Menguji Diri Sendiri

on
Jumat, 11 Oktober 2013

Siang tadi, tiba-tiba terbersit keinginan untuk sejenak menyingkir dari akun sosmed yg paling intens saya geluti. Apalagi kalo bukan facebook. Kenapa? Entahlah. Alasan tersimpel dan terkuat, mungkin untuk memastikan bahwa saya tidak tengah menjadi pecandu sosmed tersebut. Yang jauh lebih penting, untuk memastikan bahwa saya tidak gila sanjungan dan gila apresiasi dari sesama manusia, hingga seringkali melupakan apresiasi yang jauh lebih hakiki. Ya, jujur saya merasa semakin kosong saat melakukan sesuatu yang hanya 'berakhir' pada pujian manusia, serta membuat batas antara ingin membagi kebaikan dan menjaga eksistensi diri semakin abu-abu.

Maka, saya akan menguji diri saya sendiri. Saya ingin melihat berapa lama saya bisa menahan diri dari hingar bingar facebook.

Emm, lewat sepotong obrolan dengan seorang sahabat tadi pagi melalui whatsapp, saya juga seperti baru terjaga kembali, lalu bertanya pada diri sendiri, dimana dan seberapa besar porsi bagi Tuhan saya dalam hari-hari yang terlalui?

Rumah, 11 Oktober 2013

Segalanya Bagiku

on
Rabu, 09 Oktober 2013

Ibu...

Jika aku tak penah menulis tentangmu, itu bukan berarti aku tak mencintaimu.

Jika aku tak pernah menulis untukmu, itu semata karna tanganku selalu kelu, merasa aku belum punya cukup diksi yang mampu mewakili indahmu.

Ibu... Engkau segalanya bagiku, meski baktiku belum mencapai seujung kuku segala kasihmu untukku.

(Bukan) Review "Temui Aku di Surga"

on
Rabu, 18 September 2013
Setelah beberapa lama nggak nulis, membiarkan mimpi-mimpi kembali stagnan dan blog terbengkalai, mala mini bertekad untuk kembali menggerakkan jari jemari. Meskipun sekedar torehan yang tak bisa dikata indah, namun semoga tetap ada manfaatnya, setitik pun tak apa.

Karna untuk nulis fiksi merasa sedang nggak mungkin, maka saya putuskan untuk menulis sesuatu yang sebenarnya pernah saya janjikan pada seseorang. Bukan, saya bukan lupa. Saya masih ingat pernah berjanji pada Mbak Ella Sofa untuk me-review novel beliau yang berjudul “Temui Aku di Surga”. Tapi jujur saja saya nggak pede. Kenapa nggak pede? Banyak! Tapi yang utama,karna  saya belum pernah sekalipun me-review novel. Selama ini saya murni hanya seorang penikmat. Lalu misalpun diminta bercerita tentang isi novel yang say abaca, saya akan menceritakannya tanpa alur, loncat sana loncat sini sesuka hati saya.

Tapi janji tetaplah janji. Saya akan tetap berusaha me-review “Temui Aku di Surga” dengan gaya saya sendiri. Bagi teman-teman yang sudah terbiasa me-review atau membaca review sebuah novel, pastilah akan berkata bahwa ini (bukan) review “Temui Aku di Surga”.

Oke, langsung saja. Novel “Temui Aku di Surga” bercerita tentang dua orang pemuda bernama Yudho dan Malik yang bersahabat baik. Lewat persahabatan, mereka berdua membangun mimpi-mimpi masa depan. Mereka memulai langkah menjemput mimpi tersebut dengan bekerja sama mendirikan sebuah kios kaca. Malik punya modal, dan Yudho punya keahlian.

Seperti kebanyakan anak muda, Yudho dan Malik juga punya sisi idealisme. Terutama dalam memandang masalah-masalah berbau politis. Pejabat desa yang “itu-itu saja”, pembangunan jalan yang tidak pernah beres, kemajuan desa yang tampak nihil, dan berbagai masalah lain diam-diam menggelitik hati mereka. Dan siapa sangka, Malik tiba-tiba mengungkapkan keinginannya menjadi kepala desa pada sahabatnya, Yudho. Yudho terkejut, tapi tak urung dia pun sangat mendukung mimpi teman terbaiknya itu.
Tapi apa boleh buat. Manusia memang memiliki hak penuh untuk merangkai mimpi-mimpi kehidupannya. Tapi di atas segalanya, ada Allah yang Maha berhak untuk menyeleksi mana saja impian yang layak mendapat ACC-Nya, dan mana yang tidak. Termasuk Malik. Di tengah mimpi mulianya menjadi pemimpin desa yang jauh lebih amanah, Izrail justru mendekapnya melalui sebuah kecelakaan (tak) disengaja.

Dan Yudho serta Bapak-Ibu Malik, hanya bisa tertunduk sedih, berusaha melapangkan hati menerima suratan yang amat menyesakkan dada itu. Tapi hidup harus tetap berjalan. Sesakit apapun, Bapak-Ibu Malik serta Yudho yang dengan setia menemani mereka melewati masa sedih harus kembali bangkit. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Ketika semuaanya sudah mulai kembali berjalan normal tanpa kehadiran Malik, tiba-tiba Yudho dihampiri kesempatan untuk melanjutkan mimpi sahabatnya yang terhalang oleh ajal. Oleh para sesepuh kampong, ia di percaya untuk “nyalon” kepala desa. terkejut? Tentu saja! Yudho tak lebih dari seorang pemuda anak orang tak punya, hingga keinginan kuliah pun terpaksa ia lipat dibawah bantalnya. Dan kini tiba-tiba ia ditawari untuk menjadi kandidat orang nomor satu di Desa Randu Asri, tanah tumpah darahnya? Bahkan mereka para sesepuh kampong tak hanya bersedia menyokong spirit, tapi juga materi.

Ya, bukankah sudah jadi rahasia umum kalau “nyalon” kepala desa itu membutuhkan modal besar?! Dan darisinilah konflik utama novel ini muncul. Berbagai intrik licik, dan “kesibukan” dalam rangka  usaha memenangkan diri di paparkan dengan sederhana namun mengena. Namun bagaimanapun, kebenaran memang selalu menemukan jalannya sendiri untuk muncul di permukaan. Begitu pun dengan ending novel ini.

Yah, hanya itu yang bisa saya ceritakan. Pengen lengkap? Baca sendiri tentunya J
Novel ini sangat cocok untuk orang-orang yang suka “to the point”, nggak berbelit-belit, dan nggak banyak deskripsi yang nggak perlu. Singkat, padat dan jelas. Meski di sisi lain, jadi seperti ada kesan “tergesa-gesa” dalam pengerjaannya. Tapi saya tau itu sama sekali nggak benar. Sedikit banyak saya tau perjuangan Mbak Ella menuntun novel ini hingga ada di toko buku. Perjuangan yang selalu bikin saya malu, sekaligus termotivasi. Yang jelas, buku ini bikin saya termangu dan merenung, betapa kecurangan-kecurangan dalam dunia politik masih sangat berakar bahkan di ranah politik paling bawah.

Lalu mana kritiknya? Ya, rasanya saya terlampau tidak objektif kalau nggak mau memberikan kritik. Meski saya mulai belajar keras mengurangi “kenyinyiran” saya dalam mengkritik novel. Duhh, saya ini siapa sih… nyoba nulis novel aja belum pernah kelar, sudah sok-sok-an ngritik karya orang. Baiklah, saya punya dua catatan utama untuk novel ini. Pertama di bagian kisah cintanya, kisah cinta Hesti dan Malik yang terasa “kurang mengena” dan jadi terkesan hanya pelengkap. Kedua, tentang kejadian yang dijadikan sebuah titik balik bagi kehidupan Malik, yang juga kurang terasa mengena. Jadi waktu saya baca, saya jadi punya kesan “kok gampang banget ya tobatnya, hanya karna peristiwa seperti itu?!”

Yah, tapi di atas itu semua, saat pertama kali tau bahwa “Temui Aku di Surga” di ACC sama penerbit, saya seperti bisa membayangkan dengan jelas perasaan bahagia saat novel saya sendiri yang di ACC.

**Bahagiaku untukmu juga Mbak Ella… terima kasih untuk banyak sekali tauladan, inspirasi juga motivasinya. Eh, juga untuk pinjeman-pinjeman bukunya selama  ini. Maaf yaa kalo (bukan) review “Temui Aku di Surga”-nya Cuma kaya’ gini, dan ada yang kurang berkenan J

7 September

on
Senin, 09 September 2013

7 september...
 Hari dimana rinduku berlipat ganda, lalu membumbung ke angkasa setelah sebelumnya aku transformasikan menjadi untaian doa... Semoga kebaikan selalu untuknya...

Aku takkan lagi bertanya, "Kapan kita bertemu?". Asalkan kebahagian selimutmu, dan damai mahkotamu, cukup bagiku. Pun seperti pada Mami dan Andri... aku hanya selalu merasa butuh tau kabar kalian, meski hanya sesekali.

#Late post

Kata Mereka

on
Rabu, 04 September 2013
Saat masih berstatus mahasiswi, di suatu siang, saya pernah ngobrol-ngobrol dengan teman SMP yang kebetulan satu kampus. Kami ngobrol santai, dengan tema loncat-loncat. Bertukar info kabar teman-teman lama, soal kuliah, hingga sampai pada satu tema yang membuat saya terkenang obrolan kami siang itu hingga sekarang.

"Kamu ikut An-Nisa' ya, Sa?" tanyanya dengan agak ragu pada saya, menyebutkan nama organisasi rohis khusus cewek di kampus saya. Entah kenapa saya langsung bisa menenbak arah pembicaraan dia selanjutnya. Sebelumnya saya juga sangat menyadari bahwa sejak tadi dia sering mencuri pandang ke arah jilbab saya yang saat itu saya doble karna tipis, menatap dengan pandangan... emm, seperti pandangan miris menurut saya. Wallahu a'lam.

"Iya, emang kenapa?" jawab saya, sembari memberi pertanyaan balik.

"Ya, nggak papa... cuma pesenku, ati-ati aja... organisasi boleh, tapi jangan terlalu ekstrim. Yang biasa-biasa aja!"

Oke, saya semakin tercengang dan mengerutkan kening. "Emang kenapa sih, kok gitu ngomongnya?"

"Soalnya denger-denger An-Nisa' itu isinya orang-orang ekstrim... ya, takutnya aliran sesat!"

Astaghfirullah... saya seketika beristighfar dalam hati. Tapi saya berusaha santai menanggapi.

Lalu, petang kemarin di parkiran motor tempat kerja, saya bertemu dengan seorang teman kerja. Tiba-tiba saja dia bertanya, "Dulu pas di Semarang kamu pakaiannya yang rok buesar-buesar itu, ya?" Saya agak bingung, lalu menggelang, "Nggak kok, emang kenapa?"

"Nggak sih, cuma nanya. Soalnya temenku ada yang gitu, ikut aliran sesat di Semarang, sekarang jilbabnya buesar gitu!" ceritanya.

Saya semakin tercengang. Ya Allah... semudah itukah melabeli sesorang sesat? batinku dalam hati. Saya memilih untuk menanggapinya hanya dengan seulas senyum simpul.

"Eh, tapi kamu emang hobi pakai rok dari dulu, ya? Kenapa sih suka pakai rok?" tanyanya lagi.

"Iya, emm... nggak tau ya, lebih nyaman aja, ngrasa lebih terjaga" jawabku, sembari bergegas menghidupkan motor lalu memacunya. Pikiranku masih tertinggal di parkiran motor tadi, masih tertuju pada obrolan singkat barusan, lalu terngiang kembali obrolan dengan teman SMP di atas. Hmm... padahal sore kemarin, pakaian saya sungguh masih jauh dari kata syar'i :(
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di jaman dimana kebenaran dan ketidakbenaran semakin sulit dibedakan, semakin buram, bahkan sering di bolak-balik sendiri oleh liarnya logika manusia, hal apalagi yang lebih berharga dan kita harapkan selain perlindungan Allah? Ya, semoga Allah yang Maha Mengetahui yang Haq dan yang bathil senantiasa menjaga langkah kita selalu dalam kebenaran, dan membersamakan kita dengan orang-orang yang juga selalu dalam kebenaran. Aamiin.

 FI, 04 September 2013
**obrolan sebenarnya dg bahasa jawa

Sahabat Kecil

on
Rabu, 28 Agustus 2013


Nama lengkapnya Nindhi Puspita Sari, panggilannya Nindhi. Kami berteman sejak SMP. Takdir Allah telah membuat kami bertemu bahkan saat pertama kali menginjakkan kaki di sebuah SMP favorit di daerah kami, saat baru hendak mendaftar.

Ya, singkat cerita akhirnya kami bersahabat, ditunjang dengan rumah yang searah hingga memungkinkan kami pulang dan pergi bersama naik bus. Persahabatan, seperti juga ikatan hubungan yang lain, selalu punya cobaan juga kemungkinan-kemungkinan untuk terurai ikatannya dan bubar. Nah, disinilah menariknya. Kami bersahabat sejak SMP, dan seingat saya belum pernah kami bertengkar, lalu diem-dieman, atau masalah-masalah kecil khas persahabatn ABG yang lain. Saya nggak Cuma punya 1 sahabat, tapi hanya sama Nindhi ini saya melaluinya hampir tanpa riak.


Saat lulus SMA, pilihan sekolah kami berbeda. Bahkan sekolah yang kami pilih ada di kabupaten yang berbeda. Tapi Alhamdulillah silaturahim masih tetap terjaga. Meski ketemu nggak pasti sebulan sekali, sms-an pun nggak intens, tapi nggak tau kenapa kalau ketemu trus ngobrol, rasanya nggak pernah ada jarak yang terbentuk atas terbatasnya intensitas komunikasi kami. Dan nggak Cuma sama nindhinya, keluarganya pun sudah seperti keluarga saya.

Padahal kalau dipikir-pikir kami itu punya karakter yang bagai langit dan bumi loh! Hampir nggak punya kesamaan. Saya yang culun, dia yang modis abis. Saya yang lebih sering memilih lingkungan pertemanan dikalangan anak-anak ‘baik’ dan nggak neko-neko, dan dia yang kalangan pergaulannya anak-anak ‘gaul’. Saya yang menghadapi segala sesuatu penuh pertimbangan, kekhawatiran, dll, dan dia yang menghadapi segala sesuatu tanpa beban, benar-benar seperti air mengalir saja.

Ya, inilah yang membuat dia benar-benar beda dengan tipe rata-rata teman saya (bahkan saya sendiri). Nindhi bukan tipe orang yang suka berlebai-lebai dalam perasaan, terutama kesedihan. Sebulan lalu, dia harus menerima kenyataan bahwa ‘orang terdekatnya’ selama kurang lebih 6 tahun terakhir ini tutup usia. Ah, jangankan nindhi yang sebegitu dekat dan ikut serta total menemani saat-saat terakhirnya, saya yang sama sekali nggak dekat saja rasanya nyeri. Terlepas dari kenyataan bahwa saya nggak pernah simpatik (apalagi membenarkan) ‘kedekatan’ mereka selama ini, saya amat tahu bahwa kehilangan orang terdekat apalagi konon juga tersayang, pasti menyakitkan. Tapi apa pernah nindhi terlihat menangis tersedu-sedu, nggak mau makan, mengurung diri, mata sembab, wajah kusut, hidup nggak bergairah… setau saya nggak pernah.

“Jujur sampe sekarang aku masih selalu nangis tiap menjelang tidur, tapi kalo di depan Bapak, Ibu, Astri ato kamu… ya nggak lah, kamu kan tau aku nggak biasa menunjukkan kesedihan di depan orang!” begitu katanya saat kami menghabiskan hari minggu kemarin bersama.

Ya, ditengah musim galau dan menjamurnya kaum alay belakangan ini, saya bahagia masih punya teman yang sama sekali nggak termasuk di dalamnya J
Kadang ada perasaan takut sih… ada yang bilang (entah siapa, lupa!) kalau sesuatu yang tanpa riak justru kadang malah langsung luluh lantak karna sekali terjangan ombak. Ah, tapi saya sih khusnudzon saja, semoga Allah berkenan membantu kami menjaga silaturahim ini tetap baik.

NB: salah satu doa terpenting saya untuk nindhi adalah, semoga ia segera bisa hidup hemat!

Hikmah Kemarin Sore

on
Jumat, 02 Agustus 2013
"Semesta memberikan apa yang kita pikirkan"

Saya tidak tau darimana quote itu berasal. Yang jelas, menurut saya quote itu pasti terinspirasi hadist yang intinya "Allah sesuai persangkaan hamba-Nya".

Saya percaya. Sangat percaya dengan hadist itu. Saya sudah pernah membuktikannya, dan kemarin sore saya kembali membuktikannya, Alhamdulillah :)

Jadi ceritanya, waktu pulang kerja, keluar dari kantor dengan pikiran yang semrawut oleh satu dan lain hal. Biasanya, sebelum men-starter motor saya selalu mengucap Bismillah, doa serta sholawat, seperti pesan Bapak Ibu selama ini. Nah, sore itu saya melewatkannya dengan "sengaja". Di pikiran saya, "Nanti sajalah sambil jalan". Lalu sedetik kemudian muncul lagi pikiran, "Saya nggak doa dulu, nanti kalo ada apa-apa baru deh nyesel".

Tidak lama kemudian saya berangkat. Dan belum sampai 5 meter saya memacu motor dari tempat parkir, tiba-tiba... "Brakkkk!!!". Saya menyrempet orang dari arah berlawanan. Allah...
Tapi Alhamdulillah sekali, saya nggak papa, begitu juga dengan si korban.

Saya tau hal tersebut terjadi karna sebab utama saya kurang hati-hati. Tapi saya juga yakin, bahwa pikiran negatif saya beberapa saat sebelumnya juga turut "mengundang" peristiwa itu terjadi. Wallahu a'lam Bishawab...

Tapi saya bersyukur, amat bersyukur karna Allah masih berkenan 'menyentil' saya dengan pelajaran-pelajaran kecil. Apa Jadinya kalau Allah sudah tak berkenan dan membiarkan hati saya membatu tak menyadari tiap kesalahan? Naudzubillah...

Allah... maafkan untuk hati yang semakin sering lalai mengingat-Mu...
Maafkan untuk beberapa perkaraku yang luput aku mintakan pertolongan pada-Mu...

Signature

Signature