Tentang Cewek Yang Hobi Memberikan Kode

on
Selasa, 07 Juni 2016
sumber: astralife.co.id
Obrolan di Grup WA Joglosemar kemarin seru. Seru bagi kaum cewek, dan bikin para kaum cowok terdiam seketika. Haha. Yah, tapi memang jumlah antara anggota cowok dan ceweknya gak imbang banget sih, lebih banyak ceweknya banget-banget.

Tema obrolannya ada tentang kode. Hah, kode? Iya, kode! Betapa hobinya wanita itu mengirimkan kode, dan berharap pasangan bisa langsung menangkap kode tersebut tanpa kita harus ngomong secara gamblang. Dan tentang betapa amat sangat jarangnya kaum cowok bisa nangkep kode yang kita kasih dengan tepat. Huh. Ini semacam ironi, ya.

Mbak Ika – salah satu anggota grup kemudian bercerita. Dulu, waktu baru PDKT sama si mas calon suaminya yang sekarang, pernah suatu hari si mas calon suami bilang, “Boleh gak aku main ke rumah?”. Mbak Ika, dengan gaya ‘khas’ cewek menjawab, “Terserah”, padahal dalam hati “Yes, yes, asyiiiiiiiiikkkk”. Kata terserah bagi kaum cewek itu konon seringkali adalah kode. Kode bahwa kita mau, tapi malu. Malu, tapi mau. Haha. Tapi ya itu, sayangnya cowok sering salah mengartikan kode dari cewek. Termasuk si calon suami Mbak Ika itu. Gara-gara Mbak Ika jawabnya terserah, si do’i malah jadi batal datang =))

Saya juga salah satu dari entah seberapa banyak cewek yang suka mengkode. Ya mirip Mbak Ika itu. Misal si Mas tanya, “Mau ini gak?”. Saya jawab, “Terserah Mas aja” (dalam hati: mauuuu banget!!). eeehhh, si Mas malah jawab, “Oh, ya udah gak usah aja kalau gitu”. Jadi pengen salto gak sih -_-

Kejadian seperti di atas itu entah sudah berapa kali terjadi, dan masih saja terus berulang. Tapi entah kenapa saya gak kunjung kapok pake kode-kodean. Padahal sudah sekian puluh kali bikin hati jengkel dan pengen nyakar-nyakar tembok. Haha. Apalagi kalau main kode-kodeannya saat PMS. Wuiiihh, bisa jadi bener-bener drama.. Baruuu aja ini terjadi kemarin. Saya nangis-nangis kayak film India gara-gara si Mas gagal nangkap kode yang saya kasih. Hihi. Kata para anggota Joglosemar kemarin, sekarang mah gak usah lagi deh pake kode, ngomong gamblang aja, biar gak capek hati. Apalagi kalau sudah sama suami sendiri =))

Iya juga sih. Harusnya saya belajar dari pengalaman. Belajar untuk mengkomunikasikan harapan dan keinginan dengan lebih baik dan efektif agar lebih mudah ditangkap tanpa kesalahan persepsi, juga belajar untuk mengendalikan diri saat PMS. Ini PR saya banget nih. Saya masih sering gagal mengendalikan diri saat PMS. Mungkin salah satunya karna saya gak tau apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh saya saat PMS, sehingga gak melakukan tindakan preventif dengan baik.

Menurut artikel di astralife.co.id yang berjudul “Hadapi PMS Dengan Bahagia dan Tanpa Drama”, dijelaskan bahwa saat PMS seorang wanita mengalami perubahan hormon yang cukup drastis, yang salah satunya merupakan hormon yang mempengaruhi mood seseorang. Itulah yang menyebabkan seorang wanita sering badmood dan uring-uringan saat PMS. Astralife.co.id juga memberikan beberapa tips tentang hal-hal yang bisa kita lakukan sebelum menstruasi dan saat menstruasi, agar perubahan hormon yang terjadi di tubuh kita gak terlalu bikin kita lepas kendali dan menjadikan PMS sebagai kambing hitam untuk bersikap menyebalkan. Haha.

Baiklah, mulai sekarang saya bertekad mau mengurangi hobi kode-kodean, biar gak capek sendiri. Terutama saat PMS. Duh, hidup ini sudah dipenuhi dengan drama di layar televisi, kayaknya gak perlulah saya tambahi lagi dengan drama gara-gara si do’i salah nangkap kode saya. Hihi.

Hal-Hal Yang Berubah Setelah Menikah

Sebelum nulis ini, saya galau dulu. Galau mau saya post di sini atau di sana. Haha.

Hari Sabtu kemarin si mas suami ada acara di kantor, jadi panitia sebuah seminar tentang seni islami. Dan saya diberinya kesempatan istimewa untuk bisa main seharian di rumah kontrakan mantan roommate saya di kost, sembari nunggu beliaunya pulang. Begitu sampai di kontrakan teman saya, saya langsung gegoleran di kasur. Huaaaa, nikmat bangettttt. Setelah nikah, gegoleran manja di kasur tanpa mikir apapun rasanya jadi hal mewah banget. Bukan berarti saya nyesel nikah looohhh! Justru saya bersyukur banget karna jadi bisa ngrasain nikmat meski sekedar gegoleran gitu. Dulu sebelum nikah, saking seringnya gegoleran malah jadi merasa: Duh, kok hidupku kayaknya sia-sia bangetttt sih -_-

Iya ya, ternyata menikah itu mengubah banyak hal. Tapi Insya Allah berubahnya ke arah yang lebih baik kok selama kita memandangnya dari sudut pandang positif. Nah, selama masa gegoleran di rumah kontrakan teman saya itu, saya jadi sambil merenung. Baru sebulanan nikah, kok rasanya hidup saya udah berubah banget sih sama sebelumnya. Emm, emang apa aja sih yang berubah?

Bangun Tidur

Jaman masih gadis jadi anak kost dulu, kalo bangun tidur, habis sholat subuh dan ngaji (kalo sedang rajin) ya saya melakukan kegiatan-kegiatan kesukaan saya. Pokoknya waktu pagi itu "me time"-nya saya banget lah. Baca novel lah, Merajut lah, kadang masak juga, tapi lebih seringnya sih gegoleran mainan hape mantengin facebook atau mantengin grup chatt. Omaigad, betapa gak bergunanya pagi-pagi saya saat itu. Hihi.

Setelah menikah? Wuihhh, lupakan semua yang di atas kalau saya gak pengen merasa seperti istri durjana. Haha. Aktivitas pagi saya setelah menikah biasanya adalah membuatkan teh hangat buat Mas Suami dan Bapak-Ibu mertua, bantu bikin sarapan (kadang), beres-beres kamar, dll. Dan karna belum biasa, jujur kadang merasa masih kikuk sih. Bingung mana dulu yang harus dikerjain. Jadi sering kesiangan juga berangkat kerjanya karna keteteran ngerjain aktivitas pagi. Kadang nyesel sih, kenapa saya gak membiasakan diri melakukan aktivitas-aktivitas ala ibu rumah tangga seperti itu sejak awal seperti yang selalu didengung-dengungkan ibu saya, biar setelah menikah saya sudah terbiasa dan gak kikuk lagi.

Nyetrika Baju

Kejadiannya sekitar dua mingguan lalu. Waktu itu saya merasa capeeekkk banget. Pengen banget rasanya segera tidur setelah sholat isya'. Tapi tiba-tiba ingat bahwa seragam kerja saya dan Mas Suami buat esok hari belum saya setrika. Yasudah, dengan berusaha membuat mata tetap melek dan punggung tetap tegak, akhirnya saya nyetrika. Rasanya hampir nangis saya waktu itu. Kenapa? Ya karna belum biasa. Dilema, antara sudah pengen banget tidur, tapi ingat bahwa saya punya kewajiban  yang harus saya bereskan sebelum tidur. Kenapa saya kekeuh maksa tetep nyetrika dulu? Karna saya tau kalo saya gak nyetrika saat itu dan memilih tidur, pasti Mas Suami bakal langsung ambil alih tugas nyetrika baju saat itu. Mas Suami adalah tipe laki-laki yang sudah sangat terlatih dan gak sungkan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan domestik. Dan gak muna, saya memang sangat butuh bantuannya dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Cuma untuk beberapa pekerjaan, saya berusaha sekali untuk tetap mengerjakannya. Salah satunya menyetrika baju.

Nah, ini merupakan salah satu point yang berubah dari saya setelah menikah. Dulu mana pernah saya nyetrika baju malam-malam git. Yang ada, seringnya nyetrika bajunya ya sebelum baju tersebut mau dipakai. Termasuk seragam. jadi tiap pagi sebelum berangkat kerja nyetrika dulu. Haha. Buka aib banget =))

Pulang

Soal ini sudah saya tuangkan dalam curhatan panjang kali lebar dalam salah satu blogpost sih =))

Baca: Ketika Rindu dan Pulang Tak Lagi Berjalan Beriringan 

Iya, saya tu masih emak-emakan banget. Paling gak kuat lah nahan rindu sama Ibuk dan sama rumah. Dulu sebelum nikah, pengen pulang ya pulang. Seminggu gak pulang (kalo pas ada agenda pas weekend di kota perantauan) pasti homesick gak jelas. Beberapa kali juga pas pengen pulang padahal bukan weekend, ya udah saya tetep pulang. Paginya balik kerja lagi ke kota perantauan. Haha.

Sekarang? Hampir gak mungkin deh kayaknya. Bukannya Mas Suami gak mau atau gak ijinin, tapi memang harus disadari bahwa kami mulai punya urusan-urusan yang hanya bisa diselesaikan saat weekend, dan gak mungkin kami selesaikan kalo kami pulang ke kampung halaman saya. Jadi ya begitulah, saya tau ini saatnya saya melatih ego saya soal pulang.

Jika banyak buku-buku bertema pernikahan mengatakan bahwa pernikahan merupakan 'sekolah' tak berkesudahan yang menuntut kita terus-menerus menempa diri menjadi pribadi yang lebih  baik, rasanya sangatlah benar adanya. Perubahan-perubahan yang saya ceritakan di atas adalah hanya sebagian kecil yang terlihat mata saja. Sebagian besar yang lainnya adalah perubahan-perubahan ego, pola mengambil keputusan, dll. Emm, lebih tepatnya mungkin buka perubahan, melainkan penyesuaian. Saya berharap semoga saya bisa terus berubah menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Membuka Wawasan Tentang Asuransi

on
Senin, 06 Juni 2016
Kalau ada teman lama yang tiba-tiba menghubungi setelah sekian lama gak ada kabar, seringnya hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama, mau kasih undangan nikah. Yang kedua, dia ikut MLM atau marketing asuransi. Haha. Pernah dengan lelucon itu?

Saya gak mengamini sepenuhnya lelucon itu sih. Yah, ada orang mau nyambung silaturrahim masa’ malah disu’udzoni? Tapi, dari beberapa kali kejadian saya mengalami langsung, lha kok kebetulan lelucon itu benar adanya. Sekali lagi, bukan berarti semuanya memang seperti itu lho ya.

Kalau teman lama tiba-tiba hubungi lagi untuk kasih undangan pernikahan sih saya senang-senang saja. Senang karna dia masih menganggap kita teman yang layak ia ajak berbagi rasa bahagianya. Tapi kalau teman lama tiba-tiba menghubungi karna mau nawarin gabung MLM atau asuransi, kadang saya agak males. Gimana ya, bukan karna apa-apa. Semata karna saya belum merasa butuh, dan belum ada budget untuk itu aja.

Tapi lain dengan sekarang. Semakin ke sini, saya kadang mikir, apa saya harus menganggarkan sebagaian penghasilan untuk asuransi, ya?  Terutama nanti saat memiliki anak #cieee sekarang mikirnya anak =)) Tuntutan hidup semakin hari semakin tinggi. Kadang ada ketakutan, bagaimana nanti anak kami menghadapi masa depannya. Mampukah kami mempersiapkan pendidikannya dengan baik, memastikan dia bisa mendapatkan pengobatan saat sakit, dll. Maka, muncullah keinginan untuk lebih tau tentang asuransi.
Tapi saya gak memilih bertanya pada teman yang gabung sama sebuah perusahaan asuransi untuk belajar. Saya pengen tau dulu seluk-beluk asuransi secara objektif. Kalau cari infonya ke teman yang gabung sama salah satu perusahaan asuransi, pasti fokusnya dia adalah: menarik saya sebagai nasabah. Info yang diberikan juga pastinya yang baik-baik aja dong. Maka, saya pengen belajar sendiri, dari sudut pandang objektif, tanpa ada tendensi ‘merayu’ saya agar jadi nasabah.

Maka, pilihan terbaik adalah belajar melalui internet. Sumber belajar paling simpel saat ini, tanpa takut dia marah kalau kita tanya-tanya terus, dan bisa kita mintai informasi sebanyak yang kita mau. Lalu, mulailah saya browsing-browsing, dan ketemulah saya dengan www.futuready.com. Futuready yang awalnya saya kira merupakan satu produk asuransi, ternyata bukan. Futuready merupakan broker asuransi online pertama yang memegang lisensi resmi dari OJK. Ada beberapa perusahaan asuransi yang bergabung dengan Futuready. Di www.futuready.com, kita juga bisa mencari produk asuransi sesuai kebutuhan kita – asuransi kesehatan, kecelakaan atau perjalanan – lengkap dengan informasi variasi pilihan preminya dan limit klaimnya.



Yang paling menyenangkan bagi saya yang sedang ingin tau tentang seluk-beluk asuransi adalah konten futuready yang sangat informatif. Futuready menyajikan artikel tentang asuransi dan proteksi juga tentang kesehatan serta keuangan. Selain itu, ada juga futurepedia yang berisi berbagai istilah tentang seluk-beluk dunia asuransi, yang disajikan sesuai dengan abjad. Wow, kurang informatif apa coba? Bagi saya yang  tadinya sama sekali buta tentang asuransi, membuka futuready mampu membuka wawasan tentang dunia asuransi dengan cukup efektif. Ada juga futureexpert yang berisi tanya-jawab tentang berbagai masalah kesehatan, dan futurator yang memfasilitasi kita untuk memprediksi seberapa besar resiko kita atas suatu penyakit. Hihi, keren banget ya ini web =))

Setelah belajar tentang asuransi, memang gak ada salahnya sih mulai memikirkan untuk memiliki asuransi untuk membuat diri semakin merasa aman. Tapi tetap lihat kondisi keuangan juga kali, ya. Hehe. Untuk saat ini, asuransi mungkin belum menjadi prioritas, tapi seenggaknya saya sudah punya wawasan tentang seluk-beluk asuransi.

Cerita Tentang Dia dan Alfamart

on
Kamis, 02 Juni 2016
Konon, pernikahan akan mampu mengubah seseorang. Entah berubah menjadi lebih baik, atau sebaliknya. Dulu saya setengah gak percaya. Masa’ sih? Kok bisa? Kenapa harus berubah?

Setelah merasakannya sendiri, saya percaya. Percaya banget. Di umur pernikahan yang belum genap satu bulan saja, sudah banyak hal yang berubah dari saya. Meski baru perubahan-perubahan kecil. Dulu, saat bangun tidur saya gak langsung merapikan tempat tidur. Ada saja alasan yang membuat saya menundanya. Sekarang, seperti sudah otomatis bangun tidur tempat tidur harus kembali rapi. Dulu, saya menyetrika baju saat baju tersebut akan saya pakai. Sekarang, jelas gak mungkin, karna sekarang saya gak cuma mikirin baju saya sendiri. Konon lagi, perubahan-perubahan itu akan juga menyentuh hal-hal yang jauh lebih besar seiring semakin lamanya umur pernikahan. Tentang karakter salah satunya.

Selain tentang perubahan diri, pernikahan juga menuntut kita melakukan penyesuaian dan kompromi. Kata seorang teman, tiga bulan pertama pernikahan adalah masa-masa terberat dalam fase penyesuaian dan kompromi ini. Jika gak disadari sejak awal dan saling menyadari, fase ini bisa menjadi fase yang cukup berat dan menyesakkan. Contohnya tentang hal sepele tentang kebiasaan tempat berbelanja antara saya dan suami. Si mas suami dan keluarganya jauh lebih sering, bahkan selalu mengusahakan untuk berbelanja di Alfamart. Sedangkan saya lebih sering berbelanja di yang satunya. Setelah menikah, Mas Suami menekankan pada saya untuk berbelanja di Alfamart saja. Saya yang dasarnya agak keras kepala dan ngeyelan gak begitu saja nurut. Kenapa harus Alfamart? Bukannya sama saja?

Lalu Mas Suami pun berusaha menjelaskan alasannya memilih Alfamart, sesuai dengan apa yang dia tau. Kata Mas Suami, program donasi dari konsumen (pernah kan ditanya ‘kembaliannya boleh disumbangkan bla bla bla’?) yang dilakukan oleh Alfamart lebih transparan penyalurannya. Berita-berita tentang penyaluran donasi ke beberapa lembaga keagamaan jujur sempat membuat resah – meski kebenarannya belum terbukti. Bukan apa-apa sih, kita pengen hati-hati saja. Ini soal prinsip dan keyakinan ya, gak perlu diperdebatkan =))


Setelah dapet info dari Mas Suami, saya yang ngeyelan ya tentu gak begitu saja percaya dong. Hehe. saya berusaha mencari informasi tambahan. Selain dari hasil browsing, saya juga sengaja mengunjungi www.alfamartku.com yang merupakan website resmi Alfamart. Di sana saya bisa melihat berbagai program yang pernah dilakukan oleh Alfamart. Salah satunya adalah bertepatan dengan momen peringatan Hari Pendidikan Nasional beberapa minggu lalu, Alfamart menyalurkan sebanyak 2.293 kacamata serta 1.500 perlengkapan sekolah kepada para siswa di wilayah Jakarta, Malang dan Deli Serdang. Penyaluran kacamata gratis tersebut merupakan hasil penggalangan dana masyarakat melalui program “Bright Eyes Bright Future”. Selain itu, Alfamart juga pernah menjalankan program pembangunan rumah layak huni yang dinamakan Kampung Alfamart di beberapa kota. Dalam menjalankan program-program sosial ini, Alfamart gak berjalan sendirian. Alfamart menggandeng beberapa lembaga sosial-kemanusiaan seperti Habitat for Humanity Indonesia (HFHI) dan Yayasan Berani Bhakti Bangsa.

Setelah membaca sendiri program-program kemanusiaan Alfamart dari website resmi mereka – bukan sekedar hoax, saya jadi gak bisa ngeyel lagi sama Mas Suami. Hehe. kalau memang programnya dan penyalurannya jelas serta transparan, kami sebagai konsumen tentu saja gak akan ragy mengiyakan saat kasir bertanya tentang bolehkah kembalian receh kami didonasikan. Yang kadang bikin ragu kan ketika kita bertanya ke mana donasi itu akan disalurkan, si kasir menjawab tidak tahu dengan wajah ragu-ragu. Jadi, sekedar catatan, sepertinya penting juga memberi informasi pada kasir tentang program yang sedang dijalankan, agar saat ada konsumen bertanya, mereka bisa menjawab dengan meyakinkan =))

Ketika Hobi Masak Kembali Menggelora

on
Rabu, 01 Juni 2016
 Kata Mbak Rohma Mauhibah – seorang penulis buku ajar Matematika asli Jepara – hobi wanita itu bertransformasi dari waktu ke waktu. Bagi wanita yang baru menikah, biasanya hobi barunya adalah memasak. Semangat banget nyoba berbagai resep demi mempersembahkan makanan yang lezat hasil karya sendiri pada sang suami. #Eaaaa :D

Dan hal itu sepertinya terjadi pada saya. Sebenernya masak bukan hobi baru sih. Dari dulu saya lumayan suka masak. Hanya saja beberapa bulan kemarin hobi itu tersisihkan oleh kegiatan-kegiatan lain (entah apa). Nah, setelah menikah, tiga minggu terakhir ini keinginan untuk kembali memasak kembali menggelora. Meskipun masaknya jadi sambil was-was, takut rasanya gak karuan. Kalau dulu rasa gak karuan sih santai. Beda sama sekarang. Karna akan ada suami dan ibu mertua yang menilai. Ahihihi. Tapi so far so good, Alhamdulillah =))

Hobi masak saya itu cenderung ‘unik’. Saya lebih suka coba-coba resep masakan yang ‘aneh-aneh’. Yang gak biasa ditemui sehari-hari lah pokoknya. Sedangkan ibu saya pengennya saya masak yang ‘wajar-wajar’ saja. Sayur bayem, sup, mendoan – semacam itu lah. Menurut ibu saya, resep-resp yang saya coba tuh resep-resep boros dan ribet. Harus ada susu lah, keju lah, dll. Peminatnya juga cenderung minim kalau di rumah. Maklum lah ya, keluarga saya lidahnya masih tradisional banget – kecuali keponakan saya. Nahh, beda dengan keluarga suami saya – terutama suami saya sendiri. Dia sih lidahnya lidah bunglon – makanan kota oke, makanan desa sikaaattt. Haha. Jadi, saya merasa hobi masak saya mendapat apresiasi yang sangat baik.

Kemarin, saya nyoba bikin sandwich. Pakainya roti tawar, isinya daun selada, sosis, bawang bombai dan keju. Sayangnya bentuknya kurang cantik (jadi gak difoto :D), karna saya belum berhasil bikin dua sisi rotinya menangkup sempurna -_- jadi bubar gak jelas gitu deh. Agak gosong juga. Haha. Pagi ini saya masak potato cheese. Kurang sempurna juga sih, karna instruksi aslinya seharusnya dipanggang. Tapi berhubung takut teflonnya gosong kalau buat manggang, akhirnya dikukus deh. Hehe. Tapi rasanya tetep oke kok. Kayaknya bakal lebih oke kalau kejunya diganti mozarella. Tadi saya pakainya quickmelt sih =)) Berhubung harus buru-buru berangkat kerja, kelupaan difoto lagi deh. Hiks.

Nahh, mumpung kerjaan lagi agak selow, akhirnya nyari-nyari ide lagi – mau masak apa besok. Hehe. Kayaknya besok pengen nyoba bikin hotdog deh. Entah kenapa akhir-akhir ini lagi pengen makan yang daging-daging gitu. Kalau jajan steak terus kan boros. Dan kami (saya dan suami) lagi pengen ngurangin jajan junk food – gak sehat kan, ya! Jadi solusinya ya berusaha bikin sendiri. Bumbu hotdog (Baca: Disclosure) juga ternyata gak susah kok. Simpel. Kalau pengen lebih simpel lagi, ternyata ada loh yang menyediakan bumbu hotdog instan, tanpa MSG pula. Haha. Cocok banget kayaknya buat yang hobi masak, tapi gak tetep gak mau yang ribet kayak saya. Hihi.

Saya gak tau sih hobi masak saya ini akan bertahan dalam jangka panjang, atau cuma anget-anget suam kuku aja. Yang jelas, sekarang saya tau rasanya saat ada orang yang dengan lahap memakan apa yang kita masak dengan pandangan berbinar-binar. Duh, seneng banget, bikin meleleh =’) Dan saya juga jadi tau, bahwa tugas untuk membuat berat badan suami menjadi ideal itu beraaatttt banget. Karna nyatanya, saya seneng lihat dia makan dengan lahap. Apalagi jika yang dimakan dengan lahap adalah makanan hasil karya tangan saya =))

Ketika Rindu dan Pulang Tak Lagi Berjalan Beriringan

on
Selasa, 31 Mei 2016
Sudah jalan tiga minggu saya gak pulang. Pulang ke rumah yang saya kenal sebagai 'rumah' sejak pertama saya mengenal kata rumah. Saya harus memperjelas, karna sekarang saya punya lebih dari satu rumah.

Tiga minggu tuh rekor banget buat saya. Hampir belum pernah kayaknya. Dulu, dua minggu gak pulang aja saya nangis-nangis. Sekarang? Ini akhirnya nangis juga =)) Tapi gak segundah dulu sepertinya. Mungkin karna saya punya alasan kuat demi apa dan untuk siapa saya gak pulang.

Saya masih ada di kota yang sama dengan saat sebelum menikah. Tapi gak tau kenapa, saya merasa semakin jauh dari rumah. Mungkin karna saya sadar, semua sudah gak sama lagi. Kalo dulu, pengen pulang ya pulang. Sekarang sudah gak mungkin. Ada ijin yang harus saya dapat terlebih dahulu, dan ada berbagai pertimbangan yang harus saya pikirkan. Awal saya menyadari tentang ini -- tentang saya yang gak bisa lagi pulang kapanpun saya mau -- ini perkara yang cukup berat buat hati saya. Seperti dibangunkan paksa saat tengah tertidur amat lelap. Bisa bayangkan, kan? Karna tadinya saya gak kepikiran. Saya pikir nikah ya nikah aja. Gak akan ngaruh soal agenda pulang ini. Jadi bisa dibilang persiapan hati yang saya lakukan mendadak.

Dulu, setiap merasa rindu, saya akan segera pulang. Kini, rindu dan pulang tak lagi berjalan beriringan.

Selalu ada hikmah di balik segala yang terjadi, saya percaya itu. Hikmahnya, semakin saya merasa jauh dari rumah, semakin saya tau betapa berharga rumah itu beserta semua penghuninya. Semakin saya gak bisa pulang sesuka hati, semakin saya tau bahwa rumah itu adalah tempat pulang paling nyaman setelah semua kelelahan rutinitas. Bukan berarti rumah saya yang lain gak nyaman. Kata 'paling' itu menunjukkan ada yang lain yang juga nyaman :)

Ya, Paling nyaman, gak peduli seberapa pas-pasannya fasilitas yang ada di dalamnya. Paling nyaman, karna saya gak perlu mengkhawatirkan apapun saat di sana. Saat PMS seperti saat ini misalnya. Dulu, waktu masih di rumah, saya akan menuruti keinginan tubuh dan hati saya untuk seharian di kamar hanya tidur-tiduran. Sekarang gak mungkin, karna memang gak seharusnya. Saya punya kewajiban dan tanggung jawab yang gak mungkin saya terlantarkan begitu saja hanya karna saya lagi PMS.

Tapi mungkin bener. There is no growth in the comfort zone (Baca juga: TUMBUH). Kalo terus-terusan ada di rumah, mungkin saya gak akan 'tumbuh'. Mungkin saya akan terus-terusan jadi orang yang gak tau gimana seharusnya jadi 'wanita' dengan segala tugas dan tanggung jawabnya. Karna di rumah itu ada malaikat yang terlihat, yang akan selalu senang hati melayani saya, hingga kadang tak kuasa bersikap tegas demi mendidik saya agar tak terus terlena menjadi putri kecilnya. Ya, dia ibu saya.

Saya ridho ada seseorang yang kini mengatur ritme pulang saya. Saya ridho, Insya Allah. Kalo saya sedikit ngeluh kayak gini, bukan berarti saya gak ridho. Saya hanya sedang berproses membuat hati saya terbiasa. Dan menulis di sini, selalu menjadi self-healing yang ampuh buat saya. Demi Allah ini bukan tentang saya gak nyaman atau gak krasan di rumah saya yang sekarang. Saya nyaman. Saya krasan. Saya hanya sedang rindu.

3 Keuntungan Membeli Baju Lebaran Sebelum Ramadhan Tiba

on
Senin, 30 Mei 2016

Ramadhan sebentar lagi... *nyanyi pake nada salah satu iklan TV* :D

Selalu ada perasaan berbunga-bunga ya setiap Ramadhan hendak tiba. Apalagi kalau iklan sirup mulai bertebaran, wuihh, makin berasa banget suasana Ramadhannya.

Semoga sih kebahagiaan menyambut Ramadhannya gak hanya karna alasan sepele-sepele gitu, ya. Jadwal-jadwal buka bersama, berburu takjil yang lezat, berbagai kue kering, dll. Tapi kalau hal-hal tersebut bisa menjadikan suasana Ramadhan semakin terasa dan merasuk ke dada, gak ada salahnya menurut saya. Sekali lagi, asal gak menjadikan hal-hal seperti itu motivasi utama saat menyambut datangnya bulan penuh keberkahan.

Satu hal lagi yang gak bisa dipisahkan saat Ramadhan tiba adalah bayangan tentang baju baru untuk lebaran nanti. Haha, iya gak sih? Gak peduli umur sudah bukan anak-anak lagi, kalau lebaran tanpa baju baru jujur rasanya hampa. Lebaran itu kan hari rayanya kita. Sudah sepatutnya, kan, kita menyambutnya dengan istimewa, termasuk dalam hal penampilan? Asal gak berlebihan aja menurut saya :)

Beuhh, Ramadhan aja belum, sudah ngomongin baju baru aja. Hahaha. Tapi saya memang punya konsep baru hasil doktrinan kakak perempuan saya. Kalau kebanyakan orang mencari baju untuk lebaran saat sudah memasuki bulan Ramadhan, atau mendekati lebaran, kakak saya punya konsep berbeda. Ia mengajari saya untuk nyari baju lebaran justru sebelum masuk bulan ramadhan. Kenapa gitu? Nahh, kakak saya punya beberapa alasan.

1. Biar Ramadhan bisa fokus ibadah

Kalau sebelum ramadhan kita sudah beli baju lebaran, otomatis saat ramadhan kita gak perlu mikirin soal itu lagi, kan?! Sudah tenang. Haha. Jadi, gak perlu lagi deh ninggalin sholat tarawih cuma gara-gara mau nyari baju lebaran. Apalagi kalau nyarinya mepet lebaran, duh, sayang banget! Kan 10 hari terakhir bulan ramadhan itu istimewa :)

2. Mumpung stok masih aman

Karna Indonesia merupakan  negara dengan jumlah muslim yang besar, dan sebagiaan besarnya masih punya kebiasaan memakai baju baru saat lebaran, ya tentu saja itu bikin stok baju yang oke akan semakin menipis mendekaati lebaran. Menurut pengalaman, semakin mendekati hari lebaran, stok baju yang tersedia semakin gak oke kualitasnya. Ya karna yang berkualitas udah lebih dulu diambil orang. Nah, makanya mencari baju lebaran sebelum bulan ramadhan tiba lebih aman dan leluasa untuk kita memilih baju yang oke punya.

3. Gak perlu desak-desakan di Mall

Ada yang bilang, pada bulan Ramadhan itu semakin tua tanggalnya semakin sepi masjidnya, tapi semakin rame Mall-nya. Haha, bisa aja! Tapi memang iya loh. Pernah gak ke Mall tanggal 15 Ramadhan ke atas? Beuuuhhh, naudzubillah ramenya. Apalagi buat saya yang langsung pusing kalau lihat keramain. Nah, kalau beli baju lebarannya sebelum ramadhan kan Mall belum seberapa ramai (asal bukan malam minggu, hihi). Kalau mau lebih amannya sih beli online aja kali, ya! Yah, hari giniii... apa sih yang gak bisa dilakukan sambil gegoleran di kasur? Apalagi Cuma beli baju lebaran. Tinggal klik Lazada.co.id (baca: Disclosure) yang bisa kamu pilih-pilih, order deh. Beres! Gak perlu pusing dan desak-desakan 

Jadi gimana, mau beli baju lebaran sekarang atau nanti-nanti aja? Keputusan tetap ada di tangan kalian sih tentunya  eh, sekali lagi... ingat ya, jangan jadikan baju lebaran sebagai motivasi utama untuk menyambut bulan Ramadhan.

Signature

Signature