Macam-Macam Bumbu Aromatik dan Manfaatnya

on
Selasa, 16 Oktober 2018
Sebagai orang Indonesia, hampir setiap masak kita pasti menambahkan bumbu aromatik. Iya, kan? Bumbu aromatik bisa dibilang menjadi salah satu ciri khas masakan nusantara, karna hampir sebagian besar menu pasti menggunakan bumbu aromatik.

Bahkan salah satu alasan Indonesia dijajah juga karna kekayaannya akan kekayaan bumbu aromatiknya kan? Hehe.

Bagi saya, bumbu aromatik merupakan salah satu faktor penting penentu sedapnya sebuah masakan. Gak perlu lagi lah pake penyedap masakan bubuk.

Selain membuat sebuah masakan menjadi lebih sedap dan nikmat, ternyata bumbu aromatik juga mengandung berbagai manfaat bagi kesehatan lho. Apa saja sih?

1. Jahe

Kenapa saya meletakkan jahe di urutan nomor satu? Karna jahe merupakan bumbu aromatik favorit saya.
Saya sering sekali menambahkan jahe saat membuat tumis-tumisan, maupun saat memasak sayur berkuah santan untuk Faza. Selain membuat makanan lebih nikmat dan beraroma sedap, jahe juga memiliki banyak manfaat.

Manfaat jahe antara lain adalah untuk menghangatkan tubuh, meredakan nyeri, perut kembung, dll.

Untuk saya yang lumayan sering bermasalah dengan perut kembung, jahe menjadi salah satu andalan yang harus selalu tersedia di rumah. Gak cuma sebagai bumbu aromatik, jahe juga bisa dibuat menjadi minuman hangat. 

Tapi karna kalo harus bikin sendiri ribet sekali, saya lebih sering beli minuman sari jahe bubuk yang banyak tersedia di pasaran. Salah satu serbuk sari jahe yang paling saya suka adalah Herbadrink Sari Jahe. Gak seperti serbuk sari jahe lain yang kadang kurang terasa hangat jahenya, Herbadrink Sari Jahe sangat terasa hangatnya.




Saat pertama kali mencona Herbadrink, saya membatin. Kok Manisnya beda ya dengan manis-nya minuman-minuman sachet pada umumnya. Setelah mencari tau, ternyata Herbadrink Sari Jahe memang bebas gula (Sugar Free) sehingga cocok untuk konsumen yang sedang berusaha mengurangi konsumsi gula berlebih.

Saat perut saya sedang terasa kembung, saya langsung minum Herbadrink Sari Jahe. Perut kembung itu sepertinya 'sakit ringan' ya. Tapi percayalah, rasanya gak nyaman sekali, dan bikin mood berantakan. Tapi sesaat setelah minum Herbadrink Sari Jahe, perut saya pasti akan terasa hangat, keringat keluar, dan badan akan terasa jauh lebih segar dan enteng.

Selain bebas gula, Herbadrink juga bebas pengawet dan tanpa tambahan perisa. Minuman herbal alami ini dibuat berdasarkan resep tradisional Indonesia dan diproses melalui teknologi modern.

Herbadrink Sari Jahe bermanfaat untuk menghangatkan badan, membantu meredakan masuk angin, mual, perut kembung dan melancarkan sistem peredaran darah. Selain Sari Jahe, Herbadrink juga ada varian rasa yang lain, yaitu lidah buaya dan sari temulawak.

2. Lengkuas

Ini bumbu aromatik kedua favorit saya setelah jahe. Menurut saya, aroma lengkuas tu sedeeeepp banget.

Makanya saya suka masakan-masakan yang memakai lengkuas sebagai bumbu aromatik. Seperti sayur asem-asem daging dan ayam goreng lengkuas. Kalo lagi makan ayam lengkuas, saya pengennya lebih banyak bumbu parutan lengkuas dan jahenya yang udah jadi kremesan dibanding ayamnya. Hihi.

Apakah lengkuas ada manfaatnya? Tentu saja!

Dari manfaat.co.id dipaparkan, lengkuas punya manfaat yang sangat banyak. Di antaranya memberikan rasa nyaman di perutmengurangi resiko kanker, membersihkan bekas jerawat, menghilangkan ketombe, dll.

3. Pala

Akhir-akhir ini saya sukaaa sekali sama pala. Aroma-nya bikin tenang. Hihi.

Terutama saat memasak sup untuk Faza.Luar biasa ya pala ini. Secuil keciiilll saja, sudah mampu mengubah aroma dan rasa sebuah masakan. Tiap hendak menambahkan pala pada masakan, saya selalu teringat pelajaran sejarah. Teringat para penjajah yang sangat memburu bumbu aromatik macam pala ini.

Pala juga punya manfaat yang sangat banyak lho untuk kesehatan. Dari situs hellosehat.com dilansir, pala punya manfaat meningkatkan kesehatan otak, mengurangi rasa sakit, membantu mengeluarkan racun dari tubuh, dll.

4. Cengkeh

Saya sebenarnya jarang sekali menggunakan cengkeh sebagai bumbu aromatik dalam masakan. Tapi weekend kemarin, saat saya mencoba memasak crispy chicken steak favorit suami, ternyata salah satu bumbu aromatik yang dibutuhkan untuk membuat sausnya adalah cengkeh.

Akhirnya untuk pertama kalinya saya menggunakan cengkeh dalam masakan saya. Hasilnya? Mantap sedapnya!

Apakah cengkeh juga punya manfaat bagi kesehatan? Oh tentu saja. Dari lifestyle.kompas.com disebutkan bahwa cengkeh dapat membunuh bakteri penyebab penyakit, mengendalikan kadar gula darah, menjaga kesehatan tulang, dll.

5. Kunyit

Siapa yang hobi minum jamu kunyit asam?

Sayaa! Gak sering sih, kadang-kadang aja.

Di alodokter.com dijelaskan bahwa kunyit bisa mengatasi rasa sakit saat menstruasi, ruam kulit, maag, dll.

Sebagai bumbu aromatik, kunyit juga sering sekali dipakai untuk berbagai menu yang cenderung berwarna kuning alami, yang membuat masakan tampak sangat menggoda.

Kalau saya sebut semua bumbu aromatik yang ada di bumi nusantara tercinta ini, entah akan seberapa panjang tulisan ini 😀 Jadi 5 saja yaa.

Kalian juga pasti sering sekali kan memakai bumbu aromatik saat memasak? Apa saja bumbu aromatik favoritmu?

Cara Menentukan Skincare Regime Bagi Pemula

on
Rabu, 10 Oktober 2018


Sebagai seorang pemula di dunia per-skincare-an, saya sempat dibikin pusing untuk menentukan skincare regime yang harus saya aplikasikan untuk merawat wajah. Bener-bener blank, karna tadinya saya dimanjakan banget sama kepraktisan NuAmoorea yang cuma tempel-bilas, beres.

Bahkan membersihkan wajah atau sekedar facial foam aja saya sebelumnya gak pakai sama sekali loh. Kebayang kan gimana blank-nya saya dalam menentukan skincare regime, saat memutuskan untuk merawat wajah dengan beberapa step?

Baca: Review Jujur NuAmoorea Beauty Bar

Tapi yaudah Bismillah, trial n error.

Terus sekarang sudah nemu skincare regime yang cocok?

Belum sempurna banget sih. Masih trial n error terus, cuma sebulan terakhir ini saya merasa udah mulai nemu polanya. Udah gak blank banget lah.

Nah, dari pengalaman saya trial n error menentukan skincare regime yang bener-bener dari NOL, saya jadi ingin berbagi. Tentang hal-hal yang harus kita baru akan memulai untuk memakai beberapa step skincare dan menentukan skincare regime apa yang tepat bagi pemula seperti kita.

Yuk, langsung aja yaa.

1. Kenali jenis kulit kita

Ini yang utama banget. Kenali jenis kulit kita. Apakah berminyak, kering, normal atau kombinasi. Tentang caranya, silahkan ikuti kuliah di #skincare101-nya Mbak Affi Assegaf di channel Female Daily ya 😀 Soale saya agak ngeh sama dunia per-skincare-an juga dari situ.

Nah aku sendiri dulu sempat mengira bahwa kulit wajahku itu kombinasi normal-berminyak. Karna di bagian dahi dan janggut sering banget berjerawat. Ternyata setelah belajar lagi, kulitku malah cenderung normal-kering. Kulit kering bisa berjerawat juga lho.
2. Pilih Produk Yang Sesuai Jenis Kulit Kita

Kenapa sih harus mengenali jenis kulit kita dulu sebelum menentukan skincare regime?

Ya biar gak salah pilih skincare. Kan beberapa skincare ada peruntukannya masing-masing kan, apakah untuk kulit normal, kering atau berminyak.

3. Pakai produk baru satu per satu, dan Amati Reaksinya

Ini pelajaran utama banget yang saya dapat dari keputusan memulai pakai skincare berstep-step. Karna terlalu bersemangat, saya langsung beli beberapa step produk skincare -- yang mana semuanya masih asing di kulit saya karna sama sekali belum pernah pakai sebelumnya.

Akibatnya, saat muncul reaksi semacam kulit jadi bruntusan, atau timbul jerawat, saya bingung sendiri. Step atau produk yang mana nih yang menjadi penyebabnya? Huhu.

Belajar dari pengalaman itu, akhirnya saya revisi caranya. Saya mulai dari 0 lagi. Pertama pakai facial wash dulu aja. Lalu saya amati gimana reaksinya di kulit saya. Setelah sekitar 2 harinan dan gak ada masalah, saya tambahi dengan first cleanser -- karna saya bertekad menjalankan double cleansing.

Begitu seterusnya hingga saya menemukan skincare regime yang (agak) tepat untuk kulit saya.

Baca: Perjalanan Mencari Skincare

Jadi apakah saya sudah menemukan skincare regime yang tepat? Belum sih. Saya masih stuck di step double cleansing - exfoliating - toning - moisturizing. Pengennya nambahi serum ke skincare regime saya, tapi masih meninmbang-nimbang dan mempelajari serum apa yang kulit saya butuhkan.

Masih agak bingung juga karna saya merasa skincare regime yang sekarang saya pakai membuat kondisi kulit saya lebih baik di beberapa sisi, tapi jerawat di dahi dan janggut masih saja hilang-muncul secara simultan. Huhu.

Kalau ada yang sudah lebih paham soal skincare, boleh dong saya dikasih saran harus gimana untuk menyempurnakan skincare regime saya? 😊

Pengalaman Pertama Memakai Sheet Mask Acnes

on
Kamis, 27 September 2018
Gara-gara mantengin IG dan blog para biyuti bloher, saya jadi pengen banget nyobain pakai sheet mask. Benar-benar ya, dibutuhkan pengendalian diri yang maha kuat biar gak gampang teracuni segala sesuatu di era media sosial ini 😅

Sheet mask itu menggoda sekali karna sepertinya kok simpel sekali yaa. Gak perlu oles-oles, tinggal tempel, beres. Gak perlu bilas pakai air, tinggal dikletek, beres. Wow, gimana aku yang pemalas ini gak tertarik coba?

Saat ke Indomaret dan Alfamart, saya beberapa  ngintip sheet masknya Garnier. Eh, kok ternyata dua puluh ribuan gitu yaa. Untuk sekali pakai. Huhu, bagi saya yang rakyat jelata ini jujur saja kok rasanya sayang. Yawis akhirnya gak beli.

Sampe akhirnya kemarin weekend, saya ada perlu di kawasan Simpang Lima Semarang, dan kebetulan mampir ke CL untuk makan siang. Tentu saja saya gak menyia-nyiakan kesempatan mampir Guardian.

Sampai Guardian, yang saya intip langsung bagian sheet mask. Eh ternyata rata-rata emang harganya segitu, dua puluh ribu ke atas semuaaa. Huahaha. Langsung patah hati akutu. Tapi karna malu terlanjur dideketin mbak-mbak SPG dan dijelasin macem-macem soal beberapa manfaat sheet mask, akhirnya saya comot satu, yaitu sheet mask dari Acnes.

Acnes Oil Control Mask


Kenapa pilih sheet mask Acnes? Tentu saja karna harganya paling murah di antara kebanyakan sheet mask lain. Kedua, karna ada tulisan 2 pcs paper. Saya girang karna mengira dalam satu kemasan itu ada 2 lembar sheet mask, untuk dua kali pakai.
Ternyata saya salah paham 😂

2 pcs paper itu maksudnya, yang selembar untuk bagian jidat sampai mata. Yang selembar lagi untuk bawah mata sampai dagu. Jadi tetep cuma bisa untuk sekali pake. Ya Allah betapa o'onnya hamba 😅

Harga: 21 ribu sekian ratus rupiah. Maaf lupa persisnya :(
Klaim Manfaat:

-Merawat kulit berjerawat dan kulit yang mudah berjerawat sekaligus menjaga kelembaban kulit

-Mengandung naturan witch hazel extract untuk membantu mengurangi minyak (sebum) berlebih


Efek setelah pemakaian:

Saat dipakai, adem banget rasanya. enaaakkk. Andai harganya lima ribu, mau banget lah saya pake seminggu 3x 😆

Di kemasan tertera diamkan 15 menit. Cuma setelah 15 menit rasanya saya belum rela lepas. Dua puluh ribu masa sih 15 menit doang *dibahas terus soal 20ribu* 😂 Akhirnya saya genapkan dua puluh menit.

Setelah dilepas, efek ademnya masih tertinggal beberapa saat. Wajah jadi terasa lebab dan kenyal.

Cuma untuk efek lanjutan pasti gak kerasa karna saya cuma make sekali ya. Tapi sejauh ini, untuk pengalaman pertama memakai sheet mask, saya puas dengan sheet mask Acnes ini.

Emm, kalo lihat-lihat di Shopee, banyaakk banget ya sheet mask Korea yang harganya sepuluh ribuan gitu. Itu KW apa bukan yaa? Awam banget soal ginian.

Kalo ori, pengen nyoba beli ah besok-besok. Cuma belinya mending sekalian banyak yaa, biar bisa free ongkir.

Sheet mask apa aja yang sudah pernah kalian coba? Dan apa yang menurut kalian paling enak? Cerita di kolom komentar yaa 😊

Kecanduan Instagram

on
Minggu, 16 September 2018
kecanduan instagram


Tiga mingguan kemarin, saya mulai merasa ada yang gak beres pada diri saya. Pikiran rasanya capeeekkkk banget. Padahal gak lagi punya masalah yang butuh banyak pikiran sama sekali.

Selain itu, ngapa-ngapain rasanya gak bergairah. Terutama kerja. Hidup rasanya stuck.

Seminggu, saya belum terlalu ngeh. Jadi cari penyebab pun belum kepikiran sama sekali tentunya.

Dua minggu, saya mulai terganggu. Mulai bertanya-tanya, saya kenapa sih ini sebenernya?

Minggu ketiga, baru deh saya mulai fokus. Iya nih, bener kayaknya ada yang salah sama diri saya. Kayaknya saya harus 'mengistirahatkan' pikiran saya. Bukan mengistirahatkan sih ya, wong tetep dipakai kerja kok. Lebih tepatnya, mengurangi bebannya.

Tapi saya mikir apa sih? Gawean kantor perasaan gitu-gitu aja. Hubungan sama keluarga dan teman Alhamdulillah lagi gak ada masalah sama sekali. Terus apa dong yang bikin otsk saya kayaknya capeeekkk banget gini?

Lalu, seperti sebuah petunjuk dari Yang Kuasa, saya ketemu tulisan soal tipikal orang di era medsos ini, otaknya gak berhenti memproses informasi, gampang terdistraksi, gak fokus, dll bla bla bla. Saya lupa persisnya, cuma point itu yang terekam banget.

Itu seperti jadi AHA! moment buat saya. Aha! saya tau nih apa yang harus saya lakukan untuk bikin otak saya agak enteng.

Dan pilihan utamanya adalah: Uninstall Instagram untu sementara. Iya dong cuma sementara, gak mungkin juga kalo selamanya 😅

Kenapa Instagram?

Ya karna setelah saya pikir-pikir, rasanya saya udah mulai kecanduan Instagram. Huhu, sedih. Bener-bener udah sampe taraf tiap berapa menit pasti reflek buka HP dan langsung bukanya Instagram. Lagi kerja pun. Jadi kerjanya jadi gak fokus banget.

Misal harus ngerjain sesuatu, danbener-bener gak bisa pegang HP untuk beberapa saat, maka saya akan resah. Seperti takut ketinggalan sesuatu yang entah apa.

Parahnya lagi, saya selalu terdistraksi sama Instagram. Contoh, saya mau WA konsultan pajak kantor saya. Saya ambil HP, bukannya buka WA, pertama yang saya buka malah Instagram cobaaa 😭 Buka story segala macem, lalu endingnya lupa tujuan awal saya pegang HP adalah untuk WA konsultan pajak.

Apa namanya cobaaa semua itu kalau bukan kecanduan Instagram?! 😭

Saya merasa, kecanduan saya pada Instagram semakin menjadi-jadi saat saya follow banyaaakk banget akun penuh faedah -- yang hampir tiap hari membagikan tips, sharing ilmu, dll lewat Instastory. Sungguh biang kerok Instastory itu. Iyalah, kan setelah 24 jam hilang kan,  makanya jadi takut ketinggalan. Huhu.

Iya, jadi sebenernya Instagram itu saya manfaatkan (Insya Allah) dengan sangat positif. Saya dapet banyaaaakkk banget ilmu dari situ. Sekarang kan semua orang sharing ilmu apapun lewat Instagram kan.

Tapi balik lagi, segala sesuatu yang berlebihan itu gak baik. Ibarat obat, saya overdosis. Saya juga sempet jadi merasa, aduh ini mereka kok pinter-pinter banget sih. Kok aku gak ada apa-apanya sama sekali, bagai remah rengginang di kaleng Khong Ghuan. Lalu timbul keinginan untuk belajar sebanyak-banyaknya.

Salah kaprahnya: belajarnya lewat Instagram lagi 😂 Makin menjadi-jadi lah kecanduannya. Subhanallah.

Jadi ya begitulah. Akhirnya saya sadar, ada yang gak beres dengan diri saya. Gak sehat kalo untuk mental saya kalo kayak gini terus. Akhirnya, hari senin ba;da maghrib lalu, saya Uninstall Instagram. karna kalo gak di Uninstall yakin gak bakal sanggup. Saya bertekad puasa Instagram seminggu.

Dan kemarin saya baca, ternyata ada sebuah penelitian di Inggris yang menyatakan bahwa Instagram merupakan media sosial yang paling buruk dampaknya buat kesehatan mental penggunanya lho. OMG!

Lalu gimana rasanya? Ya sakaw lah pasti 😂 Bentar-bentar pegang HP reflek mau klik ikon tempat semula IG bertengger. Terus sadar, eh iya, kan baru puasa.

Emm, besok kayaknya udah mau Install lagi. Semoga saya sudah lebih bisa mengendalikan diri. Doakan yaa teman-teman 😄

Kalian pernah merasa kecanduan Instagram juga gak sih? Atau jangan-jangan sekarang sedang dalam kondisi itu?

Flip, Solusi Transfer Antar Bank Tanpa Terkena Biaya

on
Jumat, 14 September 2018


Hari gini, pekerjaan transfer-mentransfer kayaknya udah jadi salah satu aktivitas rutin harian ya? Apalagi trend belanja online yang makin berkembang luar biasa. Kayaknya semua-mua sekarang belinya online.

Cuma, bagi saya pribadi ada dua hal yang kadang bikin mikir dua kali kalau mau belanja. Pertama, ongkir. Males banget kalo ongkirnya mahal. Kecuali barangnya emang bener-bener susah dicari di daerah saya. Iya sih, marketplace sebelah ada fasilitas free-ongkir. Tapi kan ada minimal belanjanya.

Kedua, kalo si pemilik toko cuma punya satu atau dua rekening Bank, dan ndilalah beda bank dengan saya 😭 Ini konteksnya kalo belanja onlinenya gak melalui marketplace atu E-Commerce ya.

Iya sih biaya administrasi transfer beda bank itu cuma 6.500 rupiah doang. Tapi tetep aja kok rasanya nyesek ya. Ada yang gini juga kah?

Minggu lalu saya harus transfer ke rekening yang beda bank dengan bank yang saya pakai. Dan kemungkinan saya harus transfer beberapa kali ke rekening tersebut. Huhu, sedih banget.

Beberapa orang di grup WA juga ngeluh hal yang sama. Sampai pada akhirnya ada salah satu teman yang datang memberitahu sebuah solusi yang sangat mencerahkan 😍

Ternyata transfer beda bank tanpa terkenan biaya itu bisa banget lho!

FLIP solusinya 😃

Flip merupakan sebuah aplikasi yang menawarkan solusi untuk orang-orang seperti saya yang gak cukup ikhlas kehilangan uang 6.500 untuk membayar biaya transfer antar-bank 😂 Aplikasi ini bisa diunduh melalui Play Store, atau bisa juga diakses langsung webnya lewat PC di https://flip.id.

Membuat Akun Flip

Nah, kalau mau transfer antar Bank tanpa biaya pakai Flip, langkah pertama tentu saja membuat akun dulu.

Flip, solusi transfer antar bank tanpa biaya


Setelah bikin akun, kita harus masih harus melengkapi data. Meliputi kota tempat tinggal kita, nomor KTP, dll. Kita juga akan dimintai verifikasi nomor HP.

Setelah semua data kita lengkapi, kita masih belum bisa langsung transfer pakai Flip. Masih ada satu langkah lagi, yaitu aktivasi akun.

Caranya ada dua pilihan. Yang pertama dengan upload foto KTP kita, foto wajah kita, dan foto kita sedang memegang KTP. Setelah foto terupload, kita masih harus nunggu pihak Flip-nya memverifikasi foto yang kita upload. Setelah terverifikasi, Flip akan mengabari kita melalui email.

Saya kemarin sempat pilih pakai cara itu. Cuma kok agak lama ya. Udah dua hari belum ada perubahan. Masiiihh aja dalam proses verifikasi.

Karna udah keburu mau pakai, akhirnya saya pilih cara kedua. Cara kedua jauh lebih simpel, tapi kudu keluar modal dikit. Haha. Yaitu dengan cara datang ke Alfamart, dan bilang ke kasir mau aktivasi Flip. Nanti kita akan diminta menunjukkan KTP, nunggu sebentar, beres deh. Biayanya 4.000 rupiah saja!

Cara Transfer

Saya baru dua kali sih transfer antar bank pake Flip. Dan Alhamdulillah PUAS, tanpa kendala.

Saat akan melakukan transfer, kita akan disuguhi form seperti di bawah ini 👇


Saat mengetikkan nomor rekening tujuan kita, dalam beberapa detik Flip akan menampilkan atas nama siapa nomor rekening tersebut. Jadi langsung terverifikasi gitu, apakah nomor rekening yang tuju udah bener apa belum.

Setelah mengisi nominal, lalu submit, kita akan diminta transfer senilai nominal transfer yang kita mau, DITAMBAH dengan kode unik dari Flip, yang nanti akan menjadi deposit kita, dan bisa dicairkan (kalo udah banyak  kali yaa).

Langkah selanjutnya? Kita transfer deh nominal tersebut ke rekening Flip.

Iya, jadi cara kerjanya Flip tu sebenernya sebagai perantara. Misal nih rekening kita BNIdan mau transfer ke BCA, maka kita disuruh transfer ke rekening BNI-nya Flip, lalu Flip akan mentransfer uang tersebut ke rekening tujuan kita, melalui rekening Flip yang BCA. Gituuu.

Terus udah deh. Kita tinggal nunggu dikasih bukti transfer sama Flip. Bukti Transfernya bisa di download gitu. Gak lama kok nunggunya, gak ada 10 menit.

Keren bangettt yaa? Pertama kali pakai Flip, saya beneran ter-WOW gituuu lho sama ide si Foundernya Flip ini. Masyaa Allah, kok pinter dan kreatif amaaaattt nangkep peluang yang sekaligus bisa jadi solusi bagi banyaakkk sekali orang.

Kemarin saya sempat baca-baca artikel tentang Flip. Ternyata di awal-awal perjalanan Flip, Flip sempat diminta BI untuk menutup layanannya, dan mengurus ijin resmi dulu di BI. Alhamdulillah sekarang mereka sudah mengantongi ijin resmi. Jadi gak perlu ragu ya, Insya Allah Flip aman 😊

Ohya, tambahan dikit. Maksimal transfer di hari yang sama melalui Flip hanya 5 juta rupiah yaa. Lebih dari itu, kena biaya 2.500 per transaksi, tapi maksimal 20 juta.

Jadi sekian yaaa cerita tentang aplikasi penolong bagi kita semua agar bisa menabung uang 6.500 rupiah. Hahaha. Selamat mencobaaa 😘

Tips Tetap Hemat Saat Jajan di Luar

on
Senin, 03 September 2018
credit: Pixabay.com

Siapa yang hobi jajan di luar, cung??

*saya ngacung pertama* 😀

Jadi, kalau teman-teman perempuan lain sebagian pada bilang boros banget karna hobi belanja, saya beda. Soal belanja gak terlalu hobi. Yang dibeli ya yang emang lagi dibutuh aja. Jarang impulsif. Tapiii, borosnya di bagian makan. Hobi banget jajan :(

Kalau lagi bete atau suntuk juga gak perlu diajak traveling -- karna saya kurang suka traveling. Diajakin jajan aja udah seneng banget!

Tapi namanya jajan, meskipun kelihatannya dana yang dikeluarkan gak seberapa, tetep aja lhoo kalau dihitung dan diakumulasi, totalnya sering bikin shock. Karna memang beneran makan dana lumayan besar.

Kalo masih single sih gak masalah ya. Kenapa dulu saya waktu single malah gak bisa nabung sama sekali ya karna habis buat jajan ini. Hahaha.

Tapi kalau udah berumahtangga, dan palagi sudah punya anak, ya gak mungkin lah hobi jajan saya di pol-polin kayak dulu. Apa kabar masa depan kalau masih mau jajan terus?

Sejujurnya, untuk kondisi ekonomi kami (saya dan suami) saat ini, beberapa kali kami berwacana untuk stop jajan di luar. Demi biar bisa lebih hemat.

Tapi apakah berhasil?

Tentu saja tidak! 😂

Jatuhnya malah saya cranky kalo gak pernah jajan sama sekali.

Yasudah, akhirnya kami berdamai dengan diri sendiri. Saya dan mas suami memilih untuk meramu cara agar bisa tetap hemat saat jajan di luar. Karna kalau dipaksa gak jajan sama sekali malah stress kan buat apa?

Tips Tetap Hemat Saat Jajan di Luar

Yang harus diperhatikan adalah frekuensi. Iyalah, mau secanggih apapun tips hemat saat jajan di luar, kalau jajannya tiap hari ya tetep gak bakal bisa berfungsi lah! 😅
Saya dan mas suami sepakat, kami jajan maksimal sebulan dua kali. Tapi jajan dalam artian makan besar di tempat makan/warung/resto gitu ya. Bukan jajan remeh-temeh macam cilok, dll gitu.

Sebulan sekali itu udah miniiiimm banget, mengingat dulunya kami jajan di luar bisa seminggu tiga kali. Hahaha.

Nah langsung aja ya, tips pertama: pilih tempat makan yang menunya sesuai banget sama selera kita dan harganya bersahabat dengan dompet kita.

Gimana kalau harganya bersahabat tapi menunya gak sesuai selera? Jangan deh. Kan tujuan jajan biar seneng dan bahagia. Kalau gak sesuai selera, artinya gak bisa bikin hati seneng. Tujuan utama jajannya gak terpenuhi dong. Sia-sia.

Kalau menu sesuai selera tapi mahal? Ya jangan juga. Karna selesai jajan pasti bakal merasa bersalah. Karna kan ceritanya sedang harus hemat.

Nah, saya dan mas suami udah punya nih tempat makan yang menunya cocooookkk banget dengan selera kami, dan harganya bersahabat banget sama kantong.

Saya kasih bocoran ya, salah satu tempat jajan favorit kami adalah SS alias Spesial Sambal. Haha. Pecinta pedas kami sih 😊


Oke, cus tips kedua ya: Kalau jajannya berdua (entah sama teman, entah sama pasangan), usahakan jangan pesan menu yang sama. Biar apa? Biar bisa saling nyicip. Xixixixi. Gak bikin hemat banget sih. Tapi kan dengan dana yang sama, bisa mencicipi lebih banyak varian menu. Bandingkan dengan jika kita dan teman jajan kita pesan menu yang sama?!

Tips ketiga: Kombinasikan antara menu dengan harga 'agak mahal' dan yang murah.

Kalau saya biasanya gini: kalau lauknya udah agak 'wah', minumnya yang biasa aja. Es teh, atau mentok es jeruk.

Nah, sebaliknya... kalau lagi pengen minuman yang agak 'wah' macam jus-jusan gitu, ya ambil lauknya yang biasa macam telur gobal-gabul gitu. Xixixi. Yang sering ke SS pasti tau telur gobal-gabul.

Dengan cara itu, saya dan mas suami rata-rata hanya habis 50 ribuan lhooo tiap makan di SS. Menurut saya itu muraaahhh banget, karna bisa sekenyang itu! Kan SS nambah nasi gratis 😂 Sudah dapet lauk, sayur, sambal, kadang plus buah juga.

Jadi dompet gak jebol, perut kenyang, hati bahagia 😍

Kalau kalian punya tips hemat yang lain, boleh ditambahi di kolom komentar yaa! Saya lagi butuh macam-macam tips hemat saat jajan nih. Hehe.

Tentang Mubadzir

on
Jumat, 31 Agustus 2018
credit: Pixabay.com

Soal mubadzir, sebenernya tau tentang teorinya sih kayaknya udah sejak masih pakai seragam putih-merah ya. Tapi gimana aplikasinya?

Gak usah deh ngobrolin soal betapa mubadzirnya tas yang lebih dari 3, koleksi jilbab yang hampir tiap bulan pasti nambah, dll. Terlalu berat rasanya untuk mengakui bahwa yang seperti itu juga namanya mubadzir. Hehe.

Jadi yang saat ini mau saya obrolin adalah tentang mubadzir yang paling umum. Yaitu, mubadzir dalam hal makanan.

Jujur saja saat masih tinggal bersama orangtua dulu, saya termasuk orang yang gak pernah sedikitpun merasa bersalah jika harus membuang nasi. Hampir setiap makan saya gak habis, dan simpel -- buang aja. Mungkin salah satu alasannya adalah karna di rumah ada peliharaan ayam. Jadi menurut saya gak masalah buang nasi, kan dalam rangka kasih makan ayam 😂

Tapi sudut pandang saya itu berubah banyak sekali setelah kenal mas suami. Mas suami itu anti banget buang makanan. Bisa jadi itu salah satu sebab badannya yang subur 😆 Soale kalo di rumah, belio seksi menghabiskan 😅

Dulu waktu belum ada apa-apa antara kami, saya sempat dibikin ge er gara-gara ini. Waktu lagi makan bareng pas jam istirahat kantor (kami sekantor, dan makannya gak cuma berdua -- rame-rame sama yang lain), kebetulan saya gak habis makannya. Eeehh, belio dengan gagah berani meminta ijin pada saya untuk menghabiskan sisa makanan saya, padahal saat itu belum ada apa-apa di antara kami 😂 Saat itu belio mengutarakan serentetan penjelasan dan ajakan tentang jangan memubadzirkan makanan.

Jujur aja saya kadang suudzon sama beliau. Ah, bilang aja emang doyan dan pengen makan. Gak usah deh pake alasan mubadzir segala! 😂 *istri durjana*

Tapi pandangan saya berbalik. Ketika suatu hari kami makan berdua (pas udah nikah nih), lalu orang di meja sebelah kami meninggalkan makanannya begitu saja, padahal masih lebih dari separuh porsi.

Melihat itu, mas suami berkaca-kaca. Lalu bergumam, "mereka mungkin gak tau, di luar sana banyaaakkk sekali yang untuk makan nasi aja harus mengais-ngais di tempat sampah dulu"

Huhu, langsung meleleh hati saya 😭 Berasa ditampar banget. Iyaaa yaa, kita tu sering enteeeeng banget buang-buang makanan. Sedangkan di luar sana, banyaaakk sekali yang mau makan aja susah banget.

Yuk teman-teman, kita bareng-bareng berusaha untuk menghindari kemubadziran.

Signature

Signature