Cerita Pengalaman Pertama Ikut Kuliah Online Berbayar

on
Sabtu, 30 Maret 2019


Sekitar setahun terakhir ini, istilah kuliah online semakin menjamur. Baik yang gratis maupun yang berbayar.

Saya pernah beberapa kali ikut kuliah online melalui WA yang tidak berbayar alias gratisan. Hasilnya? Zonk, sih. Bukan karna materinya gak bagus. Tapi karna saya gak serius menyimak materi kuliahnya. Saya belum menganggap serius majelis ilmu bernama kulian online melalui WA itu.

Berdasarkan pengalaman tersebut, saya hampir gak pernah kepikiran mau ikut kulian online berbayar. Takutnya saya tetap gak bisa serius, kan sayang yaaa. Udah bayar, eh gak dapet apa-apa!

Waktu lihat IG Ummu Balqis dan sekolah onlinenya yang bernama @bengkeldiri, saya langsung pengen ikut banget. Karna sadar akhlak dan pengetahuan agama masih compang-camping. Tapi ya itu tadi, maju-mundur, karna bayarnya juga gak bisa dibilang murah untuk ukuran dompet saya.

Berbulan-bulan, keinginan itu saya tunda. Sampai di penghujung tahun 2018, dengan semangat ingin menjadi pribadi yang jauh lebih baik di 2019, akhirnya Bismillah saya mendaftar.

Pengalaman Pertama Ikut Kuliah Online Berbayar

Ternyata ikut kuliah online gratisan dan berbayar, beda sekali rasanya bagi saya.

Apa bedanya?

Mengeluarkan uang sebesar 250 ribu -- yang menurut saya cukup besar -- memberikan efek psikologis yang cukup signifikan untuk saya.

Wah, saya udah ngeluarin uang nih. Jadi harus niat, biar gak rugi. Begitu kira-kira.

Saya menyimak semua materi dengan (cukup) baik. Juga mengerjakan semua tugas (iya, kuliah online juga ada tugasnya) yang diberikan sebagai syarat kelulusan (iya ada lulus dan gak lulus juga, hehe).

Dan apakah kuliah online dengan biaya segitu cukup worth it?

Kalo untuk Bengkel Diri (karna saya ikutnya baru Bengkel Diri aja), worth it sekali!

Uang 250 ribu mah kalo di dompet mungkin dua minggu juga udah gak ada bekasnya ya. Nah ini, 250 ribu dikasih ilmu segitu banyak, seminggu 2x selama 2 bulan.

Efektifkah Kuliah Online?

Kalo untuk saya yang agak susah fokus kalo disuruh duduk diem dengerin penjelasan dosen di kelas, menurut saya kuliah online sangat efektif. Dengan syarat, kitanya bener-bener niat dan menyimak.

Karna apa?

Kuliah online Bengkel Diri ini kuliahnya diberikan melalui grup WA, yang penyampaiannya berupa slide penjelasan materi, dan voice note. Jadi kalo pas gak mudeng atau terdistraksi sesuatu, bisa banget diulang lagi penjelasannya, tanpa kita harus malu karna ketauan gak fokus. Hehe.

Kendalanya?

Karena tau materi bisa didengarkan dan diulang kapan saja, jujur saya jadi agak menggampangkan ketika jam kuliah tiba.

Apalagi jam kuliahnya jam 8 malam, yang mana seringnya saya udah ngantuk dan kebablasan tidur ketika ngelonin Faza.

Dari sesi awal sampai akhir perkuliahan, kayaknya saya gak pernah menyimak materi tepat saat jam kuliah. Hehe.

Satu lagi, tugas kuliah. Dulu aja masih single dan belum punya tanggungan apa-apa, tugas kuliah sering nunggak kan? Lhah apalagi sekarang! Haha. Tapi Alhamdulillah akhirnya bisa terselesaikan semua sih.

Kapok gak ikut kuliah onlien berbayar?

Enggak sama sekali. Insya Allah saya sudah ada rencana untuk mengikuti beberapa kuliah online berbayar lagi. Salah satunya Bengkel Diri 2 (kelas lanjutan). Lagi berusaha nata-nata jadwal nih.

Pokoknya semangat cari ilmu gak boleh padam yaaa meski kita sudah gak di usia sekolah lagi  :)

Ada yang pernah ikut kuliah online juga? Cerita dong gimana pengalamannya ^_^

Inspirasi Gaya Boho untuk Dekorasi Hunian

on
Senin, 25 Maret 2019


Setiap masyarakat yang memiliki hunian pasti akan berusaha untuk membentuk nuansa yang terbaik saat menghuninya. Caranya tentu sangat mudah yaitu dengan mendekorasi setiap area pada huniannya. Interior misalnya.

Ada pandangan, dalam mendekorasi hunian, tren yang populer di masyarakat dalam sebuah tahun adalah kiblat untuk mendekor ruangan. Namun, beberapa orang berpikir kebalikannya, yakni harus melawan dari kebiasaan yang dilakukan. Hal tersebut guna menampilkan sisi originalitas dan keunikan dari dekorasi ruangan mereka.

Bicara soal tema yang 'beda' dan 'unik', salah satu tema bernama boho atau gipsi kini banyak diadopsi oleh beberapa pemukim yang ingin merubah tampilan dekorasi ruangannya.

Boho berasal dari kata bohemian yakni sebuah tema yang syarat dengan gaya hidup bebas dan adventurous nomaden dari aturan-aturan dan tatanan nilai yang dianut. Tema ini terkenal pengaplikasiannya pada pertengahan abad ke-19, khususnya dalam sektor fashion. Karena syarat dengan kepribadian yang bebas, gaya boho juga terpengaruh dari kombinasi beragam warna yang bercampur dengan gaya etnik, hippies, serta vintage.

Dalam desain interior, jika melihat dari gaya bebas dari Boho, tipe interior yang digunakan pasti langsung tertuju kepada gaya maksimalis. Namun, bukan berarti juga kalian tidak dapat memasukkan gaya boho ke dalam desain interior minimalis.

Keunikan setiap tampilan gaya boho menjadikannya sebagai salah satu tren dekorasi rumah di tahun ini. Jika kalian tertarik untuk mengadopsi keunikan dari gaya Boho, apalagi semenjak membeli rumah dijual sebelum melakukan dekorasi, berikut adalah sejumlah ide inspirasi dalam membawa gaya boho ke dalam hunian kalian.

Memajang Kain di Dinding

Keberadaan gaya boho yang hadir dari cara berpakaian atau fashion, membuat pengaplikasiannya pada desain interior selalu identik dengan menampilkan sejumlah kain yang dipajang hampir di keseluruhan ruangan. Bisa ditempatkan pada dinding sebagai pengganti lukisan atau mural untuk menghadirkan kesan artistik pada ruangan, ditempatkan sebagai alas sofa atau alas meja, lampu, bahkan beberapa potongan untuk aksesoris di ruang tidur. Kain yang ditampilan biasanya memiliki pola atau motif yang unik dan etnik dengan sentuhan beragam warna. Hal tersebut sesuai dengan ciri semangat Boho dalam mengekspresikan kebebasan pribadinya. Pemilihan kain yang cenderung terang dengan motif berwarna-warni yang ditempatkan di dinding tersebut juga bermaksud untuk memunculkan sebuah spot utama atau highlight dalam ruangan tersebut.


Perpaduan Tema Rustik pada Dapur

Karakter Boho yang identik dengan jiwa berpetualang juga dapat kalian hadirkan pada dapur kalian. Bukan sebuah ide dapur yang modern, dapur gaya boho justru lebih identik dengan nuansa interior rustik atau pedesaan. Nuansa interior rustik pada dasarnya membawa aspek-aspek yang berkenaan dengan kesederhanaan dan dekat dengan alam. Hal tersebut sesuai dengan gaya hidup Boho pada abad ke-19 yang biasanya tinggal sangat jauh dari kawasan padat (perkotaan) dan lebih dekat dengan nuansa alam terbuka.

Jika diruang-ruang seperti living room atau bedroom sangat mengedepankan aspek artistik dan kebebasan, untuk urusan dapur, kesan yang dimunculkan lebih kepada kesederhanaan dan ketenangan lewat furnitur dan perangkat-perangkat yang terbuat dari material alam seperti batu atau kayu.

Furniture yang Tidak Seirama

Kebebasan dalam pandangan Boho pada interior juga tercermin pada pemilihan kombinasi furnitur yang tidak seirama. Misalnya area duduk pada ruang tamu atau living room yang menggabungkan antara sofa bergaya modern dengan kursi-kursi kayu dan rotan dari proses anyaman tangan.

Tidak hanya pada perpaduan furnitur, bentuk-bentuk furnitur seperti meja atau tempat duduk seringkali memiliki bentuk yang tidak konvensional. Namun dari tidak konvesionalnya bentuk dari furnitur tersebut, justru membuat ruangan memiliki nilai keunikan yang tinggi.

Selain itu, penataan furnitur juga diketahui cenderung tidak sesuai dengan estetika penataan ruang pada umumnya. Bukan memberikan kesan berantakan (messy), justru ruangan menjadi terasa lebih  menyenangkan, santai, dan bersemangat.

Review Cheek & Liptint Wardah

on
Jumat, 22 Februari 2019
Entah kapan persisnya saya mulai gandrung sama gincu dan kawan-kawannya.

Kayaknya sejak nikah sih. Tapi makin menjadi-jadinya adalah ketika pewarna bibir menjadi satu-satunya make up yang saya pakai di wajah.

Serius, satu-satunya. Karna bedak pun saya gak pernah pake lagi sekarang. Apalagi maskara, blush on dll. Jelas hil yang mustahal 😂

Yah meskipun jangan dibayangkan kegandrungan saya pada gincu bikin saya punya selusin. Masih belum sampai level itu sih.

Buat saya, punya lebih dari 3 lipstik itu sudah WOW jika mengingat dulu saya pake lipgloss pun malu. Haha.

Setelah gandrung sama lip cream matte, beberapa bulan lalu saya dibikin penasaran sama liptint yang lagi hits banget.

Kayaknya kok bagus yaaa. Kelihatan natural, fresh, ringan, dan cantik.

Eh kebetulan pas jalan-jalan, lagi ada diskonan Wardah di Transmart. Yowis langsung comot liptintnya Wardhan yang emang bikin saya penasaran.


Setelah dibuka dan dicoba, gimana penilaian saya? Jeng... jeng...

Netto:

5.5 Gram

Shade:

03 Pink ON POINT!



Kalo gak salah Cheek & Liptint Wardah cuma ada 3 pilihan shade.

Harga:

Lupa persisnya. Saya beli pas diskon, kalao gak salah harganya sekitar 35 ribuan.

Klaim:

Moisturising+Nourishing
Pigmented and natural finish
Yummy fruity aroma

Packaging:

 Cheek & Liptint Wardah dikemas dalam sebuah karton kecil imut-imut bernuansa hijau (khas Wardah), pink dan sedikit warna putih.

Di dalamnya, kita akan menemui botol yang sangat unyu, terbuat dari... plastik sih kayaknya. Bukan kaca yang jelas. Kesan yang ditampilkan adalah 'remaja banget'.

Dan di karton yang sekecil itu, Wardah ngasih informasi yang lengkap kap kap tentang komposisi, cara pakai (yang mana baru saya baca ketika bikin review ini), klaim , no. BPOM, dll.

Komposisi:

Aqua, Octyldodecanol, Glycerin, Phytosteryl/lisosfearyl/cetyl/stearyl/behenyl dimer Dilinoleate, Ethhylcellulose, Hydroxyethyl Acrylate/Sodium,dll. Panjang bangett maaf gak sanggup ngetik lengkap, haha.

May content:
CI 16035, CI 17200, CI 45380, CI 45410

Tekstur & Aroma:

Cheek & Liptint Wardah ini memiliki tekstur yang gak kental. Cenderung cair dan ringan.

Sedangkan aromanya kayak permen. Manis-manis segerrr.

Cara Pakai:

Cheek: Tepukkan aplikator ke pipi secara ringan, langsung baurkan dengan jari untuk pipi meronamu.
Lip: 1. Oleskan liptint ke seluruh bibirmu hingga intensitas warna yang diinginkan tercapai. 2. Untuk efek gradasi, oleskan liptint ke bagian dalam bibir lalu baurkan dengan jari.

Swatch:



Ketika di-swatch di tangan, warnanya langsung keluar banget seperti gambar yang atas itu.

Sedangkan gambar yang bawah adalah ketika habis saya lap pake tissue. Cukup kuat bertahan yaa warnanya.

Pemakaian:

ini setelah oles beberapa kali dan berusaha keras biar bisa rata. Haha

Saya paling suka sensasi pertama saat Cheek & Liptint Wardah ini dioles ke bibir. Dingin-dingin segeeerrr.

Cuma, gak seperti saat di-swatch ke tangan, ketika dioles ke bibir saya ngrasanya agak susah rata gitu warnanya. Butuh oles beberapa kali biar bisa bener-bener rata. Entah apa ini saya aja yang kurang pinter mengaplikasikan atau gimana.

Dan beda dengan lipgloss, ini tu gak bikin bibir kita kileng-kileng kayak habis makan gorengan gitu. Hanya ngasih kesan lembab. Dan, beneran ringaaann banget rasanya. Kayak gak pakai apa-apa. Jadi buat yang gak suka pake lipstik karna ngerasa nggedibel di bibir, tapi pengen tetep pakai wewarnaan bibir, Cheek & Liptint Wardah ini bisa jadi pilihan tepat.

Sayangnya, saya kurang sukanya Cheek & liptint Wardah ini kurang bisa meng-cover warna bibir saya dengan baik. Terutama di garis bibir atas bagian pinggir yang warnanya agak hitam itu. Jadi ketika dioles, tetep aja kelihatan hitam yang bagian itu.

Untuk bibir saya yang gampang bangettt kering kerontang, Cheek & Liptint Wardah ini cukup bisa bikin melembabkan, sesuai dengan klaimnya. Apalagi karna hampir tiap hari saya pakai lip cream matte, dengan pakai Cheek & liptint Wardah dulu sebelumnya, bibir saya jadi terhindar dari kekeringan *halah.

Kalau untuk pemakaian di cheek alias pipi, jujur saya belum pernah coba sama sekali. Gak biasa pakai pewarna pipi soalnya. Hehe.

Ketahanan:

Jujur saya belum pernah pakai Cheek & Liptint Wardah ini secara tunggal selama seharian. Seringnya saya pakai dari rumah ketika berangkat kerja, sampai kantor wudhu untuk sholat dhuha, kemudian saya tumpuk dengan Lip Cream Matte.

Cuma, ketika Lip Cream-nya hilang setelah makan gorengan dll, bibir agak terselamatkan karna jadi masih ada sisa ke-pink-pink-an gitu.  Jadi enggak langsung terlihat pucat banget kayak kalau gak pakai lipstik apapun.

Overall:

Secara keseluruhan, kalao disuruh ngasih bintang (macam review buku), saya akan kasih 3 dari 5 bintang.

Tapi kalau ditanya apakah saya akan Re-Purchase atau enggak, jujur sampai saat ini saya merasa kayaknya nanti enggak akan Re-Purchase. Tapi gak tau juga kalau besok-besok berubah pikiran. Hehe.

Berminta nyobain?

Antara Passion, Uang dan Berdagang

on
Rabu, 30 Januari 2019


Dua mingguan lalu, saya nyobain tes personality lagi. Udah pernah sih sebelumnya. Cuma dulu asal selintas lewat aja. Gak terlalu diresapi. Halah.

Yang kemarin itu, saya baca dengan seksama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Halah lagi.

Dan saya jadi makin sadar. Saya ini sebenernya sedang tersesat dan tak tau arah jalan pulang. Halah lagi Zzzzz.

Mau ngomongin apa sih sebenernya?

Ngomongin passion pemirsah. Jadi, Saya tu udah lamaaaa banget ya ngrasa ada yang salah. Sejak SMA kayaknya.

Saya selalu mikir. Kenapa ya saya tu gak ada tertarik-tertariknya sama pelajaran matematika, dll yang berhubungan sama angka. Apalagi Fisika dan Kimia. Beneran saya blas gak mudeng. Sedikitpun.

Dulu saya sedih banget. Dan minder. Diagnosis yang saya tegakkan atas hal itu cuma satu: saya bodoh. Iya, saya pernah merasa sebodoh itu.

Waktu kelas 2 dan kita diminta memilih jurusan, saya pilih Bahasa di pilihan pertama, dan IPS di pilihan kedua. Ternyata di angkatan saya, peminat Bahasan rendaaahhh banget. Akhirnya jurusan itu ditiadakan, dan saya masuk IPS.

Di IPS, saya merasa agak bisa ngikuti materi. Meski masih gak suka sama pelajaran Matematika, tapi masih bisa nyaut dikit lah. Akuntansi yang juga ngurusin angka, juga saya bisa ngikuti banget. Nilai gak mengecewakan. Langsung deh tanpa ragu saya menganggap cocok masuk akuntansi untuk pilihan Jurusan kuliah.

Awalnya saya pengen banget masuk Psikologi. Tapi, mau jadi apaaaa?, kata bapak saya -___-

Maklum ya gengs, sini orang desa. Psikologi itu masih terdengar sangat sangat absurd.

Karna mindsetnya cari jurusan yang bisa gampang dapet kerjaan, ya fix lah mantep masuk akuntansi. Di koran kan lowongan isinya staff administrasi, staff keuangan dan staff akuntansi semuaaa rata-rata. Haha.

Setelah kuliah di Akuntansi, eh kok perasaan itu kembali lagi. Perasaan yang dulu saya rasakan saat ngikuti pelajaran Fisika dan Kimia. Gak se-blank dulu sih. Agak mudeng, dan nilai juga gak mengecewakan. Tapi apa yaaa... semacam gak bergairah gituu. Kayak kalo lagi menjalin hubungan tanpa cinta. Hampa. Halah apaan sih 😂

Tapi yaudah, saya abaikan segala perasaan itu, meski rasanya ngganjel di hati. Setelah lulus kuliah dengan IPK gak mengecewakan, ya jelas langsung cari kerja dong. Cari kerjanya juga yang sesuai background banget.

Setelah enam tahun bergelut di dunia, saya masih seriiiing banget ngrasain perasaan semacam di atas. Adakalanya saya maleeeesss banget ngerjain kerjaan kantor. Jengah. Gak bergairah. Tapi ya gimana, kan butuh uang. Jadi ya tetep kerja apapun yang terjadi.

Untungnya, saya punya hobi yang saya tekuni sejak kuliah. Nulis. Ngeblog. Sesuatu yang dulu dilakukan murni karna ingin melakukan. Bukan karna kepikiran iming-iming ini dan itu.

Dari ngeblog juga, pikiran saya semakin terbuka. Saya dapet banyak ilmu dan info. Yang kadang kalo kebanyakan juga mayan bikin mumet. Xixixi.

Nah, termasuk tentang tema passion. Banyak banget Blogger yang bahas soal passion. Dan saya juga akhirnya jadi seperti sadar dari pingsan. Ooooohhh, apa ini sebabnya karna kerjaan yang selama ini saya geluti itu bukan passion saya, ya?

Jawabannya ada di tes personality kemarin itu. Yup, passion saya bukan di sini. Menurut hasil tes itu, passion saya adalah menulis. Profes yang cocok untuk saya salah duanya adalah menjadi penulis atau psikolog. Huhuhu. Beneran kan ternyata saya tersesat!

Setelah FIX tau kalo tersesat, apakah saya langsung buru-buru balik kanan untuk menuju arah yang benar?

Tentu tidak semudah itu, marimar!

Saya sudah berkeluarga dan punya tanggung jawab. Saya tau suami saya masih butuh bantuan saya untuk memutar roda ekonomi keluarga kami. Jadi sesuatu yang sangat gak mungkin kalo saya tiba-tiba memutuskan resign HANYA KARNA tau bahwa kerjaan saya ini gak sesuai passion.

Masa bodo sama passion kalo butuh uang mah ya 😂

Tapi yang jelas saya makin yakin untuk gak akan di sini sampe pensiun. Entah kapan, saya harus resign. Bismillah.

Maka, pilihan terbaiknya saat ini adalah: tetap kerja, sembari menyiapkan pondasi biar saat tiba waktunya saya harus resign, saya gak oleng-oleng banget.

Tapi ngapain?

Ngeblog? So pasti, Insya Allah akan tetap saya tekuni.

Nulis. Nyoba-nyoba nulis di wattpad. Hihihi.

Lalu berdagang.

Apakah berdagang adalah passion saya? Kalo dari tes persinality di atas, sebenernya enggak. Saya tipe introvert. Harus sering berkomunikasi dengan orang lain yang asing akan sangat menyita energi saya.

Tapi saya pengen tetep nyoba berdagang. Cumaaa, saya mencari sesuatu yang bikin aktivitas dagang jadi menyenangkan. Jadi saya punya kriteria khusus.

Pertama, barang yang saya jual adalah barang yang saya sukai. Saya sempat nyoba jualan jilbab. Karna saya suka gonta-ganti jilbab. Haha.

Tapi karna satu dan lain hal, saya gak lanjut. Lalu saya kepikiran jualan baju anak. Karna, ibu mana coba yang gak suka beliin baju buat anaknya kan?

Kedua, saya gak mau jualan yang butuh banyak energi untuk meyakinkan calon pembelinya.

Saya sempet daftar jadi member sebuah MLM. Tapi, gak saya jalankan bisnisnya, karna fix, gak sesuai banget sama saya. Jualan produk MLM itu harus banget meyakinkan pembeli dengan macem-macem testimoni dan retorika. Apalagi berhubungan sama kulit wajah atau kesehatan kan. Orang gak akan sembarangan gampang percaya.

Saya diyakinkan berkali-kali untuk menjalankan bisnis MLM ini. Iya sih, saya melihat sendiri dengan nyata, banyak orang sukses besar di bisnis itu. Apa saya gak pengen sukses bareng mereka? Berkali-kali saya ditanya seperti itu.

Tapi ya saya realistis aja. Terlalu jauh dari passion saya. Cukup satu kerjaan ini aja yang gak sesuai sama passion. Saya gak merasa perlu memaksa diri saya untuk melakukannya, meski ditawari janji uang sekian banyak.

Begitulah. Maafkan curhat gado-gado saya ini 😅

Satu lagi. Follow @mafaza.babyshop dong guys 😊

Rasa yang Dulu Pernah Ada

on
Rabu, 23 Januari 2019
Judulnya sinetron banget gak sih? 😁

sumber: pixabay
Ini saya pinjem judul postingannya Nyonya Malas beberapa waktu lalu sih. Soalnya kebetulan waktu saya baca tulisan itu, saya sedang merasakan hal yang sama. Niatnya mau segera ditulis, eeehh ketunda terus. Hehe.

Sejak mulai baca novel lagi dua bulan lalu, saya beberapa kali membaca Novel Romance -- yang memang merupakan genre favorit saya.

Terus saya jadi baper. Haha. Tapi bapernya beda.

Kalau dulu waktu masih single,bapernya karna jadi bayangin yang 'iya-iya' kali yaa. Yah pokoknya baper khas single yang udah pengen nikah tapi belum ketemu jodoh lah. Haha.

Nah, kalau sekarang bapernya tu karna jadi terkenang rasa yang dulu pernah ada.Terkenang, lalu jadi kangen.

Kangen ngerasain debar-debar perasaan khas orang lagi jatuh cinta. Terkenang getar hati saat tangan saling menggenggam. Senyum-senyum sendiri waktu baca kata-kata manis si tokoh di novel yang bikin tokoh lainnya berbunga-bunga -- karna inget kayaknya dulu pernah ngerasain hal yang sama 😂

Lalu bertanya-tanya... kok kayak udah lama gak ngerasain yang kayak gitu yaaa. Ke mana perginya rasa yang dulu pernah ada itu?

Terus apakah rasa itu kini tak lagi ada yang artinya gak ada lagi cinta?

Ya enggak gitu dong! Tetep cinta. Tetep sayang.

Tapi ya mau gak mau pasti beda.

Kalo ada yang bilang menikah seharusnya bisa membuat kita jatuh cinta setiap hari pada orang yang sama, yaiya sih bener. Tapi jatuh cintanya pasti beda kan? Emang ada gitu yang udah nikah bertahun-tahun tapi kasmarannya tetep sama terus kayak pas pengantin baru?

Hidup tidak se-novel itu, Marimar 😂

Dulu mah pegangan tangan doang kok rasanya berdebar-debar gak karuan ya 😂 Sekarang sih yang bikin berdebar-debar adalah masih tanggal 20-an eeehhh susu dan diapers udah nipis bangettt stoknya. Ahahaha.

Nah, gara-gara itu kali yaaa salah satunya. Rasa yang dulu pernah ada perlahan bergeser ke rasa yang lainnya 😃

Tapi jangan dipikir baca novel sama sekali gak ada manfaatnya dan cuma bikin baper. Enggak!

Ada loh manfaatnya.

Dengan baca novel romance, sisi-sisi romantis saya yang tadinya tergilas berbagai macam pikiran semacam hari ini masak apa, buahnya Faza apa, setrikaan banyak dan lain-lain, jadi seperti terasah kembali.

Saya jadi lebih peka pada cara lain mas suami menunjukkan kemesraan.

Misalnya, ketika saya sedang nyetrika, tiba-tiba mas suami datang mengusap punggung saya sambil bilang, "Kalau udah capek istirahat aja". Digituin aja saya tiba-tiba jadi berbunga-bunga banget 😂 Gara-gara saat itu saya lagi baca novel yang tokohnya sedang saling jatuh-cinta 😅

Walau gak akan pernah sama rasanya dengan saat pengantin baru, bagaimanapun juga nyala api cinta harus tetap dijaga pendarnya kan?

Dan hal itu bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana sebenernya. Bagi saya, sesederhana baca novel genre romance.

Tapi sayanjuga jadi tau sih. Mempertahankan pernikahan ternyata memang sama sekali gak cukup jika hanya bermodal kasmaran. Kasmaran umurnya gak akan panjang. Maka, komitmen adalah koentji.

Cuma kalo kasmarannya dibiarkan terus memudar dan gak pernah diusahakan untuk kembali menyala, akan sedingin dan sehambar apa kira-kira sebuah rumah tangga? Saya gak tau.

Kalau kalian, apa yang biasanya dilakukan untuk menumbuhkan kembali rasa yang dulu pernah ada?

(Bukan) Review Keluarga Cemara

on
Selasa, 15 Januari 2019
Akhirnya saya nonton di bioskop lagi setelah 3 tahun yang lalu!

Tadinya sama sekali gak kepikiran mau nonton Keluarga Cemara sih, karna pada dasarnya saya bukan orang yang suka nonton. Tapi minggu lalu, kebetulan ada moment yang pas buat hang out sebentar, yaudah deh akhirnya coba-coba berhadiah aja nonton Keluarga Cemara.

credit: Tribunnews.com
Dan ternyata filmnya NYEBELIN BANGET 😭

Iya, nyebelin, karna bikin nangis kemudian ketawa, nangis lagi, terus ketawa lagi, nangis lagi, ketawa lagi. gitu aja terus sampe film selesai. Capek akutu 😑

Waktu rame soal film Keluarga Cemara di IG, saya heran. Saya merasa (sok tau) pemilihan pemainnya gak pas semua.

Sebagai generasi 90-an yang dulu ngikuti banget Keluarga cemara versi aslinya, tentu saja gambaran saya tentang Keluarga Cemara versi film ini akan mirip seperti itu.

Lhah tapi masa iya yang jadi abahnya Ringgo?? Kan beda banget! Abah kan wajahnya ngenes gitu kan di bayangan saya. Kalo Ringgo kan gak perlu ngelawak aja kayaknya udah lucu 😁

Terus masa yang jadi emak Nirina Zubir sih? Aaaarrgh, pokoknya gak pas aja menurut saya.

Tapi itu kan sekedar penilaian sok tau saya.

Setelah nonton langsung filmnya gimana?

Wagelaseehhh, keren!

Ringgo kenapa bisa gak keliatan muka lawaknya gitu yaa. Bagus banget aktingnya. Nirina juga.

Tapi yang paling juara tetep Widuri alias Ara sih. Gemaaass! Natural bangettt, gak ada kaku-kakunya sama sekali.

Soal akting, yang paling kaku adalah Euis yang diperankan oleh Zara JKT48. Euis digambarkan agak pendiem di Film Keluarga Cemara. Tapi sependiem-pendiemnya, tetep terasa gak pas aja ketika ada adegan yang harusnya (menurut saya) dia nanggepi (ngomong) tapi cuma diem dengan muka datar.

Tapi yang paling bikin saya agak gatel pengen komen bukan tentang aktingnya Euis. Tapi penampilannya. Penampilannya kayak gak berubah dengan saat dia masih di Jakarta. Tetep kinclong. Masih tetep pakai lipstik pinky-pinky. Sepele ya, tapi menurut saya jadi agak mengurangi kesan bahwa mereka benar-benar sedang susah.

Emak juga. Penampilannya kurang 'lusuh' menurut saya. Masih terlihat pakai maskara. Hehe.

Jadi, lebih berkesan mana antara Keluarga Cemara versi asli dengan Keluarga Cemara versi Film ini?

Buat saya, dua-duanya meninggalkan kesan dengan cara yang berbeda.

Saat menonton Keluarga Cemara versi asli, saya adalah anak SD yang masih polos. Kesan yang saat itu saya dapat dari Film Keluarga Cemara adalah, bahwa ternyata tetap bisa bahagia kok meskipun punya orangtua yang gak kaya. Kesan yang benar-benar membuat saya berbesar hati dengan kondisi orangtua saya saat itu.

Keluarga Cemara membuat Rosa kecil termotivasi untuk menjadi anak-anak baik yang 'nrimo' kondisi orangtua. Jadi anak yang gak minta macem-macem pada Bapak-Ibu, karna tau mereka gak ada uang.

Sedangkan saat menonton Keluarga Cemara versi film, saya adalah seorang ibu dari satu anak lelaki usia menjelang dua tahun.

Kesan yang tertinggal begitu dalam bagi saya, adalah betapa berat bagi kita orangtua saat harus melihat anak-anak turut serta menanggung kondisi yang serba gak mudah. Dan betapa sering kita merasa ingin melakukan yang terbaik untuk anak, tanpa mau mendengar pendapat si anak sendiri.

Saat nonton kemarin, saya nangis tersedu-sedu bisa dibilang karna saya bisa menempatkan diri jadi dua-duanya. Jadi anak, sekaligus jadi orangtua. Yang harus sama-sama beradaptasi dari kehidupan serba enak, ke kondisi serba sulit.

Jadi anak yang dengan segala keterbatasan kematangan emosi dan pemahaman mereka, dipaksa mengerti kondisi orangtuanya saat ini.

Dan jadi orangtua yang harus tetap berdiri tegak untuk anak-anaknya dan meyakinkan mereka bahwa semua akan baik-baik saja, meski di saat bersamaan, mereka pun merasa limbung.

Dan Ara... aaarrgh, itu anak bikin terharuuu. Dia bener-bener menggambarkan bahwa anak bisa jadi oase menyegarkan bagi orangtua. Di kondisi sesulit apapun, keceriaan Ara membuat orangtuanya punya alasan lagi untuk tetap berbahagia.

Huhu, nulisnya aja saya pengen nangis lagi 😭

Selain jalan cerita yang ditata dengan sangat cantik, musik-musik pengiringnya juga pas banget sih. Tapi untuk soundtrack utama yang judulnya 'Harta Berharga' jujur saya tetep lebih suka versi awalnya.

Tapi ada satu soundtrack lagi yang saya suka banget. Dan saya tergugu lama sekali saat adegan yang diiringi lagu tersebut. Judulnya 'Karena Kita Bersama', yang dinyanyikan oleh BCL juga.

Di sini juga tak apa
Asalkan saling punya
Begini juga tak apa
Karena kita bersama
Percaya saja akhirnya
Satu hari nantinya
Semua ini akan jadi
Cerita yang indah

(Potongan lirik lagu 'Karena Kita Bersama')

Kesimpulan akhir, Film Keluarga Cemara ini bagi saya BAGUS BANGET sih. Hal-hal kecil yang agak mengganggu di atas menurut saya gak terlalu signifikan. Saya mudah memaafkan sih anaknya.

Ohiya, ini film keluarga sih memang. Tapi menurut saya, tetep gak pas kalo ngajak anak usia TK ke bawah untuk nonton. Mereka gak akan paham juga.

Soalnya kemarin waktu saya nonton, banyak yang bawa batita, dan pada nangis di dalem studio 😖

Signature

Signature