#Ramadhan27: Pada Sisi Allah...

on
Jumat, 25 Juli 2014
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz)”. (QS. Al An’am: 59)

Menentramkan sekali, ya....

Basa-Basi Yang Basi

Peringatan: Tulisan kali ini akan sangat sarat dengan unsur curhatan. Tapi menurut penerawangan saya, akan banyak yang diem-diem ngomong dalam hati, "Iiiihhh.... guee bangettttt!!" :p
oOo
Minggu lalu ada obrolan HOROR sekaligus seru di grup whatsapp BBI JogloSemar. Tentang apa? Tentang persiapan menguatkan mental menghadapi pertanyaan basa-basi yang benar-benar basi, yang biasanya marak sekali saat event lebaran. Apalagi kalo bukan pertanyaan: KAPAN???

Fiuuhhh.

Alhamdulillah-nya, bahas tema-teman yang sebenernya bikin tingkat kegalauan makin akut gini, sama sekali nggak berlaku di Joglosemar. Adaaa aja cara untuk bisa tetep 'menertawakannya'. Yup, bersama mereka saya tau ada banyak cara menikmati hidup :)



Saya cukup tercengang waktu itu. Eh, ternyata banyak ya yang juga merasakan apa yang saya rasakan. Lebih tercengang lagi karna saya baru tau kalo cowok-pun bisa dibikin galau sama pertanyaan-pertanyaan model begitu. Saya masih inget banget ucapannya Kang Opan dalam obrolan pagi itu. "Aku bener2 nggak nyangka akan masuk dalam fase seperti ini". *Pukpuk Kang Opan* :D

Lalu Mas Dion bilang - kurang lebih, "Mungkin mereka yang tanyanya ttg kapan mulu' tuh karna nggak punya pertanyaan yang lebih menarik, seperti: kamu kasih rating berapa untuk buku ini, dll". Muahahaha. Bisa jadi bisa jadi. Nggak punya pasal, yesss... jadi pasal buat basa-basinya kelewat basi deh :p

Sedihnya, pertanyaan-pertanyaan semacam ini jujur bikin antusiasme menyambut event-event yang memungkinkan kita buat kumpul sama kerabat tuh menurun drastis. Ah ya, pertanyaan kapan yang kita obrolin di sini bukan hanya tentang 'kapan nikah', ya... termasuk 'kapan punya anak', 'kapan nambah anak', 'kapan lulus', de el el. Cuma memang konsentrasi terbesar ada di dua paling awal ituuh. hehe. Emm, sebenernya kami (para korban pertanyaan kapan) nggak selalu sewot sih tiap ditanya begitu. Kami belum terlampau mati rasa kok buat bisa bedain mana 'pertanyaan kapan' yang bener-bener karna peduli, dan mana yang murni cuma buat basa-basi (yang basi) - terlebih yang sekedar mau nyinyir.

Kalo yang bener-benar karna peduli biasanya setelah kita jawab mereka bakal bilang, "Yaudah, yang sabar saja... terus berdoa" (cuma salah satu contoh), tapi kalo yang nyinyir biasanya nyambungnya ke --- "Kamunya nggak usaha sih!" atau "Kok nggak cepetan nyari, to?". Ampun deh... emang barang ilang dicari? :p. Belum lagi soal pertanyaan 'Kapan punya anak'. Bisa-bisanya ada yang nyinyir bilang, "Lho, udah umur berapa kok belum punya anak?", dan herannya yang ngomong gitu tuh sama-sama cewek :(((
Intinya sih kalo tanyanya karna peduli pasti lanjutannya tuh bantu doa dan bantu kasih solusi, bukan malah nyinyir.

Waktu itu Mba Esti menyela (di tengah suasana obrolan yang semakin horor), bilang bahwa mungkin orang-orang yang suka nyinyir sama kita soal hal-hal kayak gitu tuh hidupnya nggak sebahagia kelihatannya. Jadi dia pengen memastikan bahwa hidupnya tetep lebih bahagia dari kita, dengan cara ngulik hal-hal yang kita belum punya dan bikin kita terintimidasi.

Aduh, gimana ya, saya sampe kehabisan kata buat ngungkapin hal ini (kehabisan kata tapi kok panjang banget tulisannya. haha). Jadi gini, kami itu sebenernya sudah (sangat) disibukkan dengan upaya 'berdamai' dengan hati kami sendiri. Lalu, dengan semena-mena, kalian (yang hobi tanya kapan) membuat semua upaya itu porak poranda dalam seketika? Dan yang lebih mengenaskan, kalian tanya bukan dalam rangka benar-benar peduli, tapi semata karna basa-basi. Omaigad. Kalo yang tanya kayak gitu orang sepuh sih kita agak maklum, yaa.... tapi kalo yang tanya tuh temen sendiri yang sebelumnya juga mengeluhkan hal yang sama semacama ini, rasanya tuuhhhh.... pengen nyakar-nyakar tembok!

Trus komentar yang lucu lagi - lupa dari Mba Vina apa Mba Lila, ya? - pertanyaan-pertanyaan kayak gitu tuh nggak bakal berhenti. Belum nikah ditanya kapan nikah, udah nikah ditanya kapan punya anak, udah punya anak ditanya kapan nambah, udah nambah eehhhh dikomentarin banyak banget anaknya. mhihihihi....

Yah intinya sih, hidup tu memang adaaaa aja ujiannya, ya. Termasuk ujian tentang kopan-kapan-kopan-kapan ini. Kita kan nggak bisa ya bikin dunia seisinya berlaku seperti apa yang kita pengen. Kayak kata -- emm, aduh lupa kata siapa -- namanya juga hidup. Tuhan yang menentukan, kita yang menjalani, orang lain yang komentar!. Hihihi

Ah ya, tambahan satu lagi dari saya (nambah terus!), yang hobi nanya 'kapan nikah' itu harusnya besok pas kita beneran nikah amplopnya harus paling tuebeeeellll yaaa.... buat kompensasi atas hati kita yang kayak di silet-silet tiap denger pertanyaan kayak gitu :p

Eeehh, satu lagi satu lagi... salah satu cara kami menikmati 'ujian' ini adalah dengan berjanji buat salaing menghitung berapa kali dapet pertanyaan 'kapan' selama masa libur lebaran ini. haha...

#Ramadhan26: Dosa dan Cara Kita Memandangnya

on
Kamis, 24 Juli 2014
"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" 
 (QS. Az Zumar: 53) 

 oOo
 Semalam saya tiba-tiba resah luar biasa. Teringat sebuah dosa (yang mungkin saya anggap) kecil, tapi sering saya ulang :(. Saya resah, dicekam ketakutan. Semakin resah ketika saya dibayangi rasa malu saat mengucap istighfar. Hati saya seperti bilang, "Kamu istighfar, tapi ntar diulang lagi. Kamu pikir Allah nggak bosen?"

Apa itu salah satu bentuk bisikan syaitan? Bukankah Allah nggak pernah bosan mengampuni dosa hamba-Nya yang mau kembali selagi hamba-Nya tidak menyekutukan-Nya? Tapi bukan berarti kita jadi enteng ngulang-ngulang dosa mentang-mentang kita tau Allah Maha Pengampun, kan?? Ah, entahlah... ilmu saya masih tipis sekali soal ini :(

Lalu saya tiba-tiba inget tausiyah dari seorang syekh dari Arab (lupa namanya) dalam acara Wisata Hati-nya Ust. Yusuf Mansur di AnTV dulu. Beliau bilang - kurang lebih, perbedaan orang beriman dengan orang munafik dalam memandang dosa adalah: kalo orang beriman memandang dosa itu seperti gunung yang hendak roboh menimpang, benar-benar menakutkan. Sedang orang munafik memandang dosa hanya seperti seekor lalat yang hinggap di ujung hidungnya, yang bisa diusir hanya dengan mengibaskan tangan. Nah lho... pernah nggak sih kita saat melakukan dosa (yang kita anggap kecil), lalu dalam hati bilang, "Ah, gakpapa... nanti taku istighfar, deh!". Jujur saya pernah :(((

Dan seperti yang sering terjadi sebelumnya, moment-nya selalu pas. Saat saya lagi kepikiran soal itu, buka blog, langsung nemu postingan Mba Prima dengan tema senada. Iya, harusnya kita jauh lebih waspada dengan dosa kecil yang sering diulang-ulang. Karna jangan-jangan justru itu yang kelak bikin kita bangkrut di hari perhitungan. Ah, Ya Allah... Naudzubillah :(((

#Ramadhan25: Khalifah

on
Rabu, 23 Juli 2014
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak seorang hamba pun yang diserahi oleh Allah untuk memelihara dan mengurusi kemaslahatan rakyat, lalu dia tidak melingkupi rakyat dengan nasihat, kecuali ia tidak akan mencium bau surga.” (HR al-Bukhari)

oOo
Sudah beberapa bulan ini Indonesia diwarnai dengan drama 'perebutan tahta' sebagai RI 1. Dan, wow... benar-benar luar biasa. Timeline facebook maupun twitter hampir nggak pernah bebas dari status-status tentang itu, link-link bermuatan negatif, saling nyinyir, dll. Hmm, mrinding. Belum lagi konon banyak yang jadi 'berseteru' dengan temannya hanya gara-gara beda pilihan. Bener-bener heran kalo ada yang kayak gitu. Halloooo... kalian bukan anak kecil, kan?

Saya sempat agak terbawa arus 'panasnya' sih. Tapi alhamdulillah segera bisa mengendalikan diri lagi. Saya nggak pernah benar-benar tau siapa dan seperti apa mereka berdua, kan. Takut jatuhnya fitnah kalo asal nge-share tulisan-tulisan yang nggak tau sumbernya dari mana :)

Alhamdulillah 9 Juli dan 22 Juli telah terlewati - dua tanggal penting dalam rangkaian. Saya kira setelah tanggal itu suasana - terutama di dumay - akan lebih segar dan adem. Yang tadinya nyinyir jadi ramah dan arif lagi, yang tadinya musuhan bisa berteman lagi. Menerima hasil dengan bijak dan lapang dada. Eh, ternyata enggak loh. Patah hati deh :(

Emm, yang paling bikin saya heran, kok tahta presiden sepertinya sebegitu menggairahkannya ya bagi mereka - dua pasang calon? Seluruh energi seolah mereka kerahkan demi mendapatkannya. Bahkan beberapa jam setelah pemungutan suara dilakukan, dua-duanya langsung mendeklarasikan kemenangan  atas dasar quickcount versi mereka masing-masing - terlepas dari mana yang benar. Mereka tampak sukacita banget. Emm, jujur saat itu saya heran sekali... kok semuanya jadi kayak kekanak-kanakan, ya? Nggak sabar banget untuk jadi sang pemenang. Ah, entahlah.

Saya pernah baca dan dengar dari seorang kakak di kampus dulu, tentang kisah para sahabat saat diangkat menjadi khalifah. Mereka menangis, karna takut nggak bisa manjalankan amanah yang luar bisa berat sebagai khalifah. Bahkan di tingkat yang jauh lebih rendah, saat pemilihan ketua rohis di kampus dulu, yang dicalonin pasti wajahnya tegang dan ketakutan, bahkan saat dinyatakan terpilih mereka menangis. Alasannya? Takut nggak bisa amanah, kata mereka. Lalu gimana dengan para capres-cawapres kita? Begitu terpilih sujud syukur, mendapat banyak ucapan selamat, dll... seolah mendapat nikmat dan anugrah yang luar bisa besar. Ah, belom benar-benar terpilih saja mereka sudah lebih dulu melakukan :|

Tapi sudahlah. Saya nggak punya sedikitpun hak untuk men-judge mereka. Saya yakin mereka punya niat baik membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Terakhir, Selamat berjuang Pak Jokowi dan Pak JK yang dinyatakan terpilih oleh KPU kemarin. Semoga pertolongan Allah senantiasa mengiringi langkah kalian dalam memimpin negeri ini. Aamiin.

#Ramadhan24: Jilbab dan Prosesnya

on
Selasa, 22 Juli 2014
"Hai Nabi,katakanlah pada istri-istrimu,anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.”Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS.33  al-Azhab:59)

 
Tadi malem nggak sengaja nemuin buku ini di meja tempat saya biasanya ngetik atau baca. Seneng banget, soalnya buku itu sangat bersejarah buat saya. Bukunya kecil dan tipis - buku saku gitu bentuknya. cuma 40 halaman, tapi isinya padat berisi. Kalo nggak salah yang beliin Mba Nita, waktu saya masih SMP. Dari buku itu untuk pertama kalinya saya tau dan bilang, "Oh, jadi jilbab itu wajib, toh...", dan akhirnya memutuskan pake jilbab begitu masuk SMA.

Tapi waktu itu  pemahaman saya baru bener-bener sepotong. Saya kira berjilbab saat pergi-pergi jauh plus kalo ada acara-acara, itu ya udah cukup, udah bisa dibilang memenuhi perintah berjilbab itu. Jadi dulu saya ke sekolah pake jilbab. Begitu sampe rumah misal disuruh Ibu ke warung ujung jalan, ya pede aja pake celana pendek. Haha.

Barulah saat kuliah alhamdulillah dapet pemahaman yang lebih utuh. Berjilbab itu ya di manapun dan kapanpun, sepanjang di situ memang ada golongan non-mahram kita. Aduh, makanya kadang suka bete kalo pasa malem-malem udah pewe pake baju tidur di ruang tivi trus ada sepupu cowok maen ato ada tamu buat Bapak gitu :|

Saya bersyukur. Bersyukuuuurrr sekali Allah kasih saya pemahaman dan kemauan untuk menunaikan salah satu kewajiban utama seorang wanita ini, meski masih banyak yang harus saya perbaiki lagi di sana-sini. Nggak semua wanita punya itu, kan - meski sekedar kesadaran?? Selanjutnya, saya berdoa semoga Allah mengistiqomahkan saya untuk tetap teguh di jalan ini. Aamiin. 

Yang nggak pernah bosen saya ulang, jangan dong pada hobi mencibir jilbab seseorang gara-gara ia melakukan kesalahan. Pake jilbab nggak bikin wanita jadi malaikat yang nggak bakal salah loh, catet ya! Pernah denger kan orang yang beralibi, "aduh, saya belom pantes pake jilbab, kelakuan aja masih gini", atau "Aku mau jilbabi hati dulu, deh"... itu kayaknya salah satu bentuk ke-parno-an mereka terhadap komentar-komentar kayak semacam, "Ih, pake jilbab tapi kok kelakuan gitu!".

Jadi, buat yang belum pake karna merasa nggak pantes atau belum yakin, yuk langsung pake aja secepetnya :). Nggak ada yang berhak bilang wanita muslim itu nggak pantes pake jilbab kok. Kalo kamu merasa kelakuan masih amburadul (termasuk saya), Insya Allah jilbab akan jadi pengendali yang efektif buat pelan-pelan merubahnya menjadi lebih baik. Yakinlah pertolongan Allah selalu hadir bagi orang-orang yang berjalan menuju-Nya, salah satunya dengan berjilbab :) 

Masjid Arrahmah Purwogondo-Jepara, Anggun nan Menyejukkan di Tengah Keramaian


Masjid Arrahmah Purwogondo, terletak persis di pertigaan Purwogondo – Jepara. Masjid itu berdiri anggun dan amat menyejukkan dipandang, ditengah hiruk pikuk lalu lintas kendaraan dan aktifitas manusia di sekitar situ, karena memang daerha tersebut merupakan titik pertemuan dari beberapa arah dan dekat dengan kawasan pertokoan dan pasar. Hari minggu kemarin saya sholat ashar di Masjid itu. Interiornya sangat indah, dengan nuansa Jepara yang amat kental – terlihat dari banyaknya aksen ukiran di semua kusennya. Suasananya di dalamnya amat syahdu, se-syahdu memandang bangunannya.




#Ramadhan23: Semua Sesuai Porsi

on
Senin, 21 Juli 2014

"Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kita yang nyata (Lauhul Mahfudz)." (QS. Hud: 6)

Kata Cite, nggak ada yang kebetulan di dunia ini. Segala sesuatu telah diatur. Termasuk orang-orang yang datang dan pergi, semua membawa misinya masing-masing buat kita pelajari.

Dan Allah akan selalu mengirimkan orang yg tepat dan sesuai sama 'kebutuhan belajar' kita, sepanjang kita percaya. Seperti sekarang, Allah mengirimakan mba Primadita sbg teman berbagi banyak hal.

Sebelumnya saya ngefans banget sama mbak satu itu. Di mata saya dia cewek sempurna banget. Smart, sholihah, dll. Tp ternyata enggak juga lho. Mba prima ternyata juga punya rasa minder, punya rasa males, dll.

Karna apa? Sebelumnya saya cuma menilai dari jauh. Namanya menilai dari jauh, hasilnya bisa jauh lebih bagus dari aslinya, bisa juga sebaliknya.

Yah tapi satu hal yang saya ambil pelajarannya, nggak pernah ada hidup orang yg bener-bener sempurna, dan nggak pernah ada hidup orang yg bener-bener buruk. Semua sesuai porsi.

Jadi, nggak perlu lah yaa merasa jadi orang paling menderita saat dapet ujian, lalu iri memandang hidup orang lain yg 'kelihatannya' sempurna sekali. Yakinlah, orang lain jg punya ujiannya sendiri, cm mereka nggak ngeluh atau kita nggak tau :)

Emm, oh ya... Sejatinya nggak pernah ada yang perlu kita khawatirkan, kan yah... Semua sudah di jamin oleh-Nya... Apa yang memang buat kita, pasti akan jadi milik kita - asaall, kita memenuhi hukum sebab akibatnya. Simpelnya, harus tetep ikhtiar ;)

Signature

Signature