Nostalgia Putih Abu: Persahabatan Bagai Kepompong

on
Selasa, 09 Februari 2016

Hari minggu kemarin, Andri -- salah satu sahabat baik saya saat SMA, datang ke rumah. Dia sempat nyasar, katanya. Saking lamanya gak mengunjungi rumah saya, mungkin. Bahkan pertemuan kemarin pun merupakan pertemuan kami setelah hampir 5 tahun gak ketemu. Dan Andri datang dengan membawa sebuah kabar bahagia. Sebuah undangan pernikahan.

Andri gak lama di rumah saya, hanya sekitar 30 menitan saja. Tapi efek kedatangannya tertinggal bahkan hingga hari ini. Memori saya seperti kembali memutar episode demi episode masa putih abu-abu 8 tahun silam.

Jika banyak orang mengatakan bahwa masa putih abu-abu merupakan masa-masa paling indah, maka saya akan turut mengaminkannya. Namun jika definisi 'indah' bagi kebanyakan orang adalah 'kisah cinta', maka sama sekali tidak bagi saya. Saya hampir tidak punya sedikitpun kisah cinta di masa SMA. Kalau pertama kali mengenal cinta pada lawan jenis, mungkin iya. Tapi mengenal cinta tidak serta-merta menjadi kisah cinta, kan?!

Masa putih abu-abu saya indah, karna ia dipenuhi dengan segudang kisah manis tentang persahabatan. Ya, pada masa itu saya benar-benar belajar tentang bersahabat. Tentang orang-orang yang luar biasa baik meski bukan saudara. Saya belajar tentang memiliki 'keluarga' meskipun tak setetes pun darah kami berasal-usul sama.

Saya memiliki tiga sahabat. Wahyu Putri Utami -- yang biasa kami panggil dengan sebutan Mami, Novi Andrianto atau Andri, dan Wachid Amilludin atau Amil. Saya biasa memanggil Andri dan Amil dengan sebutan Kakak. Yup, secara otomatis, diantara kami berempat, sayalah bungsunya.


Saya bingung bagaimana menceritakan tentang betapa manisnya kisah kami berempat. Karna saat hendak menceritakannya, dada saya sudah lebih dulu dipenuhi rasa haru, rindu, dan sesak luar biasa. Tanyakan pada seluruh teman seangkatan kami pada masa itu, maka bisa dipastikan semua tau bahwa saya, Mami, Amil dan Andri adalah 'satu paket'.

Mengenang masa putih abu-abu berarti mengenang pertama kali saya jatuh cinta pada seorang kakak kelas, dan Mami dengan memasang muka tembok rela mempermalukan diri meminta foto si 'dia' demi saya. Mengenang masa SMA berarti mengenang saat saya menemani Mami yang sedang pingsan lantaran shock mengetahui 'cinta pertamanya' jadian dengan seorang adik kelas, untuk dibawa ke RSUD Kudus dengan menggunakan becak.

Mengenang masa putih abu-abu berarti mengenang tentang perseteruan saya dan Andri lantaran Andri dengan teman dari kelas sebelah. Bukan, sama sekali bukan lantaran cemburu. Tapi lantaran saya tau bahwa si teman dekat Andri itu tidak bisa menerima kedekatan saya dan Andri sebagai sahabat. Saya dan Andri 3 tahun berturut-turut sekelas, dan selalu saya selalu duduk tepat di depan meja Andri. Selain paling dekat, kami juga paling sering berseteru.

Mengenang masa putih abu-abu, berarti mengenang tentang sebuah penyesalan pada Amil. Menyesal karna saya tau persis dia sedang sedih karna ayahnya tengah sakit serius, tapi saya tak henti merengek padanya tentang perseteruan saya dengan Andri. Menyesal, karna selang sehari setelah saya merengek pada Amil, dia tidak masuk sekolah karna ternyata Ayahnya meninggal dunia. Sungguh saya masih ingat persis ketika saya celingukan mencari Amil yang tak tampak di barisan kelasnya saat upacara. Saya masih ingat persis ketika hendak kembali ke kelas, saya melihat Mami ternyata tengah berada di UKS karna pingsan. Saya masih ingat persis ketika Mami akhirnya membisikkan tentang kabar duka dari Amil sembari tersedu. Saya masih ingat persis betapa menyesalnya saya saat itu yang terlampau tidak peka menafsirkan tatap mata Amil yang penuh gayut keresahan hari sabtu sebelumnya.

Mengenang masa putih abu-abu, berarti mengenang tentang kepedihan luar biasa dalam yang saya rasakan, saat tiba waktunga bagi kami untuk berpisah.

Persahabatan bagai kepompong, merubah ulat menjadi kupu-kupu...

Ya, saya amat setuju dengan lirik tersebut. Bagi saya, persahabatan saya di masa putih abu-abu benar-benar ibarat masa 'kepompong' bagi kami, sebelum menjelma menjadi kupu-kupu yang indah dan cantik. Dan hari ini, kupu-kupu itu telah menjelma satu persatu.

Mami kini telah menjadi ibu dari dua jagoan tampan bernama Kenzie dan Keinan, serta satu calon baby yang masih berada dalam kandungan.

Kenzie dan Keinan

Andri, telah mengambil keputusan untuk menjadi imam bagi wanita pilihannya, yang akad nikahnya akan diselenggarakan tanggal 12 Februari 2016, Insya Allah. I'm really happy for you, Kak... :)


Amil, yang dari dulu sudah 'istimewa', semakin menunjukkan keistimewaannya. Semakin dewasa dan matang, terutama pada religiusitasnya.

Saya? Biar orang lain yang menilai :)

Yang jelas, saya belajar. Bahwa waktu akan mampu mengubah segalanya. Sekuat apapun kami menjaga persahabatan kami, kami tetap tal akan bisa memungkiri bahwa kini kami punya dunua kami masing-masing. Tapi saya tau, meski tak selalu berkomunikasi dan tak lagi mengagendakan untuk bertemu, kami tetap merasa saling memiliki satu sama lain :)

Postingan ini diikutsertakan dalam event Giveaway Nostalgia Putih Abu arinamabruroh.com

(Bukan) Review Film Ketika Mas Gagah Pergi

on
Jumat, 05 Februari 2016
Udah agak basi, sih, ya sebenarnya kalau baru sekarang nulis soal Ketika Mas Gagah Pergi. Sementara filmnya aja udah gulung layar. *bener gak sih istilahnya? :D*

Meskipun basi, gapapa deh. Yang penting apa yang berkecamuk di otak saya tersampaikan *halah*. Pelajaran moralnya, saya harusnya gak boleh angot-angotan nulis dan ngeblognya. Biar gak kelewat moment kayak gini. Xixixi.

Saya sebenarnya kurang suka nonton film. Mending baca novel ke mana-mana. Soalnya, kalau nonton film, apalagi di bioskop yang kursinya senyaman itu, duh... Yang ada langsung ngantuk beraaatttt :I

Tapi entah kenapa saat Ketika Mas Gagah Pergi mulai tayang di bioskop, hati saya tergelitik untuk menonton. Salah satu faktor terbesar ketertarikan saya mungkin karna penasaran dan ingat, bahwa beberapa tahun belakangan seingat saya sempat gencar tentang patungan untuk membuat film Ketika Mas Gagah pergi ini.

Saya gak akan bercerita tentang rangkaian cerita film ini, sih. Hehe. Saya hanya akan menuliskan beberapa point yang menurut saya merupakan 'pesan' buat kita -- para penonton filmnya.

1. Jangan takut berhijrah

Berhijrah, atau berpindah -- dari keburukan menuju kebaikan, pasti berat. Pasti akan ada rintangannya. Tapi apakah lantaran berat, kita jadi enggan untuk berhijrah? Mau sampai kapan kita memilih untuk tetap diam di tempat, sementara kita tau bahwa tempat itu buruk.

Mas Gagah mencontohkan itu. Saat ia memilih hijrah dari kehidupan hedon khas model, gaul, dll... Tiba-tiba berbalik 180° setelah bertemu seorang Kyai yang ia kagumi. Tantangan terberat Mas Gagah adalah ketika adiknya -- Gita -- justru tak menyukai apapun perubahannya, dan malah jadi memusuhinya.

2. Sampaikanlah walaupun satu ayat

Pasti sudah familiar, ya, dengan hadist tersebut. Yup, jika kita tau tentang sebuah ilmu atau suatu kebaikan, jangan segan untuk menyampaikannya (dan mengamalkannya tentu saja).

Salut sekali dengan Yudi (kalo gak salah) yang tak segan berdakwah dari bus ke bus -- seperti pengamen -- hanya saja ia bukan bernyanyi, melainkan berdakwah.

3. Lihat sikon

Yupp... Menyampaikan sebuah kebaikan menurut saya tetap harus lihat sikon. Yah, gimana ya... Kalau terus-terusan berdakwah di bus kota gitu, teriak-teriak di tengah sesaknya bus, panasnya cuaca, dll... Apa iya pesan kebaikannya sampai dengan efektif? Bukannya menyerap pesan yang disampaikan, para penumpang malah pada sibuk mengira itu cara mengamen versi terbaru. Hehe.

Mas Gagah juga gitu. Udah tau adiknya masih antipati. Harusnya menyampaikan dan memahamkannya pelan-pelan. Bukan dengan 'diserang' oake nasehat terus-menerus. Ya makin bete dong.

4. Menghargai

Saya suka dengan nasehat Mas Gagah pada sahabatnya Gita (lupa namanya). Mas Gagah mengatakan, 'jika ada kebaikan yang mungkin belum kamu pahami, paling tidak kamu bisa belajar menghargainya' -- kurang lebih.

Naahhh... Jadi, jangan diduluin nyinyirnya :p

5. Islam itu Rahmatan lil 'a lamin

Yupp... Islam itu Rahmat bagi semesta alam. Bukan hanya untuk yang sesama muslim saja. Rasulullah sudah banyak sekali mencontohkan, kan, bahwa dalam konteks muamalah kita tetap harus bersikap baik pada sesama meskipun berbeda aqidah.

Yudi lagi-lagi mencontohkan. Saat terjadi kebakaran, ia sama sekali tak segan menolong seorang warga nasrani. Bahkan ia bergegas mengabari suami dari ibu yang rumahnya terbakar, yang saat itu tengah berada di gereja.

6. Yang kamu anggap buruk, bisa jadi baik bagimu

Hihi, si Gita itu uring-uringannya pol-polan sama si Yudi. Dia illfeel sama 'pendakwah bus' ini. Gak penting banget, menurut dia. Apalagi Yudi mengingatkan dia pada Mas Gagah-nya yang sekarang mirip banget seperti itu. Dakwah melulu :D

Tapi suatu hari, Gita hampir dicopet. Dan Yudi menolongnya. Jelas saja si Gita malu, orang yang selama ini amat ia benci ternyata menjadi penolongnya.

Alhamdulillah, meskipun sambil ngantuk-ngantuk nontonnya, saya masih bisa menangkap enam point di atas. Itu pesan yang ada dalam film Ketika Mas Gagah Pergi versi saya sendiri sih. Bisa jadi pesan yang ditangkap sama orang lain berbeda dengan yang saya tangkap.

Buat yang sudah nonton Ketika Mas Gagah Pergi, apa pesan kebaikan versu kamu?

Amalia: Wanita Berotak Brilian Yang Memilih Ibu Rumah Tangga

on
Sabtu, 23 Januari 2016
'Pertikaian' antara Fulltime ibu rumah tangga dan Ibu yang memilih berkarier di luar rumah tampaknya masih belum juga bosan dibicarakan, ya. Sudah banyaakkk sekali tulisan-tulisan yang isinya membanding-bandingkan dua pilihan tersebut. Terakhir yang menuai kontroversi sih tentu saja tulisan Pak Ustadz &%#ix itu. Hehehe. *sungkem*.

Tulisan saya yang ini Insya Allah ga berniat membanding-bandingkan dua pilihan itu. Bagi saya -- walaupun saya belum ada di kondisi di mana saya harus memilih -- dua pilihan tersebut tidak akan pernah bisa dibanding-bandingkan. Ini soal pilihan hidup, yang pengambilan keputusannya pastilah didasarkan pada banyaaakkk sekali pertimbangan. Dan jangan lupa, hidup satu orang tidak akan pernah sama kondisinya dengan hidup orang lain.

Saya hanya ingin bercerita tentang Amalia. Dia sahabat saya sejak jaman masih duduk di bangku kuliah. Ia wanita cantik, anggun pembawaannya dan lembut tutur katanya. Yang terpenting, Amalia punya otak brilian. IPK cumlaude, pasti. Bahasa inggrisnya cas cis cus. Bahkan berkat paper yang ia tulis dalam bahasa inggris yang berjudul, 'The Impact Of Target Setting On Management Motivation and Performance' Amalia terpilih untuk menjadi salah satu pemakalah di Simposium Nasional Akuntansi di Purwokerto dan Call For Paper: International Conference di Bali pada tahun 2010.


Amalia saat menjadi pemakalh

Kami -- teman-teman sekelasnya -- rasanya punya alasan kuat jika menduga Amalia pastilah akan menjadi salah satu teman kami yang kariernya cemerlang. Minimal jadi dosen, lalu lanjut studi ke luar negeri, bla bla bla. Yup, bukan hanya kami rasanya. Dosen-dosen kami (yang dekat dan tahu kualitas Amalia) juga menggadang-gadang Amalia sebagai dosen di masa depan. Karna Amalia memang sangat punya kualitas untuk itu.

Tapi inilah hidup berserta pilihan-pilihannya. Kita tidak akan pernah tahu apa yang seseorang pilih untuk hidupnya, meski sebelumnya kita punya alasan kuat untuk segala macam dugaan kita. Termasuk tentang Amalia. Secara mencengangkan, ia jauh lebih memilih untuk menyegerakan menyempurnakan separuh diennya. Amalia adalah teman kelas kami yang menikah pertama kali -- beberapa hari sebelum wisuda :) Tidak hanya sampai di situ, Amalia pun memilih untuk membaktikan hidup sepenuhnya sebagai seorang istri dan ibu -- pilihan yang amat jauh dari dugaan kami sebelumnya. Tapi jangan salah. Ia tetap berkarya meski dari rumah. Amalia kini memiliki sebuah online shop yang ia beri nama Butik Batik Khansa.
Apakah ada pihak-pihak yang menyayangkan? Tentu ada. Tapi sekali lagi, inilah hidup yang Amalia pilih. Sebuah pilihan yang menurut saya juga amat brilian. Kenapa harus menyayangkan seorang wanita berotak pintar yang memilih menjadi fulltime mom? Bukankah itu artinya ia punya kesempatan yang lebih luas untuk membentuk generasi yang juga berotak pintar sepertinya? Ia memilih total menjadi madrasah pertama bagi putranya. Proud of you, Ama :)

Amalia bersama putranya - Asyraf
Eits, tapi tentu saja wanita pintar yang memilih berkarier di luar rumah berarti tidak total menjadi madrasah pertama bla bla bla. Sekali lagi, ini tentang pilihan hidup masing-masing orang. Bagaimanapun, kita tetap butuh wanita-wanita luar biasa yang berkiprah untuk kepentingan umat, bukan? :)

Stop membanding-bandingkan dan nyinyir-nyinyiran tentang pilihan orang lain, ya :)

Pengalaman Pertama Naik Kereta Api

on
Selasa, 19 Januari 2016
Yeeaayyy, akhirnya saya bisa merasakan naik kereta api!!! :D Norak, ya? Biarin! Hihi.

Fyi, merasakan naik kereta api pernah saya tulis sebagai salah satu impian di sini. Dan Alhamdulillah, awal tahun 2016 dibuka dengan terwujudnya hal tersebut :')

Yup, tanggal 9 Januari 2016 lalu, saya bersama sahabat saya memilih kereta api Kaligung yang beranfkat dari Stasiun Poncol untuk menuju Kota Brebes. Emm, keretanya sampai Stasiun Tegal aja, sih. Hehe.


Kereta Kaligung yang kami tumpangi dijadwalkan berangkat Pukul 12.50. Kami sudah sampai di Poncol sekitar Pukul 12.15. Sesampainya di situ, kami sholat jamak dhuhur-ashar di Musholla dalam stasiun. Alhamdulillah, mushollanya bersih, meskipun ukurannya agak kurang luas (menurut saya). Mukenanya juga bersih, tidak baj, dan bagus :). Setelah sholat, karna jam berangkat kereta masih cukup lama, saya iseng menxoba masuk ke pos kesehatan yang ada di Stasiun tersebut. Kenapa tertarik? Karna saya melihat tulisan 'Gratis bagi Penumpang Bertiket' yang dipasang di atas pintunya. Sayang banget, kan, sesuatu yang gratis tidak dimanfaatkan. Haha. Di dalam pos kesehatan, saya cuma minta ditensi, plus numpang nimbang berat badan. Hehe. Seneng karna Bapak Petugasnya bersahabat :)


Seusai dari pos kesehatan, kami langsung menuju Kereta Kaligung yang akan kami naiki. Eh, sebelumnya foto-foto dulu tentu saja. Haha.


Begitu naik, dan duduk di bangku saya, duh... Mendadak saya merasa udik sekali. Hahaha. Keretanya bersih dan nyaman. Jauh sekali dari ekspektasi saya pada label 'kereta kelas ekonomi'. Saat kereta mulai melaju, udiknya saya makin parah -- ribut sekali bertanya pada sahabat saya, 'Kok gak ada bunyinya??!!' ahahahaha. Lah, gimana yaa... Yang saya tahu selama ini, kalau kereta lewat kan bunyinya berisik sekali :D

Apa keudikan saya berhenti hanya sampai di situ? Oh, tentu tidak :D *udik aja bangga!!*. Selang beberapa saat setelah kereta melaju, saya mendengar orang berteriak, 'minum-minum...' macam di terminal dan bus gitu. Saya langsung tanya lagi pada sahabat saya, 'Kok ada orang jualan juga? Terus nanti dia turunnya di mana??'. Sahabat saya -- dengan dahi terlipat -- menjawab, 'Lho, itu kan petugas kereta juga'. Doeng!! Sumpah, saya baru tahu ada fasilitas seperti itu juga :D Mas penjajanya gagah dan rapi niaaann. Hihi. Maklum, ya, temaaann... Selama ini kenalnya cuma terminal dan bus. Hehe.

Sepanjang perjalanan kami heboh sendiri. Foto-foto lah, makan lah, beli pop mie lah. Yang paling heboh tentu saja saat kereta melewati Pantai Pekalongan. Masya Allah.... Indah sekaliiii.



Kami sampai di Stasiun Tegal tepat seperti yang tertera dalam tiket. Keren! 4 jempol untuk KAI atas ketepatan waktunya. Kami cukup lama di Stasiun Tegal, karna masih harus menunggu jemputan. Tentu saja kami memanfaatkannya dengan foto-foto. Hihi.


Narsis di Stasiun Tegal :D

Sebenarnya saya merasa kok naik keretanya sebentar sekali, masih belum puas. Hehe. Semoga lain kali ada kesempatan untuk naik kereta lagi. Aamiin :)

Kesimpulannya, 4,75 dari 5 bintang untuk KAI terutama Kereta Kaligung *review buku kaleee!!* :D. Jauh jauh jauh lebih nyaman daripada naik Bus, terutama Bus Semarang-Jepara yang sering saya naiki. Haha. Tepat waktu, tanpa mangkal, tanpa macet, tanpa sesak :)

Spesial Sambal: Surganya Pencinta Pedas

on
Kamis, 07 Januari 2016

Beberapa tahun terakhir ini, makanan pedas menjadi salah satu primadona di kalangan para pencinta kuliner. Contohnya salah satu merk kripik yang menawarkan tingkat kepedasan dengan beberapa level. Boomingnya kripik level tersebut lalu diikuti dengan munculnya makanan-makanan berlevel pedas lainnya. Semakin tinggi level pedas yang berani dicoba, maka akan semakin keren -- begitu sepertinya salah satu 'tantangan' yang membuat banyak orang penasaran.

Selain makanan-makanan berlevel, tempat makan yang menonjolkan sambel sebagai menu andalan juga semakin menjamur. Salah satunya adalah Spesial Sambal atau biasa disingkat dengan sebutan SS. Di kota Semarang, beberapa kedai SS sepertinya nggak pernah sepi dari pengunjung. Bahkan beberapa malam lalu, di salah satu kedai SS yang saya hampiri, pengunjungnya harus indent tempat terlebih dahulu. Wow!

Apa yang istimewa dari Spesial Sambal? Ya sambalnya! Hehe. Spesial Sambal menawarkan berbagai jenis sambel dengan tingkat kepedasan yang pasti sangat cocok untuk para pencinta pedas. Jenis-jenis sambelnya diantaranya adalah sambel bawang, sambel korek, sambel trasi, sambel mangga muda, dll. Sedangkan untuk menu pendukung, Spesial Sambel menawarkan menu-menu standar dan sederhana. Untuk lauk kita bisa memilih antara ayam goreng, bs beli goreng, nila, belut, pindang, dll. Sedangkan sayurnya ada ca kangkung, ca jamur, dll. Untuk menu-menu sayurannya, tingkat kepedasannya hampir setara dengan sambelnya. Jadi kalau makan sambel plus sayur, pasti akan membuat pencinta pedas serasa berada di surga. Hehe. Keunggulan lain dari Spesial Sambal ialah, porsi nasi yang dihitung hanya berdasarkan jumlah orangnya, bukan banyaknya. Jadi, mau makan sebanyak apapun, nggak masalah, asalkan makan di tempat. Kalau bungkus tentu lain cerita. Hehe.


Untuk kenyamanan tempat, Spesial Sambal mungkin memang masih cukup tertinggal dari beberapa kedai makan sekelasnya. Wastafel yang amat terbatas jika dibanding jumlah pengunjung, penataan tempat yang cenderung kurang rapi, dll. Namun, ada pula yang menarik. Dinding-dinding kedai Spesial Samba dihiasi dengan tulisan-tulisan menarik. Pesan yang ingin disampaikan oleh pihak manajemen kepada pelanggan dituangkan tidak secara 'mentah', namun disampaikan melalui kalimat-kalimat menarik. Contohnya pesan tentang permohonan maaf jika pelayanan mereka ada yang kurang berkenan di hati pelanggan, dituangkan dalam sebuah tulisan tentang memaafkan dalam sebuah bingkai. Ada juga himbauan tentang kesediaan menerima aduan jika makanan yang mereka hidangkan kurang pedas, keasinan, atau lauk yang terlalu gosong.

Sejauh ini, Spesial Sambal masih menjadi primadona bagi saya pribadi. Karna bagi saya, salah satu tolok ukur enak atau tidaknya makanan terletak pada pedasnya. Hehe. Selain menu yang amat cocok dan selalu bisa membuat saya makan banyak, harga yang ditawarkan juga amat bersahabat. Bagi para pencinta pedas, rasanya amat aneh jika belum mencoba sambel-sambel yang ditawarkan oleh Spesial Sambal. Bagi yang domisili di Semarang, Spesial Sambal bisa ditemui di beberapa tempat. Diantaranya adalah di daerah Pedurungan, Lampersari, dan Sompok.

Selamat mencoba pedasnya sambel Spesial Sambal, yaaa...

Kegiatan Untuk Mengisi Akhir Pekan Buat Para Jomblo

on
Sabtu, 12 Desember 2015
Akhir pekan rasanya menjadi waktu yang selalu ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Baik yang masih sekolah, apalagi yang sudah bekerja. Setelah berhari-hari bergelut dengan aneka aktivitas yang menuntut tenaga maupun pikiran diperas, punya 1-2 hari untuk rehat sejenak dari semua itu pastilah amat membahagiakan.

Pertanyaannya, adakah yang tidak menyambut bahagia akhir pekan? Hmm, sayangnya sepertinya tetap ada. Siapa mereka? Para jomblo, salah satunya. Hihi. Meskipun tentu saja enggak semua jomblo, ya, kakaaaa... Jangan tersinggung dulu :p Saya bilang gitu karna saya juga jomblo, dan saya pernah tidak bahagia-bahagia amat menyambut akhir pekan.

Tetap senang sih saat akhir pekan datang. Hanya saja kadang merasa tidak bisa memanfaatkan akhir pekan dengan maksimal. Sementara banyak teman saya menikmati akhir pekan dengan pasangan mereka, saya yang jomblo hanya bisa kebingungan di rumah. Hihi. Kenapa? Mungkin karna saat itu saya bingung dan belum menemukan kegiatan untuk mengisi akhir pekan saya dengan status jomblo yang saya sandang.

Tapi itu masa lalu, kakaaa... Sudah tertinggal jauh di belakang. Oohh, berarti saya sudah engga jomblo lagi, ya?? Ya, masih lah! Kan prinsipnya tetep jomblo sampai akad *jiah* :D Iya, saya masih jomblo, tapi sekarang saya bisa menikmati akhir pekan dengan jauh lebih baik, karna saya sudah punya pilihan kegiatan untuk mengisi akhir pekan saya :)

Apa saja pilihan kegiatannya? Yuk, mari disimak :)

1. Membaca

Duh, kegiatan ini memang asli engga ada matinya, ya. Akhir pekan kok membaca? Bukannya bikin pusing? Ya bacanya jangan buku pelajaran dong, ah :D Baca saja buku-buku ringan -- novel, majalah, atau buku-buku nonfiksi ringan yang temanya kamu sukai. Kalau saya sih seringnya memilih novel :D

Asli lho, dengan membaca akhir pekanmu bisa sangat bermanfaat. Apalagi kalau musim hujan seperti ini. Bergelung dibawah selimut sambil membaca, ditemani cemilan dan teh hangat sungguh rasanya seperti surga *agak lebay* :D

2. Memasak

Ahaaa... Yang ini juga tidak kalah seru. Akhir pekan menjadi waktu yang sangat tepat untuk mencoba resep-resep simple yang bisa dengan mudah kita dapat di internet. Selain kita bisa memanfaatkan akhir pekan dengan positif, keluarga juga pasti turut senang saat masakan kita jadi. Hehe.

Saya lumayan sering memilih kegiatan ini di akhir pekan. Salah satunya adalah membuat pizza magic com yang super simple. Selain pizza, beberapa minggu lalu saya juga membuat nugget ayam untuk keponakan dan untuk saya bawa ke kost :)

3. Internetan

Waaahh, kalau ini sih sebenarnya engga hanya kita lakukan saat akhir pekan, ya. Siapa sih hari ini yang mampu benar-benar memisahkan diri lebih dari sehari dari internet? Sudah sangat jarang rasanya. Tapi, tetap tidak ada salahnya memilih internetan sebagai kegiatan untuk mengisi akhir pekan.

Setidaknya, pada akhir pekan kita bisa menggunakan internet dengan lebih maksimal untuk hal-hal yang bermanfaat. Atau jika kamu blogger seperti saya (malu sebenarnya menyebit diri sebagai blogger), akhir pekan tentulah menjadi saat-saat 'balas dendam' untuk bisa maksimal 'bermesraan' dengan dunia blogging :)

4. Berkumpul Dengan Keluarga

Terdengar mainstreem? Iya, sih! Tapi sejatinya pilihan kegiatan ini harus menjadi prioritas, menurut saya. Semakin dewasa, kegiatan kita semakin bertambah, orang yang kita kenal juga semakin banyak. Hal itu kadang membuat orang-orang terpenting dalam hidup kita, yaitu keluarga, semakin tersisihkan dari perhatian kita.

Maka, memilih berkumpul dengan keluarga saat akhir pekan tentu saja merupakan pilihan yang amat bijak. Mengobrol hal-hal ringan dengan ibu-bapak, main ke rumah kakak yang sudah pisah rumah, bermain bersama keponakan, dll.

Naaahhh, ternyata menjadi jomblo bukan berarti tidak punya banyak pilihan kegiatan, kan, di akhir pekan? Justru kalau punya pacar pilihannya alan jadi sangat sempit :)

Eh eh, tapi kata Pak Ridwan Kamil, jomblo itu nasib, single itu pilihan. Baiklah, sebaiknya kita ganti saja istilahnya dengan SINGLE :D

Yang single, apa pilihan kegiatanmu di akhir pekan kali ini??

Sholat Ritual VS Sholat Aktual

on
Jumat, 11 Desember 2015
Sholat ritual VS sholat aktual? Lho, apa itu? Memangnya ada, ya, istilah seperti itu?

Saya mendapat materi ini dalam salah satu pertemuan kajian pagi rutin di kantor saya. Pertama tentang sholat ritual. Kita semua yang mengaku muslim pasti tahu bahwa kita terikat kewajiban untuk melakukan ritual sholat minimal 5 kali dalam sehari. Ritual sholat ini menjadi jurang pemisah dan pembeda antara muslim dan kafir. Tapi apa jika kita sudah selalu menunaikan sholat 5 waktu lalu sudah cukup? Tentu saja belum.

Sebagian besar dari kita pasti familiar dengan ayat Innassholata tansa anil fahsya' i wal munkar -- sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Nah, inilah yang dinamakan sholat aktual. Yaitu sebuah cerminan sikap sebagai seorang muslim yang senantiasa menunaikan sholat. Jadi sejatinya, tidak cukup hanya dengan menunaikan sholat lalu kewajiban kita sebagai muslim selesai. Perlu ada tindak lanjutnya. Kata Pak Ustadz, jeda antar-waktu sholat adalah saatnya untuk menindaklanjuti sholat ritual kita melalui sholat aktual. Dengan berbuat baik, menghindari perbuatan keji dan munkar, serta menjadi rahmat bagi semesta alam.

Lalu mengapa banyak orang yang sholat belum mampu membuat mereka tercegah dari perbuatan keji dan munkar? Mungkin karna salah satunya mereka masih memaknai sholat sebagai ibadah ritual semata.

Wallahu a'lam bishawwab...

Signature

Signature