Adakalanya Kita Harus Menutup Telinga

on
Kamis, 18 September 2014
Pada suatu pagi beberapa minggu lalu, sembari memasak bersama, seperti biasa saya bercerita pada Ibu. Tentang betapa jengahnya saya atas sikap beberapa orang di sekitar saya. Saya jengah melihat adaaaa saja cara mereka menilai sesuatu dari sisi negatifnya.

Kebetulan seorang teman belum lama menikah. Dan seperti layaknya orang yang tengah dimabuk asmara, tentu hal yang amat sangat wajar jika ia sering sekali bercerita tentang hal-hal yang berkaitan tentang hidup barunya -- terutama soal suami. Hei, jangankan yang sudah menikah. Yang belum jadi siapa-siapanya aja kalo lagi jatuh cinta kayak nggak pernah capek cerita tentang sosok sang penawan hati tersebut, kan?!

Nah, yang bikin saya jengah adalah... ketika mereka lalu seolah menertawakan. 'Mentang-mentang udah punya suami... suamiiiiii terus yang diomongin'. Oke saya bisa ngerti. Kadang memang jengah juga denger seseorang cerita tentang hal yang itu-itu terus. Tapi masalahnyaaa... sebelum si temen itu nikah, sesaat setelah kabar pertunangannya (yang memang agak mendadak) orang-orang rame ngomongin. 'Kok nggak pernah mau ngomongin soal calonnya ya, suka beneran nggak sih, jangan-jangan dijodohin, bla bla bla...'. Eehh sekarang si temen rajin cerita ganti dikomentarin gitu! Saya sempet ngomong langsung sih, 'Kemaren-kemaren dia nggak pernah mau cerita dibilang kayak nggak beneran suka, sekarang cerita-cerita eeeh dikomentarin gitu! Nanti kalo dia habis nikah nggak pernah cerita-cerita pasti deh pada ngira nggak cinta lah, nggak bahagia lah, dll!'

Saat itu ibu saya cuma senyum. Lalu beliau mengingatkan saya pada kisah tentang seorang bapak, anak dan keledainya. Waktu si bapak dan anak hanya menuntun keledai tersebut, dikatain sama orang, 'bodoh banget sih. Punya keledai kok gak dinaikin malah cuma dituntun aja!'. Setelah si Anak menaiki keledainya, ada yang komentar, 'Ih, anak durhaka! Masa' bapaknya jalan dia enak-enakan naik keledai!'. Saat si anak memutuskan turun dan menyuruh bapaknya naik, ada lagi nih yang komentar, 'Bapak macam apa itu, kok tega sekali sama anaknya'. Lalu ketika mereka berdua akhirnya naik di atas keledai itu, tetep aja ada yang komentar, 'Duh duh duh... dua orang itu nggak punya perasaan ya sama hewan. Masa' keledai kecil dinaikin berdua!'. Pernah denger kisah itu, kan? Saya ceritain ulang pake gaya serabutan sesuka saya. hehe.

Gambar dari Google
Saya beberapa kali denger kisah ini tu Bapak sama Anak. Tapi nemu gambarnya kok Suami sama Istri. hehe. Tapi intinya sama kok :)

Apa yang bisa diambil dari kisah tersebut? Yup, ya seperti itulah hidup di tengah orang banyak. Masing-masing orang punya sudut pandangnya masing-masing, ya seringkali hobi komentarin orang tanpa mau tahu apapun latar belakang masalahnya. Waktu itu Ibu saya berpesan bahwa nggak semua omongan orang harus kita dengar. Adakalnya kita harus menutup telinga dari apapun perkataan orang. Kalo semua kata orang kita dengarkan dan kita pikirkan, akan ada banyaaaakk sekali energi yang terbuang. Bahkan mungkin akan merusak hati kita sendiri dengan banyak rasa sakit hati.

Saya mencatat dengan baik di otak saya nasehat ibu saya itu. Dan hari ini -- ketika saya sedang merasa terganggu dengan omongan beberapa orang -- saya sedang merasa perlu membuka nasehat itu kembali, dan membaginya di sini :)

Ya, bagaimanapun akan selalu ada orang-orang yang menilai kita dari sisi negatif -- nggak peduli sekeras apa kita berusaha untuk berlaku baik. Akan ada banyaaaakkk sekali energi yang terbuang saat kita ngotot pengen bikin semua orang mendukung apapun yang kita lakukan, dan memujinya.

Jadi, yuk, fokus sama penilaian Allah saja :)
#NoteToMaySelf

Ibu Bekerja VS Ibu Rumah Tangga

on
Rabu, 17 September 2014
Haha... akhirnya saya nulis soal ini juga, setelah lamaaa sekali cuma muter-muter di benak. Tema ini sebenarnya 'lagu lama' yang sudah banyaaakk banget dibahas orang, ya. Dan seperti halnya pertentangan tentang ASI vs Sufor yang nggak akan pernah selesai, tema ini juga rasanya nggak akan lekang oleh jaman. Yah, seperti kata Mbak Syam, semaju apapun dunia, hidup akan tetap berjalan klasik.

Dulu, jaman kuliah, sekaligus jaman awal-awal saya mulai belajar soal pernikahan dalam Islam, rumah tangga, kewajiban istri, dll saya masih naif. Dengan serta merta memancang niat dan angan bahwa kelak saya akan jadi Istri sekaligus Ibu yang full di rumah aja. Ngurus rumah, ngurus anak, ngurus suami -- karna itulah kewajiban utama seorang wanita yang sudah menikah. Saya naif memandang wanita yang bekerja akan mengorbankan banyak hal dalam rumah tangganya, terutama soal anak.

Tapi sekarang? Sepertinya saya mulai bisa memandang segala sesuatunya lebih proporsional. Dunia ini nggak cuma terdiri dari hitam-putih. Kita nggak bisa bilang ibu yang di rumah itu pasti lebih baik dan ibu yang bekerja itu pasti kacau urusan domestiknya. Saya sama sekali bukan mau mendebat kewajiban seorang wanita yang telah digariskan dalam hukum syar'i. Saya tetep setuju bahwa wanita tetaplah harus mengutamakan urusan rumah tangganya di atas kepentingan-kepentingannya yang lain. Jadi, ketika seorang wanita bekerja tanpa sedikitpun mengabaikan urursan rumah tangganya, dan tetap menjaga kehormatannya, plus dapet ijin dari suami -- ya nggak salah juga, kan, ya?

Soal anak -- apa seorang anak yang ibunya full menemani di rumah pasti akan tumbuh jauh lebih baik dibanding anak yang ibunya bekerja di luar rumah? Sekali lagi, dunia ini nggak hitam-putih -- belum pasti.

Emm, mungkin kasus dua kakak perempuan saya bisa jadi contoh dalam hal ini. kakak perempuan tertua saya kebetulan punya keahlian yang membuat dia tetep bisa kerja sekaligus tetep bisa di rumah (paling nggak, kerjaannya nggak mengharuskan dia selalu ada di luar rumah). Sedangkan kakak ipar saya (istri dari kakak kedua) bekerja kantoran dari pagi sampai sore. Intinya, kakakperempuan pertama saya punya waktu yang jauh lebih banyak sama anaknya dibanding kakak ipar saya. Secara logika, hal itu akan membuat ponakan saya dari kakak perempuan pertama akan jauh lebih dekat dan kental 'celupan' pendidikannya oleh sang ibu, dibanding ponakan saya yang dari kakak kedua. Nyatanya? Enggak, tuh!

Yang saya lihat, kakak ipar saya punya kedekatan yang jauuuuhh lebih kental dengan anaknya dibanding kakak pertama saya. Celupan pendidikan dari sosok sang ibu juga jauh lebih jelas terasa pada diri ponakan saya yang dari kakak kedua. Jadi menurut saya, bukan semata soal seberapa banyak waktu yang kita punya, tapi seberapa baik kita memaksimalkan waktu tersebut agar semua fungsi tetap berjalan optimal.

Oh ya, saya dulu nggak sendirian waktu merajut angan ingin menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Hampir semua teman se-gank saya juga punya angan yang sama. Hari ini, beberapa dari mereka sudah menikah. Dan apa yang saya lihat? Sepertinya beberapa dari mereka juga berubah pikiran :) Ya, semesta ini memang cair. Keputusan kita seringkali nggak melulu soal seperti apa tekad kita sebelumnya, tapi fleksibel sama keadaan. Yah, meskipun juga ada yang benar-benar memenuhi angan-angan mereka -- dan saya sangat bangga dan salut melihatnya. Lagi-lagi soal keadaan sih tapi baliknya.

Saya pernah mendengar tausiyah Mamah Dedeh yang berkaitan soal ini. Beliau bilang wanita itu sebaiknya jangan sepenuhnya menggantungkan hidup dari suaminya. Yah, kita memang selalu berdoa untuk suratan terbaik. Tapi hidup selalu terdiri dari dua hal, kan... sedih dan bahagia. Banyak, kan, kasus seorang wanita yang seperti benar-benar kehilangan pegangan terutama dari sisi ekonomi, saat keadaan memaksanya kehilangan suami (entah perpisahan di dunia atau karna ajal). Kalo saya sih mikirnya dari yang paling sederhana. Kayaknya kok nggak lucu kalo pengen beli lipstik aja harus minta uang ke suami. Yah, meskipun nggak salah juga sih, itu kewajiban suami memang.

Salah satu teman yang sudah saya anggap sebagai kakak juga pernah bilang, nilai seorang menantu perempuan yang bekerja akan sangat berbeda di mata mertua, dibanding menantu yang nggak bekerja. Oke, nggak boleh mengeneralisasi memang. Beliau hanya berpendapat berdasarkan kondisi dirinya, dan saya pikir pendapat itu patut saya jadikan sebagai salah satu renungan.

Yah intinya, balik lagi... kita nggak boleh dengan mudah men-judge yang seperti ini lebih baik dan yang seperti itu buruk, ya. Semua tergantung bagaimana kita menjalankan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin. Yang jelas, asal semua syarat wajib terpenuhi, ya menurut saya jadi ibu bekerja sama sekali nggak salah. Meski saya pikir, kelak saya akan tetap mengusahakan untuk bisa mendapatkan penghasilan dengan tetap ada di rumah. Wallahu a'lam.

**tulisan ini hanya pendapat dari orang yang sama sekali belum mencicipi menjadi ibu rumah tangga, jadi pasti banyak kurang pasnya. hehe

Catatan Perjalanan: Jogja Pada Suatu Hari

on
Selasa, 16 September 2014
Dulu, saya pernah terobsesi pada sebuah kota. Kota yang sering sekali dijadikan setting sebuah novel dan Ftv yang kebanyakan ber-genre romance. Mungkin gara-gara itu di otak saya lalu terbentuklah sebuah anggapan bahwa kota itu romantis sekali, dan sangat menyenangkan dijadikan tempat tinggal. Kota apakah itu? Yup, Yogyakarta :))

Dari dulu saya pengeeen banget jalan-jalan di Jogja sama temen-temen dan nggak terpatok jam. Maksudnya, selama ini ke Jogja kan cuma kalo pas wisata sekolah, tempat kerja, atau wisata sama keluarga. Kalo kayak gitu pasti dipatok banget dong jamnya? Tempat-tempat yang dikunjungi juga itu-itu aja. Padahal saya pengen banget tau Jogja dari sisi murni ia sebagai Jogja, bukan dari sisi kota wisatanya. *belibet deh perasaan kalimatku* :D

Subhanallah Walhamdulillah... seminggu (lebih sehari) lalu Allah ijinkan keinginan saya itu terjadi. Saya menikmati Jogja murni sebagai Jogja. Meskipun tetep aja jadwalnya nggak kalah padett sama kalo pas ke Jogja buat wisata gitu.

Tujuan utama ke Jogja kemarin sebenernya buat ketemu sama 2 sahabat saya semasa kuliah. Isty (yang sedang study lanjut di UGM dan kost-nya jadi tempat kita numpang tidur) dan Kak Uni. Selain ketemu mereka, saya juga janjian sama sahabat baru sekaligus idola saya, Mba Prima. Agenda tambahannya, ketemu temen-temen BBI (Blog Buku Indonesia) wilayah Jogja (My Kismis Family) :D

Kronologi perjalanan saya:

Sabtu: ke pameran buku di Gedung Wanitatama buat ketemu anak-anak BBI, setelah itu berjalan tanpa arah buat nyari makan hingga tibalah kita di Cak Kholik (lupa di jalan apa). Habis makan kita berjalan tanpa arah buat nyari masjid untuk sholat dhuhur. Jauuuhh banget jalannya, sampai akhirnya kita terdampar di sebuah masjid di daerah Gejayan. Habiss sholat dhuhur kita foto-foto (hehe, kelakuaaann!!). Naaahh, setelah itu kami merasa tersesat dan tak tau arah jalan pulang *Tsaaahhh* :D Setalah tanya ke beberapa orang dan tetep bingung, akhirnya kita telfon taxi deh. Hehe

Bareng My Kismis Fam :D

Kita nggak langsung pulang sih, tapi ke rumah coklat buat ketemu Mba Prima (Jadi dari pagi acaranya nganterin aku terus sebenernya. Makasiiihhh banyak buat Isty dan Kak Uni yang sabar menuruti kemauan saya :D). Setelah menunggu beberapa saat, taraaaa.... muncullah sosok imyut-imyut yang saya tunggu-tunggu: Primadita Rahma Ekida -- yang ternyataaaaa cereweeetttnya ngalahin Isty. Haha. Tapi sudah saya duga sih. Cerewet, ceria dan memancarkan energi positif *halah!*.

Habis ngobrol ngalor-ngidul di rumah coklat, kami nyari tempat buat sholat ashar. Akhirnya kami sholat di deket situ aja sih, di Mushollanya PP Muhammadiyah. Usai sholat ashar, foto-foto lagiiiihh :D. Setelah foto-foto, Isty telfon taxi dan meluncurlah kami ke daerah sekitar Benteng Vredeburg karna Mba Prima mau ketemu sama salah satu temennya. Sementara Mba Prim asyik ngobrol, kita bertiga foto-foto dooong. Haha. Waktu Magrib tiba, dan kami kembali berjalan mencari tempat sholat.

ini sebagian kecil dari seabrek foto2 kita yg laen :D

Kami numpang sholat di masjidnya Bapak-Bapak Tentara, dan aaaakkk... meleleh waktu lihat salah satu Bapak tentara khusyuk baca Surah Al-Waqi'ah padahal di masjid udah nggak ada satupun temennya. Subhanallah.

Nahh, setelah sholat magrib.... tiiiitttttt...... bagian ini nggak pengen saya ceritain. hehe

With my idol *halah* -- Mbak Prima

Kami sampai di kost Isty lagi sekitar jam 10 malam, dengan kondisi kaki yang serasa mau patah. Tapi capeknya bener-bener impas sama luar biasanya hari itu :)

Hari minggu waktu saya udah nggak banyak karna habis dhuhur saya harus segeera cabut. Jadi kami cuma sempat jalan-jalan ke Sunmornya UGM. Dan pengelaman tak terlupakannya adalah: kami salah memilih tempat buat sarapan. Kesalahan yang bener-bener fatal. Kami milih warungnya memang random aja sih. Saya pilih menu bubur ayam, sedangkan Isty dan Kak Uni pilih soto ayam. Dan kalian tau apa yang saya dapat saat pesanan saya datang? Bubur putih disiram air bening yang gak jelas rasanya. Akhirnya nggak sedikitpun saya makan. hehe.

Intinya, itu adalah salah satu weekend saya yang paling luaaarrr biasa. Jogja ternyata memang menyenangkan, tapi jujur nggak semenyenangkan yang ada di bayangan saya. Emm, maksudnya... yah sama aja lah kayak Semarang. Hehe.

Dan pelajaran yang bisa saya ambil adalah: Menyenangkan atau enggak itu bukan soal 'dimana'-nya, tapi soal 'sama siapa' kamu melewatinya :))

#SelfReminder9: Di Mana Aku Berada?

on
Jumat, 12 September 2014
Aku khawatir terhadap suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan

Keyakinan hanya tinggal pemikiran yang tidak berbekas dalam perbuatan

Ada orang baik tapi tidak berakal, ada orang berakal tapi tidak beriman

Ada yang berlisan fasih tapi berhati lalai, ada yang khusyu' namun sibuk dalam kesendirian

Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombong iblis, ada ahli maksiat tapi rendah hati bagaikan sufi

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, ada yang banyak menangis karena kufur nikmat

Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat, ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut

Ada yang berlisan bijak tapi tidak memberi teladan, ada juga penzina yang tampil sebagai figur panutan

Ada yang punya ilmu tapi tidak paham, ada yang paham ilmu tapi tidak mengamalkannya

Ada yang pintar tapi tukang membodohi umat, ada yang bodoh malah sok pintar

Ada yang beragama tapi tidak berakhlaq, ada yang berakhlaq tapi tidak bertuhan

Lalu di antara semua itu, di mana aku berada ?

(Sayyidina Ali Bin Abi Thalib)

**Setelah nyasar di beberapa bacaan di siang menjelang sore hari ini, tiba-tiba jadi inget sama renungan dari Sayyidina Ali di atas.

#SelfReminder8: IKHLAS ITU...

on
Kamis, 11 September 2014
IKHLAS ITU ...
 
menentukan diterima atau tidak diterimanya aktivitas kita sebagai ibadah,
Karenanya pastikan ia senantiasa menyertai setiap aktivitas kita

Ikhlas itu…. Ketika nasehat, kritik dan bahkan fitnah, tidak mengendorkan amalmu dan tidak membuat semangatmu punah.

Ikhlas itu… Ketika hasil tak sebanding usaha dan harapan, tak membuatmu menyesali amal dan tenggelam dalam kesedihan.

Ikhlas itu… Ketika amal tidak bersambut apresiasi sebanding, tak membuatmu urung bertanding.

Ikhlas itu… Ketika niat baik disambut berbagai prasangka, kamu tetap berjalan tanpa berpaling muka.

Ikhlas itu… Ketika sepi dan ramai, sedikit atau banyak, menang atau kalah, kau tetap pada jalan lurus dan terus melangkah.

Ikhlas itu… ketika kau lebih mempertanyakan apa amalmu dibanding apa posisimu, apa peranmu dibanding apa kedudukanmu, apa tugasmu dibanding apa jabatanmu.

Ikhlas itu.. ketika ketersinggungan pribadi tak membuatmu keluar dari barisan dan merusak tatanan.

Ikhlas itu… ketika posisimu di atas, tak membuatmu jumawa, ketika posisimu di bawah tak membuatmu enggan bekerja.

Ikhlas itu… ketika khilaf mendorongmu minta maaf, ketika salah mendorongmu berbenah, ketika ketinggalan mendorongmu mempercepat kecepatan.

Ikhlas itu… ketika kebodohan orang lain terhadapmu, tidak kau balas dengan kebodohanmu terhadapnya, ketika kedzalimannya terhadapmu, tidak kau balas dengan kedzalimanmu terhadapnya.

Ikhlas itu… ketika kau bisa menghadapi wajah marah dengan senyum ramah, kau hadapi kata kasar dengan
jiwa besar, ketika kau hadapi dusta dengan menjelaskan fakta.

Ikhlas itu…. Gampang diucapkan, sulit diterapkan….. namun tidak mustahil diusahakan….

Ikhlas itu… Seperti surat Al Ikhlas.. Tak ada kata ikhlas di dalamnya…

**Re-share dr Tumblr 

'Hanya' Sesederhana Itu

on
Rabu, 10 September 2014
Ada yang istimewa dari perjalanan saya ke Purworejo kemarin. Istimewa yang sederhana. Sederhana yang mengesankan.

Seperti biasa saya naik Bus Patas Sumber Alam saat itu, dan duduk tepat di belakang kursi Pak Sopir (soalnya takut kebablasan, hehe). Saya memang paling suka memperhatikan Pak Sopir tiap naik bus. Karna apa? Karna saat itu wajah lelah dan kerasnya perjuangan Bapak saya membayang jelas di pelupuk mata. Apalagi hari itu 'teman perjalanan' saya adalah novel 'Sabtu Bersama Bapak'. Semakin campur aduklah rasanya. Betapa harusnya saya bangga pada Bapak saya yang 'hanya' seorang sopir bus tapi dengan ijin Allah mampu menjadikan tiga anaknya berkesempatan mencicipi bangku kuliah. Sebuah 'kemewahan' yang nyatanya nggak semua orang di sekitar saya bisa merasakan -- bahkan yang orangtuanya PNS.

Oke, kembali pada cerita sederhana yang istimewa tadi. Kejadian tersebut terjadi saat bus yang saya tumpangi sampai di daerah Pringsurat --- ditengah jalan yang menanjak dan lalu lintas yang amat padat.

Tepat di depan bus yang saya tumpangi ada sekumpulan bapak-bapak setengah baya dengan pakaian lusuh dan wajah amat kelelahan duduk di sebuah mobil bak terbuka. Hari itu, meskipun sudah sore. Melihat pemandangan itu, Pak Sopir spontan  menginstruksikan pada Pak kondektur yang duduk di sebelahnya untuk memberikan aqua gelas yang mereka punya.

"Kui, dilempari aqua... mesakke..." (Itu, dilempari aqua... kasian...)

Dan dengan sigap Pak Kondektur segera melaksanakan perintah.

Aqua gelas di lempar satu per satu melalui kaca jendela, setelah sebelumnya memberi aba-aba pada salah satu bapak-bapak di mobil bak terbuka tersebut. Dan aahh, binar mata mereka tampak amat bahagia (saya sulit mendeskripsikannya) --- padahal 'hanya' aqua gelas. Setelah semua orang mendapat bagian aqua, mereka pun berteriak bilang 'matur nuwun' dengan mata yang masih memancarkan binar menggetarkan. Sekali lagi... padahal hanya aqua gelas...

Apa pelajaran yang saya ambil dari kejadian yang saya lihat tersebut?

Ternyata sesederhana itu. Bermanfaat bagi orang lain itu bukan tentang membuat penemuan fenomenal seperti yang dilakukan Thomas Alfa Edison, dan kawan-kawannya. Cukup dengan peka pada apa yang kita punya dan bisa kita bagi untuk sesama di sekitar kita.

Ternyata sesederhana itu. Berbagi dan membuat orang lain bahagia itu bukan hanya tentang bisa memberangkatkan haji, memberi berkarung beras, dll. Cukup dimulai dengan peka pada keadaan di sekitar kita, dan melakukan apa yang bisa kita lakukan untuk mereka.

Ya, sesederhana itu. Peka.

Sejak Dalam Buaian Hingga Liang Lahat

on
Senin, 08 September 2014
Saya ke mana aja sih kemarin-kemarin... kok bisa-bisanya gak ngisi blog sampe berhari-hari?! *ngomong sama tembok*

Sebenernya banyaaakk banget yang mau diceritain. Tapi karna gak langsung di eksekusi, ya melayang kemana-mana dong akhirnya. Emm, kebetulan juga lagi ada beberapa agenda ke luar kota sih kemaarin-kemarin. *halah, gaya!*

Emm, tapi ada satu hal yang pengen banget saya ceritain. Cerita ini saya dapet dari kakak laki-laki saya dua minggu lalu, waktu saya berkunjung ke rumahnya di Purworejo. Saya inget-inget banget cerita ini, soalnya menurut saya ini cerita yang cukup 'wow'.

Jadi kakak saya punya teman dekat, sebut saja namanya Parjo. Mereka temen sekantor sekaligus teman sekos-an di kota di mana mereka dinas. Saya juga kenal sih sama Mas Parjo ini. Orangnya kocak abis. Kalo ngomong se-enak dengkul -- tapi lucu, ceplas-ceplos. Cablak.

Yang saya gak nyangka sama sekali, kata kakak saya ternyata Mas Parjo ini sama sekali gak bisa ngaji. Yang lebih gak saya sangka lagi, sejak ba'da Ramadhan kemarin si Mas Parjo minta diajarin mengaji bener-bener dari awal (alif ba ta) sama temen kakak saya yang pinter ngaji (yg juga sekos-an) dan kadang juga sama kakak saya.

"Kok bisa, sih, Mas?" tanya saya penuh keheranan. Emm kenapa saya heran? Oke pertama saya memang sama sekali gak ngira Mas Parjo blas gak bisa ngaji. Tapi setelah saya tau Mas Parjo gak bisa ngaji, melihat tampang dia, saya juga jadi sama sekali gak nyangka dia punya keinginan buat belajar ngaji dari temennya - dan gak malu.

Kata kakak saya awalnya saat Ramadhan. Tiap habis magriban, dia nyari temen ngobrol. Masuk ke kamar kakak saya, eh lagi ngaji. Masuk ke kamar yang lain, eh juga ngaji. Masuk ke kamar yang lain lagi, juga lagi ngaji.

"Kok ngaji kabeh, leh, yooo yooo..." keluh Mas Parjo dengan logat khas orang Pati-nya yang kental banget.

Lalu saat ngobrol bareng-bareng, dia mengutarakan niatnya untuk minta diajari ngaji dari awal mulai ba'da Ramadhan. Keinginannya itu tentu saja disambut dengan sukacita plus hinadina khas becandaan mereka. Dan ternyata, tepat ba'da Ramadhan Mas Parjo beneran ngajak temen kakak saya buat menemani beli Qiro'ati. Wow, Subhanallah... saya bener-bener masih takjub.

Sekali lagi, saya sama sekali gak nyangka sosok super cablak kayak Mas Parjo punya keinginan kuat buat belajar mengaji -- setara sama anaknya. Sama sekali gak nyangka dia gak takut dijadiin bahan ledekan teman-temannya (karna dia biasanya ada di posisi yang suka meledek).

Bener ya memang, belajar itu gak kenal umur. Sejak dalam buaian hinggak liang lahat. Ini pertama kalinya saya kenal orang yang mau belajar sesuatu yang mungkin buat kebanyakan orang udah lewat jauuuhh banget masanya.

Nah, so... tunggu apa lagi? Jangan kalah, ya, sama Mas Parjo kalo kamu belom bisa ngaji. Buat yang sudah cukup bisa ngaji, jangan males buat belajar tajwid dan makhorijul hurufnya lagi dengan lebih baik *ngomong sama diri sendiri kalo yang ini!*

Yuk yuk... mari belajar. Bukankah Allah memudahkan jalan ke surga bagi siapa saja yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu? ;)

Signature

Signature