#Ramadhan15: Angkuhnya Iblis

on
Minggu, 13 Juli 2014

"Allah befirman: " Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada adam) di waktu aku menyuruhmu?" Menjawab Iblis, "saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah" " (QS. Al-A'raf: 12)

Semoga kita tidak mewarisi keangkuhan iblia yang merasa 'lebih keren' dari Adam hingga melanggar perintah Allah. Aamiin.

#Ramadhan14: Belajar Parenting, Tentang Porsi Kasih Sayang Untuk Anak

on
Sabtu, 12 Juli 2014
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim: 6)
 
oOo
 
Baca tentang kisah seorang ibu di Gaza yang mengantarkan anaknya untuk turut menjadi pejuang, saya mrinding. Benar-benar tidak terbayang kecamuk perasaan manusiawi sebagai seorang ibu yang teramat menyayangi anaknya, bercampur keteguhan iman serta keyaknan atas janji Allah jika ia merelakan anaknya berjuang di jalan-Nya. Tidak lama setelah membaca kisah tersebut, saya lalu membaca postingan terbaru di web parenting nabawiyah. Ah, membaca judulnya saja hati saya bergetar. "Ibu, Kuatlah Demi Surga Anakmu..."

Dalam artikel tersebut diceritakan tentang kisah Asma yang dimintai ijin oleh Abdullah bin Zubair untuk berangkat ke medan perang, dengan jumlah pasukan yang tidak sebanding. Asma, meskipun tau persis resiko besar dibalik peperangan tersebut adalah kehilangan anaknya, tak mengjinkan anaknya mundur sedikitpun dari peperangan tersebut -- justru menyemangatinya. Apa lagi yang menguatkannya jika bukan keyakinan atas janji Allah akan surga-Nya -- mengalahkan perasaan manusiawinya sebagai seorang ibu.

Bagaimana dengan fenomena hari ini? Di sekitar saya, banyak saya jumpai ibu yang 'salah' menempatkan kasih sayangnya. Mengartikan kasih sayang dengan memberikan apapun yang diminta sang anak, memastikan anak terus-terusan ada di zona nyaman, dll. Padahal bukankah there is no growth in the comfort zone?
 
Saya terlampau sering melihat seorang anak yang merengek meminta sesuatu, ditolak oleh ibunya, lalu sang anak menangis meraung, lalu luluhlah hati ibunya, dan memilih untuk menuruti. Jelas saja sang anak saat itu telah belajar bahwa menangis adalah senjata ampuh agar semua keinginannya dikabulkan. Apalagi soal membiasakan anak untuk sholat, mengaji, puasa, dll. Berapa banyak ibu yang beralasan, 'Ah, kasihan, tidurnya masih pulas...' saat hendak membiasakan anaknya sholat subuh?! Berapa banyak ibu yang berkata, 'Ah, tidak tega, kan belum wajib, nanti lemes...' saat hendak mengajari anaknya berpuasa ramadhan.

Saya juga miris melihat tidak sejalannya visi dan misi, baik antara Ayah dan Ibu, atau dengan lingkungan keluarga terdekat yang lain. Beberapa kali saya melihat seorang ibu tegah menegur anaknya tentang suatu hal, lalu tiba-tiba sang Ayah mengeluarkan statement pembelaan bagi sang anak, di depan sang anak langsung. Atau seorang kakek/nenek yang mengabulkan permintaan cucunya, padahal permintaan tersebut sebelumnya tidak dikabulkan oleh orang tuanya. Tentu saja sang anak telah belajar bahwa perkataan ayah-ibunya tidak harus selalu dipatuhi, karna masih ada pihak lain yang akan 'membelanya' dan mengabulkan permintaannya.

Ah, tapi saya lebih dari tau dan sadar, bahwa semua itu memang tidak mudah. Saya baru sebatas belajar teori semata. Beberapa hari lalu saya mendapat gambaran tentang betapa susah menguatkan hati untuk 'tega' demi mendidik seorang anak. Saat keponakan pertama saya yang baru tahun pertama belajar berpuasa merengek pada saya untuk diijinkan minum karna merasa sangat haus setelah main sepeda. Berat sekali rasanya bertahan untuk tetap 'tega' membiarkannya kehausan, meski alhamdulillah akhirnya saya berhasil mengalihkan perhatiannya. Saat itu saya kemudian tau apa gerangan yang membuat banyak ibu terlampau tak berdaya menolak permintaan sang anak.

Allah memang menganugrahkan perasaan sayang yang tak terhingga luasnya di hati seorang ibu untuk anaknya. Namun itu bukan berarti para ibu boleh saja mengekspresikannya dengan tak terhingga pula. Sesuatu yang tidak sesuai porsi dan tidak sesuai tempat memang selalu tidak baik. Tak terkecuali dengan kasih sayang.

"Bila ibu tidak tega mengajarkan anak hafalan, dengan alasan kasihan masa kecilnya dihabiskan untuk serius bukan untuk bermain; yakinkah anak kita akan menjadi anak yang menyematkan Quran dalam dadanya di setiap waktu hidupnya?
Jika tidak tega mengajarkan anak sholat lima waktu dengan alasan belum wajib baginya dan khawatir membangunkannya terlalu pagi; Maka yakinkah anak kita akan menjalankan dan menjaga sholatnya hingga maut menjemputnya?
Bila tidak tega mengajarkan anak berpuasa dengan alasan masih kecil, khawatir kurang gizi dan alasan lainnya; Yakinkah anak kita nantinya akan menjaga puasanya semulia puasa Abdullah bin Zubair?"
(Kutipan dari artikel "Ibu, Kuatlah Demi Surga Anakmu" - www.parentingnabawiyah.com)

#Ramadhan13: Laki-Laki dan Perempuan

on
Jumat, 11 Juli 2014
"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu´, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al Ahzab: 35)

oOo
Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang disebut dalam ayat tersebut. Aamiin :')

#Ramadhan12: Tasbih

"Tidakkah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada Allah-lah bertasbih apa yang di langit dan di bumi, dan juga burung yang memgembangkan sayapnya. Masing-masing sungguh telah mengetahui (cara) berdoa dan bertasbih. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan." (QS. An Nur: 41)

Tuh kan, apa yang di langit dan di bumi bertasbih pada Allah. Masa' kita enggak?! ;)

Cowok Korea VS Cowok Lokal

on
Kamis, 10 Juli 2014
Ini tulisan nggak penting. Kalo nggak penting ngapain ditulis? Pengen aja sih. Blog, blog siapa? *sinis* :D
Jadi kalo lagi ada hal yang lebih penting untuk dilakukan, mending nggak usah dilanjutin baca. Kalo mau tetep baca, yaa... makasiiihhhh *hug

Sebulanan ini saya punya 'hiburan' baru: ngobrol sama anak-anak BBI joglosemar via whatsapp. Orangnya asyik-asyik, ramah, kocak, dll. Dan kerennya lagi mereka itu para pelahap buku. Awalnya minder sih gabung sama mereka. Tapi karna merekanya humble banget, ya akhirnya nyaman-nyaman aja :)

Emm, saya nggak mau cerita soal itu sebenernya di tulisan ini. Saya mau cerita soal salah satu obrolan random tadi pagi di group tersebut. Setahu saya tadinya bahas kismis semalem (iya, kita punya kebiasaan menikmati kismis tiap malem. kismis, alias kisah misteri, hihi) yang untuk pertama kalinya mempengaruhi alam bawah sadar saya. Tapi, yah namanya juga obrolan random, akhirnya sampe ke sebuah sub-tema yang, em, bagi saya menarik buat ditulis.

Mba Dani - salah satu anggota joglosemar - kebetulan sedang menimba ilmu di negeri gingseng sana. Nah, trus dianya tadi pagi cerita tentang salah satu karakteristik cowok Korea:


Jadiiii... menurut cerita Mba Dani, cowok Korea itu paling takut kena air hujan. Soalnya mereka takut BB creamnya luntur. Aduh, capedeehhh.... terkesan cemen nggak sih -____-'

Nah, apa kalian salah satu yang tergila-gila sama artis-artis cowok Korea yang konon guanteng-guanteng (kata orang-orang, bukan kata saya) itu? Lalu saking tergila-gilanya kalian pernah berkhayal menjalin kisah-kasih dengan cowok Korea dan berharap kisah cinta kalian akan super-duper romantis bak di drama-drama Korea itu? Jika jawabannya iya, kalo kata saya sih mending dibuang aja deh khayalannya... kayaknya lebih besar kemungkinan kecewanya. Hihi

Kok gitu? Coba deh bayangin, kalo misal pada suatu waktu kalian berantem hebat sedangkan di luar hujan deras, trus kamu berlari ninggalin dia nerobos hujan dan berharap dia ngejar kamu (mungkin kamu mikir, 'aha! ini kesempatan untuk menciptakan adegan romantis bak di pilem-pilem') -- maka kamu akan kecewa. Mereka bakal mikir berkali-kali kayaknya... em, paling tidak berpikir: "Payung mana, payung???!!!" :D

Nah, beda banget kan sama cowok lokal Indonesia? Beuh, jangan ditanya... konon mereka rela mendaki gunung, menyebrangi samudra demi cinta. Haha. Yah meski kadang sekedar disuruh 'berhenti merokok' demi cinta aja nggak sanggup, ya. Kalo pinjem istilah gegap gempita debat capres beberapa saat lalu: Ini blunder! :D

Intinyaaa... saya beneran geli sih denger cerita di atas. Ya Allah... saya aja seneng banget kalo bisa ujan-ujan. Hihi. Dan itu membuat saya semakin fanatik sama produk dalam negri, dan sama sekali semakin nggak tertarik sama personil SuJu dan lain lain ituuh. Haha... #ApaSih #Nglantur

#Ramadhan11: Riya

on
Rabu, 09 Juli 2014

Nabi Muhammad bersabda, "Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil." Sahabat bertanya, "Apa itu syirik kecil?" Rasulullah menjawab, "Riya. Allah akan berkata di hari kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, 'pergilah kamu sekalian orang-orang yang berbuat riya di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu sekalian mendapatkan balasan?'" (HR. Ahmad)

Mari merenung dan bertanya pada hati masing-masing :)
Semoga Allah memberi kita kemampuan untuk mengistighfari tiap laku yang mungkin terselip riya di dalamnya.

#Ramadhan10: Sepuluh Hari Pertama

on
Selasa, 08 Juli 2014
Dari Salman Al-Farisi Radhiyallahu Anhu. Diceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Berkhutbah menjelang Ramadhan,diantara isi khutbah beliau,
“Siapa saja yang memberi buka kepada orang yang shaum dengan seteguk susu, sebiji kurma, atau seteguk air, dan siapa yang mengenyangkan orang shaum maka ALLAH akan memberi minum dari telaga dengan satu tegukan, yang menyebabkan tidak haus sampai masuk surga. Inilah bulan, yang awalnya adalah Rahmat, Pertengahannya Maghfirah, dan akhirnya ‘Itqun Minan nar (pembebasan dari api neraka). Perbanyaklah melakukan 4 hal dalam bulan Ramadan”

 Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu,dimana ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda :
“Awal bulan Ramadhan adalah Rahmat, pertengahannya Maghfirah, dan akhirnya ‘Itqun Minan Nar (pembebasan dari api neraka).

oOo

Nggak kerasa, yah... sepuluh hari pertama sudah hampir berlalu. Sudah dapet apa? Sudah tilawah sebanyak apa? Sudah sebagus apa kualitas puasanya? Sudah Berapa kali ninggalin tarawih? Sudah semakin pinter mengendalikan hawa nafsu?

Yuk, dijawab di hati masing-masing :)

Semoga kita termasuk orang-orang yang berhak mendapatkan rahmat di sepuluh hari pertama Ramadhan ini ya, sahabat . Aamiin :)

 

Signature

Signature