#SelfReminder1: Tentang Perasaan Kita Dan Perasaan orang Lain

on
Rabu, 05 Februari 2014
^^ Ketika kamu berpikir bisa ngomong apa aja dan berekspresi semaumu saat kamu bercanda, maka kamu salah besar. Ketahuilah bahwa nggak semua orang punya mampu menangkap maksud humormu, dan nggak semua orang pula punya selera humor yang levelnya sama denganmu. Siapa tahu saat kamu tengah ingin bercanda, seseorang yang kamu bercandai justru tengah berada dalam kondisi hati yang compang-camping, hingga kalimat bercandamu justru akan sangat melukai.

^^ Ketika kamu tengah bersedih, janganlah merasa bahwa semua orang harus mengetahuinya pula, lalu memposisikan diri seolah menjadi orang paling menderita di dunia. Ketahuilah bahwa semua orang punya masalahnya masing-masing, tapi nggak semua orang mengumumkannya. Ada yang menyimpannya dan menghadapinya sendiri, dan berusaha terlihat selalu baik-baik saja di depanmu. Maka, akan jadi sangat memuakkan baginya jika masalahnya sendiri sebenarnya beribu kali lipat lebih berat dari masalah yang kamu gembar-gemborkan.

^^ Kamu tau kenapa kita diperintahkan untuk menjaga lisan dari menyakiti orang? Mungkin salah satunya karna Allah membuat makbul do'a orang yang tersakiti. Dan adakalanya orang yang tengah tersakiti tidak dapat mengendalikan diri dari mengucap doa kurang baik atas orang yang menyakitinya.

Ya, karna hidup bukan hanya tentang menjaga perasaan diri sendiri, tapi lebih dari itu. Ada hati-hati orang lain di sekitar kita yang wajib kita jaga pula perasaannya. Sekian.

Belajar Masak

on
Sabtu, 01 Februari 2014

Saya jauh lebih suka belajar masak dibanding belajar menjahit, kebalikannya mbak saya. Meski dia juga selalu 'mencibir' bahwa sampai saat ini hasil belajar masak saya belum ada yang benar-benar 'wow'. Tapi seingat saya juga nggak ada yg hancur banget. *menghibur diri*

Yah, sebenernya, proses belajar apapun kan selalu ada lika-liku dan cobaannya, ya? Kalo mengutip sebuah jargon iklan sih, 'nggak ada noda ya nggak belajar'. Seperti anak kecil yang harus terlebih dulu jatuh bangun saat belajar jalan, harusnya kita orang dewasa juga bisa seperti itu. Nggak gampang nyerah saat tersandung, lalu menarik kesimpulan 'sudahlah, memang bukan jatah saya belajar ini'.

Halah, kok saya malah sok berfilosofi sih. Padahal niatnya mau cerita soal perjalanan saya belajar masak. Selama ini saya sok-sokan ngambil resep-resep dari internet untuk saya praktekkan. Yah, milih resepnya yang sederhana sih (dalam artian bahannya gampang, dan nggak pake acara ngoven, karna gak punya, heuheu). Dan lebih seringnya resep kue-kue gitu, jarang resep lauk ato sayur.

Karna saya masih amatiran pake banget, seringnya masih saklek sama resep. Jadi apa yang ada di resep ya saya terapkan sama plek, terutama takarannya. Saya tutup telinga waktu ibu bilang jangan sepenuhnya percaya sama takaran dari resep, pake insting sendiri juga. Akhirnya waktu-lah yang membuat saya belajar *halah*. Saya sadar juga kalo soal takaran (terutama air, gula, garam) itu ya menyesuaikan aja gimana pasnya. Tentu saja kesadaran itu datang setelah beberapa kali tragedi ke-enceran, bantat ato hambar yang menimpa hasil masakan saya. *apa to ini?*

Akhirnya saya juga sadar bahwa nggak seharusnya saya mengabaikan nasehat ibu yg reputasinya. Saya pun mulai meminta pertimbangan ketika tengah mencoba beberapa resep. Tapi apa daya, hal itupun tak lantas membuat proses belajar masak saya.

Jadi ceritanya, kemaren pagi itu saya pengen bikin donat, dikasih resep sama Mbak Ella. Dulu udah pernah bikin sih, tp kurang lembut dan kurang bagus bentuknya. Nah, saya optimis sekali donat saya kali ini akan sukses. Dengan semangat empatlima saya nguleni adonannya yang udah hampir kalis. Sampe akhirnya, terjadilah peristiwa tragis itu *dramaqueen bingit*.

Menurut ibu saya adonannya kurang kalis dikit, jadi perlu ditambah tepung. Saya pun mengiyakan, dan meminta tolong pada beliau untuk mengambilkan tepungnya sekaligus menambahkannya pada adonan, karna tangan saya belepotan. Oke, tepungpun dituangkan. Sampe beberapa saat setelah tepung tambahan itu dituang dan telah saya aduk, beliau tiba-tiba berkata, "Lho, nduk... Ternyata kui mou tepung tapioka, salah ambil!". Omaigad!!!

Hemmm, udah dua kali ibu saya 'menyabotase'  uji coba saya. Sebelumnya, beliau juga membuat adonan kue dadar gulung saya terlalu encer, dan membuat isi dadar gulungnya jadi bau daging kambing gara-gara salah mencelupkan susuk yang bekas tongseng kambing. Huahuahua...

Bagi saya hal-hal seperti merupakan ujian kesabaran. Bagaimanapun, saya tetap harus menahan mulut criwis saya buat nggak ngomel-ngomel. Meskipun untuk nggak bermuka masam itu saya belum bisa T.T

Yah begitulah lika-liku perjalanan belajar masak saya.

NB: saya dapet PeEr dari ibu buat belajar menjahit juga. Karna bagi beliau wanita yang gak bisa masak dan menjahit itu kurang lengkap. Apalagi kalo sekedar bisa internetan dan maenan gadget. Hehe

Warna-Warni Dunia Kerja

on
Kamis, 30 Januari 2014


Nggak terasa sudah setahun lebih saya berada di dunia kerja, mencicipi cita rasanya, juga berusaha menyesuaikan diri dengan berbagai perbedaan dengan dunia saya sebelumnya. Ya, dunia kerja dan dunia kampus (sekolah), tentu saja berbeda jauh. Kalo saat masih sekolah atau kuliah kita masih seneng grubyak-grubyuk sama temen-temen, hal itu pasti akan sangat jarang bisa kita lakukan sama temen kerja. Kalo saat kuliah ato sekolah kita ‘kompak’ banget menyelesaikan berbagai tugas bersama, bahkan tak segan untuk saling membantu, nggak begitu halnya saat sudah ada di dunia kerja. Meski kita diwajibkan untuk bisa saling bekerja sama, tetap saja masing-masing orang punya jobdesc-nya masing-masing, dan harus mereka selesaikan masing-masing pula. Iya, kan?

Sejauh ini, saya selalu berusaha untuk nggak lepas bersyukur telah ‘diletakkan’ Allah di tempak kerja saya ini. tempat yang memberi saya banyak sekali kesempatan untuk belajar. Belajar lebih banyak hal-hal yang berkaitan dengan disiplin ilmu saya, juga tentang warna-warni sisi kehidupan. Ya, bukankah kita harus selalu belajar – bahkan dari keburukan sekalipun?

Setahun kerja, saya sudah beberapa kali mengalami pergantian rekan kerja. Dan dari beberapa kali pergantian tersebut, saya mulai bisa menemukan ‘pola’ sikap teman-teman kerja saya (mungkin termasuk saya sendiri). Setiap ada rekan kerja baru, beberapa teman cenderung membangun ‘tembok’. Lalu yang berkembang selanjutnya adalah berbagai ‘kasak-kusuk’ tentang berbagai sikap (yang terlihat) negative dari rekan kerja baru tersebut. Beberapa kali pola tersebut terulang, saya jadi bisa sedikit menarik kesimpulan. Kalo terlihat banyak sekali sisi negative dari rekan kerja baru tersebut, bukan karna dia memang benar-benar seperti itu, tapi semata karna kita yang sudah lebih dulu membangun ‘tembok’ yang menghalangi kita untuk bersedia mengenal dan menilai secara objektif rekan baru kita tersebut. Yah, mungkin mirip-lah sama penyebab orang yang susah move on *yang ini sok tau*.
Kalo soal persaingan dan konflik kepentingan antar rekan kerja sih mungkin sudah termasuk hal klise ya di dunia kerja. Sering denger cerita dan beberapa kali lihat sendiri juga orang yang sibuk cari muka di depan atasan. Apalagi iri-irian soal perbedaan ‘penghargaan’ yang diberikan pada masing-masing karyawan. Hmm…

Sadar ato nggak, kadang ada beberapa dari kita yang menodai jalan rizki yang sebenarnya halal. Contohnya, dengan saling menghasut ato menjatuhkan citra rekan kerja misalnya. Semoga kita masih punya cukup harga diri untuk menghindarkan diri dari cara-cara rendah seperti itu. Kalo soal iri karna adanya perbedaan ‘penghargaan’, saya pikir nggak papa selama kita bisa menempatkan iri itu sesuai porsinya – yang bisa mendorong kita untuk lebih berprestasi lagi.

Satu lagi hal penting yang saya pelajari dari dunia kerja ini adalah: berani mengakui kelebihan teman, dan nggak pegecut untuk mengakui kekurangan serta kesalahan kita. Dan itu sama sekali nggak gampang! Denger atasan memuji hasil kerja rekan kita, kalo kita nggak berjiwa besar sangat berpotensi bikin telinga dan hati jadi panas. Apalagi kalo di sisi lain ternyata ada kerjaan kita yang salah atau kurang sempurna… wah, wah… benar-benar hati yang teramat lapang untuk mengakuinya dengan legowo.

Tidak Ada Judul

Semalam aku mimpi kamu. Aku benar-benar lupa seperti apa kronologi kejadian dalam mimpiku, yang jelas aku ingat ada kamu di situ.

Lalu, pagi ini aku 'bertemu' potongan namamu di beberapa ayat dalam Surah Hud. Aku nggak sedang berusaha menghubung-hubungnkannya. Hanya saja dua hal itu jadi teramat sukses membuat hatiku didera rindu.

Ah, rindu. Kata yang sebenarnya tak lagi ingin kuungkap, apalagi ku besar-besarkan. Memang sudah jalannya seperti ini. Memang seperti inilah fitrah hidup yang harus terjadi.

Aku tau akan selalu ada orang-orang baru yang datang dalam rangkaian hari-hariku untuk memberiku satu lagi pengajaran baru, untuk menggantikan orang-orang terdahulu yang sudah habis masanya lalu melanjtkan perjalanan bersama orang baru. Tapi kamu, satu dari sedikit orang yang membekas cukup dalam dalam hatiku. Terimakasih pernah menjadi sahabatku.

Rasa kehilangan, hanya akan ada jika kau pernah merasa memilikinya. Ya, aku memang pernah merasa memilikimu.

"Inilah hidup, Nok..." begitu katamu.

**Baik-baik disana, ya, Kak... Aku tau kamu nggak bakal pernah baca tulisan ini. Karna dunia kita sudah sangat berbeda, meski nama planetnya tetap masih sama :)

Tabur Tuai

on
Senin, 27 Januari 2014

Pernah denger istilah hukum karma, kan? Percaya? Kalo saya lebih seneng pake istilah tabur tuai sih. Intinya sih kayaknya sama.

Ya, dalam sebuah hadist juga dikatakan bahwa Rasullullah SAW.bersabda,”kama tadiinu tudaanu sebagaimana kamu memperlakukan,maka begitu juga kamu akan diperlakukan“(H.R.Ibnu ’Adi,Arbain Tarbawi). Yah, begitulah… pada dasarnya masing-masing diri kita-lah yang menentukan sendiri nilai diri kita masing-masing. Kalo kita nggak menghargai orang, ya secara nggak langsung kita udah bikin diri kita nggak patut dihargai. Kalo kita suka menyakiti orang ya otomatis orang lain akan enteng saja menyakiti kita, begitu juga sebaliknya.

Dan ajaibnya, hasil yang kita tuai atas tiap tindakan kita, nggak selalu kita dapat dari pohon yang sama yang benihnya telah kita tabor sebelumnya. Emm, gampangnya gini… saat kita berbuat baik ke seseorang, kita juga akan dapet ‘balasan’ berupa kebaikan pula, tapi bukan dari orang tersebut melainkan dari orang lain.  dan sayangnya kita kadang nggak sadar, dan jadi kebawa sebel kalo orang yang udah kita baikin tadi malah nggak terlihat membalas kebaikan kiva secara langsung. Iya, nggak?
Begitu juga saat kita disakitin sama seseorang. Kita nggak perlu loh repot-repot mikir keras buat bales tindakan nyakitin dia ke kita… yakin deh seyakin-yakinnya kalo dia bakal tetep dapet balesan atas tindakan menyakitkannya tersebut. Nggak perlu lewat kita! Tapi ya kita nggak selalu tau sih waktu dia sedang dalam fase ‘menuai’. Bisa aja dia akan tetep terlihat baik-baik saja dan selalu bahagia di mata kita.

Yah, Allah memang Maha Adil sih, ya… kalo misal apa yang kita tuai itu selalu hanya dari pohon yang benihnya kita tabur langsung, ya susah dong. Bisa-bisa kita malah kebawa sebel kalo sering dibaikin sama orang, soalnya langsung mikir harus bales. Hihi. Eh, dan satu lagi… pasti kita jadi males banget pergi takziah! Kenapa? Lhah, kan kalo sekedar mikir soal bales-membales secara langsng, toh orang yang kita takziahi nggak bakal bisa bales buat datang takziah waktu giliran kita yang harus ditakziahi. Hehe

Jepara Berkabung

on
Jumat, 24 Januari 2014
Saya nggak peka kali yaa...
Tapi beneran loh, saya kaya' baru sadar kalo kota saya ini tengah berduka. Banjir dimana-mana. Benar-benar sedang dirundung bencana. Padahal sebelum-sebelumnya nggak pernah sampe kaya' gini.

Iya, saya tuh emang seneng sama hujan. Berangkat plus pulang kerja kehujanan terus ya saya asyik-asyik aja. Pokoknya kemaren-kemaren itu saya masih seneng-seneng aja hujan terus-terusan, dan heran sama temen-temen yang udah pada resah banget ngomongin hujan. Sudah dari seminggu yang lalu juga temen kerja tiap pagi update berita-berita tentang Jepara dari salah satu fanpage di FB. Tapi kok ya saya masih tetep cuek. Kirain cuma dilebih-lebihkan.

Baru sadar kemaren, waktu Mbak Nita sms kalo wilayah deket tempat tinggalnya juga banjir parah ternyata. sampe pada ngungsi gitu. Ya Allah... bener-bener tercengang. Terus tiga hari yang lalu pagi-pagi juga salah satu temen whatsapp saya, katanya dia ikut kebanjiran. Lagi-lagi saya ngiranya yah paling cuma di halaman, dan cuma semata kaki lah yaa. Eh ternyata dapet kabar dari Mbak Nita lagi kalo wilayah tempat tinggal temenku yang itu tu sampe pada harus ngungsi semua. Saya langsung coba hubungi dia lagi, karna setelah whatsapp dia yang ngabarin dia kebanjiran, dia nggak bales apa-apa lagi. Dan hasilnya? Nihil! Saya belum bisa hubungi dai sama sekali sampe hari ini. Nomornya nggak aktif. Ya Allah... saya cuma bisa berdoa semoga dia dan keluarganya tetep dalam lindungan Allah.
Ds. Tigajuru-Jepara


*Pray for Jepara*

Jadi, Dandan Buat Siapa?

on
Rabu, 22 Januari 2014
Saya sebenarnya belum lama tahu tentang sosok Pakdhe Cholik. Tentu saja bukan karna beliaunya kurang terkenal, tapi karna saya kuper dan terhitung blogger baru.  Sejak kemarin saya melihat beberapa postingan teman di WeBe tentang giveaway 2 Hari-nya Pakdhe, tapi harus menahan penasaran hingga hari ini karna koneksi internet yang payah sekali sejak kemarin. Hari ini Alhamdulillah koneksi membaik, dan saya bisa membayar rasa penasaran itu, lalu memutuskan untuk turut menyemarakkan giveaway ini sebagai salah satu tanda perkenalan dengan Pakdhe :)

setelah beberapa saat menyelami beberapa tulisan Pakdhe, saya langsung tertarik pada sebuah tulisan berjudul “Wanita BerdandanUntuk Siapa?”. Ehm, oke… saya cukup sering kepikiran tentang hal ini, karna di sekitar saya cukup banyak saya temui realitas yang cukup disayangkan.

Ya, saya jauh lebih sering menjumpai fenomena seorang wanita yang heboh sekali menata penampilannya saat di luar rumah, tapi saat di dalam rumah… hmm, daster robek-robek selalu jadi busana andalannya. Padahal kalau dipikir-pikir, apa untungnya ya dandan buat orang lain yang bukan siapa-siapa? Mengharap pujian? Apa nggak lebih seneng dipuji suami dan anak-anak? Okelah, saya juga wanita, saya tahu mempercantik penampilan itu sudah jadi semacam fitrah. Berarti mungkin jalan tengah terbaiknya ya seperti nasehat pakdhe dalam tulisannya tersebut, “Sesibuk apapun, wanita sebaiknya tetap berpakaian rapi di rumah”.  Jadi harus tetap imbang.

Nah, bagaimana dengan wanita yang masih lajang seperti saya? Kalau saya pribadi sedang terus berusaha mengingatkan hati agar ngak berpikir buat terus mempercantik penampilan dengan niat utama menarik lawan jenis. Saya terus menggarisbawahi nasehat salah seorang penulis favorit saya, bahwa seorang laki-laki yang mencintai hanya karna tampilan fisik bukan mustahil suatu saat juga akan dengan mudah pergi karna alasan yang sama pula ketika ada tampilan fisik yang jauh lebih menarik.

Tulisan ini diikutsertakan dalam event Giveaway 2 Hari Pakdhe Cholik

Signature

Signature