Sepotong Hikmah dari 'Mbah Temi' dan 'Bu Jamilah'

on
Kamis, 05 April 2012
Setelah (dengan ijin Alloh) berhasil menyelesaikan studi S1-ku, aku menghabiskan masa menanti wisuda dirumah, sembari memulai langkah berikhtiar mencari kerja. Masa-masa yang, jujur saja terkadang terasa amat membosankan. perasaan jenuh yang terus-menerus menekan, tentu saja tidak baik kalau dibiarkan. Maka, aku mencari pelarian. Bukan, tentu saja bukan narkoba.hehe...
Aku berusaha mendayagunakan waktuku sebisa mungkin untuk hal-hal yang menurutku bermanafaat. Selain itu, aku mencoba menghidupkan kembali kebiasaan-kebiasaan baik yang karna satu dan lain hal (terutama karna males) sempat beberapa waktu aku tinggalkan. Dan salah satu kebiasaan yang sedikit demi sedikit kembali aku tanamkan adalah: Sholat berjama'ah ke masjid.

Rumahku amat dekat dengan masjid. Yaah... langkah dari rumah lah... *kaya' judul lagu dangdut ya?!*. Tapi bukan tentang itu yang ingin aku ceritakan saai ini, dalam tulisan ini. Aku ingin bercerita tentang hal lain, yang semoga menghamparkan jauh lebih banyak ibrah.
Jumlah jama'ah wanita sholat 5 waktu di masjid dekat rumahku tidak terlalu banyak. Yaa... rata-rata 2 Shaff lah. Jadi tidak terlalu sulit untuk memperhatikan siapa-siapa yang terbilang rutin sholat berjama'ah. Di antara tidak banyak orang-orang yang istiqomah sholat berjamaah itu, ada 2 orang yang amat menarik perhatianku, serta menyentuh sisi terdalam hatiku. Sebutlah ia Mbah Temi dan Bu Jamilah.

Mbah Temi. Tahukah kalian... ia adalah seorang wanita renta. Umurnya sepertinya sudah melewati angka 80. Dan berkat karunia Alloh, beliau masih teramat sehat. Namun, se-sehat-sehatnya seorang renta, bisa kalian bayangkan seperti apa fisik dan staminanya?! Padahal rumahnya tidak bisa dikatakan dekat untuk ukuran beliau. Belum lagi kontur jalannya yang naik turun. Dan Mbah Temi, hampir tak pernah meninggalkan sholat jama'ah di masjid, subuh sekalipun. Ia segera beranjak ketika adzan dikumandangkan, memaksa tubuh tuanya untuk sepenuhnya mengabdi pada Robb-Nya, semampu yang ia bisa. Lalu, bagaimana dengan kita para anak muda dengan stamina prima??? Tidak malukah kita jika masih saja terus menurutkan rasa malas yang memang sering amat keterlaluan menjajah diri kita???

Bu Jamilah. Ia seorang janda yang hidup sebatang kara. 2 anak perempuannya sudah berumahtangga, sedang anak lelaki satu-satunya merantau ke ibu kota, menjemput janji masa depannya. Bu Jamilah pernah terserang stroke beberapa tahun lalu. Tubuh bagian kanannya sudah dinyatakan lumpuh. Tapi dengan kekuasaan Alloh, Bu Jamilah dapat kembali berjalan dengan perantara ikhtiar pijat syaraf yang di lakukannya. Tentu saja jangan pernah membayangkan Bu Jamilah berjalan sebagaimana kita berjalan. Ia berjalan amat tertatih, dengan bantuan tongkat kayu seadanya. Tapi lihatlah, tidak jauh berbeda dengan Mbah Temi, ia selalu ada diantara para manusia yang bersama-sama bersujud menyembah Tuhan-Nya. Bahkan, sekali waktu aku melihat ia bermunajat di masjid di jam-jam sholat dhuha. Sekali lagi, lalu bagaimana dengan kita para anak muda??? Bukankah nikmat sehat masih melekat utuh dalam raga kita?!

Ayolah... Tak usah berdebat soal 'bukankah wanita lebih utama sholat dirumah' dan hal-hal semacamnya. Biarlah itu menjadi urusan Alloh. Cukuplah mengambil hikmah serta ibroh dari membaranya semangat mereka untuk mempersembahkan bakti untuk Sang Pencipta-Nya, untuk kita ambil lalu kita transformasikan menjadi amal sholeh kita.

Ya... Semoga kita tidak lantas menunggu hingga sama rentanya dengan Mbah Temi atau sama payahnya dengan kesehatan Bu Jamilah untuk memulai langkah untuk mengistiqomahkan sunnah-sunnah, terlebih yang wajib... untuk kita pegang kuat-kuat hingga ia takkan terlepas, bahkan sampai nyawa yang lebih dahulu terlepas dari raga ini.


Wallahu a'lam bishawwab, 
Yang menulis belum tentu lebih baik dari yang membaca


Rosa

Saya Bangga Kuliah di UNISSULA!!!

on
Senin, 02 April 2012

Ya… saya bangga kuliah di Unissula! Angkuh sekali ya kelihatannya. Tapi itulah yang saya rasakan. Sekali lagi, saya bangga kuliah di Unissula. Tidak peduli seberapa banyak orang yang memandang sebelah mata. Tidak peduli seberapa banyak orang meremehkan. Ada yang memandang remeh karna Unissula bukanlah Universitas Negeri. Ada pula yang memandang sebelah mata karna letak geografis Unissula yang ada di ‘pinggiran Semarang’. Sekali lagi, saya tidak peduli!
Saya tidak pernah keberatan kalau saya dianggap ‘kurang pintar’ sehingga tidak bisa diterima di Universitas negeri. Toh kenyataannya saya memang tidak terlalu pintar, bisa dibilang bodoh malah. Tapi saya amat tidak terima kalau orang – orang meremehkan Unissula hanya karna embel – embel ‘negeri’ yang tak dimilikinya. Hei, tahukah kalian… saya memiliki banyak teman yang kualitas intelektualnya saya yakin amat berani bersaing dengan mereka – mereka yang diterima di universitas negeri paling terkemuka di Semarang sekalipun. Ah, saya kira mereka bahkan bisa saja lebih unggul.
Tulisan ini saya buat insyaallah sama sekali bukan dengan niat menyombongkan Unissula, atau mencibir pihak lain. Saya hanya ingin mengungkapkan ganjalan hati saya yang merasa ada banyak ketidakadilan ‘pandangan’ atas kami yang kuliah ‘hanya’ di universitas swasta. Padahal, bukankah sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak yang bisa kuliah di universitas negeri semata karna ia memiliki materi lebih?! Bukan lantas ia benar – benar ‘unggul’.
Saya bangga kuliah di Unissula. Unissula menjadi perantara bagi banyak sekali hidayah di hidup saya. Allah menggerakkan hati saya untuk menutup aurat sebagaimana mestinya saat saya ada di Unissula. Saya bertemu dan mengenal banyak sekali wanita sholihah yang tidak disibukkan dengan perkembangan mode yang kian membabibuta saat saya ada di Unissula. Saya mendapat ilmu dunia yang disandingkan dengan ilmu akhirat saat saya ada di Unissula.
Ya, bagi saya yang awam ilmu agama Unissula adalah samudra hikmah. Bagi saya yang masih jauh dari berakhlak mulia, Unissula merupakan cahaya hidayah yang berpendar menyejukkan. Tidak seperti universitas umum seperti umumnya, yang konon memiliki pengaturan jam mata kuliah yang menerjang waktu – waktu sholat merupakan hal yang amat biasa. Di Unissula, sholat berjamaah di galakkan. Jika di beberapa universitas umum masih ada beberapa pihak yang mengintimidasi wanita – wanita berjilbab, maka di Unissula berpakaian sesuai syari’at sangat di anjurkan. Kalaupun toh akhirnya ada yang tetap tidak sholat meski jam kuliah sudah di atur amat bersahabat, bukankah itu pilihan masing – masing individu?! Kalaupun toh ada yang tetap ‘berjilbab tapi telanjang’ bukankah itu pun juga pilihan?! Ketika jalan menuju kebaikan sudah di buka lebar – lebar, bahkan didukung serta di anjurkan, tapi ada beberapa orang yang tetap keras kepala memilih ‘jalan lain’, bukankah itu sudah menjadi urusan masing – masing orang?!
Saya bangga kuliah di Unissula! Tidak peduli seberapa banyak orang meremehkannya. Bukankah sudah sejak lama manusia amat pintar membuat ukuran – ukuran keduniawian yang keterlaluan. Menganggap nilai A adalah pintar, dan nilai D adalah memalukan, tanpa pernah mempedulikan bagaimana cara mereka mendapatkan. Ah, tapi bukankah memang hanya Allah yang Maha adil menilai kedudukan setiap orang?!
Terakhir, ijinkan saya menekankan… KEBERKAHAN ILMU amat jauh lebih penting diatas segalanya, dibanding sekedar memperhatikan sebuah universitas memiliki embel – embel negeri atau bukan. Dan ‘negeri’ atau ‘swasta’ tak pernah menjadi variabel yang mempengaruhi berkah atau tidaknya sebongkah ilmu.
Mohon samudra maaf atas khilaf, jika ada kata – kata yang dirasa terlalu pedas.
Wallahu a’lam Bishowwab…

Rosa
Pancur, 25 Maret 2012
**terinspirasi obrolan via sms dg seorang teman

Rintih Hati

on
Senin, 12 Maret 2012
Doa setelah sholat dhuha:
“Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagunan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Wahai Tuhanku, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh”.

**Allahu Robbi... semoga Engkau senantiasa mengukuhkan hatiku, menjaganya, hingga takkan pernah sedikitpun keyakinan atasMU tergoyahkan... keyakinan bahwa Engkau Maha Kaya, bahkan di tengah sesempit apapun keadaanku.
Duh Allah, Rabb semesta alam... semoga Engkau berkenan untuk menjagaku selalu dari kekejaman waktuu luang yang seringkali menjerumuskan pada kemaksiatan.

Langit yang teramat  luas, bahkan teramat mudah Engkau tegakkan tanpa satu-pun tiang Robb... maka itu, aku percaya... teramat percaya bahwa teramat mudah pula bagiMU mengijabah setiap helai do'aku. Dan kepercayaan itu, semoga senantiasa berbanding lurus dengan kepercayaan-kepercayaan lain atasMU: bahwa Engkau Maha pengabul do'a hamba-hamba yang mau meminta padaMU, dan bahwa apapun yang Engkau kehendaki atas hambaMU adalah selalu yang terbaik....

Engkau Maha Tahu Robb... sedangkau aku tak tahu...
Sungguh aku tak sedikitpun memiliki daya upaya Robb... melainkan dengan pertolongan dariMU...
Semoga Engku Ridho padaku...

Rhosa Al-Rosyid
bersama mendung yang menggelayut di hati dan langit,
Pancur, 12 Maret 2012

Penghujung Kisah Strata Satu-ku (3)

on
Senin, 05 Maret 2012
Bismillahirrahmannirrahiim…
Bercerita tentang penghujung kisah strata satu – ku, tentu saja ada satu hal yang tak boleh terlewatkan untuk turut di bagi. Berharap member manfaat dan pencerahan, entah sekecil apapun itu.
Hari itu, siang menjelang sore tanggal 02 februari 2012, aku dan teman – temanku dating ke kampus. Salah satu dosen, yang kebetulan juga pembimbing skripsiku, Bapak DR. Kiryanto, SE, Msi, Akt berbaik hati bersedia meluangkan waktunya untuk memberi tambahan ‘refresh’ untuk kami menjelang ujian pendadaran, atau biasanya di kenal dengan istilah ujian kompre.
Saat usai membahas beberapa soal yang kami belum paham tentang mata kuliah akuntansi biaya, beliau bertanya, “Sudah tahu siapa besok pembimbingnya?.” Kami spontan menjawab belum, karna memang nama penguji sebenarnya baru akan di umumkan sore hari. Dengan irama jantung yang mulai tak tentu, aku meminta ‘bocoran’ pada beliau yang sudah memegang jadwal untuk pendadaran esok hari.
Kembali beliau berbaik hati, dan menuruti permintaanku. Nama yang beliau sebut pertama adalah namaku. Dan seketika itu, tubuhku menggigil, ketika beliau membacakan 2 dari 3 nama dosen yang tak pernah aku bayangkan dan menjadi momok menakutkan bagi banyak orang justru disebutkan sebagai dosen pengujiku esok. Seketika aku menangis, sesak dicengkeram rasa takut yang teramat. Bayangan – bayangan tentang kemungkinan terburuk berkelebat amat menakutkan. Harus bagaimana aku ceritakan pada keluarga jika kemungkinan itu terjadi?!
Aku pun mencoba mencari dukungan semangat. Selain dari sahabat – sahabatku tercinta yang saat itu ada bersamaku, aku juga mengirim sms kepada kakak – kakakku.
“Mbak, nyaliku ciut banget, aku takut…” itu salah satu sms – ku pada kakak perempuanku.
Tak berapa lama, balasan datang. “jangan ciut!! Kamu lupa kamu punya Allah? Kamu lupa Allah itu Maha? Minta pertolongan sama Allah dari hati terdalam, lalu yakin bahwa semua yang terjadi itu yang terbaik!”
Subhanallah walhamdulillah… aku amat bersyukur cahaya hidayah itu segera menyentuh qolbuku. Sms itu amat menyentakku. Aku tersedu, bukan lagi karna takut, tapi karna aku mulai menyadari sesuatu. Tentang imanku yang ternyata masih teramat rapuh, tentang tawakkalku yang ternyata tak lebih dari setebal kulit bawang, tentang aqidahku yang masih teramat mudah goyah. Astaghfirullah…
Kesadaran serta pemahaman itu kemudian datang bertubi – tubi, menghujam dalam hati. Aku lalu mulai meraba, bahwa mungkin saja Allah hendak menguji imanku atas keputusan tentang 3 pengujiku esok hari. Da ternyata, tanpa sadar aku sempat lupa tentang ke – MAHA-anNYA. Betapa aku juga sempat lupa bahwa lulus atau tidaknya aku, sama sekali bukan berasal dari dosen – dosen penguji itu, melainkan dari – NYA. Betapa aku juga sempat bertanya, “Rabb, bukankah aku meminta agar mendapat penguji yang baik hatinya?!.” Betapa di hatiku juga sempat tersemai rasa iri pada teman – teman yang mendapat dosen penguji yang komposisinya jauh lebih menentramkan hati. Ah, ampuni hamba Rabb…
Aku lalu merekonstruksi hati dan pikiranku. Mengokohkan keyakinan bahwa kekuasaan Allah meliputi langit dan bumi. Bahwa hati para dosen penguji ada dalam genggam kekuasaan – Nya yang Maha memiliki kasih tak bertepi.
“Menegakkan langit tanpa satu – pun tiang pun mudah bagi Allah, apalagi sekedar membuatku lulus meski di uji dosen paling di takuti?!” ucapku dalam hati, tak henti – henti.
“Rabb… Engkau tahu aku lemah. Engkau tahu aku tak mampu jika tanpa pertolonganMU. Engkau tahu aku tak bisa jika tanpa belas kasihMU… bantu aku Rabb, bantu aku…” itu sepenggal rintihan yang terus aku lirihkan sepanjang malam.
Subhanallah walhamdulillah… betapa Maha Rahman – RahimNYA memang seluas langit dan bumi. Untuk aku, hamba yang masih teramat sering melalaikanNYA saja Allah tak henti – hentinya mencurahkan rahmat – NYA. Dan benarlah, bahwa Allah tak pernah sekalipun ingkar atas semua janjiNYA. Bahwa IA, akan mengabulkan setiap pinta dari hamba – hambaNYA yang mau meminta. Subhanallah walhamdulillah…
Maka, jika hari ini aku sampai pada titik ini, dan mampu menyelesaikan 3,5 tahun dengan baik, dengan segala kurang lebihnya, aku tahu bahwa itu semua adalah berkat pertolongan Allah. Laa hawla walaa kuwwata illa billah…
*Beri aku kemampuan untuk terus mengeja hikmah – hikmahMU yang terserak, dan mampu mensyukuri tiap jenak nikmat yang tak terhitung dariMU Rabb…*

Semoga bermanfaat,
Di tengah dingin dan syahdunya udara pagi,
Pancur, 04 Februari 2012

Aku Pernah Menangis Karena...

Aku pernah menangis karena kamu yang tak jua mengerti atas keputusanku. Yang tak juga percaya bahwa ini tak hanya berat untukmu, melainkan juga untukku.
Aku pernah menangis karena sebuah kesadaran atas perbedaan. Perbedaan yang sama – sama membangunkan kita pada sebuah kedewasaan bahwa bersatu, adalah sebuah ketidakmungkinan.
“Perbedaan ini seharusnya tidak menjadi penghalang untuk kita!” itu katamu.
“Perbedaan ini adalah hal utama yang membuatku mampu mengambil keputusan se – menyakitkan ini!” itu jawabanku.
Bersatu denganmu adalah salah satu episode yang amat aku inginkan untuk ada dalam lembaran sejarah hidupku. Duduk bersama menikmati senja, saling menggenggam tangan menguatkan saat badai menerpa, lalu tersenyum memaklumi kala pikun telah menjadi karib kita. Tapi kamu harus tahu… bahwa aku memiliki impian yang jauh lebih aku inginkan dari itu semua. Tersenyum sambil bercengkrama di atas dipan – dipan, menikmati aliran sungai yang airnya lebih lembut dari susu serta lebih manis dari madu. Dan itu tak mungkin aku dapatkan jika aku tetap memilihmu sebagai pelengkap separuh hidupku.
“Lalu siapa yang salah?” tanyamu disatu senja pada pantai cinta yang menjadi tempat favorit kita.
Aku terdiam. Karna aku tahu, kamu tak butuh jawaban. Jika memang harus ada yang di salahkan, biarkan aku yang menjadi tumbal. Aku yang membukakan pintu ketika kamu mulai mengetuk – ngetuk pintu ketertarikan. Aku yang terlampau meremehkan benih keakraban yang kian hari kian memabukkan. Aku yang telah membiarkan semua harap tumbuh dan merekah bersama jalin rasa yang kian mengakar menyatukan hati kita. Aku yang pernah teramat naif   mengharapkan kamu akan bersedia berkompromi untuk menghapus semua perbedaan. Ya, mungkin memang aku yang paling patut untuk disalahkan…
“Apa memang tak lagi ada jalan?” tanyamu kemudian.
Aku menggeleng lemah, jengah. Jerih mengingat ibu dan ayahku yang amat terluka ketika asal – usulmu aku sebutkan. Payah menjelaskan bahwa tak akan ada kesepakatan yang aku iya – kan dengan tetap membiarkan perbedaan ini tetap ada.
Senja itu, kamu lalu berjalan mendekati ombak yang ramah menerjang. Aku lalu mengikutimu, berdiri terpaku tepat di belakangmu. Diam – diam, aku mengusap ujung mataku yang basah, entah oleh apa. Gundah ini sungguh amat menyiksa, ketika harus melihatmu yang pernah selalu menjadi penjaga nyala api semangatku, kini justru tampak begitu tertatih menerima semua keputusanku.
Terkadang aku tak percaya. Lalu terus bertanya, benarkah sebegitu cintanya hingga tampak amat sulit untuk menerima bahwa kita tak akan pernah berlabuh pada satu dermaga?! Kemudian kembali bertanya, murnikah semua rasa yang kamu persembahkan, karna terlalu banyak yang mengatakan bahwa tak mungkin tanpa tendensi lain atas cinta yang kamu pautkan.
Entahlah. Aku bahkan tak pernah benar – benar berusaha mencari jawaban atas pertanyaan yang memenuhi angan. Yang aku tahu, bahwa di luar perbedaan yang membentang, pribadimu sempurna untuk terus ku kenang.
Tiba – tiba kamu membalikkan badan, hingga wajah kita tepat berhadapan.
“Lalu bagaimana?” tanyamu.
“Kita cukupkan!” jawabku, sembari sekuat tenaga memejam mata, menahan bulir – bulir air yang mendesak – desak ingin segera keluar.
Kamu mengangguk – angguk samar. “Tuhan memang satu, kita yang tak sama…” begitu katamu, mengutip kata – kata dari sebuah lagu sembari menepuk – nepukkan tangan pada bahuku, seolah ingin selalu menguatkan.
Aku tersedu. Memandangmu yang segera berlalu menjauh dariku, dari pantai cinta tempat favorit kita. Memandang punggung bidangmu, yang pernah aku harapkan menjadi penyangga seluruh sisa hidupku di dunia. Hingga tak lagi nampak siluetmu di penghujung senja, aku masih dengan sedu sedan yang tak pernah ingin aku tunjukkan.
Dan hari ini, akhirnya aku tahu. Bahwa cinta memang tak pernah salah. Kita – lah yang terkadang amat ceroboh lalu menempatkannya pada tempat yang salah, yang dari kejauhan tampak begitu indah.

Pada Senja Itu (2)

on
Selasa, 28 Februari 2012
Pagi ini aku terbangun dengan senyum tersungging tipis di bibirku. Hujan lagi, amat menyenangkan. Tidak deras, tidak juga sekedar rintik. Saat beranjak bangun dari tempat tidur, aku mendapati senyummu mengembang begitu tulusnya terbingkai manis di tembok kamarku. Ah, aku berharap senyum itu tetap ada padamu.
Sebenarnya aku ingin kamu ada disini bersamaku pagi ini. Seperti biasa mendengarkanku berceloteh tentang kejadian semalam yang amat membahagiakan. “Aku akan menjadi telinga terbaikmu, kapanpun” itu kan yang selalu kamu bilang?! Ah, untuk pertama kalinya kamu ingkar. Tak apa, aku memaafkan.
Kalau pun kamu harus pergi untuk sebongkah cita seperti yang kamu bilang, kamu harus tahu aku amat ikhlas melepas. Tapi sayangnya aku menangkap kelebat dusta tergambar di bola matamu. Apa kamu lupa, aku memahamimu jauh lebih dalam melebihi kamu mengenal dirimu sendiri. Maka, ketika aku tersenyum pagi ini, tetap ada untai tanya yang amat menggangguku. “Ada apa denganmu hingga pergi menjadi sebuah pilihan yang tak boleh di tawar?”
“Kunyuk…!!!” seruku menyebut nama panggilan sayang diantara kita saat melihat siluetmu berjalan mendekat ke arah tempat duduk favorit kita di taman kota.
“Ada apa sih Nyuk ngajak ketemu sore – sore gini?? Aku capek tau’!!” ucapmu dengan ekspresi ‘pura - pura’ sebel.
“Nggak ikhlas yaa????” rajukku manja seperti biasa. Kamu tak menjawab. Hanya tersenyum, lalu mengacak – acak rambutku seperti biasa. Kamu memang tak menaggapi dengan suara, tapi sorot matamu dengan jelas mengatakan, “Nggak mungkin aku nggak ikhlas!”
“Kunyuk…. Aku seneng!!!” pekikku sembari meremas jari – jari tanganmu. Keningmu tampak berkerut. Kamu pasti heran karna jarang sekali aku terlihat sebahagia senja ini.
“Aku mau dilamar Nyuk!!! 3 hari lagi orang tuanya mau dating ke rumah….” Seketika, tanpa peduli kamu belum mempersilakan aku bercerita, kata demi kata penuh bahagia telah tumpah ruah ke telingamu.
Ah, kamu pikir aku tidak tahu perubahan air mukamu senja itu?? bahkan ketika kamu tertawa lebar dan kembali mengacak – acak rambut panjangmu, seolah hendak mengisyaratkan bahwa kamu turut berbahagia untukku. Harusnya kamu sadar, serapi apapun kamu menyembunyikan warna hatimu atasku, bagiku semua itu seterang matahari di siang hari.
Jangan kamu kira hanya kamu yang terluka. Aku justru telah terluka jauh sebelum kamu merasakannya. Aku terluka, bahkan sejak pertama kali aku menyadari kebohonganmu atas persahabatan kita. Aku terluka, karna aku takut melihatmu akan terluka. Aku terluka, karna aku tahu persis bahwa suatu hari aku lah yang justru membuatmu terluka.
Dan setelah akhirnya kamu memutuskan pergi meninggakan aku yang merasa pincang tanpamu, aku hanya berharap satu. Semoga kamu tahu… aku mengagumi segalamu. Tapi aku merasa takkan mampu mengubah perspektif perasaanku atasmu.
Ya, akhirnya hari ini mataku terbuka, dan bersedia menginsafi aneka macam pendapat orang yang meragukan kemurnian persahabatan kita.
***

Pada Senja Itu (1)

Pagi ini hujan amat menyenangkan. Tidak deras, tidak juga sekedar rintik. Dan hujan seperti ini selalu mengingatkanku tentangmu. Pada teduh pandanganmu yang tak pernah bosan aku nikmati pendarnya. Pada rengek manjamu yang selalu aku nikmati bagai lantun irama mendamaikan jiwa. Ah, sedang apa kamu disana? Biasanya selalu sms-mu yang pertama kali ku baca saat terjaga. Mengapa pagi ini tak ada? Ah iya, aku lupa… semalam kamu pasti sibuk sekali. Sibuk menyambut pangeran yang selama ini kamu impikan. Iya kan?!
Setelah semua kegagalanku membujuk hatiku untuk berani jujur padamu, setelah segenap ketakutanku yang terus menghantui tidurku jika kamu akhirnya mengetahui gemuruhnya hatiku, akhirnya aku harus mengakui bahwa ternyata aku tak cukup tegar saat harus melepasmu. Dan  pergi dari kota itu, menjadi satu – satunya jalan keluar yang mampu aku raba di tengah guitanya perasaanku.
Namun aku lega, aku bahagia. Karna sampai saat yang mengharuskan aku harus menjauh darimu, kamu tetap menyimpan namaku di hatimu sebagai sahabat terbaik tanpa celah, seperti yang selalu kamu ucapkan dulu. Aku lega, dan aku bahagia karna akhirnya kamu menemukan sebongkah hati yang tampak begitu tulus mencintaimu, yang aku yakin kan selalu menjagamu jauh lebih baik dari yang selama ini aku lakukan untukmu.
Kamu mungkin tak tahu tentang betapa luluh lantaknya hatiku senja itu. Saat binar matamu berpendar amat mengagumkan, lalu dengan nada riang menumpahkan segala cerita yang menjadi penyebab utamanya. Tapi aku berharap kamu memang takkan pernah tahu.
“Kunyuk… Aku dilamar...” pekikmu sembari meremas jari – jariku yang masih terasa gemetar setiap bertemu denganmu.
Ah, maafkan aku. Maafkan aku yang tak benar  - benar menjadi pendengar terbaikmu senja itu. Entahlah… daya pendengaranku seperi lumpuh seketika mendengar sepenggal kalimat itu.
Aku yang salah. Memang aku, bukan kamu! Harusnya aku bisa lebih membentengi hatiku agar tak seceroboh itu mencintaimu. Harusnya aku menuruti nasehatmu, bahwa selamanya aku harus menganggapmu sebagai adik dan bukan yang lain yang lebih dari itu. harusnya aku tak selemah itu membiarkan perasaanku padamu sedikit demi sedikit berbelok arah hingga akhirnya sempurna berubah hanya karna terau sering melihat tawa riang dan pendar matamu.
Aku tak tahu betapa marahnya kamu jika mengetahui apa yang selama ini aku tutupi dengan rapatnya di balik dada bidangku. Dari sejak  putih abu – abu masih jadi pakaian keseharian kita, hingga kini kemeja dan dasi menjadi gantinya, aku masih selalu sama. Amat jera melihatmu sedih atau menangis, apalagi jika itu karnaku. Jangankan melihat, membayangkan saja aku tak berani. Dan ketidakberanian itu yang membuatku lebih memilih untuk membohongimu, Meski hatiku pun bernanah karnanya. Semoga kamu memaafkanku.
***

Signature

Signature