Wanita Harus Irit!!!

on
Senin, 20 Januari 2014
Seperti biasa, pagi sebelum mulai kerja saya biasanya blogwalking dulu, meski nggak selalu meninggalkan jejak. Hehe. Nah, waktu kemarin lagi BW ketemu sama postingan Mbak Rani Saputra tentang irit yang ternyata sedang diikutkan salah satu event giveaway. Saya langsung tertarik, selain karna emang lagi rajin mencicipi sensasi ikut GA, temanya juga “saya bangeeet”! hihi

Soal irit, jangan ditanya deh! Sifat itu seperti sudah menjadi bawaan orok dalam keluarga saya. Sejak kecil, salah satu doktrin yang ditanam kuat oleh Bapak-Ibu pada saya dan 2 kakak saya adalah “Nggak boleh pake uang untuk hal-hal yang kurang ada manfaatnya!”

Salah satu pengalaman melakukan pengiritan dalam keseharian yang nggak mungkin terlupakan tentu saja saat kuliah di Semarang dan harus kost. Bapak-Ibu selalu ngasih uang saku PAS buat kami. Tentu saja nominalnya nggak sama, seseuai dengan nilai uang di jaman kami masing-masing. Tapi prinsip dasarnya tetep sama. Uang saku dikasih pas buat seminggu. Jadi mau nggak mau seminggu sekali juga harus pulang untuk minta uang saku lagi. Hal ini dilakukan menurut Bapak-Ibu, selain biar irit, juga biar kita tetap terkontrol pergaulannya.

Dengan uang saku pas tersebut tentu saja saya harus memutar otak biar bisa meng-cover semua kebutuhan saya selama seminggu. Buat makan, fotocopy, ongkos angkos angkot, dll. Waktu itu sava sempat mencoba trik pengiritan dengan cara makan sehari dua kali aja. Tapi baru beberapa hari berjalan, saya nyerah. Saya emang paling nggak bisa kalau nggak makan tiga kali sehari. Maka saya putuskan untuk mengganti trik, karna buat apa irit tapi jadi mengorbankan kesehatan diri?! Saya lalu mengganti siasat dengan cara membeli roti tawar plus ceres. Jadi untuk sarapan pagi saya ganti dengan makan setangkup roti aja. Cukup berhasil, tapi tetap aja tak berselang lama saya bosan. Nasi tetap jadi makanan favorit yang tak tergantikan.

Lalu bersama teman sekamar yang juga lagi pengen irit, akhirnya kami sepakat untuk iuran untuk belanja ke pasar, dan masak. Wow, hasilnya memukau. Dengan budget minim, kami bisa masak sup plus mendoan, dan sisa sayurnya kami tumis. Jadi bisa buat makan pagi, siang sore. Tapi berhubung kesibukan kuliah nggak memungkinkan untuk kami selalu masak sendiri, pada akhirnya langkah irit yang paling langgeng adalah dengan cara memilih menu-menu sederhana nan ekonomis. Rames, nasi kucing, atau nasi plus telur penyet adalah beberapa pilihannya. Meski masa-masa kost sudah berakhir, bukan berarti pengiritan juga tutur berakhir. Sampai sekarang saya tetap melanggengkan kebiasaan tersebut dengan membawa bekal makan siang dari rumah saat kerja. Selain karna males jajan keluar yang jaraknya cukup jauh, lidah saya emang kurang bisa cocok sama masakan produk warung. Dan jauh lebih irit tentunya! Haha

Selain soal makan, pengiritan yang sangat penting buat dilakukan, terutama untuk kaum hawa adalah soal fashion. Titik ini juga sepertinya yang paling sering gagal diatasi. Iya, nggak? Tapi tentu saja tidak dengan saya. Saya bersyukur bukan termasuk wanita yang mudah sekali menjadi korban mode. Yah sebut saja saya cupu atau nggak modis. Hal itu bikin saya nggak kalang kabut nurutin gengsi beli macam-macam model baju dengan harga selangit. Bagi saya baju yang nyaman dipakai, menutup aurat dan bersih sudah lebih dari cukup. Tapi bukan berarti nggak perlu trik untuk bisa jadi lebih irit. Diantaranya, memilih baju dengan warna-warna yang bisa dipadu-padankan dengan jilbab yang sudah saya punya, atau sebaliknya, membeli jilbab warna netral yang bisa dipasangkan dengan beberapa baju. Alhamdulillah-nya lagi, saya punya ibu dan kakak yang pintar jahit baju. Nah, jadi semakin bisa irit deh. Tinggal browsing model baju di internet, terus beli kain, nanti ‘disulap’ deh sama kakak atau ibu jadi baju yang 11-12 sama model yang ada di internet itu! Hehe


Jadi, mari menerapkan pola hidup irit mulai sekarang! Apalagi sebagai wanita, kita akan jadi pengelola utama gerak perekonomian keluarga kita. Irit bukan pelit, irit demi masa depan yang lebih baik! Haha




Tak Mampu Memilih

on
Sabtu, 18 Januari 2014

Ketika ada beberapa pilihan di hadapan, dan saya tak juga mampu memilih, maka mungkin lebih baik saya sejenak berhenti

Menyendiri dalam sepi, lalu meletakkan kembali hati
Jikalah hidup hanya hitam dan putih, mungkin takkan jadi serumit ini
Sayangnya ada abu-abu, hingga orang yang memilih kita belum tentu akan jadi yg kita pilih, begitupun sebaliknya

Saya akan tetap disini
Menunggu tanpa ragu dia yang pasti akan tetap datang, tak peduli saya masih setia dalam penantian, atau justru memilih bosan dan berkelana ke banyak lintasan kisah pencarian

Ketika Curanmor Menghantui

on
Kamis, 16 Januari 2014
Beberapa waktu belakangan ini di daerah tempat saya tinggal cukup marak kasus curanmor. Terakhir, malam selasa kemarin Om saya yang menjadi korbannya. Hemm, ikutan nyesek waktu pertama denger kabar itu. Apalagi Om saya yang kena musibah itu bisa dibilang kondisi ekonominya menengah-ke bawah. Belum lagi motor itu masih tergolong baru (tapi bekas). Yah bisa dibilang harta bendanya ya cuma motor itu. Dan nggak cuma motor, HP-nya pun ikut di gasak. Masya Allah...

Tak urung saya dan keluarga, juga saudara-saudara yang rumahnya saling berdekatan pun ikut resah. Selasa kemaren, waktu ngobrol-ngobrol santai, selain masih membahas tentang keprihatinan kami pada musibah yang menimpa Om, kami juga membahas 'upaya' peningkatan kehati-hatian agar musibah serupa tak sampai menimpa kami.

Ada sodara yang bilang mau beli rantai+gembok buat motonya. Ada juga yang bilang mau mengganti kunci rumahnya dengan yang lebih bagus, ada pula yang berseloroh bilang motornya mau dimasukin kamar.

Tapi tak lama kemudian kami serentak terdiam. Dan ajaib, ketika ternyata 'hidayah' itu seperti menyentuh hati kami secara hampir bersamaan. Kami lalu melirihkan istighfar. Betapa saat membahas berbagai upaya tadi, secara nggak sadar kita telah mengesampingkan rasa pasrah pada Sang Maha Pemilik Jagat Raya ini. Betapa kami seperti lupa bahwa harta tak lebih dari sekedar titipan, dan tak satu pun musibah yang menimpa selain memang telah digariskan oleh-Nya.

Lalu apa kita nggak lagi perlu waspada, karna toh semua sudah ada 'ketentuan-Nya"?! Tentu saja tetap perlu! Bukankah manusia diciptakan dengan akal salah satunya untuk berikhtiar? Terus gimana baiknya? Mungkin yang terbaik adalah tetap meningkatkan kewaspadaan, dengan terus meng-upgrade keberserahan kita pada-Nya. Wallahu a'lam...

**Semoga Allah memberikan kesabaran dan ganti yang jauh lebih baik dan lebih banyak untuk si Om, dan semoga si pelaku lekas bertaubat dari 'profesinya'

Warna-Warni Mahasiswa

on
Rabu, 15 Januari 2014


“Boleh bangga jadi mahasiswa, tapi jangan bangga jadi yang terlama!”

Pertama kali lihat tulisan itu seingat saya di gedung Fakultas Psikologi Universitas tempat saya kuliah dulu. Saya yang sejak awal kuliah bertekad untuk bisa lulus dalam waktu 3,5 jelas dong langsung mengamini, *sambil ketawa ngikik. Hihi

Dulu waktu masih lugu saya sempet mikir, masa’ iya ada sih mahasiswa yang ‘sengaja’ memperlama kuliahnya dan jadi nggak lulus-lulus? Nggak mungkin lah kayaknya… pasti semua pengen cepet wisuda, jadi sarjana, terus kerja.

Eh ternyata enggak lho… saya salah. Mahasiswa ternyata ada banyak warnanya. Nah, saya lagi pengen iseng mengidentifikasi warna-warna motif mahasiswa yang berhasil saya tangkap. Cekidot!

Yang pertama warna mahasiswa yang putih polos. Yang kaya’ apa? Itu lhooo… yang rutinitasnya nggak lebih dari sekedar kampus-kost-kampus-kost. Eh, tambah warung makan ding! Hihi. Pokoknya tipe mahasiswa yang menganggap yang penting cuma kuliah, yang laen nggak penting.

Yang kedua warna mahasiswa merah menyala. Nah, yang ini tipe mahasiswa yang semangatnya berapi-api sekali menyandang gelar mahasiswa. Jadi mereka nggak bakal melewatkan berbagai aktivitas yang nggak mungkin bisa mereka lakukan lagi kalo udah nggak jadi mahasiswa. Yaaa misal, jadi aktifis BEM, atau Himpunan Mahasiswa, dll. Trus jadi panitia macem-macem acara dengan memakai jas almamater kebanggaan, ato bahkan melakukan berbagai aksi di jalan mengkritisi berbagai kebijakan.

Yang ketiga warna mahasiswa biru langit. Mahasiswa tipe ini tu, emm… tipe-tipe yang udah jauh lebih awal mempersiapkan masa depannya. Saking semangatnya mempersiapkan masa depan, mereka sampe rela loh melewatkan banyak sekali moment manis sebagai mahasiswa. Mereka lebih memilih kerja sampingan, daripada ikut organisasi-organisasi kemahasiswaan ato ikut seminar-seminar. Bahkan kadang ada yang udah saking asyiknya kerja, kuliahnya malah jadi ganti posisi sebagai “sampingannya”. hehe

Emmm… warna apa yaa… warna-warni mungkin. Eh, pelangi! Ya, pelangi! Tipe ini tu yang pengen nyicipin semuanya. Ya ikut organisasi, ya kerja kalo ada emang jadwalnya memungkinkan, tapi juga kuliah sama sekali nggak dikesampingkan. Jadi berbagai kegiatan di luar kuliah nggak bakal bikin mereka cuek sama nilai kuliah. Naaahh, kalo yang ini kayaknya tipe saya dan teman-teman saya banget ni. Hehe… narsis yah! Tapi bener loh. Kita tu ikut organisasi kampus, yah meskipun nggak militan banget sih. Kita juga pernah sok-sokan mengorbankan masa liburan semester buat kerja jadi surveyor – yang akhirnya diwarnai isak tangis. *itu bener2 episode tak terlupakan! Dan hebatnya, kami Alhamdulillah bisa menuhin target lulus 3, 5 tahun. Bahkan beberapa diantaranya lulus cumlaude loh! Tapi aku nggak sih! Haha

Nah, warna terakhir menurut analisa saya tu warna mahasiswa abu-abu! Duh, warna yang ini saya nggak bisa banyak jelasin. Intinya, ini tu tipe mahasiswa yang sukanya make’ waktu buat hal-hal nggak manfaat dan cenderung negative. Kalo ada mahasiswa yang baca tulisan ini, saya Cuma mau bilang “HINDARI!!”.

Oke, sekian hasil analisa nggak penting saya. Yang perlu digarisbawahi plus distabilo, tulisan ini sarat unsure subjektifitas! hehe

Bahagia :D

on
Senin, 13 Januari 2014
Pertama kali ikut event Giveaway, dan langsung menang (meskipun bukan No. 1) itu rasanya seneeeeng banget! Pengen jingkrak-jingkrak. Haha...
Itu lhooo... Giveaway-nya Mbak Riawani Elyta untuk novel AMOT :)

Bilang saya norak! Dan saya akan nggak peduli, karna memang begitu kenyataannya :D
Tapi buat orang yang pesimistis kaya' saya, yang tiap ada event lomba atopun sekedar Giveaway harus mikir berpuluh kali dulu hanya karna takut ntar kecewa kalo nggak menang, pantas sekali rasanya buat saya jadi seneng gini. *alibi*

Tapi pelajaran penting yang harus saya cetak tebal trus dikasih stabilo sih... "Nggak perlu minder untuk hal apapun, dan jangan meragukan kemampuan diri sendiri!" :)

*Jadi inget juga apa yang Mbak Esti bilang, sekalinya menang ntar ketagihan :D

Lagi-Lagi Tentang Jodoh

on
Kamis, 09 Januari 2014


Ya, lagi-lagi saya (harus) menulis tentang jodoh. Semoga nggak lantas diartikan bahwa saya adalah “galauers”  yang tengah mengekspos kegalauan saya. Kalaupun saya memang galau, setidaknya saya berusaha mengarahkan energi galau saya ke arah yang positif. hehe

Jodoh. Tema itu seperti nggak pernah ada habisnya ya untuk dibicarakan dan dikembangkan. Apalagi di kalangan gadis-gadis seumuran saya. Umur sudah cukup, sekolah sudah selesai, sudah kerja pula. Tahapan apalagi yang terpenting setelah itu kalau bukan menikah?!

Bohong kalau saya bilang nggak galau tentang hal satu itu. Apalagi ketika sepupu terdekat yang seumuran dengan saya telah dilamar oleh pacarnya. Gimana situasi batin saya nggak runyam? Belumlah harus sibuk menata hati sendiri agar tetap meyakini bahwa semua ada waktunya masing-masing, sudah diharuskan pula menjawab banyak pertanyaan saudara-saudara tentang “kamu kapan”, “sudah punya calon belum”, “kok bisa belum punya”, dll.

Andai semua orang memahami bahwa terkadang ada pertanyaan bermotif peduli justru membuat nggak nyaman hati yang ditanya. Ah, tapi mungkin justru di situ-lah letak ujiannya. Mungkin ujian terberat pada fase ini bagi saya adalah orang tua. Meski tertatih, Insya Allah saya bisa menata hati dan bersabar menanti lelaki yang Allah siapkan untuk saya datang. Tapi untuk memastikan bahwa Bapak dan Ibu pun turut menata hati dan bersabar bersama saya, sulit sekali rasanya.

Sampai hari ini baru sekali saya merasakan jatuh cinta. Benar-benar baru satu orang yang bikin saya nggak bisa tidur karna terus kepikiran, nangis sesenggukan di malam sunyi karna kangen, dan berbagai tingkah aneh lainnya. Malangnya, saya jatuh cinta pada orang yang salah. Kenapa salah? karna dia dan saya nggak se-iman. Lebih malangnya lagi, saya baru tau kalo dia bukan muslim setelah cinta itu tumbuh bersemi. Ah, tapi kisah itu sudah tertinggal jauuuh sekali. Dan saya bersyukur pernah melewati fase itu. Fase yang benar-benar mengajarkan banyak hal. Namun anehnya, lima tahun lebih kisah itu terlewat, saya belum pernah lagi merasakan jatuh cinta. Mungkin Allah mengabulkan doa kecil yang pernah saya ucapkan ketika tengah dibuat tak berdaya oleh “cinta yang salah” saat itu. “ya Allah, buat saya jatuh cinta (lagi) hanya pada laki-laki yang Engkau takdirkan sebagai suami saya”

Emm, tapi  kalau coba saya renungkan, meyakinkan diri sendiri untuk akhirnya bilang, “ya, saya bersedia menikah denganmu!” juga nggak semudah yang saya bayangkan. Kalau lagi mengkhayal sih saya selalu sesumbar bahwa saya akan langsung berkata “iya!” kalau ada laki-laki baik yang datang pada saya. Kenyataannya? Nggak sesederhana itu. Pernikahan bukan sembarang ikatan. Ia adalah sebuah “Perjanjian yang kuat” antara dua manusia dengan saksi Rabb-nya. Banyak yang harus dipertimbangkan dan dipikirkan secara matang, sebagai salah satu ikhtiar pertama menjadikan ikatan tersebut berlanjut hingga Surga-Nya.

Saya pernah diajak menikah sama seseorang yang belum begitu saya kenal menikah. Dia tiba-tiba telfon, bilang jatuh cinta pada saya, sudah istikhoroh berkali-kali dan yakin bahwa saya jodohnya. Aduh, tapi waktu itu saya masih kecil. Kuliah saja belum selesai. Kalau sekarang, yang kadang bikin kepikiran tu soal jarak. Keluarga saya bukan tipe perantau, nggak biasa hidup saling berjauhan. Apalagi saya bungsu. Kakak saya bilang “trayek” jodoh saya antara Jepara-Kudus aja kalau bisa. Tapi jodoh kan rahasia Allah, kan? Bumi Allah membentang teramat luas, dan kita nggak boleh menyempitkan apa-apa yang sudah di luaskan oleh-Nya.

Intinya tetep “sabar” sih, ya. Terutama sabar menjaga kehormatan diri. Berapa banyak orang yang “nggak sabar” menanti jodoh terbaiknya datang, lalu “menjajakan” dirinya secara “murah”? Naudzubillah. Sabar untuk tetap berprasangka baik pada Allah, dan tak lelah melangitkan doa-doa terbaik kita. Semoga Allah membuat saya tetap sabar dan memudahkan hati saya yang sudah lamaaa sekali “terkunci” untuk kembali membuka saat seorang lelaki sholih datang pada wali saya. Aamiin

oOo

Tulisan ini disertakan dalam Giveaway Novel Perjanjian yang Kuat 

 

Jepara, Kota yang (Pernah) Tak Saya Cinta

on
Senin, 06 Januari 2014

Saya pernah tidak mencintai kota ini. Bahkan dalam salah satu tulisan di blog ini pun saya pernah mengungkapkan ketidakcintaan itu. Kenapa tidak cinta? Entahlah. Beberapa suara berisi pandangan negative tentang kota ini yang sempat mampir ke telingaku, mungkin jadi salah satu sebabnya. Padahal kalau mau objektif, mungkin pendapat-pendapat tersebut tidak memiliki dasar yang kuat.

Setelah lulus kuliah, saya cukup ngotot untuk mencari kerja di luar kota ini. Allah (sempat) menuruti. Tapi dengan cara-Nya, Allah mengembalikan saya ke kota ini lagi. Dan ajaib, saya mulai merasa nyaman dan legowo untuk “sudahlah, disini saja”.

Mungkin benar, tak kenal maka tak sayang. Kenapa dulu saya tidak mencintai kota ini, penyebab terkuat ya karna saya hampir tak tahu apapun tentang kota ini. Mata saya terlampau silau dengan “keindahan” kota-kota lain.

Bagai katak dalam tempurung. Parahnya, dalam tempurung pun saya nyasar. Mungkin kalimat itu cocok buat saya. Haha, kebangetan! Coba saya dilepas di tengah kota Jepara, maka entah saya bisa pulang atau tidak. Bahkan hari jadi kota Jepara pun saya baru tahu setahun lalu. >_<

Pandangan saya sedikit demi sedikit mulai berubah, saat saya mulai mencoba membuka mata. dan saya mulai menyadari bahwa kota ini menyimpan begitu banyak potensi. Meski harus diakui bahwa potensi tersebut belum sepenuhnya tereksplorasi.

Melalui jejaring social, saya mengenal beberapa wanita-wanita keren berdarah Jepara yang membuat saya kagum dan jadi merasa “nggak ada apa-apanya”. Yang pertama saya kenal adalah Mbak Ella Sofa. Ibu rumah tangga dengan 3 anak sekaligus penulis novel yang tak lelah untuk mencoba berkarya. Lalu Mbak RohmaMauhibah. Ibu rumah tangga, cerdas dan pintar memasak yang sudah menulis beberapa buku matematika.

Tanggal 2 januari lalu, Allah kembali pertemukan saya dengan teman-teman baru di kota ini. Minikopdar blogger ceritanya. Meski cuma ber-empat plus saya, tapi seru sekaliii... dan bikin saya jadi tau beberapa istilah di dunia per-blog-kan yang sebelumnya belum saya tahu.

Dua di antara mereka, yaitu Mbak Sus dan Mbak Jiah adalah wanita berdarah Jepara. Sedangkan yang satunya lagi, Mbak Esti, wanita Semarang yang sebentar lagi akan jadi orang Jepara ;)
Ah, Jepara kan Bumi Kartini. Sosok pemerjuang kesempatan pendidikan bagi wanita. Tentu saja Jepara sangat berpotensi m,elahirkan Kartini-Kartini masa kini. Mungkin salah satunya adalah mereka. Mbak Sus, wanita cerdas, ibu dua orang putra yang ganteng-ganteng sekaligus pengusaha, Mbak Jiah sosok muda belia yang energinya positif sekali (dan baru tahu juga kalo dia pemenang salah satu event di blog dan jadi bisa travelling gratis. kereenn), juga Mbak Esti yang... ah, sungguh rangkaian ceritanya yang juga mengandung nasehat-nasehat ringan tapi luar biasa membuat saya merinding disko dan masih terngiang hingga saat ini.


Mb Esti-Rosa-Mbak Sus-Mbak Jiah

Bahagia bisa kenal dan bertemu kalian. Semoga pertemuan hari itu tidak lantas berhenti hanya di situ, melainkan akan berlanjut menjadi ikatan silaturahim tiada akhir. Dan semoga akan ada pertemuan-pertemuan berikutnya nanti :)


Signature

Signature