#SelfReminder10: Separuhnya Sabar, Separuhnya Syukur

on
Kamis, 13 November 2014
Kemarin saya pake pict yang saya capture dari IG salah satu olshop. Ini dia pict-nya:


Selang beberapa menit, ada teman yang merespon display picture saya tersebut. Ini capturenya:





#Doeeeng!!
Nggak tau kenapa saya pengen nangis bacanya T.T
FYI, temen saya itu -- saya yakin -- ilmu agamanya jauh lebih mapan dibanding saya. Dia 6 tahun hidup di balik tembok pesantren. Dari latar belakang tersebut, bohong kalo saya nggak punya ekspektasi tentang gimana seharusnya kehidupan spiritual dia.

Lalu, kalimatnya itu? Ketika dia bilang dia memprotes isi DPku, yang jelas mengutip terjemahan Al-Qur'an -- yang sebagai muslim, harus kita yakini sepenuh jiwa sepenuh raga kebenarannya? Aahh...

Saya khusnudzon dia hanya sedang khilaf sesaat. Saya khusnudzon dia hanya sedang labil.

Tapi saya harus belajar tentang ini. Betapa kita manusia seriiiing sekali nggak sabar menanti Allah tunainya janji Allah, padahal Allah selalu sabar menunggu kita kembali kepada-Nya setelah berjalan 'keluar track'. Betapa kita seriiiiiing sekali terlalu cepat komplain sama apa yang belum Allah kasih, lalu melupakan ribuan anugerah Allah yang tak akan mampu kita menghitungnya. Dan... betapa kita seriiiing sekali 'sok tau' ngotot minta sesuatu yang belum pasti baik untuk kita -- sementara Allah yang Maha Mengetahui apa-apa yang kita nggak tau. Astaghfirullah...

Saya ingin kembali mengingatkan diri saya sendiri melalui tulisan ini. Butuh dan ingin itu beda. Kita sering sekali meminta apapun yang kita ingini, tapi Allah hanya memeberi apapun yang benar-benar kita butuhkan.

Iman itu separuhnya sabar, separuhnya lagi syukur. Bersabar atas apapun yang Allah gariskan bagi kita, lalu bersyukur atas apapun yang telah Allah karuniakan.

Jangan-jangan, kita terlalu sering meratapi apap yang belum tergenggam, hingga lupa mensyukuri apa yang telah ada di hadapan.

Yaa muqollibal quluub, tsabits qalbi 'ala dinik :')

#KajianPagi: Sholat Berjamaah Bagi Wanita

on
Rabu, 12 November 2014
Bismillah...

Di blogpost saya yang ini saya janji mau sharing soal Sholat berjamaah bagi wanita, kan, yah?! Materi yang mau saya tulis di sini masih tetep saya dapet dari kajian pagi di YBWSA. Tentu saja akan sangat mungkin terjadi perbedaan pendapat.

Ohya, tapi sayangnya saya banyak ketinggalan nyatet hadist-hadist yang Pak Ustadz tayangkan melalui slide :(( Jadi mungkin saya akan minim menulis teks hadist di sini, tapi yang jelas Pak Ustadz waktu menerangkan berdasar banyak sekali hadist kok. Jadi nggak asal sesuai pendapat dia aja.

Oke, langsung aja, ya.

Pasti udah banyak yang tau kan soal hadist yang bilang bahwa sebaik-baik sholat wanita itu di rumah? Dan hadist itu sempet bikin saya galau abis. Secara, rumah saya tuh cuma lima langkah dari masjid, dan udah dibiasakan jamaah ke masjid -- paling enggak magrib. Jadi gimana dong, berarti saya sholatnya di rumah terus aja? Pikir saya waktu itu.

Shalat seorang wanita di rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di pintu-pintu rumahnya, dan shalat seorang wanita di ruang kecil khusus untuknya lebih utama baginya daripada di bagian lain di rumahnya” (HR. Abu Daud no. 570. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ternyata kata Pak Ustadz, hadist itu nggak bisa ditelan mentah-mentah. Ada sebab-akibatnya, ada syarat-syaratnya. Dan jangan lupa, dilihat juga hadist-hadist lain tentang tema serupa.

Iya, memang ada hadist yang bilang sebaik-baik sholatnya wanita itu di dalam rumah. Karna apa? Ini salah satu bentuk kasih sayang Allah yang begitu luar biasa memuliakan wanita. Wanita lebih baik sholat di rumah, karna apa? Karna dikhawatirkan saat wanita sholat ke masjid, ia akan menimbulkan fitnah. Dan ini memang sudah sering saya jumpai langsung. Sholat ke masjid, lalu di siul-siul cowok. Atau, sholat ke masjid, lalu habis itu ketemu temen cowok -- dan lanjut ngobrol. De el el.

Nahh, penyebab-penyebab semacam itu yang bikin sebaik-baik sholatnya wanita itu di dalam rumahnya. Dan tentu saja itu nggak cuma berlaku buat sholat ke masjid. Pada dasarnya, mau pergi ke manapun -- selain ke masjid -- kalo dikhawatirkan menimbulkan fitnah yah tetep lebih baik ada di dalam rumah. Jadi bukan saat sholat aja yang lebih baik di dalam rumah.

Yang nggak boleh dilupakan, ada pula hadist yang isinya tentang anjuran untuk para suami (atau wali) untuk mengijinkan istri mereka (atau anak perempuan mereka) pergi ke masjid jika memang mereka minta ijin. Jadiii, boleh ke sholat berjamaah ke masjid bagi wanita, cuma memang nggak wajib seperti untuk laki-laki. Daaann, jangan lupa syarat-syaratnya dipenuhi dulu. Apa itu? Menutup aurat, menjaga kehormatan, dan nggak boleh pake wangi-wangian. Ini bukan cuma kalo pas mau ke masjid aja, kan, yah sebenernya? :) Ohyaa, satu lagiii... harus dengan seijin wali atau suami.

Jika istri kalian meminta izin pada kalian untuk ke masjid, maka izinkanlah mereka.” (HR. Muslim)

Untuk tambahan sedikit, menurut Ustadz Muhtar (pemateri kajian pagi), sholat berjamaah bagi wanita (imam dan makmum semua wanita) itu bentuk shaffnya lurus, imam ada di tengah-tengah barisan -- nggak seperti kalo sholat berjamaah dengan lelaki. Ini juga ada hadistnya.

 “’Aisyah dulu pernah mengimami para wanita dan beliau berdiri (sejajar) dengan mereka ketika melaksanakan shalat wajib.” (HR. ‘Abdur Rozak, Ad Daruquthniy, Al Hakim dan Al Baihaqi

Ohyaa, yang paling penting... ternyataaaa... sholat berjamaah hanya berdua dengan laki-laki yang bukan mahrom kita itu NGGAK BOLEH loh! Karna termasuknya berkhalwat. Hayoooo... jadi nggak boleh bangga, yah, kalo sering sholat berdua sama mas pacar :p Nanti jadinya ibadah sambil melanggar aturan Allah dong :)))

Okee, sekian sharing saya kali ini. Feel free buat komentar dan diskusi, yaaa... asalkan tetap mengutamakan kesopanan :)

Wallahu a'lam bishawab.. ingatkan saya kalo ada yang salah dari apa yang saya tulis :)

#KajianPagi: Barisan Dalam Sholat Berjamaah

on
Kamis, 06 November 2014
Bismillah...

Materi kajian pagi yang ingin saya bagi pertama kali adalah tentang kesalahan yang masih sering kita jumpai dalam sholat berjamaah. Pasti sudah pada tau, kan, kalo saat sholat berjamaah shaff (barisan) harus rapi, lurus dan rapat? Tapi masih seriiiing banget kita jumpai barisan yang masih semrawut. Bolong sana bolong sini, miring sana miring sini. Nah nah... jangan-jangan kita nih salah satunya yang masih suka 'bandel' dan 'cuek' sama kerapian shaff saat sholat berjamaah. Padahaaaalll, kalo kita simak hadist yang satu ini, kita harusnya merenung dan sadar betapa tentang shaff dalam sholat berjamaah ini bukan masalah sepele.

Berdirilah secara bershaf-shaf niscaya Allah mengokohkan barisan-barisanmu (persatuan di kalangan umat Islam), atau jika tidak maka Allah akan menjadikan hati-hatimu saling berselisih. Lalu Rasulullah melanjutkan sabdanya: Aku melihat seorang lelaki di antara kami menempelkan bahunya ke bahu temannya dan mata kakinya ke mata kaki temannya. (HR. Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, dan Daruqutni)

Kemarin, ustadz pengisi kajian pagi lalu mengajak kami merenungi hadist tersebut. Coba baca lagi.  Berdirilah secara bershaf-shaf niscaya Allah mengokohkan barisan-barisanmu (persatuan di kalangan umat Islam), atau jika tidak maka Allah akan menjadikan hati-hatimu saling berselisih. Kita pasti sepakat bahwa persatuan umat Islam masih compang-camping di sana-sini. Dan harusnya kita prihatin, kan? Nah, membaca hadist tersebut, tidakkah kita merenung... jangan-jangan salah satu sebab Allah belum membuat hati kita bersatu adalah karna kita belum memberi perhatian lebih pada shaff sholat kita.

Patokan sederhana shaff yang rapi itu kata Ustadz bahu kita harus saling menempel dengan bahu sebelah kita. Mata kaki kita harus saling menempel (bukan menginjak, ya) dengan mata kaki sebelah kita. Lebih simpelnya lagi, posisi berdiri kita saat sholat, lebar kaki usahakan lebarnya kurang lebih sama dengan lebar bahu kita. Dan tentu saja soal ini harusnya disosialisasikan lebih luas. Karna kalo kita paham tapi masih banyak teman/sodara kita yang nggak paham, ya akhirnya tetep gak bisa rapi, dong. Makanya, yuk yuk bagikan ilmunya :)

Ohya, mungkin ini jauh lebih harus diperhatikan sama kaum adam, ya. Karna mereka (sejatinya) yang wajib sholat berjamaah di masjid. Sedang jika wanita nggak wajib. Soal ini Insya Allah akan saya tulis di post selanjutnya.

 So, yuk yuk... perhatikan dan perbaiki shaff sholatnya, yaa... :)

Materi ini saya ambil dari Kajian Pagi di Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung
disampaikan oleh Ustadz Muhtar Arifin Sholeh

Random

on
Rabu, 05 November 2014
Huaaaa.... beberapa hari nyuekin blog :((
Masih sibuk sama macam-macam adaptasi, sih. #Alasan!

Padahal banyaaaakkk banget yang mau ditulis. Tapi yaa ituuu... emm, #Alasan lagi, ding :p

FYI, di tempat kerja saya yang baru, satu jam sebelum mulai kerja selalu ada kajian pagi dulu. Nah, ke depannya saya pengen nulis materi-materi yang saya dapat dalam kajian pagi tersebut. Selain biar saya bisa baca lagi dan biar nggak lupa, siapa tau bisa kasih manfaat buat yang nggak sengaja/sengaja mampir blog saya :)

Doakan saya diberi kemampuan untuk menuliskannya, ya :')

Doa Nggak Sengaja Yang Jadi Nyata

on
Rabu, 29 Oktober 2014
Nggak lebh dari seminggu lagi, Insya Allah saya akan mengarungi bahtera hidup baru :')

Bukan, bukan... ini bukan tentang pernikahan. Bahtera hidup nggak hanya pernikahan, kan? Hehe...

Saya tiba-tiba inget kutipan di salah satu blogpost Mba Ila ini:

"Radar Allah sangat sensitif. Dia merekam semua doa, baik doa yang dipanjatkan dalam rangkaian kata, gumaman dalam hati, atau hanya bersitan keinginan. Semua bentuk doa itu akan masuk daftar antrean untuk proses pengabulan. Allah akan menentukan kapan waktu yang tepat sebuah doa akan dicairkan. Bisa kontan, minggu depan, dua puluh tahun mendatang, atau di akhirat kelak. Tapi intinya semua doa dikabulkan (syarat dan ketentuan berlaku) karena Allah tak pernah mengingkari janjinya, ud'uni astajib lakum, "berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya untukmu." (Beasiswa di Bawah Telapak Kaki Ibu yang ditulis Irfan Amalee, hal. 51-52)
Ah, saya percaya tentang itu. Percaya sekali. Semua doa dikabulkan, meski bentuk pengabulannya nggak selalu kontan persis seperti bunyi doa kita. Tapi kita harusnya bersyukur tentang itu, kan? Betapa sering kita 'salah' berdoa? Seperti cerita saya yang ini :)

Saya ingat, dulu... sekitar 3 tahun lalu, saat saya masih berstatus mahasiswa, saya pernah membatin, "Suatu saat saya ingin kembali ke sini, jadi bagian dari mereka" -- saat melihat mbak-mbak karyawan. Jangan tanya kenapa. Saya membatin begitu saja. Mungkin karna hati saya terlanjur tertambat pada tempat itu.

3 tahun berselang, dan Allah membuat doa 'nggak sengaja' saya itu menjadi nyata. Subhanallah walhamdulillah :)

Saat pertama kali diterima kerja di tempat yang sekarang, saya juga membatin, 'Saya hanya akan dua tahun di sini'. Dan apa yang terjadi? Tepat dua tahun saya di sini, saya dinyatakan diterima di tempat lain. Benar-benar tepat. 1 Oktober 2012-1 Oktober 2014 :))))

Yah, walaupun saya tahu, ada harga yang harus dibayar untuk sesuatu yang kita inginkan. Begitu juga dengan keputusan saya ini. Memutuskan untuk ke tempat itu, berarti juga memutuskan untuk 'jauh' dari Ibu - alias jadi anak kost lagi. Dan itu harga yang cukup mahal buat saya. Memutuskan untuk pergi, berarti harus siap dengan konsekuensi pertemuan dengan ponakan (khusunya Kak Andien, dan nanti ketambahan adeknya yang bentar lagi lahir) akan semakin sulit. Mungkin saya akan pulang tiap sabtu dan minggu. Sedangkan sabtu-minggu adalah jadwal kunjungan Andien menginap di rumah neneknya :(.

Saya tau, tau sekali, bahwa memutuskan tetap di sini adalah sama dengan memutuskan untuk tetap di zona nyaman. Tapi saya juga tau, saya akan sulit sekali berkembang, dan jadi Rosa yang gini-gini aja kalo terus-terusan memutuskan tetap di zona nyaman ini.

Saya tau di tempat baru nanti, selain mendapatkan ilmu, baru, teman baru, lingkungan baru yang Insya Allah jauh lebih baik, juga telah turut menunggu masalah-masalah baru, konflik baru, dan tantangan-tantangan baru. Inilah hidup. Segala sesuatunya berdampingan, seiring sejalan :)

Maka, saya  harus memutuskan. Keputusan yang semoga saya ambil dengan bimbingan dari Allah di dalamnya . Saya harus pergi :')


PS: saya jadi semakin yakin, bahwa Allah sesuai persangkaan hamba-Nya. bahkan sekedar membatin pun nggak luput dari radar-Nya. So, mulai sekarang harus sangat-sangat hati-hati ngomong, baik yg dilisankan, maupun cuma yang di dalam hati :)

Belajar Dari Kegagalan

on
Senin, 27 Oktober 2014
Weekend kemmarin, seperti biasa saya menyalurkan hasrat belajar masak. Kali ini yang saya praktekkan adalah Martabak manis teflon alias kue bandung alias kue terang bulan.

Prosesnya cukup menguji kesabaran... lamaaaa dan gak bisa ditinggal-tinggal karna takut lupa trus gosong :D

Dan setelah proses berakhir.... taraaaa... saya harus menelan pil pahit berupa kegagalan #halah.

Iya, gagal. kuenya bantet :(( Rasanya mah sebenernya udah lumayan, tapi kalo bantet ya tetep aja aneh di lidah. Tapi herannya, tetep habis dalam waktu singkat loh :D

Yah, begitulah. Belajar masak itu buat saya nggak sekedar belajar bikin makanan sendiri pake tangan kita. Belajar memasak itu juga belajar tentang menghargai proses. Yap, hasil akhir itu amat sangat dipengaruhi proses. Sebagus apapun material yang kamu pakai, kalau kamu nggak mematuhi aturan main dan prosesnya dengan bener tetep aja kemungkinan besar bakalan gagal. Hehe

Selain belajar menghargai proses, memasak juga belajar menerima kegagalan dengan lapang dada, dan belajar dari kegagalan tersebut (seperti yang saya alamai kemarin :( ). Saya sudah berusaha secermat mungkin memperhatikan proses kemarin. Tapi ternyata tetep gagal. Setelah saya mampu berlapang dada menerima kegagalan tersebut, saya merenung. Apa sih yang sebenernya bikin gagal?

Sejauh ini yang saya lihat, kemungkinan faktor gagalnya adalah kekentalan adonan yang salah, alias saya salah menakar susunya. Emm, dan dari situ saya tarik lagi menjadi pelajaran yang jauh lebih spesifik: saya nggak boleh males lagi beli peralatan-peralatan pendukung seperti gelas takar, timbangan, dll. Hahaaa

Oke, saya menguatkan hati untuk berani 'memamerkan' foto martabak manis gagal saya :D berikut gambarnya:





Huhu, tutup muka pake serbet :(( Jangan diketawain yaaaaa.... Haha

Tapiii... saya berjanji nggak akan menyerah.

Martabak manis, suatu hari saya yakin akan bisa menaklukkanmu!!! *angkat bambu runcing*



Tentang Latar Belakang Sosial dan Apa Yang Menentukan Masa Depan

on
Kamis, 23 Oktober 2014
pinjem dr sini

Kemarin malam kebetulan saya bertemu dengan seorang tetangga beda RT di sebuah toko kelontong nggak jauh dari rumah. Beliau seorang pensiunan guru, suaminya dulu kepala sekolah di SD saya (yang sekarang juga udah pensiun). Saya terenyuh ketika melihat -- sebut saya namanya Bu Mila -- malam-malam berbelanja kebutuhan-kebutuhan rumah tangga sendirian, padahal jumlahnya cukup banyak. Saya lebih terenyuh ketika melihat beliau ternyata jalan kaki, dan selain belanjaan di plastik yang tadi sebelumnya saya lihat, beliau juga membeli 2 buah gas elpiji 3 kg.

2 buah gas elpiji, di bawa sendiri, masih plus belanjaan di plastik besar, jalan kaki, sendirian.

Mungkin pemandangan tersebut nggak akan bikin saya se-sentimentil ini, dan akhirnya bikin saya pengen nulis ini, kalo bukan Bu Mila pemerannya.

Keluarga Bu Mila adalah salah satu keluarga dengan status sosial yang cukup tinggi di desa saya. Ah, tinggi sekali malah. Suami-istri guru PNS, suaminya kepala sekolah pula -- di tengah masyarakat yang mayoritas hanya pekerja kelas menengah- ke bawah itu sudah bisa digolongkan tinggi, kan?! Anak-anaknya (beliau memiliki 3 anak) tentu saja anak-anak dengan fasilitas paling memadai di antara teman-teman sepermainannya.

Hari ini, saat Bu Mila dan suaminya telah memasuki usia pensiun, bukankah seharusnya beliau dalam keadaan amat tentram dikelilingi anak-cucunya, menikmati masa tua tanpa harus 'kerepotan' lagi mengurus hal-hal semacam belanja malam-malam itu? Ke mana anak-anaknya hingga Bu Mila masih harus mengurusnya sendirian?

Enggak. Saya nggak hendak bilang anak-anak Bu Mila adalah anak-anak durhaka yang nggak peduli sama orang tua. Karna sedikit-banyak saya tahu mereka bukan anak seperti itu. Yang saya tahu, anak-anak Bu Mila sedang 'kerepotan' sendiri menguruss hidupnya. Mereka tengah bergumul dalam kerasnya arus kehidupan. Dan yang saya tahu, Bu Mila masih harus 'turun tangan' membantu 'mengurusi' hidup anak-anaknya.

Ya, anak Bu Mila nggak satu pun mencecap bangku perguruan tinggi. Ah, padahal kalau bicara kemampuan finansial, jelas saja Bu Mila dan suaminya jauuuuhhh lebih mampu dibanding Bapak saya. Anak Bu Mila yang kedua sepantaran dengan kakak saya yang pertama, dan anak ketiganya sepantaran dengan kakak saya yang kedua. Dan mereka kebetulan teman akrab semasa sekolah. Jika melihat keadaan anak-anak Bu Mila dengan 2 kakak saya hari ini, mungkin istilah 'roda itu berputar' adalah yang paling tepat untuk menggambarkannya :)

Saya bukan hendak menyombongkan kakak-kakak saya. Saya hanya sedang mencoba menggali pelajaran, dan membaginya pada kalian, bahwa 'siapa orangtuamu' itu nggak penting untuk menentukan 'siapa kamu' di masa depan.

Saya memang harus belajar tentang ini. Dulu, saya pernah 'menyesal', kenapa ibu saya bukan guru -- yang bisa membantu saya mengerjakan PR-PR sekolah. Saya pernah menyesal, kenapa bapak saya bukan pegawai yang bisa memberi saya uang saku lebih dan membeli apa yang saya suka.

Ibu saya hanya ibu rumah tangga 'biasa', yang pernah membuat saya marah dan menangis gara-gara mendapat nilai 4 untuk PR matematika yang beliau bantu kerjakan. Tapi ibu saya adalah orang yang seperti tak pernah lelah memberikan sesempurna-sempurna kasih. Meski kasihnya seringkali ia tunjukkan dengan nggak selalu menuruti apa yang kami mau. Iya, saya baru benar-benar tahu itu salah satu bentuk kasih demi membentuk pribadi kami.

Bapak saya hanya buruh rendahan, yang hampir selalu membuat saya dan kakak-kakak saya menahan keinginan untuk membeli apa yang kami inginkan karna beliau tak punya uang untuk itu. Yang bentakan kerasnya seringkali membuat kami 'marah'. Tapi bapak saya, adalah orang yang nggak pernah peduli siang dan malam demi memastikan biaya sekolah kami tetap terbayar. Bapak saya, buruh rendahan yang berhasil membuat 3 anaknya mencecap bangku perguruan tinggi, dan mengantar kami pada nasib yang lebih baik dari yang pernah beliau punya. Insya Allah...

Kini saya semakin tahu, latar belakang sosial nggak pernah menjadi teramat penting untuk menentukan siapa kita di masa depan. Kita nggak pernah bisa memilih di keluarga seperti apa kita dilahirkan, tapi kita selalu punya kepal tangan yang bisa memperbaiki segala keadaan. Jangan pernah lengah dengan apa yang kita punya hari ini, karna bukan nggak mungkin itu hanya akan memperdayamu dan membuatmu lengah akan hari-hari selanjutnya :)

Signature

Signature