Resep Cheese Cake Lumer Oreo

on
Kamis, 27 April 2017
Siapa yang suka mainan Instagram?

Sayaaaa!!!

Kalian mainan instagram seringnya ngapain aja sih?

Sekedar posting foto-foto narsis? Saya sih enggak, soale gak photogenic, jadi jarang foto narsis. Haha.

Mantengin akun instagram gosip macam lambe apalah itu? BIG NO lah kalau ini. Follow juga enggak. Urusan gosip saya tetep lebih suka nonton infotainment. Bhuahahahaha.

Mantengin akun instagram artis? Kadang-kadang iya.

Nge-endorse? Yah, followers juga baru beberapa biji -_-

Terus yang paling sering ngapain dong?

Mantengin akun instagram yang isinya resep-resep masakan!

Hihi. Bagi saya, melihat berbagai foto makanan nan menggiurkan itu bagaikan piknik. Meski yah kadang terasa bagai cobaan juga. Karna pastilah jadi pengen nyicip.

Kalau pas nemu resep yang bahan-bahannya simpel dan cara masaknya gak ribet, kadang saya suka gatel pengen coba praktek.

Salah satu makanan yang sempat hits sekali di instagram adalah cheese cake lumer oreo. Duh duh, tampilannya menggoda banget, dan cara bikinnya menurut saya lumayan gampang.

Setelah sekian lama tertunda dengan berbagai alasan, Alhamdulillah akhirnya kemarin berhasil menuntaskan rasa penasaran untuk bikin cheese cake lumer oreo. Terima kasih untuk Mas Suami yang bersedia belanjain bahan-bahannya :v

Dan, taraaaa.... inilah karya saya:


Tadinya gak berniat menuliskan resepnya di blog sih. Yah soalnya kan di instagram udah buanyaaak. Tapi berhubung ada beberapa orang yang minta resepnya ke saya, yaudahlah ditulis aja. Sekalian biar blog ini ada isinya :(

Ini nih resepnya:

Bahan:

-Biskuit oreo, saya lupa yang isi berapa. Yang jelas yang ukuran tanggung. Tergantung juga sih mau bikinnya seberapa banyak.
-250ml Susu Ultra putih
-3 sdm tepung maizena
-2 sdm gula putih
- keju kraft tanggung (lupa yang berapa gram kemarin, hihi)

Cara buat:

-Pisahkan biskuit oreo dengan krim putih yang ada di tengah, lalu hancurkan

-Campurkan susu, gula putih, krim putihnya oreo dan parutan keju. Lalu masak hingga mendidih sambil diaduk-aduk. Setelah mendidih, masukkan tepung maizena yang sudah diencerkan dengan sedikit air. Aduk hingga mengental dan mendidih lagi.

-Susun di gelas secara bergantian antara remahan oreo dan krim cheesenya. Beri toping parutan keju dan sisa remahan oreo.

-Masukkan ke kulkas sebelum dinikmati

Udah gitu doang =D

Gampang, kan? Yaiyalah, kalau susah gak mungkin saya niat banget bikin. Karna sekarang sudah ada krucil yanh sewaktu-waktu meminta saya mengASIhinya. Hehe.

Rasanya? Yummyyy... bener-bener lumer dan cheese sekali. Cocok banget buat penggemar keju.

Yuk, monggo dipraktekkan weekend nanti :)

Bicara ASI, Bicara Rizki

on
Kamis, 23 Maret 2017
Momen penting yang paling ditunggu-tunggu melahirkan adalah momen menyusui. Saya rasa, hampir semua ibu yang sehat jiwa raganya pasti ingin bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya dengan menyusui. Tak terkecuali saya.

Sejak awal kehamilan, saya selalu yakin bahwa ASI saya akan sangat lancar bahkan berlebih seketika setelah melahirkan. Saya berkeyakinan seperti itu karna pernah mendengar seorang teman bercerita bahwa ASI-nya sedikit lantaran faktor keturunan. Ia punya kakak perempuan yang ASI-nya juga sedikit. Nah, sedangkan kakak perempuan saya ASI-Anya sangat lancar, bahkan berlebih.

Apa salah keyakinan saya tersebut? Sama sekali tidak. Justru keyakinan positif konon juga salah satu faktor penentu.

Sayangnya, keyakinan bahwa ASI saya akan langsung lancar setelah melahirkan itu perlahan menjelma kesombongan, tanpa saya sadari.

Saat melihat teman minum jamu dan ASI booster, saya sesumbar. Nanti saya gak akan minum jamu (karna gak doyan), dan tanpa jamu ASI saya sudah lancar. Saat suami mengingatkan untuk makan macam-macam sayur dan kacang-kacangan yang baik untuk pelancar ASI saat masih hamil, saya jumawa. Dulu mbak saya gak perlu makan macam-macam juga ASI-nya tetap lancar jaya.

Saya lupa. Bahwa ASI merupakan bagian dari rizki. Dimana rizki, adakalanya ada yang Allah berikan kemudahan tanpa usaha berarti. Ada pula yang setelah berlelah-lelah berusaha baru diberi. Ada juga yang mengerahkan segala upaya, tetap tidak dikehendaki untuk memiliki.

Iya, saya sempat melupakan itu. Lalu Allah mengingatkan saya.

Sesaat setelah melahirkan, saya diminta menyusui. ASI saya belum keluar, tapi para bidan membesarkan hati saya. Gak apa-apa, wajar, disusukan saja, pasti akan segera keluar.

Esok hari, ASI saya tetap belum keluar. Alhamdulillahnya, bayi saya sama sekali gak rewel. Namun ibu saya mulai resah. Beliau menanyakan apakah sudah ada beberapa tanda-tanda pada payudara yang saya rasakan, sebagai tanda ASI akan segera keluar? Saya jawab belum. Saya gak merasakan apa-apa. Masih tetap seperti biasanya. Lagi-lagi para bidan di Puskesmas tempat saya melahirkan membesarkan hati saya. Gak masalah, bayi bisa bertahan tiga hari tanpa asupan apapun, karna masih punya cadangan dari dalam. Menguatkan saya untuk tidak memberikan susu formula. Saya kembali optimis.

Sekembalinya ke rumah, malam kedua bayi saya mencecap kehidupan dunia, ia mulai menunjukkan tanda-tanda lapar. Bangun setiap satu jam sekali. Terus saya susui, meskipun gak setetespun ASI keluar.

Esok harinya, orang-orang disekitaran mulai mengintimidasi. Kasihan. Tubuhnya mulai kuning. Dan lain sebagainya. Hati saya seperti diiris. Perih sekali melihat sorot mata bayi saya yang sayu. Lalu pertahanan saya jebol. Dengan berlinang airmata saya minta suami saya berangkat membeli susu formula.

Hari berganti hari, ASI saya masih tak kunjung keluar. Lalu perlahan saya tak lagi menyesali keputusan memberikan susu formula pada anak saya. Mau gimana lagi? Apa iya lebih baik membiarkan bayi saya kelaparan daripada memberinya susu formula?

Harusnya tetap disusukan saja terus agar terangsang.

Sudah selalu. Meski belum ada ASI-nya, saya tetap keras kepala meminta bayi saya menyusu.

Harusnya cari donor ASI.

Saya hidup di desa. Opsi ini terlalu sulit saya ambil.

Meski gak menyesal memberikan susu formula, tetap saja naluri saya sebagai seorang ibu tercabik. Saya sempat merasa bagai remah rengginang yang gak ada artinya. Saya sempat merasa 'cacat' sebagai seorang ibu.

Saya sempat mencari tahu apa sebab ASI saya sebegitu seret. Setelah melahirkan, saya anemia parah. Dua kali pingsan. Bahkan setelah sehari semalam, saya baru kuat berdiri, itupun sambil didampingi. Nafas saya masih sering sesak saat berjalan. Dan ternyata, melalui browsing saya menemukan penjelasan bahwa anemia dapat menghambat produksi ASI.

Berbagai usaha terus saya lakukan. Sekali lagi, ASI merupakan salah satu bentuk rizki. Dan saya percaya, rizki juga harus diusahakan. Masalah bagaimana nanti hasilnya, barulah bukan urusan kita.

Mengobati anemia dengan makan makanan bergizi dan minum obat adalah langkah pertama. Makan makanan yang konon melancarkan ASI adalah langkah kedua. Lalu langkah ketiganya, saya memutuskan untuk menggenapkan ikhtiar dengan membeli ASI Booster Tea.

Sunber: FB Pejuang ASI II
Di hari ke-9 usia bayi saya, ASI Booster Tea yang saya order datang. Di hari ke-10, payudara saya mulai terasa kencang, dan konsumsi susu formula di hari itu jauh lebih sedikit dari biasanya. Di hari ke-11, saya memutuskan untuk 'mencoba' menghentikan pemberian sufor, sambil menghitung berapa kali bayi saya BAK dalam 24 jam. Konon, tanda ASI cukup adalah saat bayi BAK 6 kali dalam 24 jam. Dan hari itu, bayi saya BAK sebanyak 8 kali (pagi hingga jam 8 malam. Yang setelahnya gak ketahuan karna saya pakaikan diapers).

Kalau dulu saya sesumbar gak akan minum jamu karna gak doyan, hari ini saya sudah lupa. Ternyata demi anak, lidah saya bersedia berdamai. Ya, ASI Booster Tea rasanya seperti jamu. Jujur saja gak enak. Kalau baunya seperti rempah-rempah, sedap. Tapi percayalah, naluri keibuan ternyata mampu membuat kita mengabaikan rasa yang gak enak itu. Saya biasa membuatnya di pagi hari. Dua sendok ASI Booster Tea, direbus dengan 750 ml air, selama 39 menit dengan api kecil. Lalu membaginya menjadi 3 bagian untuk diminum pagi, siang dan malam hari.

Alhamdulillah. Saya berucap syukur. Hati saya bersorak. Akhirnya Allah karuniakan rizki ASI pada saya setelah serangkaian usaha. Meskipun mungkin gak seberlimpah ASI para ibu yang lain, saya akan tetap mensyukurinya, agar Allah berkenan terus menambahnya. Aamiin.

Tips Move On Ketika Gagal Mendapat Beasiswa

on
Rabu, 22 Maret 2017

Semua orang pasti mengalami kegagalan di dalam hidupnya, misal gagal menerima beasiswa S1 di Jakarta, gagal diterima kerja di tempat yang diharapkan, gagal mendapat nilai terbaik di sekolah, dan berbagai kegagalan lainya. Berbagai kegagalan tersebut kerap menghantui hidup seseorang, sehingga ia tidak bisa tentang, sedih berlebihan, dan berbagai skeptis lainya.

Namun jangan khawatir, setiap kegagalan yang pernah Kamu lalui merupakan proses singgah dan pembelajaran terbaik sehingga Kamu tidak akan mengulangi kesalahan tersebut. Bagi Kamu yang gagal menerima beasiswa, misalnya beasiswa S1 di Jakarta. Jangan bersedih, berikut 4 tips move on saat gagal seleksi beasiswa:

1. Bersedihlah, Lalu Berdamai Dengan Hati
Bersedih saat gagal beasiswa merupakan hal yang wajar. Terutama ketika Kamu benar - benar mengharapkan beasiswa S1 di Jakarta tersebut. Kamu boleh bersedih, karena dengan bersedih dan menangis semua hormon stress dalam tubuh seseorang dapat dikeluarkan melalui air mata. Namun jangan terlalu lama. Kendalikan emosi Kamu. Sematkan dalam pikiran Kamu, bahwa kegagalan merupakan kesuksesan yang tertunda. Yakinlah Tuhan mungkin belum meridhoi saat ini tapi berikutnya pada saat yang tepat, pasti dapat.  

2. Berhenti Membandingkan Diri Kamu Dengan Orang Lain
Berhentilah membandingkan diri Kamu dengan orang lain yang lolos seleksi beasiswa. Kamu tidak tahu bagaimana usaha dan perjuangannya dalam meraih kesuksesan tersebut. Bisa jadi mereka telah melewati berbagai kegagalan yang jauh lebih berat dibandingkan dirimu. Cobalah berbahagia bersama mereka dan ucapkan kata - kata selamat. Hal ini bikin Kamu dapat lebih ikhlas dan siap untuk kembali bangkit.

3. Mulai Instropeksi Diri dan kenali Potensi
Setelah Kamu bangikit dari kegagalan, mulailah instropeksi diri. Kekurangan - kekurangan apa yang menjadikan Kamu tidak lolos seleksi. Kelemahan apa yang Kamu miliki sehingga tidak lolos dan perbaiki saat mendaftar selanjutnya. Sehingga kegagalan tersebut dapat menjadi evaluasi untuk menjadi lebih baik.

4. Bangkit Dan Coba Kembali
Jangan mudah menyerah, saatnya bangkit dan coba kembali. Pelajari evaluasi kegagalan yang sudah Kamu lakukan. Memang tidak mudah mendapat beasiswa termasuk beasiswa S1 di Jakarta. Sehingga perlu usaha lebih, semangat lebih agar lolos di seleksi selanjutnya.


Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Sebelum Share Sesuatu di Media Sosial

on
Selasa, 14 Maret 2017


Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum share sesuatu di media sosial.

Di masa-masa awal kehadiran facebook, kita lebih sering disuguhi status-status ringan tapi menghibur. Kadang juga super gak penting. Semacam, 'mau mandi, tapi kok males ya..'. Atau ada juga yang so inspiring dengan membuat status-status bijak penuh peribahasa. Haha, ayo siapa yang pernah? *ngacung

Meski jika dikenang timeline facebook di masa itu terasa culun, adakalanya saya kangen. Apalagi jika melihat timeline facebook hari ini yang semakin 'berwarna'. Yang awalnya cuma jadi salah satu fasilitas efektif untuk jualan online, contohnya dengan menawarkan aneka sepatu wanita model terbaru, hingga kini menjadi sarana perang argumen soal politik. Omaigad...

Tapi saya gak muna. Ibarat candu, seperti ada yang kurang jika sehari saja gak menelusuri timeline facebook sehari saja. Seperti beberapa hari ini, karna melahirkan, jadilah saya sempat gak ngeh soal mbak selmadena dan mas haqy. Duh duh, langsung merasa kudet abiss. Hihi.

Nah, godaan sekaligus menjadi ajang mengendalikan diri sebagai pemakai aktif media sosial di era ini adalah, kemampuan untuk mengendalikan diri meng-'klik' tombol share. Yup, fasilitas share hampir ada di semua media sosial dengan istilahnya masing-masing. Dan itu membuat kita harus hati-hati sekali. Tau sendiri kan seberapa mengerikannya perkembangan berita gak bener alias hoax akhir-akhir ini :( Jangan sampai kita masuk ke dalam golongan penyebarluas hoax.

Saya bukan gak pernah sih asal nge-share gitu. Pernah kok. pernah banget. Tapi lalu saya belajar. Dan beberapa point di bawah ini adalah hal-hal yang menurut saya harus diperhatikan sebelum share sesuatu di media sosial.

1. Baca dulu sampai selesai

Sekarang ini, banyaaakkk banget berita atau tulisan ngawur. Yang antara judul dan isi gak nyambung sama sekali. Judulnya bahas operasi tangkap tangan salah satu politisi, eh isinya bahas operasi plastik ala artis korea. Itu misalnya aja sih. Hehe.

Tapi beneran ada kok artikel super ngawur gitu. Makanya, mari pastikan kita membaca isi dari link tulisan yang akan kita share. Jangan asal klik share mentang-mentang judulnya 'wow', terus kasih caption menggebu-gebu. Kan malu kalo ternyata isinya gak nyambung.

2. Sumber berita

Ini juga penting. Sebelum baca sebuah link tulisan, saya sering lihat dulu sumber beritanya. Saya cenderung enggan membaca berita yang sumbernya adalah sebuah website yang gak pernah saya tau sepak terjangnya sama sekali.

Mending baca dari portal-portal berita yang sudah jelas track recordnya lah. Seperti saat hendak beli aneka jilbab di tokopedia, ya saya pasti akan membeli ke seller yang saya sudah tau track recordnya. Iya, kan?

3. Isi Tulisan

Ini juga harus dipertimbangkan. Mari menjadi bagian orang-orang yang membuat media sosial sebagai sarana menyebarkan kebaikan. Salah satu caranya ya dengan gak perlulah menyebarkan sesuatu yang gak berisi, mengandung keburukan atau menyebarkan kebencian.

Apa kita gak pengen hidup damai?

4. Apa Manfaatnya?

Nah, terakhir, sebelum meng-klik tombol share, mari bertanya pada diri sendiri, "apa manfaatnya saya share tulisan ini, buat diri sendiri maupun buat orang lain?"

Kalau ternyata gak ada manfaatnya, ya buat apa di share? Dalam hal ini, share resep masakan atau macam-macam tutorial sepertinya sangat cocok. Hehe.

Yuk yuk, kita ciptakan atmosfer menyenangkan dan membahagiakan di media sosial. Biar makin bikin krasan dan menghibur. Hihi.

Kalau cuma nuntut orang lain untuk gak sembarangan share sesuatu yang gak baik dengan share balik tulisan-tulisan tandingan untuknya, ya apa bedanya kita dengan merekaaa???

Kalau kata Aa' Gym, mari mulai diri sendiri, mulai dari yang terkecil, mulai dari sekarang.

Setuju?! :)

Menjepret Kuliner Sederhana

on
Sabtu, 04 Maret 2017

Hari sabtu minggu lalu, saat mbak-mbak penjual sayur keliling datang, seperti biasa saya dan mas suami lekas turut mendekat bersama ibu. Bedanya, jika ibu mendekat untuk berbelanja sayur dan lauk untuk makan siang, saya dan mas suami lebih konsen memilih jajan pasar yang dibawa oleh mbak penjual sayur. Hihi.

Mas suami tiba-tiba berseru, "waahhh, jajan kesukaanku nih!". Saya pun menoleh. Ternyata yang dimaksud mas suami sebagai jajan kesukaannya adalah pisang molen. Jujur, saya baru tau hari itu tentang hal ini. Hihi.

Pisang molen merupakan salah satu jenis kuliner nusantara yang termasuk satu dari sekian banyak varian jajan pasar. Harganya murah meriah, dan sangat mudah ditemukan di penjual aneka kue di tepi jalan. Saya kurang tau pasti di daerah mana saja pisang molen familiar, yang jelas kalau di Semarang pastilah hampir semua orang tau.

"Kok gak dimakan, mas?" tanya saya pada mas suami yang tak kunjung memakan pisang molennya.

"Bentar, mau difoto dulu. Kangen jepret-jepret" jawabnya.

"Yah, pisang molen kok difoto... apa menariknya?" Sahut saya setengah mencibir.

Seperti kebanyakan orang di era media sosial saat ini, kami punya kebiasaan menjepret aneka menu kuliner nusantara yang sedang kami nikmati. Bedanya, kalau saya seringkali hanya tertarik menjepret makanan-makanan yang ditata secara apik dan menarik di tempat makan yang oke. Jadi kalau cuma makan di warung tenda pinggir jalan, jarang sekali saya menjepretnya terlebih dahulu.

Mas suami yang saat kuliah sempat punya hobi fotografi, serinh ceramah panjang lebar tentang hal tersebut. Bilang bahwa saya salah besar jika mengira kuliner yang menarik untuk dijepret itu hanya kuliner-kuliner di tempat makan keren. Bilang bahwa hal sesederhana apapun bisa jadi objek jepretan yang menarik, asalkan kita pintar mencari sisi terbaiknya dan memakai teknik yang benar saat menjepret.

Nah, weekend minggu lalu itu akhirnya mas suami membuktikannya pada saya. Dengan menggunakan Asus Zenfone Laser 2 milik saya, beliau mulai mengambil beberapa gambar pisang molen.


Saat melihat hasilnya, saya nyengir sendiri. Benar-benar gak nyangka jajan pasar harga lima ratus rupiah per bijinya, bisa jadi tampak menarik setelah dijepret menggunakan Asus Zenfone.



Saya jadi penasaran, kok bisa sih bagus gitu hasil jepretannya. Kok selama ini hasil jepretan saya standar banget, padahal kualitas kamera HP saya ini sama sekali gak buruk, bahkan sudah memiliki teknologi PixelMaster Camera yang membuat gambar menjadi empat kali lebih terang (HDR Mode), empat kali lebih sensitif cahaya (Low Light Mode) dan empat kali lebih detail (Super Resolution).


Kata mas suami, itu karena selama ini saya gak pernah berusaha meng-explore fitur kamera yang telah disediakan oleh Asus Zenfone Laser 2 dengan teknologi PixelMaster Camera ini. Pakainya cuma mode auto dan beautification terus. Hehe. Padahal Asus Zenfone telah menyediakan banyak sekali fitur kamera, termasuk mode manual yang bisa diatur fokusnya, aperture-nya dan shutter speed-nya seperti kamera DSLR.


Seperti saat menjepret pisang molen tersebut, mas suami menggunakan mode manual, yang disesuaikan dengan kondisi cahaya saat itu. Dengan bantuan laser focus yang dimiliki Asus Zenfone Laser 2, yang dapat mengurangi blur saat pengambilan gambar.

Sekarang pikiran saya jadi lebih terbuka. Foto bagus sama sekali bukan ditentukan apakah objeknya sesuatu yang 'wah' atau tidak. Hal sesederhana apapun bisa jadi foto yang bagus dan menarik asalkan menggunakan teknik pengambilan yang baik.

Sepertinya sudah saatnya saya mulai belajar fotografi dengan perangkat yang saat ini saya punya dulu, yaitu Asus Zenfone Laser 2. Nanti kalau sudah pintar, mungkin upgrade perangkat menjadi Asus Zenfone Laser 3 bisa dipertimbangkan *kedipin mas suami. Haha.


Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel

Review Himalaya Purifying Neem Face Wash dan Purifying Neem Scrub

on
Senin, 27 Februari 2017
Review Himalaya Purifying Neem Face Wash dan Purifying Neem Scrub. Sebelum nulis review ini, saya geli sendiri ingat komentar Mbak Ninda di postingan saya tentang Mud Mask Jafra.

"Bertanya2 dedeknya ocha cewek apa cowok yaaaa
jadi banyak kosmetik disini hahaha"


Haha. Menurut USG, dedek dalam perut Insya Allah cowok. Justru karna cowok, kata orang-orang, maka wajah saya jadi penuh jerawat. Karna penuh jerawat, maka saya jadi terus mencari-cari produk perawatan kulit yang sekiranya bisa menolong wajah saya ini.

Tapi saya gak percaya sih kalau jerawat-jerawat ini muncul karena saya hamil anak cowok. Teman saya hamil anak cowok wajahnya mulus bersih bersinar kok. Ini semata-mata karena saya kelewatan males aja rawat wajah di trimester pertama dan kedua kehamilan. Gak tau kenapa, bahkan sekedar pakai face wash aja males banget. Apalagi bedak atau pelembab. Yang tetap rutin tiap pagi cuma lipstik.

Kepanjangan yaa pembukaannya =D

Yaudah, yuk mulai ngobrolin Himalaya Purifying Neem Face Wash dan Purifying Neem Scrub.

Kenapa tiba-tiba saya memilih Himalaya Purifying Neem Face Wash dan Purifying Neem Scrub, padahal tadinya kenal produk itu aja enggak?

Iya, tadinya saya sama sekali belum pernah dengar tentang merk kosmetik Himalaya. Yang mengenalkan pertama kali adalah teman saya yang Konsultan Jafra itu. Jadi dia mengaku bahwa dia sendiripun belum total pakai produk-produknya Jafra, karna harganya yang ampuh. Dia lalu cerita bahwa sabun wajah yang ia pakai adalah Himalaya Purifying Neem Face Wash. Menurut beliau ini sabun wajah herbal, gak mengandung paraben, harganya murah, mudah ditemukan di swalayan, dan dia cocok.

Saya kepo dong pasti.

Pas jadwal belanja bulanan sama mas suami ke swalayan, eh mata saya menangkap deretan kosmetik bertuliskan Himalaya Herbals. Duh, dasar jodoh =D Tapi saya gak langsung beli. Baca-baca dulu, menimbang-nimbang dulu, minta pendapat mas suami dulu.

Ohya, kenapa saya merasa harus ganti face wash? Karena face wash yang sebelumnya saya pakai -- face wash yang salah satu brand ambassadornya adalah Inneke -- makin lama makin gak 'menolong'. Setelah cuci muka tetap terasa kotor. Dan komedo makin banyaaakkk. Hiks.

Nah, terus gimana setelah pakai Himalaya Purifying Neem Face Wash dan Purifying Neem Scrub? Saya bahas satu-satu, yaa.

Himalaya Purifying Neem Face Wash


Himalaya Purifying Neem Face Wash teksturnya seperti gel. Baunya gak nyolok, ada aroma-aroma herbalnya gitu. Harganya bisa dbilang murah, karna untuk kemasan berisi 100 ml harganyanya gak sampai 30.000.

Saat dipakai, Himalaya ini gak menghasilkan banyak busa. Di daftar komposisi gak ada kandungan paraben ataupun SLS-nya yang konon punya efek gak bagus. Jadi makin mantep pakai produk ini. Setelah dipakai, rasanya... enak. Gak kering, gak bikin wajah kerasa ketarik, tapi terasa bersih dan segar. Komedo juga berkurang banget dibanding saat masih menggunakan face wash merk sebelumnya. Saya pakainya sehari dua kali, pagi dan sore.


Nah, di belakang kemasan ada keterangan bahwa untuk hasil maksimal, sebaiknya juga gunakan  Purifying Neem Scrub dan Purifying Neem Mask. Akhirnya saya ambil juga deh Purifying Neem Scrub-nya, sedangkan Purifying Neem Mask-nya enggak dulu soalnya kan masih punya Mud Mask Jafra.

Himalaya Purifying Neem Scrub


Himalaya Purifying Neem Scrub teksturnya seperti scrub wajah kebanyakan produk lain. Hanya saja scrub-nya agak lembut, kecil-kecil. Jadi saat dipakai gak bikin sakit.

Sayangnya, gak ada saran pemakaian harus berapa hari sekali pakainya. Yang jelas saya pakainya gak tiap hari sih, sesekali saja.


Jujur saja, saya jauh lebih suka atau lebih sreg sama Himalaya Purifying Neem Face Wash dibanding dengan Himalaya Purifying Neem Scrub. Mungkin gara-gara saat baca daftar komposisinya, ada dua jenis paraben di dalamnya. Lhah, katanya herbal kok ada parabennya? -_-

Menurut klaimnya, Himalaya Purifying Neem Scrub ini dapat mencegah jerawat, mengangkat komedo dan sel kulit mati dan kotoran dengan lembut. Sejauh ini, saya cukup merasakan pernyataan tersebut sih.

Ohya, untuk harganya gak jauh beda sama Himalaya Purifying Neem Face Wash. Tapi saya lupa berapa persisnya. Hehe.

Kesimpulan:

Sejak memakai dua rangkaian Himalaya Herbals Purifying Neem Face Wash dan Neem Scrub ini, jerawat sudah mulai jarang muncul. Meskipun sesekali masih ada.

Apakah saya akan re-purchase? Sepertinya iya.

Sekarang, masalah terbesar muka saya adalah menghilangkan noda bekas jerawat yang, Subhanallah... menyedihkan :(

Lalu PR terbesar saya adalah, mencari pelembab yang cocok buat kulit muka saya. Ada yang punya rekomendasi kah?

Pertanyaan Seputar BPJS Kesehatan Yang Membuat Saya Galau

on
Rabu, 15 Februari 2017

Pertanyaan Seputar BPJS Kesehatan Yang Membuat Saya Galau. BPJS Kesehatan konon membuat banyak orang bingung dan galau dengan beberapa prosedur dan ketentuannya. Tapi banyak juga yang merasa terbantu olehnya.

Jika ada yang merasa bingung dan galau, menurut saya itu semata karna kekurangpahaman atas prosedur dan aturan yang berlaku di BPJS Kesehatan. Dan saya adalah salah satunya. Saya sempat dibuat galau atas status kepesertaan saya di BPJS dalam rangka persiapan saya menjelang melahirkan yang rencananya ingin memanfaatkan fasilitas dari BPJS.

Jadi begini ceritanya.

Sejak awal hamil, saya gak pernah pakai fasilitas BPJS. Saya periksa di rumah sakit ibu dan anak yang belum bermitra dengan BPJS. Lagipula, domisili saya di Semarang, sedangkan faskes 1 BPJS saya di Jepara (kota asal saya).

Karena saya berencana melahirkan di Jepara, maka saya dan suami berdiskusi sampai akhirnya memutuskan merencanakan persalinan dengan fasilitas BPJS. Nah, tapi di benak saya bermunculan berbagai pertanyaan seputar BPJS yang membuat saya galau. Galau karna setelah browsing berulang-kali, saya gak juga menemukan artikel yang benar-benar sesuai dan menjawab pertanyaan saya. Sempat tanya-tanya ke beberapa teman juga, termasuk para bloger yang belum lama ini melahirkan dengan fasilitas BPJS di antaranya adalah Mbak Muna Sungkar, Mbak Ira dan Mbak Marita. Telepon ke Customer Service BPJS pun sudah saya lakukan. Sayangnya, jawabannya muter-muter, dan dari dua kali telepon, jawabannya beda. Makin galau lah pasti T_____T

Pertanyaannya apa saja sih?

1. Status kepesertaan saya ada di BPJS Jepara, dan berencana melahirkan di Jepara, sedangkan KK (kartu Keluarga) saya sudah pindah menjadi KK Semarang ikut suami. KTP juga sudah KTP Semarang.

Nah lho, terus apakah bisa saya melahirkan dengan fasilitas BPJS sedangkan antara status kepesertaan saya di BPJS dan status kependudukan saya ada di kota yang berbeda??

2. Menurut artikel Mbak Ira, jika BPJS-nya mandiri (bukan sebagai penerima upah), jika ternyata harus melahirkan melalui proses Sectio Caesar, maka si bayi sudah harus didaftarkan BPJS sejak masih dalam kandungan. Jika tidak, maka biaya atas si bayi gak bisa dicover oleh BPJS.

Karena menurut dokter saya harus bersiap untuk kemungkinan SC (meski kemungkinan melahirkan normal masih terbuka), saya ingin mengantisipasi segala sesuatu, salah satunya dengan mendaftarkan si adek sejak sekarang.

Tapi pertanyaannya, apakah bisa saya mendaftarkan bayi saya sedangkan di database BPJS saya dan suami belum tergabung dalam satu KK? Saya masih tergabung di KK bapak saya (di Jepara) dan suami juga masih tergabung di KK orangtuanya (di Semarang).

Serius, dua pertanyaan tersebut sempat membuat saya galau berat.

Sampai akhirnya, hari jum'at kemarin saya dan mas suami menyempatkan datang ke kantor BPJS Jepara langsung (sampai minta ijin kerja), untuk bertanya.

Meskipun niatnya hanya untuk bertanya, kami membawa dokumen lengkap. Untuk jaga-jaga. Dokumen-dokumen yang saya bawa diantaranya adalah:

1. KK baru saya di Semarang
2. KK lama orangtua saya
3. Fotocopy kartu BPJS saya, suami, dan seluruh anggota keluarga saya
4. Fotocopy KTP saya, suami, dan seluruh anggota keluarga saya
5. Fotocopy buku nikah
6. Fotocopy buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)

Sesampainya di kantor BPJS, Alhamdulillah antrinya gak banyak. Setelah giliran saya tiba, segera saya tumpahkan segala pertanyaan seputar BPJS yang bikin saya galau.

Dan jawabannya adalah...

Ternyata BISA dan GAK MASALAH.

Jadi, BPJS itu ternyata gak mempermasalahkan perbedaan status wilayah kepesertaan yang tercatat di BPJS dan status wilayah kependudukan si peserta. Yang penting adalah faskesnya. Selama faskes saya masih di Jepara, ya fasilitas BPJS akan tetap bisa saya gunakan di Jepara, meskipun KK dan KTP saya di Semarang.

Nah, soal pendaftaran si adek yang masih dalam kandungan juga ternyata gak ada masalah sedikitpun. Gak masalah meskipun saya dan suami terdaftar di BPJS yang berbeda wilayah, dan lagi meskipun kami belum melaporkan perubahan KK kami.

Saya kira, melaporkan perubahan KK itu ada syarat dan prosedur tertentu. Eh, ternyataaa... Kemarin saat saya menyodorkan KK terbaru ke mbak frontliner BPJS, mbaknya cuma bilang, "oh, ini mbaknya masih di KK lama, ya? Sekalian saya ubah ya data KK-nya dengan KK yang baru ini".

Udah, gitu doang.

Duh, Gustiii... Simpel gitu ngapain kemarin saya galau gak habis-habis =D Salahkan CS BPJS yang bilang gak bisa dan jelasin muter-muter waktu saya telfon -_____-

Demikian cerita kegalauan saya tentang pertanyaan-pertanyaan saya seputar BPJS. Siapa tau ada teman yang juga menyimpan pertanyaan yang sama :)

Signature

Signature