Kemarin malam kebetulan saya bertemu dengan seorang tetangga beda RT di sebuah toko kelontong nggak jauh dari rumah. Beliau seorang pensiunan guru, suaminya dulu kepala sekolah di SD saya (yang sekarang juga udah pensiun). Saya terenyuh ketika melihat -- sebut saya namanya Bu Mila -- malam-malam berbelanja kebutuhan-kebutuhan rumah tangga sendirian, padahal jumlahnya cukup banyak. Saya lebih terenyuh ketika melihat beliau ternyata jalan kaki, dan selain belanjaan di plastik yang tadi sebelumnya saya lihat, beliau juga membeli 2 buah gas elpiji 3 kg.
2 buah gas elpiji, di bawa sendiri, masih plus belanjaan di plastik besar, jalan kaki, sendirian.
Mungkin pemandangan tersebut nggak akan bikin saya se-sentimentil ini, dan akhirnya bikin saya pengen nulis ini, kalo bukan Bu Mila pemerannya.
Keluarga Bu Mila adalah salah satu keluarga dengan status sosial yang cukup tinggi di desa saya. Ah, tinggi sekali malah. Suami-istri guru PNS, suaminya kepala sekolah pula -- di tengah masyarakat yang mayoritas hanya pekerja kelas menengah- ke bawah itu sudah bisa digolongkan tinggi, kan?! Anak-anaknya (beliau memiliki 3 anak) tentu saja anak-anak dengan fasilitas paling memadai di antara teman-teman sepermainannya.
Hari ini, saat Bu Mila dan suaminya telah memasuki usia pensiun, bukankah seharusnya beliau dalam keadaan amat tentram dikelilingi anak-cucunya, menikmati masa tua tanpa harus 'kerepotan' lagi mengurus hal-hal semacam belanja malam-malam itu? Ke mana anak-anaknya hingga Bu Mila masih harus mengurusnya sendirian?
Enggak. Saya nggak hendak bilang anak-anak Bu Mila adalah anak-anak durhaka yang nggak peduli sama orang tua. Karna sedikit-banyak saya tahu mereka bukan anak seperti itu. Yang saya tahu, anak-anak Bu Mila sedang 'kerepotan' sendiri menguruss hidupnya. Mereka tengah bergumul dalam kerasnya arus kehidupan. Dan yang saya tahu, Bu Mila masih harus 'turun tangan' membantu 'mengurusi' hidup anak-anaknya.
Ya, anak Bu Mila nggak satu pun mencecap bangku perguruan tinggi. Ah, padahal kalau bicara kemampuan finansial, jelas saja Bu Mila dan suaminya jauuuuhhh lebih mampu dibanding Bapak saya. Anak Bu Mila yang kedua sepantaran dengan kakak saya yang pertama, dan anak ketiganya sepantaran dengan kakak saya yang kedua. Dan mereka kebetulan teman akrab semasa sekolah. Jika melihat keadaan anak-anak Bu Mila dengan 2 kakak saya hari ini, mungkin istilah 'roda itu berputar' adalah yang paling tepat untuk menggambarkannya :)
Saya bukan hendak menyombongkan kakak-kakak saya. Saya hanya sedang mencoba menggali pelajaran, dan membaginya pada kalian, bahwa 'siapa orangtuamu' itu nggak penting untuk menentukan 'siapa kamu' di masa depan.
Saya memang harus belajar tentang ini. Dulu, saya pernah 'menyesal', kenapa ibu saya bukan guru -- yang bisa membantu saya mengerjakan PR-PR sekolah. Saya pernah menyesal, kenapa bapak saya bukan pegawai yang bisa memberi saya uang saku lebih dan membeli apa yang saya suka.
Ibu saya hanya ibu rumah tangga 'biasa', yang pernah membuat saya marah dan menangis gara-gara mendapat nilai 4 untuk PR matematika yang beliau bantu kerjakan. Tapi ibu saya adalah orang yang seperti tak pernah lelah memberikan sesempurna-sempurna kasih. Meski kasihnya seringkali ia tunjukkan dengan nggak selalu menuruti apa yang kami mau. Iya, saya baru benar-benar tahu itu salah satu bentuk kasih demi membentuk pribadi kami.
Bapak saya hanya buruh rendahan, yang hampir selalu membuat saya dan kakak-kakak saya menahan keinginan untuk membeli apa yang kami inginkan karna beliau tak punya uang untuk itu. Yang bentakan kerasnya seringkali membuat kami 'marah'. Tapi bapak saya, adalah orang yang nggak pernah peduli siang dan malam demi memastikan biaya sekolah kami tetap terbayar. Bapak saya, buruh rendahan yang berhasil membuat 3 anaknya mencecap bangku perguruan tinggi, dan mengantar kami pada nasib yang lebih baik dari yang pernah beliau punya. Insya Allah...
Kini saya semakin tahu, latar belakang sosial nggak pernah menjadi teramat penting untuk menentukan siapa kita di masa depan. Kita nggak pernah bisa memilih di keluarga seperti apa kita dilahirkan, tapi kita selalu punya kepal tangan yang bisa memperbaiki segala keadaan. Jangan pernah lengah dengan apa yang kita punya hari ini, karna bukan nggak mungkin itu hanya akan memperdayamu dan membuatmu lengah akan hari-hari selanjutnya :)