#Ramadhan1: Ingat Allah, Allah Ingat

on
Kamis, 18 Juni 2015

'Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.' (TQS. Al-Baqarah: 152-153)

Hai dear, puasa hari pertama, yaa... Masih semangaattt dong?! Semoga semangatnya bertahan, bahkan semakin berkobar hingga akhir Ramadhan, ya :)

Masya Allah... Merinding yaa baca terjemah di atas. Betapa Allah Maha baik :') Kita ingat Allah, maka Allah juga PASTI akan mengingat kita pula. Allah adalah sebaik-baik pembalas, bahkan seringkali membalas dengan yang lebih baik dari apa yang kita berikan.

Jadi nggak kayak manusia yang sering bikin kita kecewa, ya! *bukan curhat*. Jadi, masih rela buang-buang waktu buat mengingat orang yang belum tentu ingat sama kita juga? Dih, mending sih inget Allah aja :))

Mumpung Ramadhan, dan masih hari pertama... Yuk latih dan biasakan diri untuk mengingat Allah sebanyak-banyaknya, di setiap hela nafas kita. Biar Allah juga banyaj-banyak ingat kita. Aamiin :')

Selamat menjalankan ibadah puasa ^_^

Marhaban Yaa Ramadhan: Persiapan Menyambut Ramadhan

on
Selasa, 16 Juni 2015
dr Tumblr
Marhaban Yaa Ramadhan...

Serasa baru kemarin menyapa Tamu Agung ini. Betapa cepat waktu berlalu. Masih berbekaskah jejak-jejak tarbiyah atas Ramadhan tahun sebelumnya? *ngaca* *lalu mringis*

Ya, itulah kebanyakan dari kita. Ramadhan harusnya kita gunakan sebagai moment perubahan. Sebagai lompatan perbaikan. Bukan memompa diri selama sebulan, lalu melempem di 11 bulan berikutnya. Sungguh, sejatinya bukan untuk itu Ramadhan di hadirkan. Ramadhan adalah bulan pendidikan. Yang dengannya diharapkan ada perbaikan ummat secara signifikan, yang jejaknya menempel kuat pada jiwa. Bukan hanya sebatas lewat.

Tapi tidak ada kata terlambat. Dengan Rahman dan Rahim-Nya, Allah selalu bersedia menerima kita kembali. Dan salah satu nikmat terbesar tentu saja dengan diijinkannya kita bertemu kembali dengan mulianya Ramadhan. Balighna fii Ramadhan, Yaa Rabb...

Setiap menjelang Ramadhan, saya selalu berusaha memperbarui semangat. Semangat untuk membuat Ramadhan ini sebagai catatan emas di hidup saya. Meski, ya, harus diakui semangat itu masih amat lemah kobarnya hingga amat mudah goyah seiring tanggal Ramadhan yang semakin menua. Tapi saya nggak mau menyerah. Maka, 1 1/2 hari menjelang Ramadhan tahun ini, saya akan membagi 3 hal yang saya persiapkan dalam menyambut tamu istimewa tersebut.

1. Niat dan Tekad

Semua amal dinilai berdasarkan niatnya, begitu kata salah satu hadist. Maka tentu saja hal tersebut menjadi hal utama yang harus terus diperbaiki. Mari meniatkan untuk mempersembahkan amal-amal terbaik kita di bulan di mana pahala-pahala dibuat berlipat ganda hanya karena Allah semata.

Lalu tekad. Besarnya pahala konon berbanding lurus dengan tingkat kepayahannya. Begitu juga dengan Ramadhan. Berbagai janji keistimewaan nilai atas amalan kita di bulan tersebut, sungguh akan dihadang berbagai kepayahan. Apa itu? Kalau saya pribadi, kepayahan yang sering sekali membuat saya menyerah kalah adalah serangan rasa kantuk. Ya, saya adalah orang yang masih lumayan kepayahan jika jam tidur kurang. Sunnah untuk makan sahur mau tidak mau membuat jam tdiur kurang. Di 10 harian pertama, biasanya saya masih kuat untuk nggak tidur setelah sahur dan mengisinya dengan tilawah. Tapi selanjutnya? Keok :( Nah, tahun ini saya ingin menguatkan lagi tekad saya untuk mengalahkan rasa kantuk itu. Tidurnya orang berpuasa mungkin memang ibadah, jika dibanding tidak tidur tapi maksiat. Tapi tidur adalah ibadah tentu saja tidak akan lagi berlaku jika dibandingkan dengan tidak tidur karena tilawah. Iya, kan? :)

2. Target

Seberapa penting target? Menurut saya penting sekali. Tanpa target kita nggak akan terpacu untuk mengerahkan segala usaha demi tercapainya target tersebut. Kata Aa' Gym, gagal merencanakan sama dengan merencanakan gagal. Nah, menurut saya rencana itu salah satunya bisa kita tuangkan dalam susunan target. Yah, meskipun target tentu saja tidak akan berarti apa-apa tanpa point nomor satu di atas.

Saya berencana membuat form pemantauan ibadah seperti ini:

nuun.blogdetik.com
'Kok ibadah dicatet-catet sih?!'

Lha emang kenapa? Jika dengan mencatatnya kita jadi semakin terpacu untuk terus meningkatkannya, apa salahnya? :) Jadi, sama sekali bukan untuk menghitung-hitung berapa nilai pahala kita, ya, dear :) Ah, mana mampu kita untuk itu. Cukup ridho Allah saja yang kita harapkan.
'Nggak takut riya', ya?'

Kan catetannya bukan untuk dipublikasi :) Buat diri kita sendiri aja. Dan kalaupun ada salah satu saudara kita yang nanti memublikasikannya, mungkin niatnya semata untuk membuat kita iri dan turut memacu diri. Yuk, saling berlomba dalam kebaikan ^_^
3. Persiapkan Kondisi Badan

Tidak dipungkiri, Ramadhan amat membutuhkan fisik yang prima. Apalagi jika selama Ramadhan kita tetap tidak bisa menghindar dari berbagai aktivitas fisik. Perubahan pola makan serta jam tidur membuat metabolisme kita harus segera menyesuaikan diri. Minggu-minggu kemarin orang-orang di sekitar saya banyak yang terserang flu dan radang tenggorokan. Tidak terkecuali saya sendiri. Nah, gangguan-gangguan 'ringan' kesehatan ini alangkah baiknya berusaha kita perbaiki, agar saat Ramadhan menyapa kita dalam keadaan yang benar-benar fit. Jika badan fit, Insya Allah berbagai ibadah pun akan dengan nikmat kita cecap :)

Nah, tiga point di atas-lah yang saya persiapkan untuk menyambut Bulan penuh berkah tahun ini -- Insya Allah. Semoga Allah menyampaikan umur kita untuk bertemu dengannya hingga sempurna. Saya tiba-tiba ingat beberapa tetangga (salah satunya masih sangat muda) yang dijemput Izrail beberapa saat lalu. Hati saya miris. Pernahkan terbersit di benak mereka pada Ramadhan tahun lalu, jika mereka takkan pernah lagi bertemu Ramadhan tahun ini? :(

Ya, meski tinggal 1 1/12 hari lagi Ramadhan tiba, sungguh tetap tidak ada jaminan untuk kita bisa bertemu dengannya. Jika Ramadhan tahun ini saja belum tentu, apalagi Ramadhan tahun depan? Maka, jika Allah mengijinkan kita kembali mencecap nikmatnya bulan penuh berkah tahun ini, yuk tanamkan tekad sekuat baja di hati kita masing-masing untuk menjadikan Ramadhan tahun ini Ramadhan terbaik, dan menjadi titik balik kita sebagai hamba yang lebih baik di mata-Nya.

Balighna fii Ramadhan, Yaa Rabb... Aamiin...

Kalau kalian, apa saja yang persiapan kalian untuk menyambut Ramadhan kali ini? Share, yuk :) 

Antara Menyegerakan dan Tergesa-gesa

on
Kamis, 04 Juni 2015
Saya mengenal seorang perempuan hebat yang kisahnya bisa membuat kita lebih paham tentang perbedaan antara menyegerakan dan tergesa-gesa menikah.

Beliau menikah pada tahun 2013 setelah menjalani 28 kali proses ta'aruf dalam kurun waktu 10 tahun (2003-2013).

Kegagalannya dalam ta'aruf disebabkan oleh berbagai faktor, ketidakcocokan, ketidakjelasan kabar dari pihak laki-laki, belum adanya restu atau persetujuan dari orang tua.

Hebatnya, beliau tidak pernah lelah berikhtiar. Ta'aruf demi ta'aruf pun dijalani sambil berharap itulah ta'aruf yang terakhir (yang berlanjut ke pernikahan).

Beliau tetap berikhtiar untuk menyegerakan pernikahan, namun tidak tergesa-gesa. Beliau tetap menikmati setiap prosesnya sambil terus meningkatkan kapasitas dan kualitas diri serta tentu saja bertawakkal kepada Allah.

Jika beliau mau, mungkin beliau bisa saja melawan orang tua yang belum merestui demi cepat menikah. Jika beliau mau, bisa saja beliau menikah diam-diam. Asalkan menikah deh. Tapi beliau sabar. Sabar menikmati setiap ikhtiar, menunggu waktu yang menurut Allah tepat. Beliau tidak tergesa-gesa menikah dengan mengorbankan hal yang lebih penting seperti ridho orang tua.
Sudah lihat perbedaannya, kan?

Orang yang menyegerakan menikah  dan yang tergesa-gesa menikah punya tujuan yang sama, yaitu menikah. Tapi cara yang mereka pilih berbeda.

Seperti orang yang sedang menyetir mobil, orang yang bersegera tahu kapan harus mengerem, mengganti persneling, menekan gas. Mereka taat pada tata tertib. Berhenti jika lampu lalu lintas berubah merah, bedanya dengan yang menunda-nunda, setelah lampu berubah hijau, mereka langsung melaju, tidak melambat-lambatkan. Mereka pun ingin segera tiba di tujuan, tapi mereka bersiap dan berhati-hati agar selamat dalam perjalanannya dan menjadikan perjalanan itu sebagai peristiwa yang bermakna dengan cara menikmatinya.

Sedangkan yang tergesa-gesa hanya tahu satu hal : dia harus tiba di tujuan secepat-cepatnya, dengan cara apapun. Akhirnya, dia lupa mempersiapkan bekal yang cukup : Lupa mengisi bensin, lupa memeriksa kondisi kendaraan, lupa menyiapkan makanan dan minuman untuk di perjalanan. Yang menyebabkan dia terhambat di perjalanan. Dia juga tak terlalu menganggap penting rambu-rambu. Lampu merah diabaikan, perintah Pak Polisi dilanggar. Yang dia mau hanya satu : Cepat sampai ke tujuan. Kecepatan penuh pun diambil untuk mewujudkan kemauannya itu. Ia lupa pada risiko kecelakaan.

Orang yang bersegera akan menikmati perjalanan. Sedangkan orang yang tergesa-gesa sangat ingin cepat-cepat sampai tujuan sampai tak terpikir untuk memperhatikan indahnya panorama di kiri kanan selama perjalanan.

Tepat waktu. Itu kata kuncinya. Semuanya tepat jika sesuai dengan waktunya. Bukan sekadar indah, semuanya akan berkah dan mudah jika waktunya sudah tiba.

sumber: http://urfaqurrotaainy.tumblr.com/

oOo

**Saya sudah pernah 'terjatuh' pada tergesa-gesa, dan saya nggak ingin mengulanginya. Karna sungguh, setan banyak sekali menumpang di dalam segala sesuatu yang tergesa-gesa.

Kurva Penantian Jodoh

on
Kamis, 28 Mei 2015
Sekitar bulan lalu, saat sedang nunggu antrian di KPP Madya Semarang untuk lapor SPT Bulanan, saya -- yang kebetulan saat itu ditemani atasan saya -- ngobrol-ngobrol ringan. Lagi-lagi temanya tentang jodoh. Sepertinya atasan saya merasa bahwa status single saya sudah sangat meresahkan dan harus segera dimusnahkan. Haha.

Beliau waktu itu bertanya tentang respon saya atas sinyal-sinyal yang diberikan oleh si 'X'. Habis itu beliau lanjut tanya, "Non, inget tentang kurva penawaran di mata kuliah Ekonomi Mikro nggak?".

"Emm, inget kayaknya, Pak.. dikit-dikit. hehe"

Nah, berawal dari situ beliau memaparkan tentang teori Kurva Jodoh menurut versi beliau.Bikin saya ngakak sampe mules waktu itu :D

Kalau anak IPS, atau anak fakultas ekonomi pasti nggak asing ya sama Kurva Penawaran beserta bunyi hukumnya ya. Nah, Kurva jodoh menurut atasan saya ini mereplikasi teori kurva penawaran... yah, meskipun agak maksa dan belum teruji validitas keilmiahannya sih. Huehehehe

Ini nih gambar kurva penawaran:

Kalo bunyi hukum penawarannya: "Semakin tinggi harga, semakin banyak jumlah barang yang bersedia ditawarkan. Sebaliknya, semakin rendah tingkat harga, semakin sedikit jumlah barang yang bersedia ditawarkan.” (Versi Wikipedia)

Lha kalo Kurva Jodoh kayak apa gambarnya??

Hasil gambar asal :D
Gimana bunyi hukumnya?

"Semakin tinggi kriteria seseorang tentang jodohnya, maka semakin lama waktu tunggu untuk bertemu dengan jodoh yang sesuai dengan kriterianya"

Di sini kita nggak ngomongin soal 'Jodoh sudah diatur mutlak sama Allah' dulu, ya. Yah soalnya kalo udah melibatkan kalimat itu sih, langsung skakmat, nggak bisa ngomong apa-apa lagi.

Allah kasih kita otak dan kemampuan memilih serta memutuskan, mungkin salah satunya untuk menuntun kita dalam berjalan menemukan jodoh yang ia siapkan. Apa kita nggak boleh punya kriteria? Ya jelas boleh dong! Rasulullah aja kasih rambu-rambu jelas kan tentang kriteria jodoh?! Nah, cuma kita ini kadang suka kebablasan, ya, nentuin kriteria. Warna kulitnya harus kuning langsat, cara jalannya harus kayak Bang Rio Dewanto, bibirnya harus seseksi Rezki Aditya (hihihi)... Nah, kriteria-kriteria kayak gini nih yang kemungkinan bikin mata kita buram, sampe akhirnya kelewatan nagkep moment si 'jodoh kiriman Allah' lewat di hadapan kita. Coba kalo ikut apa kata Rasulullah. Rasulullah bilang, seseorang dinikahi karna 4 perkara: wajahnya, hartanya, keturunannya, dan agamanya. Dan bagi yang ingin jadi orang beruntung, Beliau nyuruh kita memilih berdasarkan AGAMAnya. Udah deh, beres! Simple! -->>tapi prakteknya syusyah, ya, guys... haha...

Yah, intinya kita boleh punya kriteria tentang calon ayah/ibu dari anak-anak kita. Tapi mbok ya yang wajar-wajar saja, ya. Jangan njlimet-njlimet amat. Dan kata beliau (atasan saya), nggak perlu lah semua orang tau tentang kriteria kita. Cukup disimpan dalam hati saja. Takutnya, orang-orang yang tadinya punya niat baik udah minder duluan gara-gara merasa nggak sesuai sama kriteria kita. Disimpan dalam hati, dinilai diam-diam, lalu putuskan.

Sekali lagi saya tegaskan, tulisan di atas itu sebenernya pemaparan dari nasehat atasan saya, ya! Jadi bukan omongan saya. Hihi. Masa' iya sok-sokan saya nasehatin kayak gitu, sedangkan saya sendiri merasa tertampar dengan tulisan di atas. Tapi semua-mua kembalinya tetap pada Allah, ya. Jodoh kita mutlak hak Allah yang mengatur. Tapi konon kita tetap harus usaha. Tentu saja doa menjadi usaha yang terbaik. Nah, karna doa juga ada penghalangnya, semoga kita nggak memperlambat terijabahnya doa kita gara-gara setumpuk kriteria-kriteria nggak penting. Yah meskipun, kalo Allah berkehendak mengabulkan Kun Fayakun sih ya, nggak ada yang nggak mungkin. Tapi kita harus tetep sadar diri dong, ya :)

Biarkan Foto Bercerita: Pantai Bandengan Jepara dan Kisah Yang Tercipta di Tepiannya

on
Selasa, 19 Mei 2015

Bandengan, 14 Mei 2015


Setelah entah berapa bulan nggak ketemu, alhamdulillah beberapa hari lalu bisa kembali dipertemukan dengan dua sahabat yang sudah saya kenal sejak kami masih sama-sama bocah dengan seragam putih-biru :)

Saya & Nindi
Saya & Nindhi (lagi) :P
Masih sering merasa nggak nyangka bisa bersahabat sama orang kayak Nindhi se-lama ini. Hihi. Orang kayak Nindhi? Orang kayak apa tuh maksudnya? :D Yang jelas cara kami memandang banyak hal tuh bumi-langit deh. Dan ajaibnya, persahabatan kami bisa dibilang sepi konflik.

Saya & Jibril. Kata Jibril ini ceritanya belajar PreWed :D
Dulu sekelas sama Jibril di kelas 3 SMP. Nggak deket banget sih dulu. Baru lumayan deket menjelang akhir kelas 3 SMP. SMA plus kuliah loss contact lagi. Pas masuk dunia kerja nggak tau gimana awalnya jadi deket lagi.

Saya & Nindhi. Sweet, ya :))
Pasir putihnya Pantai Bandengan. Yuk, visit Bandengan :D
Pantai Bandengan Jepara sudah banyak mengalami kemajuan dari segi fasilitasnya. Berbagai permainan air sudah bisa dijumpai. Perahu kano, Banana Boat, atau mau naik perahu ke Pulau Panjang? Semua ada :)) Parkiran motor yang tadinya belum terorganisir juga alhamdulillah sekarang sudah lebih rapi. Jadi, jangan ragu untuk memilih Pantai Bandengan Jepara sebagai tujuan wisata :) *ceritanya iklan colongan*

:')
Kalau liat foto itu jadi pengen nyanyi.
"...Jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing, ingatlah hari ini..." (Project Pop)
Mengutip kata-katanya Jibril. "Kalian itu bagian dari rizkiku..." :')


"Mungkin diriku masih ingin bersama kalian... mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian..." (So7)
Saya sepenuhnya sadar kebersamaan kayak gitu nggak bisa selamanya saya banggakan. Akan tiba masanya kami sibuk dengan hidup kami masing-masing, hingga saling menyapa lewat sebaris kata saja akan menjadi kemewahan yang sulit dijamah. Inilah hidup :)

Food Combining, Siapa Takut? :D

on
Rabu, 13 Mei 2015
Hari senin lalu, saya entah kesambet apa, tiba-tiba tertarik baca-baca tentang food combining atau biasa disingkat FC. Saya udah pernah dengar dan tahu sekilas sih tentang FC sebelumnya, cuma belum pernah tertarik buat baca-baca lebih lanjut artikel-artikel terkait FC itu. Dulu tiap mau baca pasti udah dijegal sama pikiran nakal saya, 'ah, makan aja ribet banget!' Haha

Dua mingguan terakhir ini saya dikejutkan sama beberapa kabar tentang sakitnya orang-orang sekitar saya yang cukup bikin tercengang. Puncaknya ketika mbah putri saya yang tinggal satu-satunya harus dilarikan ke Rumah Sakit di pagi buta gara-gara tiba-tiba muntah darah banyaaakk banget. Ternyata gula darahnya melejit, lalu jantung dan paru-parunya bengkak. Nggak heran sih, soalnya beliau memang selama ini 'nggak doyan' air putih. Jadi minumnya selalu yang manis-manis -- teh, kopi, susu. Duh!

Ketika beliau di RS, saya sempat kebagian jatah buat nungguin beliau. Dan saya ngeri. Ngeri melihat betapa banyak orang yang tergeletak tak berdaya karna sakit. Nggak cuma yang usianya sudah tua, yang muda pun banyak! Miris membayangkan betapa banyak hal yang harus dilewatkan begitu saja karena sakit. Iya sih sakit itu salah satu 'media' yang Allah kasih untuk menggugurkan dosa-dosa kita. Tapi setahu saya, kita tetap wajib berusaha untuk menjaga kesehatan, kan?

sumber

Saya sadar selama ini saya bisa dibilang belum bisa dibilang telah berusaha menjaga kesehatan. Olahraga nggak pernah. Makan seenak jidat. Itu dua bukti nyata saya masih cuek sama nikmat sehat yang Allah anugrahkan. Padahal, awal 2015 ini saya punya resolusi untuk menjadi lebih sehat. Apa gunanya resolusi tersebut saya tulis kalau toh nggak ada action nyata untuk mewujudkannya?

Nah, mungkin ini adalah petunjuk dari Allah (saya percaya nggak ada yang kebetulan) ketika saya tiba-tiba tertarik baca-baca tentang FC di blog Mbak Jihan Davincka -- yang lalu berlanjut dengan kepo ke beberapa artikel lain bertema serupa. Saya sepakat banget, hampir 90% penyakit rasanya memang datangnya dari 'perut'. Banyak fakta tentang itu yang saya lihat langsung. Maka, dengan mengucap Bismillah, sejak hari Selasa, 12 Mei kemarin, saya mulai mempraktekkan apa yang saya baca soal food combining.
berbaca.com
Saya mungkin nggak akan jadi penganut FC garis keras sih. Yang ringan-ringan saja dulu. Hehe. Diawali dengan sarapan buah pepaya (saja). Ini udah lompatan yang sangat lumayan bagi saya. Karna sebelumnya setiap bangun tidur yang saya cari adalah nasi. Dan iya lho, sama sekali nggak perih. Dan saya jadi nggak ngantuk. Padahal biasanya saya selalu ngantuk di pagi hari. Ohya, selain sarapan buah, saya juga minum air hangat plus jeniper (jeruk nipis peras). Ngeriiii sih awalnya. Apa iyaa nggak perih??!!! Tapi bener ternyataaa... lagi-lagi sama sekali nggak perih! Malah rasanya perut jadi nyaman dan badan lebih bugar. Meskipun memang berat sih emang makan nasi cuma sepiring sehari. Huhu. Bukan, bukan fisik saya yang merasa keberatan, tapi hati saya. Saya cinta banget sama nasi. Haha.
Alhamdulillahnya, saya ketemu sama artikel tentang FC seperti yang ditulis sama Mbak Jihan itu. Beliaunya nggak saklek dan ekstrim kasih penjelasannya, jadi saya nggak jiper duluan. Pelan-pelan aja, semampunya dulu. Nggak papa minum susu atau ngemil coklat, TAPI sekali-sekali saja. Hanya sekedar sebagai makanan rekreasi. Coba kalau saya ketemu artikel FC yang langsung 'mengharamkan' susu, eskrim, dll. Wuiihh, yakin saya nggak akan pernah minat nyicipin nih teori. Haha. Emm, ohya, saya juga belom bisa makan sayur mentah -- kecuali yang sudah umum dimakan mentah.

Saya tahu sih usaha saya ini belum seberapa. Tapi setidaknya saya sudah memulai. Karna konon, yang paling berat itu memulai. Dan yang lebih berat lagi itu mempertahankan. Iya, saya nggak tahu saya akan kuat berapa lama :D. Yang saya tahu, saya merasa sudah saatnya lebih serius menjaga kesehatan. Emm, dan saya masih punya PR besar: olahraga!

Terjangan Arus Fashion

on
Selasa, 12 Mei 2015
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Hal itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (al-A’raf: 26)

Hari-hari sekarang ini -- ketika online shop semakin menjamur, fashion blogger bermunculan, dan akun instagram para artis wanita selalu memanjakan mata, menahan diri untuk nggak terseret arus fashion memang rasanya berat sekali. Kalaupun sudah mampu meneguhkan hati untuk nggak terseret, masih ada satu lagi tantangan yang tak kalah berat. Yaitu, menebalkan telinga. Pasti akan ada saja komentar yang membuat telinga menjadi merah. Ketinggalan jaman, nggak fashionable, kuno, dll -- adalah beberapa contoh komentar yang cukup menguji hati tersebut.

Kebetulan saya bekerja di lingkungan sebuah kampus swasta. Dan seringkali, saya dibuat melongo oleh penampilan para mahasiswinya. Gaya berpakaian a la hijabers community bertebaran di penjuru kampus (karna kampus tempat saya kerja adalah kampus islami). Kadang malah saya merasa gaya berpakaian beberapa mahasiswi lebih mirip hendak ke mall atau ke kondangan dibanding hendak kuliah. Hehe. Saya kadang suka mikir, berapa budget yang harus mereka keluarkan untuk mengikuti mode hingga sedemikian rupa? Dan bukankah mereka mahasiswi yang belum punya penghasilan sendiri? Dulu, rasanya saya hampir nggak pernah dikasih uang khusus untuk beli baju, dll. Uang saku ya cuma buat makan. Beli baju paling kalau pas lebaran, atau dari hasil ngumpulin sisa uang saku. Ah, tapi itu kan saya, mungkin beda dengan mereka.


Ya, mungkin sebagian besar mahasiswi memang berasal dari keluarga berada. Jadi, tentu bukan masalah besar jika mereka hendak mengikuti arus fashion yang semakin hari semakin menggila. Tapi bagaimana dengan yang berasal dari keluarga seperti saya -- yang buat biaya hidup dan biaya kuliah saja sangat pas-pasan? Akan ada dua pilihan jalan. Meneguhkan hati tetap pada penampilan apa adanya, atau memilih terjungkal-jungkal dan ngotot mengikuti apapun caranya. Duh, ngeri sekali jalan yang kedua itu -- yang sayangnya, saya tahu persis ada beberapa yang nekat memilihnya. Pernah dengar prostitusi di kalangan mahasiswi? Itu adalah contoh ekstrim dari pilihan jalan yang ke dua tadi.

Saya punya kenalan salah satu mahasiswi. Dia berasal dari keluarga yang 11-12 dengan saya. Awalnya saya salut dengan cara dia menghemat uang saku. Dia makan seadanya, seringnya masak sendiri. Tapi lama-kelamaan saya merasa cara makan dia sangat nggak sehat. Kadang cuma bikin bubur pake magic com, tanpa lauk apapun. Kadang malam nggak makan. Anehnya, saat ia sedang punya uang (habis dapat kiriman uang saku), ia tak sungkan untuk segera membeli baju yang harganya menurut saya lumayan. Dan yang bikin gemes ,setelah membeli baju ia akan sibuk mengeluh nggak punya uang setiap jam makan. Yang lebih mengherankan lagi, dia punya utang ke beberapa orang, yang tetap belum dibayar padahal dia udah bisa beli baju -- sedangkan utangnya 'hanya' sepersepuluh harga baju yang barusan dia beli. Tapi hal seperti itu ternyata menjangkit hampir seluruh lapisan usia -- nggak cuma anak muda. Di lingkungan rumah saya, saya juga pernah beberapa kali mendengar cerita tentang para ibu rumah tangga yang punya banyak hutang demi membeli baju-baju dengan model paling update. Subhanallah...

Yah, hidup memang pilihan. Dan tiap orang Allah beri kebebasan untuk memilih jalannya. Termasuk memilih untuk tetap tampil sederhana, atau menceburkan diri dalam terjangan arus fashion yang nggak akan ada habisnya. Hanya yang perlu diingat, harusnya kita cukup dewasa untuk tidak menggadaikan banyak hal berharga demi memenangkan keinginan untuk mengikuti mode. Hidup terlalu berharga dibanding sekedar 'penampilan luar' bukan? Ada hal yang lebih hakiki yang harusnya lebih menguras perhatian kita dibanding hanya sekedar mempercantik penampilan, yaitu mempercantik hati. Eits, tapi tentu saja saya nggak bilang memperhatikan penampilan itu salah. Yang paling penting, sewajarnya saja :)

Signature

Signature