil-kecil. Jadi saat dipakai gak bikin sakit.

Sayangnya, gak ada saran pemakaian harus berapa hari sekali pakainya. Yang jelas saya pakainya gak tiap hari sih, sesekali saja.


Jujur saja, saya jauh lebih suka atau lebih sreg sama Himalaya Purifying Neem Face Wash dibanding dengan Himalaya Purifying Neem Scrub. Mungkin gara-gara saat baca daftar komposisinya, ada dua jenis paraben di dalamnya. Lhah, katanya herbal kok ada parabennya? -_-

Menurut klaimnya, Himalaya Purifying Neem Scrub ini dapat mencegah jerawat, mengangkat komedo dan sel kulit mati dan kotoran dengan lembut. Sejauh ini, saya cukup merasakan pernyataan tersebut sih.

Ohya, untuk harganya gak jauh beda sama Himalaya Purifying Neem Face Wash. Tapi saya lupa berapa persisnya. Hehe.

Kesimpulan:

Sejak memakai dua rangkaian Himalaya Herbals Purifying Neem Face Wash dan Neem Scrub ini, jerawat sudah mulai jarang muncul. Meskipun sesekali masih ada.

Apakah saya akan re-purchase? Sepertinya iya.

Sekarang, masalah terbesar muka saya adalah menghilangkan noda bekas jerawat yang, Subhanallah... menyedihkan :(

Lalu PR terbesar saya adalah, mencari pelembab yang cocok buat kulit muka saya. Ada yang punya rekomendasi kah?

Pertanyaan Seputar BPJS Kesehatan Yang Membuat Saya Galau

on
Rabu, 15 Februari 2017

Pertanyaan Seputar BPJS Kesehatan Yang Membuat Saya Galau. BPJS Kesehatan konon membuat banyak orang bingung dan galau dengan beberapa prosedur dan ketentuannya. Tapi banyak juga yang merasa terbantu olehnya.

Jika ada yang merasa bingung dan galau, menurut saya itu semata karna kekurangpahaman atas prosedur dan aturan yang berlaku di BPJS Kesehatan. Dan saya adalah salah satunya. Saya sempat dibuat galau atas status kepesertaan saya di BPJS dalam rangka persiapan saya menjelang melahirkan yang rencananya ingin memanfaatkan fasilitas dari BPJS.

Jadi begini ceritanya.

Sejak awal hamil, saya gak pernah pakai fasilitas BPJS. Saya periksa di rumah sakit ibu dan anak yang belum bermitra dengan BPJS. Lagipula, domisili saya di Semarang, sedangkan faskes 1 BPJS saya di Jepara (kota asal saya).

Karena saya berencana melahirkan di Jepara, maka saya dan suami berdiskusi sampai akhirnya memutuskan merencanakan persalinan dengan fasilitas BPJS. Nah, tapi di benak saya bermunculan berbagai pertanyaan seputar BPJS yang membuat saya galau. Galau karna setelah browsing berulang-kali, saya gak juga menemukan artikel yang benar-benar sesuai dan menjawab pertanyaan saya. Sempat tanya-tanya ke beberapa teman juga, termasuk para bloger yang belum lama ini melahirkan dengan fasilitas BPJS di antaranya adalah Mbak Muna Sungkar, Mbak Ira dan Mbak Marita. Telepon ke Customer Service BPJS pun sudah saya lakukan. Sayangnya, jawabannya muter-muter, dan dari dua kali telepon, jawabannya beda. Makin galau lah pasti T_____T

Pertanyaannya apa saja sih?

1. Status kepesertaan saya ada di BPJS Jepara, dan berencana melahirkan di Jepara, sedangkan KK (kartu Keluarga) saya sudah pindah menjadi KK Semarang ikut suami. KTP juga sudah KTP Semarang.

Nah lho, terus apakah bisa saya melahirkan dengan fasilitas BPJS sedangkan antara status kepesertaan saya di BPJS dan status kependudukan saya ada di kota yang berbeda??

2. Menurut artikel Mbak Ira, jika BPJS-nya mandiri (bukan sebagai penerima upah), jika ternyata harus melahirkan melalui proses Sectio Caesar, maka si bayi sudah harus didaftarkan BPJS sejak masih dalam kandungan. Jika tidak, maka biaya atas si bayi gak bisa dicover oleh BPJS.

Karena menurut dokter saya harus bersiap untuk kemungkinan SC (meski kemungkinan melahirkan normal masih terbuka), saya ingin mengantisipasi segala sesuatu, salah satunya dengan mendaftarkan si adek sejak sekarang.

Tapi pertanyaannya, apakah bisa saya mendaftarkan bayi saya sedangkan di database BPJS saya dan suami belum tergabung dalam satu KK? Saya masih tergabung di KK bapak saya (di Jepara) dan suami juga masih tergabung di KK orangtuanya (di Semarang).

Serius, dua pertanyaan tersebut sempat membuat saya galau berat.

Sampai akhirnya, hari jum'at kemarin saya dan mas suami menyempatkan datang ke kantor BPJS Jepara langsung (sampai minta ijin kerja), untuk bertanya.

Meskipun niatnya hanya untuk bertanya, kami membawa dokumen lengkap. Untuk jaga-jaga. Dokumen-dokumen yang saya bawa diantaranya adalah:

1. KK baru saya di Semarang
2. KK lama orangtua saya
3. Fotocopy kartu BPJS saya, suami, dan seluruh anggota keluarga saya
4. Fotocopy KTP saya, suami, dan seluruh anggota keluarga saya
5. Fotocopy buku nikah
6. Fotocopy buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)

Sesampainya di kantor BPJS, Alhamdulillah antrinya gak banyak. Setelah giliran saya tiba, segera saya tumpahkan segala pertanyaan seputar BPJS yang bikin saya galau.

Dan jawabannya adalah...

Ternyata BISA dan GAK MASALAH.

Jadi, BPJS itu ternyata gak mempermasalahkan perbedaan status wilayah kepesertaan yang tercatat di BPJS dan status wilayah kependudukan si peserta. Yang penting adalah faskesnya. Selama faskes saya masih di Jepara, ya fasilitas BPJS akan tetap bisa saya gunakan di Jepara, meskipun KK dan KTP saya di Semarang.

Nah, soal pendaftaran si adek yang masih dalam kandungan juga ternyata gak ada masalah sedikitpun. Gak masalah meskipun saya dan suami terdaftar di BPJS yang berbeda wilayah, dan lagi meskipun kami belum melaporkan perubahan KK kami.

Saya kira, melaporkan perubahan KK itu ada syarat dan prosedur tertentu. Eh, ternyataaa... Kemarin saat saya menyodorkan KK terbaru ke mbak frontliner BPJS, mbaknya cuma bilang, "oh, ini mbaknya masih di KK lama, ya? Sekalian saya ubah ya data KK-nya dengan KK yang baru ini".

Udah, gitu doang.

Duh, Gustiii... Simpel gitu ngapain kemarin saya galau gak habis-habis =D Salahkan CS BPJS yang bilang gak bisa dan jelasin muter-muter waktu saya telfon -_____-

Demikian cerita kegalauan saya tentang pertanyaan-pertanyaan saya seputar BPJS. Siapa tau ada teman yang juga menyimpan pertanyaan yang sama :)

REAKTIF

on
Rabu, 08 Februari 2017

Apa sih reaktif itu?

Menurut KBBI, reaktif adalah...

reaktif/re·ak·tif/ /rĂ©aktif/ a sifat cenderung, tanggap, atau segera bereaksi terhadap sesuatu yang timbul atau muncul

 Sedangkan reaktif menurut definisi serampangan saya sih: SENGGOL BACOK! =D

Bicara soal reaktif, dulu saya reaktif sekali orangnya.

Kalau ada yang bicara sesuatu yang kurang cocok sama pendapat saya pribadi, langsung saya bantah. Gak kenal sekalipun.

Kalau ada kejadian yang belum terlalu saya pahami, saya juga gak sungkan untuk langsung bereaksi.

Apalagi kalau ada yang nyinggung ego saya. Langsung deh mulut merepet ngomel macem-macem. Berusaha menunjukkan bahwa saya tersinggung.

Dulu waktu masih sering naik bus, kadang orang yang duduk sebangku sama saya ngajak ngobrol. Lalu pernah suatu kali, isi obrolan yang dilempar sama si teman sebangku saya itu mengandung pendapat yang gak sejalan sama pendapat saya. Langsung deh saya debat. Habis-habisan debatnya, sampe otot leher keluar semua.

Itu dulu.

Sekarang udah enggak?

Masih. Tapi udah gak separah dulu.

Lama-lama saya merasa, jadi orang yang reaktif itu bikin capek. Dan kadang bikin malu.

Sifat reaktif itu bikin emosi meletup-letup sekali. Dan emosi yang meletup-letup itu bikin capek. Contohnya cerita saya dengan teman sebangku di bus itu.

Kalau dipikir-pikir, buat apa sih saya segitunya mendebat pendapat orang yang gak saya kenal? Apa ngaruhnya buat hidup saya? Gak ada sama sekali!

Lalu saya dapat pelajaran dari seorang teman sekamar. Suatu hari saat dia naik bus, teman sebangkunya (yang sudah bapak-bapak) melempar pertanyaan basa-basi. Kuliah di mana, semester berapa, asli mana, fakultas apa, dll. Saat teman saya tersebut bilang bahwa ia kuliah di fakultas psikologi, eh si bapak berkomentar panjang lebar tentang fakultas psikologi. Mau jadi apa setelah lulus nanti, prospeknya gak cerah, dll.

Kalau saya ada di posisi teman saya, sudah pasti bakal saya debat habis-habisan. Tapi teman saya enggak. Dia cuma senyum.

Saya protes. Kok enggak dibantah, biar dia tau dia salah dan sok tau?! Teman saya jawab, "buat apa? cuma habisin energi. Enggak tak debat pun gak ada pengaruhnya sama sekali kok buat hidupku!"

Iya juga ya =D

Jadi reaktif itu melelahkan menurut saya. Kadang juga memalukan.

Saya pernah beberapa kali emosi gak jelas dengan sangat norak. Lalu akhirnya, saya malu sendiri. Karna kemarahan saya ternyata gak beralasan. Saya belum benar-benar paham apa yang terjadi, tapi sudah terburu-buru bereaksi. Nah lhoo, malu sendiri kan akhirnya?

Sekarang apa saya udah gak reaktif lagi?

Mungkin lebih tepatnya berusaha mengurangi. Berusaha lebih kalem. Kalau ada kejadian atau dengar sesuatu, ya diem dulu aja. Dicerna dulu. Dipahami dulu. Belum bisa sepenuhnya sih. Kadang masih reaktif. Tapi reaktifnya berusaha lebih 'elegan', dan gak sekonyong-konyong. Salah satunya dengan cara nulis di blog ini.

Tulisan ini salah satu bentuk reaksi saya atas kritikan yang saya terima. Saya nulisnya gak seketika setelah dikritik, melainkan nunggu beberapa hari. Biar nulisnya dengan kepala yang cukup dingin.

Pada jaman dimana hoax bertebaran dan berbagai macam berita simpang-siur tak terkendali serta tak jelas sumbernya, sifat reaktif rasanya berbahaya sekali, ya?

Hobi share berita yang judulnya 'WOW' tanpa membaca terlebih dahulu isinya, contohnya. Itu salah satu bentuk reaktif yang bahaya sekali. Atau share berita yang belum jelas benar-enggaknya. Saya sempat jadi bagian orang yang seperti itu. Tapi lama-lama saya mikir. Iya kalau yang saya share bener, kalau salah bukannya saya akan malu sendiri? Bukannya saya seperti memperlihatkan kebodohan saya sendiri?

Sekarang, saya mau berusaha untuk gak reaktif lagi. Saya ingin jadi orang yang pandai mengendalikan diri =)

Ada yang mau sama-sama dengan saya belajar mengendalikan diri?

Modal Menjadi Orangtua

on
Jumat, 27 Januari 2017

Modal Menjadi Orangtua. Gak lama lagi Insya Allah saya punya amanah baru, yaitu sebagai orangtua. Amanah yang konon sama sekali gak ringan. Dan itu bikin saya banyak merenung, sekaligus sedikit resah. Selain resah memikirkan siapa nanti yang jagain si adek selepas masa cuti melahirkan saya habis, saya juga resah memikirkan soal; sudah punya modal apa saya untuk menjadi orangtua sebentar lagi? Saya takut gak punya cukup modal, sehingga saya gak bisa jadi orangtua yang baik buat anak saya. Apa ini tergolong terlalu paranoid?

Anehnya, semakin ke sini saya justru semakin malas membaca buku-buku bertema parenting. Beda sekali dengan saat sebelum menikah. Dulu saya rajin sekali baca buku parenting karna merasa itu modal penting untuk bisa menjadi orangtua yang baik. Sekarang, beberapa buku parenting malah bikin saya merasa semakin takut. Takut gak bisa memenuhi berbagai standar itu. Takut gagal.

Tapi, saya mendapatkan sebuah 'titik terang' saat pulang kampung seminggu lalu.

Saya dan mas suami mendapat kejutan ketika memasuki kamar. Di sana, sudah ada sebuah almari anak-anak baru, yang ternyata dipersiapkan oleh ibu khusus untuk anak saya. Saya terenyuh seketika. Sudah ada pula ember mandi bayi.

Padahal saya hanya akan dua bulan tinggal di sana selama cuti melahirkan. Setelah itu, saya akan kembali berdomisili di Semarang, dan ibu saya akan kembali harus bersabar menahan rindu pada saya, plus pada cucu barunya.

Lalu kenapa ibu saya mau repot-repot menyiapkan almari dll, padahal toh beliau tau bahwa gak lama kemudian beliau akan kembali kami 'tinggalkan'?

Pikiran semacam itu juga terlintas di benak saya ketika saya hendak menikah.

Bapak-ibu saya merupakan orang yang paling bahagia setelah saya, sekaligus paling sibuk mengurus segala macam persiapannya. Sibuk pikiran, materi dan tenaga. Saya mikir, kenapa mereka mau-maunya sebegitu dibuat repotnya sekaligus sebegitu bahagianya menyambut pernikahan saya, padahal mereka tau bahwa setelah saya menikah maka seketika itu hak mereka atas saya berpindah tangan pada orang lain (suami saya)? Padahal mereka juga tau bahwa hanya beberapa hari setelah segala macam keriuhan acara pernikahan saya, saya akan meninggalkan mereka dalam kesepian?

Kenapa?

Tulus. Karna mereka punya cinta yang tulus pada saya. Ketulusan lah yang membuat mereka turut berbahagia sepenuh hati saat melihat anaknya bahagia, meski setelahnya mereka harus menanggung nestapa.

Ketulusanlah yang membuat mereka tak hendak menghitung-hitung apa yang telah mereka keluarkan, untuk dimintai balasan pada anaknya.

Ketulusanlah yang membuat mereka selalu berupaya memberikan dan melakukan yang terbaik demi anaknya.

Dan saya simpulkan, itulah (salah satu) modal utama menjadi orangtua: KETULUSAN.

Saya tau belajar berbagai ilmu parenting juga modal yang penting. Tapi pengetahuan atas ilmu parenting yang gak didasari ketulusan sepertinya hanya akan membuat kita kelelahan saat berusaha mengaplikasikannya.

Seorang teman bercerita pada saya. Sebelum memiliki anak, dia sering bangun kesiangan. Setelah memiliki anak, dia selalu terbangun jam tiga dini hari, dan segera bergegas menyiapkan segala macam keperluan anaknya sebelum dia berangkat kerja jam tujuh pagi.

Saya tanya, gimana caranya mengubah kebiasaan bangun? Karna saya sudah pernah mencoba sendiri untuk melakukan itu, dan belum berhasil sampai sekarang. Sama sekali bukan hal mudah. Teman saya menjawab; naluri tulus sebagai seorang ibu lah yang bikin saya bisa melakukan itu.

Jadi, sebelum terlalu pusing belajar teori ini-itu tentang parenting, sepertinya membangun cinta yang tulus pada anak mulai sekarang menjadi jauuhhh lebih penting. Bukannya perasaan itu akan muncul dengan sendirinya? Entahlah. Tapi menurut saya enggak. Pernah dengar cerita tentang orangtua yang 'menuntut' anaknya membalas apa yang telah ia berikan? Atau contoh sederhananya, orangtua yang 'menuntut' anaknya meraih predikat terbaik di sekolah karna telah dileskan macam-macam. Menurut saya itu bentuk ketidaktulusan. Jadi menurut saya, tetap butuh usaha.

Ini hanya tulisan dari seorang calon ibu yang tengah resah mempersiapkan diri. Bisa jadi banyak yang gak pas. Bisa jadi, ada yang berkenan membagi cerita tentang membangun ketulusan pada anak? Saya pasti akan senang sekali :)

Cerita Pengalaman Memakai Mud Mask Jafra

on
Kamis, 19 Januari 2017
Setelah galau dengan masa-masa penuh jerawat menjelang pernikahan dulu, kini masa itu datang lagi sejak saya dinyatakan hamil. *usap ingus*

Tapi jerawat memberi saya pelajaran. Setidaknya sekarang saya jadi paham, kenapa kaum perempuan selalu jadi sasaran empuk industri kecantikan. Ternyata, hal se-upil semacam jerawat aja bisa membuat galau gak ketulungan. Dulu sebelum merasakan jerawatan, mana paham saya soal ini. Bisanya cuma mencibir, ngapain sih beli skin care macem-macem dan mahal banget pula, jika dirawat seadanya saja sudah baik-baik saja?! Makan tuh cibiran =D

Saya benar-benar dibuat sedih dan pusing melihat jerawat di muka saya tiap ngaca. Hiks. Kata orang-orang, jerawat saya ini pengaruh perubahan hormon selama kehamilan. Oke, baiklah saya percaya, mungkin memang gara-gara itu. Tapi tetap aja sedih, karna selain berjerawat, wajah saya jadi kusam banget. Lalu saya sadar, bahwa penyebabnya adalah kemalasan saya merawat wajah sejak hamil muda. Dan saya menyesal. Kemudian saya kepikiran untuk mencari produk perawatan wajah yang aman untuk ibu hamil.

Dulu gak terbayang sedikitpun akan merelakan uang lebih dari seratus ribu untuk beli masker. Beda sama sekarang. Sekitar tiga minggu lalu akhirnya saya mencetak sejarah dengan membeli masker wajah dengan harga lebih dari seratus ribu. Hihi.

Masker apa sih emangnya?

Mud Mask-nya JAFRA =D


Ini semua gara-gara review-nya Mbak Echa dan Mbak Ila tentang pengalaman menggunakan mud mask Jafra, yang akhirnya mendorong saya untuk cari-cari info tentang produk tersebut. Tadinya masih sebatas penasaran dan pengen aja sih, mengingat harganya yang cukup fantastis di mata saya. Sampai akhirnya suatu hari salah satu teman saya memasang produk Jafra di Display Picture BBM-nya. Ternyata, beliau merupakan salah satu beauty consultant-nya Jafra. Iseng lah saya tanya-tanya, yang berlanjut curhat tentang jerawat, dan berlanjut pada 'kenekatan' saya memesan mud mask Jafra.

Selang sekitar seminggu setelah percakapan saya dengan beauty consultant-nya Jafra yang sekaligus teman saya, Mud Mask Jafra sampai dengan cantik di kantor saya. Ohya, saya belinya yang kemasan kecil (tapi bukan yang re-package) berisi 75 ml. Sebenarnya kemasan ini khusus untuk member Jafra saja, tapi dia 'rela' menjualnya demi saya yang pengen coba mud masj Jafra, tapi masih ragu untuk membeli yang kemasan besar. Saya membelinya dengan harga Rp 150.000,-.

Lalu bagaimana pengalaman saya mencoba Mud Mask Jafra?

Saat hendak menggunakan, saya sempat bingung, ngolesinnya ke muka gimana ya? Harus pakai kuas kah? Setelah segel saya buka, ternyata teksturnya seperti BB Cream, tapi lebih kental. Saya coba-coba berhadiah saya langsung oles seperti saat memakai pelembab atau BB Cream.

Kesan pertama untuk Mud Mask Jafra dari segi cara memakai, saya suka. Simpel, gak ribet. Gak perlu pakai kuas pun sudah sangat mudah diratakan.


Setelah rata, diamkan 15-20 menit. Saat Mud Mask Jafra nempel di kulit wajah, rasanya hangat. Aromanya juga saya suka. Herbal banget. Kalau gak salah sih aromanya mirip jahe, tapi gak tau itu beneran aroma jahe apa gak. Setelah kering, Mud Mask Jafra cenderung gak terlalu kencang di wajah, seperti kebanyakan masker yang pernah saya coba sebelumnya.

Setelah 15-20 menit, saya membersihkan masker di wajah dengan cara membasuh muka biasa. Kata teman saya sih seharusnya diseka pakai air hangat. Tapi berhubung saya pakainya menjelang tidur dan sudah ngatuk syekali, yasudah dibasuh saja, sekalian wudhu sholat Isya'. Hehe.

Gimana rasanya setelah masker dibersihkan?

Enak sih. Terasa fresh. Kalau soal perubahan, saya gak mau mengada-ada. Ini kan bukan sulap, jadi gak mungkin dari empat kali pemakaian muka saya langsung kinclong lagi. Tapi saya merasa kusamnya agak berkurang. Noda-noda hitam bekas jerawat di dahi juga mulai memudar, meskipun belum hilang.

Tapi sedihnya, munculnya jerawat baru masih belum juga bisa di-stop =(( Dipemakaian pertama dan kedua juga sempat muncul bintik-bintik kecil di sekitar dahi. Tapi katanya sih itu reaksi wajar saat awal pemakaian produk Jafra. Alhamdulillah sekarang udah agak hilang.

Selain dipakai sebagai masker seluruh wajah, Jafra juga bisa dipakai dengan cara ditotol-totol ke jerawat yang sedang muncul, agar jerawatnya cepat matang lalu kering. Saya sudah pernah coba. Sayangnya, reaksinya gak secepat obat jerawat dari La Tulipe sih. Hehe. Tapi kan saya sedang hamil, jadi gak boleh pakai obat jerawat itu dulu =((

Baca: Review Acne Lotion La Tulipe

Ohya, tambahan sedikit. Saya sempat agak dibuat ragu gara-gara di bagian belakang kemasan, ada tempelan stiker berisi keterangan tata cara pemakaian. Heran aja, kok di stiker tempelan gitu? Setelah konfirmasi ke teman saya, beliau menjelaskan bahwa stiker itu ditempel oleh pihak Jafra Indonesia, karna di kemasannya memakai bahasa Meksiko. Oh baiklah, mungkin maksudnya biar pemakai Jafra di Indonesia gak bingung.


Kesimpulannya, sejauh ini saya suka dan cukup puas dengan Mud Mask Jafra ini. 3,5 dari 5 bintang.

Cuma kalau ditanya apakah saya akan re-purchase? Jawabnya, mungkin iya, mungkin tidak. Hehe. Harga yang gak bisa dibilang murah bikin saya mikir berulang-kali.

3 Hal Yang Harus Saya Punya Sebelum Memutuskan Resign

on
Sabtu, 14 Januari 2017
Memasuki kehamilan yang semakin tua ini, saya diliputi banyak kegalauan. Salah satunya kegalauan tentang, pada siapa nanti anak saya akan saya titipkan saat cuti melahirkan sudah habis? Sampai saat ini saya belum nemu calon 'mbak' buat anak saya. Sedangkan daycare di daerah Banyumanik Semarang, rata-rata menerima anak yang sudah bisa berjalan.

Ibu saya di desa sih dengan senang hati menawarkan, biar anakmu di sini, pulanglah seminggu sekali. Denger tawaran itu, saya langsung sedih. Langsung merasa jadi ibu yang kejam sekali jika hanya memberi waktu seminggu sekali untuk anak :(

Tak terelakkan, pilihan untuk resign muncul juga di pikiran. Tapi apa saya siap? Jujur saat ini belum. Ada beberapa hal yang harus saya pertimbangkan secara matang sebelum memutuskan untuk resign. Setidaknya, saya harus sudah punya satu cadangan kesibukan di luar tugas saya sebagai istri dan ibu. Saya tetap merasa butuh aktivitas untuk mengaktualisasikan diri.

Foto bareng Mbak Wati, Jiah dan Mbak nuna di acara Fun Blogging
Kadang iri melihat seorang ibu yang full-time di rumah, tapi tetap bisa berkarya. Tetap bisa mengaktualisasikan diri dengan baik. Salah satunya adalah Mbak Hidayah Sulistyowati. Seorang Blogger dari kota Semarang, yang pernah bergelut menyandang gelar sebagai wanita karier dengan posisi akunting. Beliau akhirnya memutuskan untuk resign, dan fokus memilih aktivitas blogging sebagai sarana berkaryanya. Saat saya tanya apa alasan Mbak Wati -- begitu panggilan akrab Mbak Hidayah Sulistyowati sehari-hari -- resign dari pekerjaan kantorannya, Mbak Wati mengatakan bahwa alasan utamanya adalah bosan dan ingin gampang ngintil suami. Tapi saya yakin sekali, ada pertimbangan matang di balik keputusan tersebut. Kalaulah Mbak Wati gak memakai pertimbangan matang, pastilah gak perlu menunggu tahun 2015 untuk memutuskan resign dari kantornya. Yang jelas, dari sosok Mbak Wati saya melihat, bahwa ketika ia memutuskan resign, ia tau persis apa yang hendak ia lakukan setelahnya. Terbukti, Mbak Wati sangat total menggeluti dunia blogging yang menjadi passion-nya. Hampir di setiap acara yang melibatkan Bloger di kota Semarang, selalu ada Mbak Wati salah satunya.

Header Blog Mbak Hidayah Sulistyowati
Dari Mbak Wati itulah kemudian saya belajar. Saya menentukan beberapa point yang harus terpenuhi sebelum saya memutuskan resign dari pekerjaan, agar gak mengambil keputusan dengan gegabah.

1. Niat yang lurus

Dalam hal apapun niat harus selalu jadi pondasi utama, ya. Saat nanti saya memutuskan resign, saya akan benar-benar memastikan bahwa niat saya lurus karna ingin mengabdi dengan lebih baik sebagai seorang istri dan ibu. Bukan karna 'panas' sama omongan orang, apalagi sekedar gara-gara baca tulisan nyinyir tentang wanita bekerja.

2. Siap dengan segala konsekuensi

Saat saya memutuskan resign dari kantor, pastilah akan ada masa di mana kondisi finansial keluarga gak lagi sama. Iya, rizki memang sepenuhnya urusan Allah. Tapi tetaplah wajib hukumnya bagi saya memstikan kesiapan diri saya menerima segala konsekuensi, terutama konsekuensi untuk bisa lebih hemat lagi dalam mengatur keuangan.

3. Tahu apa yang akan saya lalukan setelahnya

Dari hasil pengamatan sederhana saya, banyak dari stay at home mom terkesan jenuh dengan hidupnya yang hanya bergelut dengan pekerjaan rumah, ngurus anak dan ngurus suami saja. Iya betul, 3 pekerjaan itu memang ladang pahala. Tapi namanya manusia, pastilah wajar jika sesekali jenuh menghampiri. Jika jenuh dibiarkan dan tidak dicarikan solusi, pekerjaan yang sebenarnya merupakan ladang pahala malah bisa jadi ladang dosa karna melakukannya sambil uring-uringan berkepanjangan. Maka, sebelum memutuskan resign, saya harus tau aktivitas apa yang akan saya tekuni di sela-sela mengurus rumah, suami dan anak. Seperti yang sudah saya bilang di atas, saya tetap butuh sarana untuk mengaktualisasikan diri.

Tiga hal di atas merupakan rule utama yang harus saya pastikan sebelum mengambil keputusan untuk mengikuti jejak Mbak Hidayah Sulistyowati untuk resign dari pekerjaan. Dan saya tau persis, tiga hal tersebut belum terpenuhi standarnya dalam diri saya saat ini. Jadi tentu saja saya belum punya keberanian untuk memutuskan resign.

Saya hanya bisa berharap dan memohon pertolongan pada Allah, agar saya bisa menemukan orang yang tepat untuk menjaga anak saya nanti, setelah masa cuti saya berakhir. Aamiin.

Mohon bantuan doanya yaaa, teman-teman :)

#Resolusiku2017: Tentang Menjadi Ibu dan Menjadi Cantik

on
Rabu, 04 Januari 2017
#Resolusiku2017. Saya bukan tergolong orang yang rajin menulis resolusi setiap pergantian tahun. Pernah sih sok-sokan nulis resolusi. Tapi ya gitu, karna cuma ikut-ikutan, jadinya cuma anget-anget e'ek ayam, selang berapa hari setelah tahun baru biasanya sih udah lupa. Haha.

Jadi ya gitu, hidup saya kayak air mengalir aja. Gak ada target-target tertentu yang saya tentukan untuk dikejar banget agar harus tercapai di tahun tersebut. Resolusi nikah gimana? Iya, saya pernah bertahun-tahun menjadikan menikah sebagai resolusi. Tapi kan gak yang dikejar banget 'pokoknya gimana caranya harus nikah tahun ini, harus!'. Kan ya gak mungkin, wong saat itu saja saya belum ada calon =D

Alhamdulilkah, resolusi menikah sudah tercapai di 2016 lalu. Bukan dengan cara saya berusaha sekuat tenaga untuk mencapainya, melainkan mengikuti jalan cerita takdir saja :)

Tapi beda sama tahun ini. Tahun 2017 ini saya punya beberapa resolusi yang Insya Allah akan saya usahakan dengan segenap kemampuan saya agar bisa tercapai. Saya ingin menuliskan resolusi 2017 saya di sini, dengan harapan siapapun yang membaca akan turut meng-aamiin-kannya. Semakin banyak yang turut mendoakan, Insya Allah semakin dekat resolusi-resolusi saya dengan pencapaian.

Langsung aja yuk, berikut ini adalah #Resolusiku2017 saya:

1. Menjadi ibu dari seorang anak yang saat ini masih dalam kandungan saya berumur 31 minggu. Insya Allah dia lahir antara akhir Februari sampai awal Maret 2016. Sejujurnya saya punya resolusi tambahan, yaitu melahirkan secara normal. Alasannya bukan hal-hal semacam 'ingin merasakan jadi ibu seutuhnya dan lain-lain'. Ah, saya gak pernah sedikitpun menganggap bahwa melahirkan secara secar itu berarti belum jadi ibu seutuhnya. Gak ada rumus kayak gitu.

Alasan saya ingin sekali melahirkan secara normal adalah karna katanya kalau normal lebih cepat proses penyembuhannya. Alasan lainnya lagi, karna dari segi biaya melahirkan secara normal pastilah lebih terjangkau untuk ukuran tabungan saya dan mas suami yang gak seberapa. Hehe.

Baca Juga: Catatan Kehamilan

2. Memberi ASI Eksklusif untuk anak saya selama 6 bulan pertama. Ah, ini sih impian setiap ibu ya rasanya. Ibu mana yang gak pengen bisa kasih ASI buat anaknya? Soal ada yang akhirnya terkendala, lagi-lagi itu urusan takdir, kan?

Yang jelas saya ingin memasukkan ini sebagai salah satu resolusi, agar saya lebih semangat dan lebih bersungguh-sungguh untuk berusaha mencapainya. Karna saya tau, dalam prosesnya nanti, pastilah akan ada satu-dua hal yang menjadi tantangan. Dan semoga saya gak menyerah begitu saja saat saya ingat ini merupakan salah satu resolusi hidup saya di 2017.

3. Menghilangkan bekas jerawat di wajah. Haha, ini terdengar gak penting sekali ya sepertinya. Tapi tidak buat saya. Sejak hamil, jerawat saya tumbuh subur bak lumut di musim hujan. Lebih parah dari saat menjelang nikah dulu sepertinya. Katanya sih ini karna pengaruh hormon selama hamil, Insya Allah nanti setelah hamil ilang sendiri. Saya percaya dan yakin dengan pendapat itu sih.

Tapi yang hilang jerawatnya, kan? Soal bekas, itu lain lagi -_-. Beneran saya sedih tiap ngaca dan melihat totol-totol hitam bekas jerawat bertebaran di wajah saya. Lebih sedih lagi jika tiap pasang foto di akun media sosial atau aplikasi messanger banyak yang langsung pada komentarin jerawat saya, gak peduli apapun captionnya. Huhu, langsung merasa dunia ini kejam sekali =((

Maka dari itulah, menghilangkan bekas jerawat dan berusaha membuat wajah saya kembali mulus seperti jaman masih gadis merupakan salah satu resolusi saya. Usahanya bahkan sudah saya mulai sejak hari ini, dengan membeli beberapa produk kecantikan yang katanya aman untuk kehamilan tentunya. Selain jadi ibu, saya juga ingin jadi cantik dong. hehe. Bukan semata-mata ingin dipuji orang-orang. Ingin dipujinya sih sama suami aja =D *masasiiihhhh*

Meski mencanangkan tiga resolusi di atas, saya tetap menanamkan dalam hati bahwa ketercapaiannya tetaplah bergantung pada ridho Sang Penggenggam Alam Semesta. Agar jika ternyata ada yang meleset, saya ikhlas. Gak baper berkepanjangan.

Resolusinya cuma tiga? Iya, tiga aja. Bukan berarti gak ada hal lain yang ingin saya capai di tahun 2017 ini. Tentu saja ada, dan banyaaaakkk. Hanya saja yang saya canangkan resmi sebagai resolusi cukup tiga point di atas saja.

Sekali lagi, saya menulis ini dengan harapan semoga siapapun yang membaca berkenan turut mendoakan resolusi saya di atas. Jadi, dengan segenap kerendahan hati, mohon doanya yaaa teman-teman =))


Signature

Signature