Ketika Perempuan Saling Menyakiti

on
Senin, 04 Desember 2017

Ketika heboh berita tentang seorang artis yang dilabrak di mall itu, lagi-lagi terlintas pikiran yang muncul berulang-ulang setiap denger cerita tentang kasus ginian.

Kenapa perempuan itu tega sekali? Tidakkah ia membayangkan perasaan istri si lelaki? anak si lelaki? Bukankah sesama perempuan harusnya mengerti dan bisa membayangkan perasaan antara satu sama lainnya?

Ah, jangankan soal kasus begituan, yang mana mereka punya seribu alasan. Ya gimana dong, namanya juga cinta, misalnya. Cih, makan tu cinta.

Bahkan untuk urusan-urusan sepele menyangkut pilihan hidup pun perempuan sering dengan tega saling menyakiti kan?

Ada perempuan lain memutuskan kerja. Kita bilang dia gak amanah sebagai istri dan ibu. Sebaliknya, yang kerja bilang ibu cuma di rumah gak produktif, dll.

Ada perempuan lain gak bisa kasih ASI anaknya, bukannya mendukung eh malah pamer foto freezer penuh ASI dan bilang "aku aja bisa, masa kamu enggak?". Tidakkah kita membayangkan bahwa gak bisa kasih ASI itu menyedihkan sekali? Percayalah, bagi perempuan yang tertatih memberikan ASI untuk anaknya, melihat foto freezer penuh ASI itu bukannya menyemangati malah bikin tambah minder.

Baca juga: Bicara ASI, Bicara Rizki

Jarang banget ya kita lihat kasus ada perempuan kerja kantoran, terus ada laki-laki yang ribet komentar 'Ih istri macam apa itu kok kerja di kantor, anaknya gak diurus' -- mentang-mentang istrinya ibu rumah tangga. Jarang banget. Seringnya yang sibuk komentar ya sesama perempuan.

Padahal kita sendiri sadar, bahwa yang namanya pilihan hidup itu gak bisa diusik. Dan kita sendiri pun gak suka kalo ada orang lain mengusik pilihan hidup kita. Lalu kenapa pula kita hobi mengusik pilihan orang lain?

Begitulah. Kadang tanpa kita sadari, kita perempuan ini sering saling menyakiti.

Tapi gak jarang juga kita perempuan ini hobi menyakiti diri kita sendiri.

Tetangga bisa ganti motor, langsung gak enak makan gak enak tidur. Sibuk mutar otak gimana caranya ganti motor juga. Ada teman pake jilbab dan gamis baru, branded pula, tanpa pikir panjang order juga. Gak mau kalah. Padahal hati kecil teriak-teriak, bahwa itu semua gak sesuai sama kemampuan. Yakin yang kayak gini bikin tersiksa. Iya apa iya?

Atau kita masih sering menyakiti diri sendiri sesederhana: teman kantor bicara nyolot karna lagi PMS, lalu kita kebakaran jilbab dan kepala terasa jadi panas membara? Padahal kalo orang lain nyolot, kitanya emosi, kita gak bakal dapet apa-apa selain jadi tau bahwa kita dan dia gak ada bedanya.

Hmm. Panjang kalau mau diteruskan. Mungkin ini salah satu penyebab kenapa tingkat kebahagiaan perempuan jauh lebih rendah dibanding tingkat kebahagiaan laki-laki, berdasarkan hasil survey BPS tahun 2017 -- seperti yang diceritakan oleh Mbak Nurin Ainistikmalia dalam artikelyang berjudul "Laki-Laki Hidup Lebih Bahagia, Kok Bisa?".

Kalau begitu, jika kita sering merasa gak bahagia, ada baiknya kita introspeksi. Bisa jadi yang salah bukan orang lain. Bukan pula karna hidup kita masih sangat banyak kurang. Bisa jadi, hidup kita gak bahagia karna kita masih sering memubadzirkan pikiran dan lisan kita untuk hal-hal yang seharusnya gak perlu.

Tentang Rina Nose, Ustad Abdul Somad dan Rasulullah

on
Selasa, 28 November 2017

Sesekali nulis hal yang masih anget ah. Masa nulisnya tema basi terus 😂 Atau jangan-jangan ini juga udah basi? Haha.

Tentang Rina Nose yang buka jilbab, gimana pendapat saya?

Sebagai seorang muslimah yang meyakini bahwa jilbab adalah kewajiban, tentu saya menyayangkan. Sedih dan kecewa pas pertama kali tau soal berita ini.

Tapi ya mau apa, kan itu haknya Rina Nose sebagai manusia untuk memilih jalan hidupnya. Sudah masuk ranah "Bagimu agamamu, bagiku agamaku" menurut saya. Sama banget dengan seseorang memilih agama apa untuk dipeluk.

Apakah kita berhak memberikan nasehat?

Berhak sekaliii. Karna kita sesama muslim. Sayangnya kita sering lupa, bahwa menasehati itu ada adabnya. Berikut saya kutipkan beberapa adab menasehati dari muslimah.or.id: 
Mengharapkan Ridho Allah Ta'ala, Tidak dalam rangka mempermalukan orang yang dinasehati, Menasehati secara rahasia, Menasehati dengan lembut, sopan dan penuh kasih, Tidak memaksakan kehendak dan Mencari waktu yang tepat"
Soal landasan-landasan hadist atau ayatnya, silakan cari atau baca sendiri ya. Hehe.

Nah, kalau kita sedih dan kecewa gara-gara Rina Nose lepas jilbab, lantas menasehatinya panjang lebar lewat status di sosmed, atau komentar di akunnya, kira-kira memenuhi adab menasehati gak sih?

Apalagi kalo menasehati serta 'mendukung' sembari menjadikannya sebagai salah satu strategi marketing. Duh, kok jahat banget ya rasanya 😭

Saya sedih Rina Nose lepas jilbab. Tapi saya jauh lebih sedih melihat beberapa orang jadi menilai negatif saudara-saudara muslim saya yang berniat menasehati tapi sayang gak memperhatikan adabnya 😭

Apalagi saat membaca berita tentang seorang Ustad bernama Abdul Somad, melontarkan kalimat negatif tentang fisik Rina Nose saat ada jamaah yang bertanya tentang keputusan lepas jilbab tersebut.

Saya yakin ilmu Ustadz Abdul Somad jauh lebih tinggi dibanding ilmu saya. Gak ada lah seujung kukunya. Saya yakin isi dakwah Ustadz Abdul Somad adalah seruan-seruan kebaikan.

Tapi mungkin Ustadz Abdul Somad sedang lupa soal adab menasehati. Atau lebih jauh lagi, tentang fikih dakwah?

Saya gak punya ilmu sama sekali kalau mau bicara soal fikih dakwah. Yang saya tau sejauh ini, dakwah Rasulullah sangat dominan dengan kelembutannya. Kalo ada yang pengetahuannya tentang ini luas, saya mau banget diciprati ya 😇

Lagipula, soal jilbab dan nasehat-menasehati, tetap ada peran 'hidayah' yang jadi haknya Allah kan?

Yang kerja di lembaga Islam, tiap hari diberi kajian keagamaan, tiap waktu sholat diberi kesempatan untuk sholat tepat waktu, tapi memilih sholatnya nanti-nanti aja itu banyak. Karna apa? Hidayah belum nyentuh hatinya. Atau hatinya kebal akan hidayah, entahlah, Wallahu a'lam. Ini hanya salah satu contoh.

Kita yang hari ini berjilbab, apa ada jaminan akan terus berjilbab hingga ajak menjemput? Gak ada yang bisa jamin. Bahkan gak ada satu orang pun yang bisa jamin kita mati dalam keadaan muslim. Iya kan? Makanya ada doa 'Wahai yang Maha membolak-balik hati, tetapkan hatiku pada agama-Mu'.

Jadi, yuk belajar lagi tentang adab menasehati tanpa menghakimi. Belajar lagi cara menasehati, tanpa melukai 😊😇

Wallahu a'lam bi shawwab.

Kok Sekarang Kamu Jerawatan?

on
Kamis, 23 November 2017

Membaca tulisan Mba Gesi, dkk soal dikomentarin gendut di media sosial itu seperti membuka luka lama bagi saya. Halah 😆

Soalnya saya pernah banget ngrasain itu. Konyol banget sih kalo dikenang sekarang. Soalnya waktu itu saya sampe nangis cobaaa, hahaha. Lebay parah ya. Tapi beneran sedih banget waktu itu 😔

Bukan, saya bukan dikomentari, "kamu gendutan ya?". Tapi saya dikomentari, "kok sekarang kamu jerawatan?" 😭 Iya, waktu hamil dan setelah melahirkan, jerawat saya parah banget nget nget.

Gak ada satupun orang yang komentar aja saya sudah sedih dan minder sekaliii melihat jerawat yang tumbuh subur di wajah saya, yang sebelumnya hampir gak pernah ditumbuhi jerawat. Fyi, itu jerawat hormon, karna efek kehamilan.

Makin sedihnya lagi, yang komentar bahas jerawat di media sosial itu tergolong teman dekat saya 😭 Dan gak cuma sekali pula 😭

Saya sedih karna... kenapa sih yang dibahas jerawat lagi jerawat lagi? Di muka umum (media sosial) pulaaa. Kalo japri mungkin saya gak bakal sesedih itu.

Terus, saya juga sedih karna.. kenapa harus dia si teman dekat saya sih?

Saya marah. Tapi saya merasa bersalah sendiri, karna kenapa harus marah sih? Kenapa cuma gara-gara komentar soal jerawat aja saya sampe jadi gak pengen ngobrol sama di teman dekat itu dalam jangka waktu tertentu? Saya bingung sama perasaan saya sendiri 😢 Sempat merasa, kok saya cemen banget sampe marah sama teman dekat cuma gara-gara dikomentari soal jerawat.

Eniwei, saya akhirnya memutuskan nulis ini, sama sekali bukan karna masih marah sama teman saya itu. Saya sudah ikhlas memaafkan, Insya Allah. Toh wajah saya sudah mulus lagi sekarang *hoeekk* 😂

Baca juga: Review Sabun Amoorea yang bikin wajah saya mulus lagi 😍

Ohiya, ngomong-ngomong soal wajah saya yang sudah mulus lagi, jujur saja saya sempat ngarep dia komentar juga."Wahh, udah mulus lagi, selamat yah!", misalnya. Nyatanya sama sekali gak pernah ada komentar semacam itu dari dia 😂

Saya jadi mikir, mungkin memang ada beberapa orang yang jauh lebih mudah mengkritik ketika melihat kekurangan, tapi gak merasa perlu memuji ketika melihat kelebihan. Iya gak sih?

Jadi apa sebenernya tujuan saya nulis tentang ini?

Gak lain dan gak bukan, saya pengen ambil bagian untuk mengedukasi seperti ajakan mba annisast di tulisannya yang berjudul "Urusan Timbangan". Meski yang baca tulisan saya mungkin gak seberapa, yang penting saya ambil bagian.

Emang saya gak pernah melakukan body shaming?

Pernah. Pernah bangettt, saya sedih 😭 Lebih sedihnya lagi, saya juga melakukan itu ke teman dekat, dan juga di media sosial.

Kenapa saya seperti itu? Sungguh karna sebelumnya saya gak tau kalo itu bener-bener gak sopan dan gak terpuji.Saya pikir itu bercandaan biasa. Saya bener-bener baru sadar kalo bercandaan model gini tuh gak oke banget.

Dan saya yakin, banyak juga yang belum tau atau baru tau seperti saya bahwa komentar apapun soal fisik selain pujian tu seharusnya dihindari.

Jadi, kalo kita gak suka ada yang komentarin negatif fisik kita di depan publik atau media sosial, yuk berusaha untuk gak melakukan hal yang sama ke orang lain 😊

Ohya, saya barusan minta maaf sepenuh hati ke teman yang pernah saya bercandain soal fisik. Hihi. Dia ngakak. 😂

Ini Dia Rekomendasi Beberapa Jenis Mainan Kucing

on
Selasa, 07 November 2017
Mainan bagi kucing ternyata sangat penting. Bukan hanya untuk melepaskan rasa jenuh saja, tetapi mainan kucing ini juga bisa menjadi sarana olahraga dan untuk mengisi kegiatannya. Jadi buat kalian yang punya kucing di rumah, bisa membelikan mainan menarik untuk kucing agar si kucing mempunyai kesibukan. Selain agar kucing tidak mengganggu kalian ketika beraktifitas di rumah, mainan kucing juga bisa menjaga kebugarannya agar kucing tidak kegemukan karena aktifitasnya yang hanya makan dan tidur. 

Nah, kira – kira seperti apa mainan yang direkomendasikan untuk kucing-kucing peliharaan kalian? Berikut ada informasi mengenai rekomendasi beberapa mainan kucing. Semoga bisa menjadi referensi bagi kalian yang pecinta kucing yaa.

Whisper Track with Twinkle Ball


Mainan pertama untuk si kucing adalah whisper track with twinkle ball. Mainan ini sangat pas untuk kucing yang memiliki kebiasaan aktif hingga larut malam. Mainan ini akan menyala dalam gelap dan tidak mengeluarkan bunyi, jadi mainan ini tidak akan mengganggu tidur kita dengan bunyinya. Mainan menarik ini terbuat dari sebuah bola benang yang menyala dan digantungkan pada sebuah tali.

Batting Practice Cat Toy

Kucing sudah ditakdirkan sebagai pemburu tikus. Tentu mainan ini pas sekali, karena menawarkan seekor tikus yang terbang dan juga dilengkapi dengan bunyi cit – cit nya. Kita hanya perlu menggantungkan di tembok dan diukur setinggi kepala kucing. Nantinya si kucing akan terus berusaha untuk menangkapnya.

Tail Spin Mystery Tail

Mainan selanjutnya adalah tail spin mystery tail. Mainan ini juga masih berkaitan dengan tikus. Ada tikus mainan yang ekornya akan bergerak – gerak di bagian luarnya. Ini akan membuat kucing kita berlatih menerkam tikus. Selain itu, juga akan melatih sarana mencakar si kucing.

Automated undercover mouse


Mainan ini akan menawarkan seekor tikus yang seolah – olah bergerak di bawah karpet dan tentu akan membuat si kucing penasaran untuk menangkapnya. Walaupun sebenarnya tak ada tikus di bawah karpet itu. Karpet ini terbuat dari bahan nilon yang akan awet meskipun akan dicakar si kucing berkali – kali.

The Magneticat

Mainan terakhir adalah the magneticat. Mainan ini memanfaatkan tenaga magnet, dengan tenaga magnet itu akan membuat seekor laba – laba mainan yang terus menerus bergerak. Kucing pun juga akan cenderung tertarik dengan benda yang terus bergerak. Tentu ini akan membuatnya sibuk untuk menangkap si laba – laba mainan ini.

Itu dia beberapa jenis mainan menarik untuk kucing. Semoga bisa menjadi referensi bagi para pecinta kucing yang ingin membeli mainan kucing. Kucing yang duduk diam saja terlihat begitu menggemaskan dan lucu, apalagi jika kita melihat kucing sedang asyik bermain dengan mainan-mainan di atas. Pasti akan semakin lucu. Iya, kan?

3 Kuliner Khas Kota Jepara

on
Jumat, 03 November 2017
Meskipun malu, saya harus mengakui bahwa sebagai orang yang bertanah-tumpah darah Jepara, saya kurang mengenal dengan cukup baik kota kelahiran saya tersebut. Saya bisa dibilang cukup apatis dan terlambat menyadari bahwa saya seperti katak dalam tempurung.

Tak terkecuali soal kuliner khas daerah asal saya tersebut. Saat SMA, saya beberapa kali bertanya-tanya sendiri, apa sih sebenarnya kuliner khas Kota Jepara. Kok perasaan gak ada yang unik. Beda dengan Kudus (Kota tempat saya mengenyam bangku SMA) yang terkenal sekali dengan Soto Kudus dan Lentog Tanjungnya, atau Jogja yang punya berderet-deret kuliner khas -- yang di anataranya ada di tulisan Mbak Sulis dalam artikel ini. Sayangnya, saya gak berusaha mencari tau jawabannya. Apalagi saat itu bisa dibilang saya masih gaptek banget. Belum kenal internet, hiks.

Beruntung, setelah kenal internet dan mulai ngeblog, saya punya beberapa teman Blogger yang asli Jepara dan mengenal dengan cukup baik Kota Jepara, dan beberapa kali menulis tentang Kota tercinta kami itu. Lewat mereka saya mulai belajar tentang Kota Jepara, meski gak seberapa.

Termasuk soal kuliner khas dan unik di Kota Jepara. Dan ternyata, kuliner khas Kota Jepara sebenernya cukup sering saya makan saat itu. Cuma saya baru tau aja bahwa ternyata menu tersebut merupakan menu kuliner khas kota saya. Kirain di mana-mana ada 😂

Nah, berikut adalah 3 menu kuliner khas Kota Jepara, yang dua di antaranya menurut saya cukup unik. Apa aja sih? Ini dia:

Pindang Serani

pinjem fotonya Mba Diah Didi :)

Pindang serani merupakan menu berbahan dasar ikan laut dan berkuah bening. Dimasak dengan beberapa bumbu rempah, dan memiliki gabungan rasa antara asam, asin dan pedas. Pindang serani ini segar sekali jika dimakan saat masih dalam kondisi panas.

Horog-horog

Ini juga foto pinjem :D Kan ada watermarknya, hihi

Namanya aneh ya? 😂 Hampir semua orang yang dengar pertama kali bilang namanya aneh. Ini nih yang saya bilang kuliner uniknya Jepara.

Horog-horog itu seperti lontong. Bisa dimakan bareng bakso, atau pecel. Tapi dia terbuat dari tepung aren.

Dulu saya kira horog-horog ada di semua daerah. Pertama kali tinggal di Semarang (saat kuliah), saya heran sekali saat lihat di warung bakso pelengkap yang tersedia adalah lontong dan bukan horog-horog. Haha.

Urap Latoh

Urap latoh ini favorit saya banget loh! Ada yang sudah punya bayangan seperti apa menu kuliner urap latoh itu? Kalo belum, saya pinjamkan fotonya lagi aja ya 😅

dari cookpad nih

Latoh merupakan salah satu jenis rumput laut. Rasanya asin, krenyes-krenyes. Saat dimakan dengan parutan kelapa yang sudah diuleg bersama bawang merah dan cabe, rasanya mantap sekali!

Dari 3 menu kuliner khas Jepara tersebut, adakah yang sudah pernah kalian coba?

Nah, kalo kuliner khas di daerahmu apa? Jangan sampai gak tau seperti saya dulu ya 😁

Menempatkan Diri

on
Senin, 30 Oktober 2017
credit: pixabay.com

Salah satu keterampilan yang penting sekali untuk dimiliki kalo kita pengen survive -- terutama survive dalam pergaulan -- menurut saya adalah keterampilan menempatkan diri.

Saya kayaknya pernah cerita di salah satu tulisan di blog ini, tapi lupa tulisan yang mana dan saya males ngubek-ubek. Hehe. Jadi cerita ulang aja yah.

Suatu hari saat sedang makan di KFC yang lagi penuh bangettt, tiba-tiba ada seorang bapak yang membawa beberapa anaknya dengan semena-mena menjatuhkan begitu saja semua barang (bekas makan orang terdahulu) di meja yang hendak ia tempati. Ia sudah meminta CS untuk membersihkan meja tersebut sebelumnya, tapi karna saat itu bener-bener ramai sekali, CS-nya kalang kabut.

Ketika baru akan ke situ untuk membersihkan meja, eh bapaknya keburu emosi terus melakukan tindakan yang bikin semua orang di situ melongo.

Menurut saya, itu satu dari sekian buanyak contoh orang yang gak bisa menempatkan diri. Kenapa dia arogan seperti itu? Apakah karna blio merasa bahwa blio orang kaya dan punya jabatan? Tapi blio lupa, ada anak-anaknya di depannya. Harusnya menempatkan diri sebagai seorang bapak yang jadi role model anak-anaknya. Belum lagi soal menempatkan diri sebagai makhluk sosial di depan umum yang harus menjaga tata krama ya. Saya kasian banget waktu itu, melihat mas CS yang langsung tergopoh-gopoh membersihkan lantai dari serakan barang dari atas meja dengan wajah ketakutan.

Apa yang ada di benak kita ketika melihat orang yang bersikap seperti itu? Apakah terkesan dengan 'keberaniannya'? Atau terkesima dengan arogannya? Tentu tidak, saya rasa. Ilfeel malah mungkin. Dan itu gara-garanya adalah gak punya keterampilan menempatkan diri.

Gak bisa menempatkan diri juga seringkali membuat seseorang jadi tampak menyebalkan. Misalnya, seorang blogger yang lagi kumpul sama para akuntan yang blas gak mudeng dunia bloging. Lalu si blogger dengan asyiknya ngomongin tentang SEO lah, tentang job review lah, dll. Ya nyebelin dong.

Saya punya temen. Dia pinter secara akademis. Bahasa inggrisnya cas cis cus. Sayangnya, dia kurang panda menempatkan diri menurut saya. Dia sering ngomong pake bahasa inggris sama kami-kami yang gak bisa bahasa inggris, dan dia tau banget.

Alhasil, kami gak nyaman lah ngobrol sama dia. Gak nyambung. Akhirnya, makin lama hubungan kami jadi seolah dipisahkan tembok tebal. Padahal ya gak ada apa-apa antara kami.

Nah, di era ini... rasanya hampir tiap hari kita melihat orang-orang yang kurang terampil menempatkan diri berseliweran. Terutama di socmed. Yang gak tau apa-apa soal politik tapi ngritik macem-macem soal politik, contohnya.

Adakah kita salah satu diantaranya? 😅

Mengijinkan Anak Menonton TV, Yay or Nay?

on
Kamis, 19 Oktober 2017
 
credit: Pixabay.com
Saya adalah satu dari entah berapa banyak orang yang masa kecilnya keranjingan menonton TV. Ya gimana dong, gak punya hiburan lain soalnya. Namanya juga orang desa. Mainan ga banyak, komputer belum kenal, gadget apalagi.

Jadi hiburan paling mewah untuk masa kecil saya ya TV. Apalagi kalau hari minggu, wuiihhh bisa beneran dari pagi butaaa sampe siang ngedeplek di depan TV ga bisa diganggugugat.

Ninja hatori, doraemon, sinchan, terus apalagi ya? Yang angkatan 90-an pasti tau lah.

Bolos ngaji atau madrasah karna TV? Seriiiing. Seinget saya gara-garanya adalah acaranya meisyi yang judulnya ci luk ba. Kan jam tayangnya sore, bertepatan dengan jadwal saya ngaji.

Emang gak dimarahin Bapak atau Ibu? Ya dimarahin sih. Ibu sering marahin kalau saya kebanyakan nonton TV.

Marah, tapi membiarkan.

Jadi, kalo saya menonton TV, ibu saya tuh sering ngomel. Tapi beliau ga melakukan tindakan apapun untuk menghentikan kegiatan menonton TV saya. Misalnya, mencarikan kegiatan atau hiburan lain untuk saya. Atau yang paling sederhana, dengan tegas mengambil remote TV dan mematikannya. Gak pernah kayak gitu. Jadi cuma ngomel, terus udah.
 
Ya saya lama-lama kebal dong. Merasa, oh nonton TV terus tu gak masalah kok. Dasar gak peka 😆
 
Lalu, apakah saya menyesal karna waktu kecil saya terlalu banyak menonton TV?
 
Enggak sih. Untuk apa disesali, kalau toh penyesalan gak akan bawa kita ke mana-mana. Iya kan?
 
Tapi apakah saya merasakan dampak buruk dari nonton TV?
 
Sejujurnya, saya gak tau persis. Tapi bisa jadi, jika dulu saya gak terlalu banyak menonton TV dan menggantinya dengan membaca buku, mungkin saya akan menjadi orang yang jauh lebih pintar dan memiliki wawasan luas hari ini. Tapi pertanyaannya, bukunya siapaaa?? Mana kepikiran lah bapak-ibu saya menyediakan buku bacaan untuk saya. Bagi mereka, buku itu ya buku pelajaran di sekolah. 😅

Nah kalau begitu, jika sekarang saya ditanya, "Mengijinkan Anak Nonton TV, Yay or Nay?"

Jawaban saya: Yay dan Nay 😂

Mau bilang Yay, kok saya rasanya gak rela Faza meniru jejak saya waktu kecil.

Mau bilang Nay, kok rasanya juga gak mungkin. Lha wong kalo Faza sekolah aja kadang diajak nonton TV sama budhenya 😅 (Faza masih bayi sekolah? Soal ini saya ceritain di postingan lain ya. Mungkin di sanirosa.com)
 
Tanpa sedikitpun bermaksud mendiskreditkan bapak-ibu saya alias mbahnya Faza, gak salah dong kalau saya ingin memperbaiki polanya mereka soal mengotnrol anak menonton TV?! Jadi, kalau saya berkomitmen untuk mengendalikan Faza agar gak keranjingan TV, ya saya harus bersiap menyediakan sarana belajar lain untuk Faza, yang sama menariknya dengan kegiatan nonton TV. Selain itu, saya juga harus mengingat beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua saat anak menonton TV seperti yang dijabarkan Mak Anis Khoir dalam tulisannya yang berjudul Anak, Televisi dan Sarana Edukasi.

Intinya, saya sadar diri bahwa tidak mungkin untuk tidak mengijinkan Faza menonton TV. Tapi saya dan ayahnya berkomitmen untuk mengontrol Faza soal menonton TV.

Signature

Signature