Modal Menjadi Orangtua

on
Jumat, 27 Januari 2017

Modal Menjadi Orangtua. Gak lama lagi Insya Allah saya punya amanah baru, yaitu sebagai orangtua. Amanah yang konon sama sekali gak ringan. Dan itu bikin saya banyak merenung, sekaligus sedikit resah. Selain resah memikirkan siapa nanti yang jagain si adek selepas masa cuti melahirkan saya habis, saya juga resah memikirkan soal; sudah punya modal apa saya untuk menjadi orangtua sebentar lagi? Saya takut gak punya cukup modal, sehingga saya gak bisa jadi orangtua yang baik buat anak saya. Apa ini tergolong terlalu paranoid?

Anehnya, semakin ke sini saya justru semakin malas membaca buku-buku bertema parenting. Beda sekali dengan saat sebelum menikah. Dulu saya rajin sekali baca buku parenting karna merasa itu modal penting untuk bisa menjadi orangtua yang baik. Sekarang, beberapa buku parenting malah bikin saya merasa semakin takut. Takut gak bisa memenuhi berbagai standar itu. Takut gagal.

Tapi, saya mendapatkan sebuah 'titik terang' saat pulang kampung seminggu lalu.

Saya dan mas suami mendapat kejutan ketika memasuki kamar. Di sana, sudah ada sebuah almari anak-anak baru, yang ternyata dipersiapkan oleh ibu khusus untuk anak saya. Saya terenyuh seketika. Sudah ada pula ember mandi bayi.

Padahal saya hanya akan dua bulan tinggal di sana selama cuti melahirkan. Setelah itu, saya akan kembali berdomisili di Semarang, dan ibu saya akan kembali harus bersabar menahan rindu pada saya, plus pada cucu barunya.

Lalu kenapa ibu saya mau repot-repot menyiapkan almari dll, padahal toh beliau tau bahwa gak lama kemudian beliau akan kembali kami 'tinggalkan'?

Pikiran semacam itu juga terlintas di benak saya ketika saya hendak menikah.

Bapak-ibu saya merupakan orang yang paling bahagia setelah saya, sekaligus paling sibuk mengurus segala macam persiapannya. Sibuk pikiran, materi dan tenaga. Saya mikir, kenapa mereka mau-maunya sebegitu dibuat repotnya sekaligus sebegitu bahagianya menyambut pernikahan saya, padahal mereka tau bahwa setelah saya menikah maka seketika itu hak mereka atas saya berpindah tangan pada orang lain (suami saya)? Padahal mereka juga tau bahwa hanya beberapa hari setelah segala macam keriuhan acara pernikahan saya, saya akan meninggalkan mereka dalam kesepian?

Kenapa?

Tulus. Karna mereka punya cinta yang tulus pada saya. Ketulusan lah yang membuat mereka turut berbahagia sepenuh hati saat melihat anaknya bahagia, meski setelahnya mereka harus menanggung nestapa.

Ketulusanlah yang membuat mereka tak hendak menghitung-hitung apa yang telah mereka keluarkan, untuk dimintai balasan pada anaknya.

Ketulusanlah yang membuat mereka selalu berupaya memberikan dan melakukan yang terbaik demi anaknya.

Dan saya simpulkan, itulah (salah satu) modal utama menjadi orangtua: KETULUSAN.

Saya tau belajar berbagai ilmu parenting juga modal yang penting. Tapi pengetahuan atas ilmu parenting yang gak didasari ketulusan sepertinya hanya akan membuat kita kelelahan saat berusaha mengaplikasikannya.

Seorang teman bercerita pada saya. Sebelum memiliki anak, dia sering bangun kesiangan. Setelah memiliki anak, dia selalu terbangun jam tiga dini hari, dan segera bergegas menyiapkan segala macam keperluan anaknya sebelum dia berangkat kerja jam tujuh pagi.

Saya tanya, gimana caranya mengubah kebiasaan bangun? Karna saya sudah pernah mencoba sendiri untuk melakukan itu, dan belum berhasil sampai sekarang. Sama sekali bukan hal mudah. Teman saya menjawab; naluri tulus sebagai seorang ibu lah yang bikin saya bisa melakukan itu.

Jadi, sebelum terlalu pusing belajar teori ini-itu tentang parenting, sepertinya membangun cinta yang tulus pada anak mulai sekarang menjadi jauuhhh lebih penting. Bukannya perasaan itu akan muncul dengan sendirinya? Entahlah. Tapi menurut saya enggak. Pernah dengar cerita tentang orangtua yang 'menuntut' anaknya membalas apa yang telah ia berikan? Atau contoh sederhananya, orangtua yang 'menuntut' anaknya meraih predikat terbaik di sekolah karna telah dileskan macam-macam. Menurut saya itu bentuk ketidaktulusan. Jadi menurut saya, tetap butuh usaha.

Ini hanya tulisan dari seorang calon ibu yang tengah resah mempersiapkan diri. Bisa jadi banyak yang gak pas. Bisa jadi, ada yang berkenan membagi cerita tentang membangun ketulusan pada anak? Saya pasti akan senang sekali :)

Cerita Pengalaman Memakai Mud Mask Jafra

on
Kamis, 19 Januari 2017
Setelah galau dengan masa-masa penuh jerawat menjelang pernikahan dulu, kini masa itu datang lagi sejak saya dinyatakan hamil. *usap ingus*

Tapi jerawat memberi saya pelajaran. Setidaknya sekarang saya jadi paham, kenapa kaum perempuan selalu jadi sasaran empuk industri kecantikan. Ternyata, hal se-upil semacam jerawat aja bisa membuat galau gak ketulungan. Dulu sebelum merasakan jerawatan, mana paham saya soal ini. Bisanya cuma mencibir, ngapain sih beli skin care macem-macem dan mahal banget pula, jika dirawat seadanya saja sudah baik-baik saja?! Makan tuh cibiran =D

Saya benar-benar dibuat sedih dan pusing melihat jerawat di muka saya tiap ngaca. Hiks. Kata orang-orang, jerawat saya ini pengaruh perubahan hormon selama kehamilan. Oke, baiklah saya percaya, mungkin memang gara-gara itu. Tapi tetap aja sedih, karna selain berjerawat, wajah saya jadi kusam banget. Lalu saya sadar, bahwa penyebabnya adalah kemalasan saya merawat wajah sejak hamil muda. Dan saya menyesal. Kemudian saya kepikiran untuk mencari produk perawatan wajah yang aman untuk ibu hamil.

Dulu gak terbayang sedikitpun akan merelakan uang lebih dari seratus ribu untuk beli masker. Beda sama sekarang. Sekitar tiga minggu lalu akhirnya saya mencetak sejarah dengan membeli masker wajah dengan harga lebih dari seratus ribu. Hihi.

Masker apa sih emangnya?

Mud Mask-nya JAFRA =D


Ini semua gara-gara review-nya Mbak Echa dan Mbak Ila tentang pengalaman menggunakan mud mask Jafra, yang akhirnya mendorong saya untuk cari-cari info tentang produk tersebut. Tadinya masih sebatas penasaran dan pengen aja sih, mengingat harganya yang cukup fantastis di mata saya. Sampai akhirnya suatu hari salah satu teman saya memasang produk Jafra di Display Picture BBM-nya. Ternyata, beliau merupakan salah satu beauty consultant-nya Jafra. Iseng lah saya tanya-tanya, yang berlanjut curhat tentang jerawat, dan berlanjut pada 'kenekatan' saya memesan mud mask Jafra.

Selang sekitar seminggu setelah percakapan saya dengan beauty consultant-nya Jafra yang sekaligus teman saya, Mud Mask Jafra sampai dengan cantik di kantor saya. Ohya, saya belinya yang kemasan kecil (tapi bukan yang re-package) berisi 75 ml. Sebenarnya kemasan ini khusus untuk member Jafra saja, tapi dia 'rela' menjualnya demi saya yang pengen coba mud masj Jafra, tapi masih ragu untuk membeli yang kemasan besar. Saya membelinya dengan harga Rp 150.000,-.

Lalu bagaimana pengalaman saya mencoba Mud Mask Jafra?

Saat hendak menggunakan, saya sempat bingung, ngolesinnya ke muka gimana ya? Harus pakai kuas kah? Setelah segel saya buka, ternyata teksturnya seperti BB Cream, tapi lebih kental. Saya coba-coba berhadiah saya langsung oles seperti saat memakai pelembab atau BB Cream.

Kesan pertama untuk Mud Mask Jafra dari segi cara memakai, saya suka. Simpel, gak ribet. Gak perlu pakai kuas pun sudah sangat mudah diratakan.


Setelah rata, diamkan 15-20 menit. Saat Mud Mask Jafra nempel di kulit wajah, rasanya hangat. Aromanya juga saya suka. Herbal banget. Kalau gak salah sih aromanya mirip jahe, tapi gak tau itu beneran aroma jahe apa gak. Setelah kering, Mud Mask Jafra cenderung gak terlalu kencang di wajah, seperti kebanyakan masker yang pernah saya coba sebelumnya.

Setelah 15-20 menit, saya membersihkan masker di wajah dengan cara membasuh muka biasa. Kata teman saya sih seharusnya diseka pakai air hangat. Tapi berhubung saya pakainya menjelang tidur dan sudah ngatuk syekali, yasudah dibasuh saja, sekalian wudhu sholat Isya'. Hehe.

Gimana rasanya setelah masker dibersihkan?

Enak sih. Terasa fresh. Kalau soal perubahan, saya gak mau mengada-ada. Ini kan bukan sulap, jadi gak mungkin dari empat kali pemakaian muka saya langsung kinclong lagi. Tapi saya merasa kusamnya agak berkurang. Noda-noda hitam bekas jerawat di dahi juga mulai memudar, meskipun belum hilang.

Tapi sedihnya, munculnya jerawat baru masih belum juga bisa di-stop =(( Dipemakaian pertama dan kedua juga sempat muncul bintik-bintik kecil di sekitar dahi. Tapi katanya sih itu reaksi wajar saat awal pemakaian produk Jafra. Alhamdulillah sekarang udah agak hilang.

Selain dipakai sebagai masker seluruh wajah, Jafra juga bisa dipakai dengan cara ditotol-totol ke jerawat yang sedang muncul, agar jerawatnya cepat matang lalu kering. Saya sudah pernah coba. Sayangnya, reaksinya gak secepat obat jerawat dari La Tulipe sih. Hehe. Tapi kan saya sedang hamil, jadi gak boleh pakai obat jerawat itu dulu =((

Baca: Review Acne Lotion La Tulipe

Ohya, tambahan sedikit. Saya sempat agak dibuat ragu gara-gara di bagian belakang kemasan, ada tempelan stiker berisi keterangan tata cara pemakaian. Heran aja, kok di stiker tempelan gitu? Setelah konfirmasi ke teman saya, beliau menjelaskan bahwa stiker itu ditempel oleh pihak Jafra Indonesia, karna di kemasannya memakai bahasa Meksiko. Oh baiklah, mungkin maksudnya biar pemakai Jafra di Indonesia gak bingung.


Kesimpulannya, sejauh ini saya suka dan cukup puas dengan Mud Mask Jafra ini. 3,5 dari 5 bintang.

Cuma kalau ditanya apakah saya akan re-purchase? Jawabnya, mungkin iya, mungkin tidak. Hehe. Harga yang gak bisa dibilang murah bikin saya mikir berulang-kali.

3 Hal Yang Harus Saya Punya Sebelum Memutuskan Resign

on
Sabtu, 14 Januari 2017
Memasuki kehamilan yang semakin tua ini, saya diliputi banyak kegalauan. Salah satunya kegalauan tentang, pada siapa nanti anak saya akan saya titipkan saat cuti melahirkan sudah habis? Sampai saat ini saya belum nemu calon 'mbak' buat anak saya. Sedangkan daycare di daerah Banyumanik Semarang, rata-rata menerima anak yang sudah bisa berjalan.

Ibu saya di desa sih dengan senang hati menawarkan, biar anakmu di sini, pulanglah seminggu sekali. Denger tawaran itu, saya langsung sedih. Langsung merasa jadi ibu yang kejam sekali jika hanya memberi waktu seminggu sekali untuk anak :(

Tak terelakkan, pilihan untuk resign muncul juga di pikiran. Tapi apa saya siap? Jujur saat ini belum. Ada beberapa hal yang harus saya pertimbangkan secara matang sebelum memutuskan untuk resign. Setidaknya, saya harus sudah punya satu cadangan kesibukan di luar tugas saya sebagai istri dan ibu. Saya tetap merasa butuh aktivitas untuk mengaktualisasikan diri.

Foto bareng Mbak Wati, Jiah dan Mbak nuna di acara Fun Blogging
Kadang iri melihat seorang ibu yang full-time di rumah, tapi tetap bisa berkarya. Tetap bisa mengaktualisasikan diri dengan baik. Salah satunya adalah Mbak Hidayah Sulistyowati. Seorang Blogger dari kota Semarang, yang pernah bergelut menyandang gelar sebagai wanita karier dengan posisi akunting. Beliau akhirnya memutuskan untuk resign, dan fokus memilih aktivitas blogging sebagai sarana berkaryanya. Saat saya tanya apa alasan Mbak Wati -- begitu panggilan akrab Mbak Hidayah Sulistyowati sehari-hari -- resign dari pekerjaan kantorannya, Mbak Wati mengatakan bahwa alasan utamanya adalah bosan dan ingin gampang ngintil suami. Tapi saya yakin sekali, ada pertimbangan matang di balik keputusan tersebut. Kalaulah Mbak Wati gak memakai pertimbangan matang, pastilah gak perlu menunggu tahun 2015 untuk memutuskan resign dari kantornya. Yang jelas, dari sosok Mbak Wati saya melihat, bahwa ketika ia memutuskan resign, ia tau persis apa yang hendak ia lakukan setelahnya. Terbukti, Mbak Wati sangat total menggeluti dunia blogging yang menjadi passion-nya. Hampir di setiap acara yang melibatkan Bloger di kota Semarang, selalu ada Mbak Wati salah satunya.

Header Blog Mbak Hidayah Sulistyowati
Dari Mbak Wati itulah kemudian saya belajar. Saya menentukan beberapa point yang harus terpenuhi sebelum saya memutuskan resign dari pekerjaan, agar gak mengambil keputusan dengan gegabah.

1. Niat yang lurus

Dalam hal apapun niat harus selalu jadi pondasi utama, ya. Saat nanti saya memutuskan resign, saya akan benar-benar memastikan bahwa niat saya lurus karna ingin mengabdi dengan lebih baik sebagai seorang istri dan ibu. Bukan karna 'panas' sama omongan orang, apalagi sekedar gara-gara baca tulisan nyinyir tentang wanita bekerja.

2. Siap dengan segala konsekuensi

Saat saya memutuskan resign dari kantor, pastilah akan ada masa di mana kondisi finansial keluarga gak lagi sama. Iya, rizki memang sepenuhnya urusan Allah. Tapi tetaplah wajib hukumnya bagi saya memstikan kesiapan diri saya menerima segala konsekuensi, terutama konsekuensi untuk bisa lebih hemat lagi dalam mengatur keuangan.

3. Tahu apa yang akan saya lalukan setelahnya

Dari hasil pengamatan sederhana saya, banyak dari stay at home mom terkesan jenuh dengan hidupnya yang hanya bergelut dengan pekerjaan rumah, ngurus anak dan ngurus suami saja. Iya betul, 3 pekerjaan itu memang ladang pahala. Tapi namanya manusia, pastilah wajar jika sesekali jenuh menghampiri. Jika jenuh dibiarkan dan tidak dicarikan solusi, pekerjaan yang sebenarnya merupakan ladang pahala malah bisa jadi ladang dosa karna melakukannya sambil uring-uringan berkepanjangan. Maka, sebelum memutuskan resign, saya harus tau aktivitas apa yang akan saya tekuni di sela-sela mengurus rumah, suami dan anak. Seperti yang sudah saya bilang di atas, saya tetap butuh sarana untuk mengaktualisasikan diri.

Tiga hal di atas merupakan rule utama yang harus saya pastikan sebelum mengambil keputusan untuk mengikuti jejak Mbak Hidayah Sulistyowati untuk resign dari pekerjaan. Dan saya tau persis, tiga hal tersebut belum terpenuhi standarnya dalam diri saya saat ini. Jadi tentu saja saya belum punya keberanian untuk memutuskan resign.

Saya hanya bisa berharap dan memohon pertolongan pada Allah, agar saya bisa menemukan orang yang tepat untuk menjaga anak saya nanti, setelah masa cuti saya berakhir. Aamiin.

Mohon bantuan doanya yaaa, teman-teman :)

#Resolusiku2017: Tentang Menjadi Ibu dan Menjadi Cantik

on
Rabu, 04 Januari 2017
#Resolusiku2017. Saya bukan tergolong orang yang rajin menulis resolusi setiap pergantian tahun. Pernah sih sok-sokan nulis resolusi. Tapi ya gitu, karna cuma ikut-ikutan, jadinya cuma anget-anget e'ek ayam, selang berapa hari setelah tahun baru biasanya sih udah lupa. Haha.

Jadi ya gitu, hidup saya kayak air mengalir aja. Gak ada target-target tertentu yang saya tentukan untuk dikejar banget agar harus tercapai di tahun tersebut. Resolusi nikah gimana? Iya, saya pernah bertahun-tahun menjadikan menikah sebagai resolusi. Tapi kan gak yang dikejar banget 'pokoknya gimana caranya harus nikah tahun ini, harus!'. Kan ya gak mungkin, wong saat itu saja saya belum ada calon =D

Alhamdulilkah, resolusi menikah sudah tercapai di 2016 lalu. Bukan dengan cara saya berusaha sekuat tenaga untuk mencapainya, melainkan mengikuti jalan cerita takdir saja :)

Tapi beda sama tahun ini. Tahun 2017 ini saya punya beberapa resolusi yang Insya Allah akan saya usahakan dengan segenap kemampuan saya agar bisa tercapai. Saya ingin menuliskan resolusi 2017 saya di sini, dengan harapan siapapun yang membaca akan turut meng-aamiin-kannya. Semakin banyak yang turut mendoakan, Insya Allah semakin dekat resolusi-resolusi saya dengan pencapaian.

Langsung aja yuk, berikut ini adalah #Resolusiku2017 saya:

1. Menjadi ibu dari seorang anak yang saat ini masih dalam kandungan saya berumur 31 minggu. Insya Allah dia lahir antara akhir Februari sampai awal Maret 2016. Sejujurnya saya punya resolusi tambahan, yaitu melahirkan secara normal. Alasannya bukan hal-hal semacam 'ingin merasakan jadi ibu seutuhnya dan lain-lain'. Ah, saya gak pernah sedikitpun menganggap bahwa melahirkan secara secar itu berarti belum jadi ibu seutuhnya. Gak ada rumus kayak gitu.

Alasan saya ingin sekali melahirkan secara normal adalah karna katanya kalau normal lebih cepat proses penyembuhannya. Alasan lainnya lagi, karna dari segi biaya melahirkan secara normal pastilah lebih terjangkau untuk ukuran tabungan saya dan mas suami yang gak seberapa. Hehe.

Baca Juga: Catatan Kehamilan

2. Memberi ASI Eksklusif untuk anak saya selama 6 bulan pertama. Ah, ini sih impian setiap ibu ya rasanya. Ibu mana yang gak pengen bisa kasih ASI buat anaknya? Soal ada yang akhirnya terkendala, lagi-lagi itu urusan takdir, kan?

Yang jelas saya ingin memasukkan ini sebagai salah satu resolusi, agar saya lebih semangat dan lebih bersungguh-sungguh untuk berusaha mencapainya. Karna saya tau, dalam prosesnya nanti, pastilah akan ada satu-dua hal yang menjadi tantangan. Dan semoga saya gak menyerah begitu saja saat saya ingat ini merupakan salah satu resolusi hidup saya di 2017.

3. Menghilangkan bekas jerawat di wajah. Haha, ini terdengar gak penting sekali ya sepertinya. Tapi tidak buat saya. Sejak hamil, jerawat saya tumbuh subur bak lumut di musim hujan. Lebih parah dari saat menjelang nikah dulu sepertinya. Katanya sih ini karna pengaruh hormon selama hamil, Insya Allah nanti setelah hamil ilang sendiri. Saya percaya dan yakin dengan pendapat itu sih.

Tapi yang hilang jerawatnya, kan? Soal bekas, itu lain lagi -_-. Beneran saya sedih tiap ngaca dan melihat totol-totol hitam bekas jerawat bertebaran di wajah saya. Lebih sedih lagi jika tiap pasang foto di akun media sosial atau aplikasi messanger banyak yang langsung pada komentarin jerawat saya, gak peduli apapun captionnya. Huhu, langsung merasa dunia ini kejam sekali =((

Maka dari itulah, menghilangkan bekas jerawat dan berusaha membuat wajah saya kembali mulus seperti jaman masih gadis merupakan salah satu resolusi saya. Usahanya bahkan sudah saya mulai sejak hari ini, dengan membeli beberapa produk kecantikan yang katanya aman untuk kehamilan tentunya. Selain jadi ibu, saya juga ingin jadi cantik dong. hehe. Bukan semata-mata ingin dipuji orang-orang. Ingin dipujinya sih sama suami aja =D *masasiiihhhh*

Meski mencanangkan tiga resolusi di atas, saya tetap menanamkan dalam hati bahwa ketercapaiannya tetaplah bergantung pada ridho Sang Penggenggam Alam Semesta. Agar jika ternyata ada yang meleset, saya ikhlas. Gak baper berkepanjangan.

Resolusinya cuma tiga? Iya, tiga aja. Bukan berarti gak ada hal lain yang ingin saya capai di tahun 2017 ini. Tentu saja ada, dan banyaaaakkk. Hanya saja yang saya canangkan resmi sebagai resolusi cukup tiga point di atas saja.

Sekali lagi, saya menulis ini dengan harapan semoga siapapun yang membaca berkenan turut mendoakan resolusi saya di atas. Jadi, dengan segenap kerendahan hati, mohon doanya yaaa teman-teman =))


2016 In Review

on
Sabtu, 31 Desember 2016
2016 In Review. Tumben banget saya nulis ginian di akhir tahun. Haha. Kayaknya sebelumnya belum pernah.

Why oh why?

Karna 2016 itu ISTIMEWA sekaliii buat saya. Benar-benar tahun penuh warna sekaligus menjadi tahun penuh sejarah dalam catatan hidup saya.

Gimana enggak?! Setelah bertahun-tahun menjadikan 'sesuatu' sebagai resolusi hidup yang terus berulang, akhirnya 'sesuatu' tersebut tercapai di 2016 ini. YEAYY!! Alhamdulillah.


Pasti kalian semua bisa menebak apakah 'sesuatu' tersebut. Ya MENIKAH lah! Apalagi cobaaa? =D

A photo posted by Rosa Susan (@rosalinasusanti) on

Iya, 2016 ini benar-benar warna-warni. Awal tahun 2016, tepatnya malam tahun baru, saya lembur di kantor sampe jam 7-an. Huhu, gara-gara ngurus re-inventing pajak -_-. Alhamdulillah tahun ini Insya Allah gak ada tanda-tanda harus lembur. Tax amnesty juga udah beres. Yeay!

Kalo diulas sedikit lebih detail, di bulan-bulan awal 2016 saya disibukkan dengan berbagai persiapan pernikahan. Gak sibuk-sibuk banget sih sebenarnya. Sebagian besar sudah dihandle oleh keluarga. Yang paling merepotkan justru persiapan hati. Haha.

Pertengahan tahun saya menikah. Subhanallah walhamdulillah. Seperti saya bilang di atas, menikah adalah salah satu resolusi yang saya canangkan berulang-ulang di beberapa tahun terakhir ini =D Setelah berulang-kali harus lapang dada mengikhlaskan resolusi tersebut gak tercapai, tahun 2016 ini Alhamdulillah tercapai =))

Baca: Persiapan Pernikahan

Masih di pertengahan tahun, selang sebulan saya menikah, Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah saya dinyatakan hamil. Duh, gak tau deh harus gimana mengungkapkan perasaan bahagia dan bersyukurnya =')

Baca: Kado Lebaran: Positif

Sedangkan di bulan-bulan terakhir 2016 ini, saya dan mas suami disibukkan dengan persiapan kelahiran buah hati kita yang Insya Allah akan lahir awal tahun 2017 nanti. Benar-benar kesibukan yang menyenangkan. Belanja baju bayi dan segala pernak-perniknya, belanja online pun yang dibuka gak jauh-jauh dari segala perkakas perbayinan. Hihi.

Untuk kerjaan, 2016 Alhamdulillah so far so good. Makin sibuk dan aneh-aneh sih kasus perpajakan di kantor. Tapi bikin saya makin paham soal pajak. Kalau kerjaan ngeblog gimana? Lagi-lagi, Alhamdulilla, kerjaan dari blog di tahun ini meningkat sangat tajam dibanding tahun 2016. Hehe. Yang lebih membahagiakan, sebagian besar perlengkapan bayi yang saat ini sudah saya beli itu dari hasil ngeblog lho. Masya Allah, benar-benar gak nyangka dari sekedar hobi bisa jadi salah satu pintu rizki buat saya =') Gak cuma blog, di 2016 ini juga beberapa kali mulai dapat job buat twitter dan Instagram. Aiiihhh, yang ini bahkan sama sekali gak pernah saya sangka. Terima kasih Blogger Perempuan telah menjadi perantaranya =')

Lalu resolusi 2017 apa? Nanti deh, Insya Allah di postingan lain, sekalian buat ikut GA Mbak Wati =D

Terima kasih atas berbagai rona bahagia di 2016 ini Allah, Segala puji sungguh hanya untuk-Mu.
Ijinkan kami mencecap kembali rona kebahagiaan yang jauh lebih berkah di 2017 nanti. Aamiin.

Jalan Takdir

on
Sabtu, 24 Desember 2016

Pernah gak sih menebak-nebak jalan takdir diri kita sendiri, maupun orang lain? Saat sekolah mengira-ngira nanti bakal kerja apa atau di mana. Atau mengira-ngira kita bakal berjodoh dengan siapa, orang mana, akan tinggal di mana, dan lain-lain.

Pernah?

Saya pernah. Maklum, saya hobinya menghayal plus ngelamun sih. Haha. Gak cuma jalan takdir diri sendiri. Jalan takdir orang lain di sekitar saya juga sering sok-sokan saya kira-kira =D

Nyatanya, apa yang kita perkirakan selalu meleset. Jalan takdir sungguh seringkali penuh kejutan. Ya, saya sungguh takjub dengan perkara ini. Apalagi melihat fakta di lapangan. Contohnya teman-teman saya.

Salah satu teman saya yang prestasinya amat cemerlang, dulu saya membayangkan ia akan punya karir cemerlang di dunia akademik. Lanjut studi ke luar negeri, lalu menjadi dosen dengan karya-karya ilmiah luar biasa. Nyatanya, jalan takdir menuntunnya untuk mengambil keputusan yang gak kalah luar biasa dari apa yang pernah saya perkirakan dulu. Yaitu menjadi ibu rumah tangga, sembari berwirausaha sebagai online shopper. Yang dijual macam-macam. Jual tas ransel anak murah, jual baju anak-anak, hingga gamis dewasa pun ia jual. Benar-benar sesuatu yang hampir sama sekali gak terbayang di benak kami teman-teman kuliahnya.

Lalu ada satu lagi. Seorang teman yang ketika saya dan beberapa teman lain sedang asyik membicarakan keinginan menikah (maklumlah, jamn itu merupakan jaman dimana hasrat ingin menikah begitu tinggi, hehe), ia berkomentar dingin, "aku gak sedikitpun kepikiran untuk melakukan (segera menikah setelah lulus) itu!". Kami cuma ketawa menanggapi komentarnya saat itu. Maklum, dia juga salah satu teman yang punya otak brilian di kelas kami. Cita-citanya pun amat tinggi. Jadi maklum kalau dia gak pengen segera nikah.

Tapi nyatanya? Dia justru yang menikah paling cepat di antara kami yang saat itu ngrumpi pengen segera nikah. Sekarang anaknya udah dua! Haha. Apalagi penjelasannya kalau bukan soal jalan takdir?!

Teman sekolah (SMP dan SMA) lebih berwarna lagi. Gara-gara instagram nih, saya jadi update banget soal kehidupan teman-teman sekolah saya. Ada yang dulu luguuuuu banget penampilannya, eh sekarang modis pakai banget - dan jadi make up artist pula! Ada yang dulu roknya selalu di atas lutut dan hobi jalan-jalan ke MatahariMall, sekarang justru menutup rapat auratnya. Yang sebaliknya juga ada sih. Hehe. Lalu ada yang dulu anaknya sederhana sekali, sekarang hidupnya tampak glamour.

Kalau mau disebutin semua, kayaknya bakal panjang sekali ya daftarnya. Lalu apa pelajaran yang bisa kita ambil dari hal di atas? Sekali lagi, tentang jalan takdir yang misterius. Dan karena misterius, tenju saja kita wajib berikhtiar agar kita mendapat jalan takdir yang terbaik. Iya, kan? Lalu tentang jalan hidup yang bergerak dinamis. Yang harusnya membuat kita gak gampang merendahkan seseorang yang hari ini seolah ada 'di bawah' kita. Karena bisa saja kelak kita dan dia bertukar posisi. Siapa yang tau?

Kalau saya sendiri gimana? Sama sih, jalan takdir saya juga gak terduga. Gak nyangka bakal kerja di institusi tempat saya menyelesaikan pendidikan S1. Lebih gak nyangka lagi ketika kahirnya saya berjodoh dengan seorang laki-laki yang juga bekerja di institusi tersebut. Haha.

Yang terpenting dan harus selalu kita ingat, karena jalan takdir misterius, kita haruslah selalu berprasangka baik atas takdir kita di masa depan. Selalu yakinkan hati bahwa hanya yang terbaik yang akan kita dapat di hari esok :)

Liburan Akhir Tahun


Akhir tahun selalu identik dengan liburan. Apalagi kalau liburnya lumayan panjang seperti tahun ini karna ada cuti bersama. Di mana-mana yang jadi pembahasan jalanan macet, kawasan wisata penuh, dll. Kira-kira timeline juga bakal penuh dengan foto liburan gak, ya? Setidaknya itu akan lebih menyegarkan mata dan hati dibandingkan jika timeline penuh debat kusir soal politik. Haha.

Saya sendiri hampir gak pernah menyengaja liburan (dalam arti datang ke destinasi wisata tertentu) saat akhir tahun. Kalau ada istilah kurang piknik mungkin saya tergolong di dalamnya. Yah gimana enggak, liburan ke tempat wisata paling pas acara sekolah atau acara kantor saja. *ngenes

Meskipun hampir gak pernah liburan (dalam arti piknik) dan menyusun rencana perjalanan travel Breaktime, seenggaknya semenjak saya kerja di kota rantau, libur akhir tahun berarti bisa punya waktu cukup lama untuk bisa menikmati waktu di rumah. Bermanja-manja dengan ibuk. Makan sepuasnya masakan ibuk. Main sama ponakan. Ya, meskipun terkesan sederhana dan seadanya, cara liburan yang seperti itu sudah mampu menghilangkan berbagai penat yang terakumulasi di kepala.

Sayangnya, tidak dengan tahun ini.

Tadinya, saya juga berencana pulang di liburan akhir tahun kali ini. Kebetulan kakak saya (yang mana kami terakhir ketemu saat lebaran lalu) yang tinggal di luar kota juga pulang. Bayangan berkumpul dengan orang-orang tercinta setelah sekian lama gak berkumpul sudah di pelupuk mata. Ah, seharusnya saat mengetik tulisan ini, saya sudah ada di rumah. Tapi siapa yang mengharuskan? Jika pada kenyataannya kita memang hanya manusia yang bisa berencana, sedang yang berhak menentukan adalah Allah.

Kenyataannya pagi ini saya masih di sini. Di kota rantau yang menjelma menjadi kota domisili saya. Vonis dokter yang mengatakan letak plasenta kandungan saya rendah dan rawan terjadi pendarahan ulang seperti yang terjadi dua minggu lalu, memaksa saya untuk mengalahkan ego. Mungkin saat ini naluri keibuan saya sedang mulai diasah.

Dulu, saya gak pernah peduli apapun yang terjadi jika sudah berkeinginan pulang. Ada acara kantor, ya bolos. Badan lagi sakit, ya tetep saya paksa. Pokoknya semua hal akan jadi nomor ke sekian, yang penting hasrat ingin pulang terpenuhi dulu. Sekarang? Keinginan nekat itu sempat terbersit, gak cuma sekali malah. Hehe.

Tapi ketika merasakan tendangan lembut di perut saya, seketika itu pula hati saya luluh. Apa iya saya setega itu mempertaruhkan sebuah kehidupan dari seorang makhluk kecil di perut saya hanya demi ego?! Apa iya hati saya sekeras itu hingga tak mampu berkorban demi keselamatan calon buah hati yang kata banyak orang jauh lebih berharga dari apapun?! Dan akhirnya saya memilih menekan sekuat mungkin ego saya.

Jadi, liburan akhir tahun saya ke mana? Di rumah saja. Rumah nyata maupun rumah maya. Mengikuti berbagai cerita liburan teman-teman sembari berfantasi saya juga tengah melakukan perjalanan yang sama, atau sekedar menikmati warna-warni timeline yang sedang riuh dengan fenomena 'om telolet om'. Sedih? Sedikit. Bosen? Kadang. Hehe. Saya gak tau tiga hari di rumah mau ngapain aja supaya sedih dan bosen gak datang mengintimidasi saya.

Kalau kalian, liburan akhir tahun mau ke mana? Seasyik apa? Cerita, yaaa... saya butuh cerita liburan kalian untuk menstimulasi fantasi saya biar seolah ikut liburan bersama kalian.

Signature

Signature