2016 In Review

on
Sabtu, 31 Desember 2016
2016 In Review. Tumben banget saya nulis ginian di akhir tahun. Haha. Kayaknya sebelumnya belum pernah.

Why oh why?

Karna 2016 itu ISTIMEWA sekaliii buat saya. Benar-benar tahun penuh warna sekaligus menjadi tahun penuh sejarah dalam catatan hidup saya.

Gimana enggak?! Setelah bertahun-tahun menjadikan 'sesuatu' sebagai resolusi hidup yang terus berulang, akhirnya 'sesuatu' tersebut tercapai di 2016 ini. YEAYY!! Alhamdulillah.


Pasti kalian semua bisa menebak apakah 'sesuatu' tersebut. Ya MENIKAH lah! Apalagi cobaaa? =D

A photo posted by Rosa Susan (@rosalinasusanti) on

Iya, 2016 ini benar-benar warna-warni. Awal tahun 2016, tepatnya malam tahun baru, saya lembur di kantor sampe jam 7-an. Huhu, gara-gara ngurus re-inventing pajak -_-. Alhamdulillah tahun ini Insya Allah gak ada tanda-tanda harus lembur. Tax amnesty juga udah beres. Yeay!

Kalo diulas sedikit lebih detail, di bulan-bulan awal 2016 saya disibukkan dengan berbagai persiapan pernikahan. Gak sibuk-sibuk banget sih sebenarnya. Sebagian besar sudah dihandle oleh keluarga. Yang paling merepotkan justru persiapan hati. Haha.

Pertengahan tahun saya menikah. Subhanallah walhamdulillah. Seperti saya bilang di atas, menikah adalah salah satu resolusi yang saya canangkan berulang-ulang di beberapa tahun terakhir ini =D Setelah berulang-kali harus lapang dada mengikhlaskan resolusi tersebut gak tercapai, tahun 2016 ini Alhamdulillah tercapai =))

Baca: Persiapan Pernikahan

Masih di pertengahan tahun, selang sebulan saya menikah, Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah saya dinyatakan hamil. Duh, gak tau deh harus gimana mengungkapkan perasaan bahagia dan bersyukurnya =')

Baca: Kado Lebaran: Positif

Sedangkan di bulan-bulan terakhir 2016 ini, saya dan mas suami disibukkan dengan persiapan kelahiran buah hati kita yang Insya Allah akan lahir awal tahun 2017 nanti. Benar-benar kesibukan yang menyenangkan. Belanja baju bayi dan segala pernak-perniknya, belanja online pun yang dibuka gak jauh-jauh dari segala perkakas perbayinan. Hihi.

Untuk kerjaan, 2016 Alhamdulillah so far so good. Makin sibuk dan aneh-aneh sih kasus perpajakan di kantor. Tapi bikin saya makin paham soal pajak. Kalau kerjaan ngeblog gimana? Lagi-lagi, Alhamdulilla, kerjaan dari blog di tahun ini meningkat sangat tajam dibanding tahun 2016. Hehe. Yang lebih membahagiakan, sebagian besar perlengkapan bayi yang saat ini sudah saya beli itu dari hasil ngeblog lho. Masya Allah, benar-benar gak nyangka dari sekedar hobi bisa jadi salah satu pintu rizki buat saya =') Gak cuma blog, di 2016 ini juga beberapa kali mulai dapat job buat twitter dan Instagram. Aiiihhh, yang ini bahkan sama sekali gak pernah saya sangka. Terima kasih Blogger Perempuan telah menjadi perantaranya =')

Lalu resolusi 2017 apa? Nanti deh, Insya Allah di postingan lain, sekalian buat ikut GA Mbak Wati =D

Terima kasih atas berbagai rona bahagia di 2016 ini Allah, Segala puji sungguh hanya untuk-Mu.
Ijinkan kami mencecap kembali rona kebahagiaan yang jauh lebih berkah di 2017 nanti. Aamiin.

Jalan Takdir

on
Sabtu, 24 Desember 2016

Pernah gak sih menebak-nebak jalan takdir diri kita sendiri, maupun orang lain? Saat sekolah mengira-ngira nanti bakal kerja apa atau di mana. Atau mengira-ngira kita bakal berjodoh dengan siapa, orang mana, akan tinggal di mana, dan lain-lain.

Pernah?

Saya pernah. Maklum, saya hobinya menghayal plus ngelamun sih. Haha. Gak cuma jalan takdir diri sendiri. Jalan takdir orang lain di sekitar saya juga sering sok-sokan saya kira-kira =D

Nyatanya, apa yang kita perkirakan selalu meleset. Jalan takdir sungguh seringkali penuh kejutan. Ya, saya sungguh takjub dengan perkara ini. Apalagi melihat fakta di lapangan. Contohnya teman-teman saya.

Salah satu teman saya yang prestasinya amat cemerlang, dulu saya membayangkan ia akan punya karir cemerlang di dunia akademik. Lanjut studi ke luar negeri, lalu menjadi dosen dengan karya-karya ilmiah luar biasa. Nyatanya, jalan takdir menuntunnya untuk mengambil keputusan yang gak kalah luar biasa dari apa yang pernah saya perkirakan dulu. Yaitu menjadi ibu rumah tangga, sembari berwirausaha sebagai online shopper. Yang dijual macam-macam. Jual tas ransel anak murah, jual baju anak-anak, hingga gamis dewasa pun ia jual. Benar-benar sesuatu yang hampir sama sekali gak terbayang di benak kami teman-teman kuliahnya.

Lalu ada satu lagi. Seorang teman yang ketika saya dan beberapa teman lain sedang asyik membicarakan keinginan menikah (maklumlah, jamn itu merupakan jaman dimana hasrat ingin menikah begitu tinggi, hehe), ia berkomentar dingin, "aku gak sedikitpun kepikiran untuk melakukan (segera menikah setelah lulus) itu!". Kami cuma ketawa menanggapi komentarnya saat itu. Maklum, dia juga salah satu teman yang punya otak brilian di kelas kami. Cita-citanya pun amat tinggi. Jadi maklum kalau dia gak pengen segera nikah.

Tapi nyatanya? Dia justru yang menikah paling cepat di antara kami yang saat itu ngrumpi pengen segera nikah. Sekarang anaknya udah dua! Haha. Apalagi penjelasannya kalau bukan soal jalan takdir?!

Teman sekolah (SMP dan SMA) lebih berwarna lagi. Gara-gara instagram nih, saya jadi update banget soal kehidupan teman-teman sekolah saya. Ada yang dulu luguuuuu banget penampilannya, eh sekarang modis pakai banget - dan jadi make up artist pula! Ada yang dulu roknya selalu di atas lutut dan hobi jalan-jalan ke MatahariMall, sekarang justru menutup rapat auratnya. Yang sebaliknya juga ada sih. Hehe. Lalu ada yang dulu anaknya sederhana sekali, sekarang hidupnya tampak glamour.

Kalau mau disebutin semua, kayaknya bakal panjang sekali ya daftarnya. Lalu apa pelajaran yang bisa kita ambil dari hal di atas? Sekali lagi, tentang jalan takdir yang misterius. Dan karena misterius, tenju saja kita wajib berikhtiar agar kita mendapat jalan takdir yang terbaik. Iya, kan? Lalu tentang jalan hidup yang bergerak dinamis. Yang harusnya membuat kita gak gampang merendahkan seseorang yang hari ini seolah ada 'di bawah' kita. Karena bisa saja kelak kita dan dia bertukar posisi. Siapa yang tau?

Kalau saya sendiri gimana? Sama sih, jalan takdir saya juga gak terduga. Gak nyangka bakal kerja di institusi tempat saya menyelesaikan pendidikan S1. Lebih gak nyangka lagi ketika kahirnya saya berjodoh dengan seorang laki-laki yang juga bekerja di institusi tersebut. Haha.

Yang terpenting dan harus selalu kita ingat, karena jalan takdir misterius, kita haruslah selalu berprasangka baik atas takdir kita di masa depan. Selalu yakinkan hati bahwa hanya yang terbaik yang akan kita dapat di hari esok :)

Liburan Akhir Tahun


Akhir tahun selalu identik dengan liburan. Apalagi kalau liburnya lumayan panjang seperti tahun ini karna ada cuti bersama. Di mana-mana yang jadi pembahasan jalanan macet, kawasan wisata penuh, dll. Kira-kira timeline juga bakal penuh dengan foto liburan gak, ya? Setidaknya itu akan lebih menyegarkan mata dan hati dibandingkan jika timeline penuh debat kusir soal politik. Haha.

Saya sendiri hampir gak pernah menyengaja liburan (dalam arti datang ke destinasi wisata tertentu) saat akhir tahun. Kalau ada istilah kurang piknik mungkin saya tergolong di dalamnya. Yah gimana enggak, liburan ke tempat wisata paling pas acara sekolah atau acara kantor saja. *ngenes

Meskipun hampir gak pernah liburan (dalam arti piknik) dan menyusun rencana perjalanan travel Breaktime, seenggaknya semenjak saya kerja di kota rantau, libur akhir tahun berarti bisa punya waktu cukup lama untuk bisa menikmati waktu di rumah. Bermanja-manja dengan ibuk. Makan sepuasnya masakan ibuk. Main sama ponakan. Ya, meskipun terkesan sederhana dan seadanya, cara liburan yang seperti itu sudah mampu menghilangkan berbagai penat yang terakumulasi di kepala.

Sayangnya, tidak dengan tahun ini.

Tadinya, saya juga berencana pulang di liburan akhir tahun kali ini. Kebetulan kakak saya (yang mana kami terakhir ketemu saat lebaran lalu) yang tinggal di luar kota juga pulang. Bayangan berkumpul dengan orang-orang tercinta setelah sekian lama gak berkumpul sudah di pelupuk mata. Ah, seharusnya saat mengetik tulisan ini, saya sudah ada di rumah. Tapi siapa yang mengharuskan? Jika pada kenyataannya kita memang hanya manusia yang bisa berencana, sedang yang berhak menentukan adalah Allah.

Kenyataannya pagi ini saya masih di sini. Di kota rantau yang menjelma menjadi kota domisili saya. Vonis dokter yang mengatakan letak plasenta kandungan saya rendah dan rawan terjadi pendarahan ulang seperti yang terjadi dua minggu lalu, memaksa saya untuk mengalahkan ego. Mungkin saat ini naluri keibuan saya sedang mulai diasah.

Dulu, saya gak pernah peduli apapun yang terjadi jika sudah berkeinginan pulang. Ada acara kantor, ya bolos. Badan lagi sakit, ya tetep saya paksa. Pokoknya semua hal akan jadi nomor ke sekian, yang penting hasrat ingin pulang terpenuhi dulu. Sekarang? Keinginan nekat itu sempat terbersit, gak cuma sekali malah. Hehe.

Tapi ketika merasakan tendangan lembut di perut saya, seketika itu pula hati saya luluh. Apa iya saya setega itu mempertaruhkan sebuah kehidupan dari seorang makhluk kecil di perut saya hanya demi ego?! Apa iya hati saya sekeras itu hingga tak mampu berkorban demi keselamatan calon buah hati yang kata banyak orang jauh lebih berharga dari apapun?! Dan akhirnya saya memilih menekan sekuat mungkin ego saya.

Jadi, liburan akhir tahun saya ke mana? Di rumah saja. Rumah nyata maupun rumah maya. Mengikuti berbagai cerita liburan teman-teman sembari berfantasi saya juga tengah melakukan perjalanan yang sama, atau sekedar menikmati warna-warni timeline yang sedang riuh dengan fenomena 'om telolet om'. Sedih? Sedikit. Bosen? Kadang. Hehe. Saya gak tau tiga hari di rumah mau ngapain aja supaya sedih dan bosen gak datang mengintimidasi saya.

Kalau kalian, liburan akhir tahun mau ke mana? Seasyik apa? Cerita, yaaa... saya butuh cerita liburan kalian untuk menstimulasi fantasi saya biar seolah ikut liburan bersama kalian.

Pengumuman Giveaway Blog Tour Happy Pregnancy

Long weekend, yeayyy!!!

Pada liburan ke manaaa? Saya sih di rumah saja! Haha. Ada yang di rumah saja kayak saya? Bagi yang long weekend hanya di rumah seperti saya, pagi ini saya akan berbagi kabar bahagia, supaya kita tidak tenggelam dalam lembah kesedihan terlalu lama *halah, bahasanya!* =D

Sebelum berbagi kabar bahagia, saya mau cerita dulu. Kemarin, saya dan mas suami pulang agak kesorean dari kantor. Gara-gara saya harus menyelesaikan pekerjaan dulu sebelum ditinggal libur. Karena pulang lebih sore dari  biasanya dan waktunya orang pada mudik dalam rangka long weekend pula, bus yang biasanya kami naiki penuh semuaaa. Ya sudah daripada sampe rumah malam, saya memutuskan untuk nekat naik meskipun harus berdiri. Meskipun kaki senut-senut karna bengkak. Huhu.

Melihat saya berdiri sambil meringis menahan sakitnya kaki, mas suami gak tega. Tapi bisa apa, kalau pada kenyataannya gak ada penumpang yang bersedia memberikan tempat duduknya pada saya. Saya maklum sih, gak terlalu berharap ada yang memberi tempat duduk. Ya karna saya pernah ada di posisi orang yang mendapat tempat duduk dan beraaaattt banget rasanya mau memberikannya ke orang lain.

Sampai rumah mas suami cerita. Dari dulu, dia ingiiiiin sekali punya kesempatan untuk bisa memberikan tempat duduknya ke wanita hamil. Tapi belum pernah kesampaian, karna memang belum pernah ada kesempatan untuk itu. Dan mas suami seperti merasa bersalah gitu. Beliau belum pernah memberi tempat duduk untuk wanita hamil, dan hari ini beliau harus melihat istrinya yang sedang hamil gak diberi tempat duduk. Haha.

Setelah merasakannya sendiri, saya baru benar-benar tau. Ternyata lemah yang bertambah-tambahnya wanita hamil itu bukan sekedar basa-basi. Bukan semata karna si wanita hamil manja. Ada kebahagiaan yang bersanding dengan berbagai kepayahan di masa-masa kehamilan.


Eniwei, sekarang saatnya berbagi kebahagiaan melalui pengumuman giveaway blogtour buku Happy Pregnancy. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak bagi teman-teman yang sudah berpartisipasi. Meskipun pesertanya gak banyak, tapi saya tetep seneng bisa share informasi buku bagus buat teman-teman. Semoga bermanfaat :)


Oke, langsung saja ya. Setelah melakukan penilaian (yang mana tim penilainya adalah saya dan mas suami), maka dengan ini kami memutuskan *halah*, bahwa yang berhak memdapatkan buku Happy Pregnancy dari Stiletto Book adalah:

1.  Siti Nuryanti (@NelyRyanti)
2. Pena Edelweiss (@PrinceesAinhy)

Alasannya, karna menurut saya dan mas suami, jawaban mereka berdua adalah yang paling dalam penghayatannya atas apa yang dirasakan seorang ibu hamil.

Selamaaatttt untuk kalian yang menang, yaaa... semoga buku Happy Pregnancy bermanfaat buat kalian. Aamiin.

Ohya, untuk pengiriman hadiah, silahkan melalui message FB maupun DM twitter, yaaa :)

Selamat menikmati long weekend, gaesss! :)

JNE, Salah Satu Penghantar Kebahagiaanku Sebagai Calon Ibu

on
Selasa, 20 Desember 2016
Yang namanya pengalaman pertama, pastilah rasanya jauh lebih menggairahkan. Termasuk pengalaman pertama hamil. Ah, setiap tahapan penuh dengan letup berbagai perasaan. Senang, bahagia, resah, was-was dan gak sabar, bercampur-baur menjadi satu. Dari mulai was-was apakah si jabang bayi sehat di dalam perut, bahagia karna sebentar lagi akan segera ada tawa menggemaskan di rumah, hingga sekedar gak sabar untuk segera berbelanja berbagai perlengkapan bayi.

Kalau mau menurutkan nafsu, saya sudah kebelet berbelanja berbagai perlengkapan bayi sejak pertama kali melihat dua garis di test pack. Haha. Tapi jelas gak mungkin! Apa kabar para sesepuh di sekitar saya kalau sampai saya melakukan hal itu? Bisa ngomel 1001 malam mungkin. 😅

Setelah kesabaran yang begitu panjang, akhirnya usia kandungan saya sudah mencapai 28 minggu (tujuh bulan). Dan itu artinya, tibalah saatnya berbelanja. Yeayy! Kesabaran memang selalu berbuah manis. Tepat saat saya sudah mendapat ijin untuk berbelanja dari para sesepuh, tibalah musim belanja online yang menawarkan diskon-diskon menggiurkan.

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan di beberapa postingan yang lain, saya sebenarnya bukan tipe orang yang doyan belanja online. Selain takut barangnya ternyata gak sesuai harapan, saya juga selalu resah memikirkan jasa pengirimannya. Takut barangnya nyasar, gak sampai atau hilang. Hihi, iya saya ndeso! Untungnya, saya punya suami yang gandrung belanja online. Ya sudah, sejak pagi mas suami langsung gerak cepat berburu diskonan di beberapa toko online, dan YES, dapat!

Waktu melihat pilihan jasa pengiriman yang tersedia, saya sempat protes. Kenapa pilih JNE Express, sedangkan ada jasa pengiriman yang lebih murah tarifnya. Mas suami cuma tertawa sinis sembari menjawab, "pilih yang terpercaya, bukan yang termurah!". Ya sudah, saya oke saja 😆. Tapi dasarnya cerewet, saya protes lagi, "kenapa pilih OKE? Kenapa gak pilih YES aja?". Pak suami cuma bilang, supaya saya belajar bersabar. 😆


Tepat sehari setelah transfer ke toko online bersangkutan, mas suami harus tabah menerima kenyataan tiap hari saya tanyai barangnya sudah sampai mana. Untungnya dia gak perlu depresi menghadapi tingkah saya, berkat kemudahan melacak barang kiriman melalui web-nya JNE.

Hari sabtu kemarin, sepulang saya dan mas suami mengantarkan Bapak-Ibu mertua ke stasiun, Mbak ART memberitahu bahwa ada kiriman paket untuk saya. Deg! Adrenalin saya meningkat seketika, apalagi saat melihat seonggok barang dengan struk JNE di bagian depannya. Cepat-cepatlah saya buka. Ternyata isinya kasur bayi! Huhu, saya lebay mungkin, tapi sumpah saya terharu sekali melihat kasur bayi yang baru saja saya terima tersebut. Gak nyangka sebentar lagi Insya Allah saya akan jadi seorang ibu.

Kasurnya dedek bayi nih =D
Gak lama berselang, ada suara lantang terdengar. "Pakeeettt!!". DEG lagi! Saya buru-buru keluar, dan ternyata yang datang (lagi-lagi) adalah kurir JNE. Dan yang datang kali ini ternyata adalah pompa ASI. Huaaa, makin terharu. Sebentar lagi saya menjadi salah satu pejuang ASI dengan senjata pompa ASI tersebut. Semoga.

Paket kedua hari Sabtu kemarin =D
Penampakan setelah paket dibuka :')
Saya gak nyangka ternyata menjadi calon ibu semembahagiakan ini, bahkan meski sekedar menerima paket berisi perlengkapan seputar bayi. Dan JNE merupakan penghantar rasa bahagia tersebut. Rasa bahagia sekaligus mungkin norak saat pertama kali beli perlengkapan bayi. Yang jelas, cerita baik saya tentang JNE ini sudah sangat cukup untuk membuat saya percaya pada JNE Express. Gak perlu ada lagi kekhawatiran barang gak sampai atau nyasar 😀. Apalagi setelah dengar cerita tentang HARBOKIR (Hari Bebas Ongkos Kirim) yang telah diselenggarakan oleh JNE pada tanggal 26-27 November 2016 dalam rangka ultah JNE yang ke-26. Wow, kok baik banget, ya! Sayangnya saya ketinggalan info soal HARBOKIR ini 😔.

http://www.pungkyprayitno.com/2016/11/punya-cerita-baik-bersama-jne-ayo-tulis.html

Eniwei, kalau kalian, pernahkan JNE menjadi penghantar kebahagiaan juga untuk kalian? Saya tunggu ceritanya, ya! 😉

Happy Pregnancy: Semua Tentang Kehamilan Ada di Sini

Judul Buku: Happy Pregnancy
Penulis: Nana Aditya, S.Si
Penerbit: Stiletto Book
No. ISBN: 987-602-7572-73-7
Jumlah Halaman: 202 Halaman


Hamil merupakan salah satu impian setiap perempuan. Maka, saat kesempatan merasakannya datang, berbagai buncah perasaan pun bercampur menjadi satu. Bahagia tiada tara, tapi sekaligus resah dan gelisah. Apalagi jika itu merupakan kehamilan yang pertama. Yang namanya hamil pertama, pasti kita masih minim pengalaman dan pengetahuan. Saat merasakan suatu keluhan, karna ketidaktahuan, kita menyepelekan. Padahal bisa jadi itu tanda bahwa kita harus waspada.

Hal itu juga saya rasakan di kehamilan pertama ini. Saya yang pada dasarnya lumayan gampang parno, seringkali menyikapi hal-hal yang saya rasakan secara berlebihan. Maklum, karna 90% jawaban atas keluhan saya seringkali saya temukan melalui browsing. Tau sendiri kan, jawaban hasil browsing, terutama bersangkutan dengan kesehatan, seringkali bukannya mencerahkan malah membuat semakin ketakutan.

Karena itu, suami saya suka sebel kalau saya kebanyakan browsing. Mules dikit browsing, pusing dikit browsing, dll. Kata mas suami, lebih baik saya baca buku, apalagi berkaitan dengan kehamilan. Agar informasi yang saya dapat gak grambyang tanpa arah.

Makanya, saya senang sekali ketika bertemu dengan buku berjudul Happy Pregnancy karya Nana Aditya, S.Si terbitan Stiletto Book. Buku ini berisi tentang serba-serbi kehamilan dari A sampai Z, dari mulai tanda-tanda awal kehamilan (halaman 65), ulasan tentang perkembangan janin dari bulan ke bulan (halaman 15-54), hingga mitos-mitos kehamilan yang sering bikin galau pun dibahas lengkap dalam buku ini (halaman 122-132). Padahal bukunya gak tebal-tebal banget, ya. Tapi justru itu yang nyenengin bagi saya. Singkat, padat dan jelas, tapi lengkap!

Sayangnya, saya baru ketemu sama buku Happy Pregnancy ini saat usia kehamilan saya sudah memasuki usia 28 minggu. Ah, andai dari dulu ketemu buku ini, pastinya berbagai ketakutan saya bisa diminimalisir. Pasalnya, banyak gejala yang sebenarnya wajar dirasakan oleh ibu hamil di usia kehamilan tertentu, tapi terlanjur membuat saya takut lantaran saya gak punya sumber bacaan yang tepat.

Dari segi pemaparan, buku Happy Pregnancy juga memakai tutur kalimat yang gak kaku dan gak bikin booring saat baca. Juga selalu menyelipkan kata-kata bermuatan positif, sehingga kata 'Happy' dalam judul buku ini bisa benar-benar saya rasakan saat membacanya.

Meski saya cukup menyayangkan kenapa baru ketemu sama buku ini di usia kehamilan 28 minggu, tapi saya tetap mensyukurinya. Karena mulai bab 7 ke atas, buku Happy Pregnancy ini memaparkan tema-tema yang saat ini sedang menjadi kegelisahan saya. Di antaranya tentang persiapan melahirkan baik mental maupun berbagai hal teknisnya (halaman 148-158), gambaran dan penjelasan tentang saat proses melahirkan (halaman 160-178), hingga pemaparan tentang apa saja yang harus dilakukan pasca melahirkan (halaman 180-193).

Tuuu, lengkap banget, kan? Makanya, saya ingin sekali merekomendasikan buku ini untuk teman-teman yang sedang hamil, sedang merencanakan kehamilan ataupun yang baru bercita-cita hamil. Gak ada kata terlalu cepat untuk belajar, kan? Daripada kayak saya yang baru kelimpungan cari informasi setelah hamil, hayoo?

Nah, kabar baiknya, Stiletto Book sedang baik hati sekali karena menyediakan 2 buku Happy Pregnancy ini untuk teman-teman, dan meminta tolong pada saya sebagai perantaranya. Gimana biar bisa mendapatkan buku ini? Gampang bangettt! Berikut caranya:

  1. Follow Twitter @Stiletto_Book dan Twitter saya (@Rosa_Alrosyid)
  2. Like Fanpage Stiletto Book atau akun IG Stiletto Book (pilih salah satu)
  3. Share info giveaway blog tour ini di media sosial kalian masing-masing dengan mention Stiletto Book dan saya, dan jangan lupa kasih hashtag #HappyPregnancy ya
  4. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar postingan ini, dan jangan lupa sebutkan akun media sosial kalian, ya :)

    Pertanyaannya gampang kok:
 "Apa sih yang terlintas di benak kalian ketika melihat atau bertemu seorang perempuan yang sedang hamil besar?"



Gampang banget, kan? Saya tunggu jawabannya sampai tanggal 23 Desember 2016, ya :)

Catatan Kecilnya Adera

on
Jumat, 09 Desember 2016
sumber: youtube.com
Sejak lulus kuliah, saya hampir udah gak pernah update lagu-lagu terbaru dan hits. Beda banget sama masa-masa sekolah dan kuliah, yang mana tiap ada lagu baru yang rilis pasti langsung punya MP3-nya, dan langsung hafal liriknya. Hihi. Sekarang sih kalo ada lagu baru paling cuma tau sekilas, habis itu lupa. Udah bukan waktunya kali yaa, apalagi lagu-lagu menye-menye penuh kegalauan. Playlist musik di HP juga entah sudah sejak kapan tahun gak pernah saya otak-atik. Isinya aja kebanyakan lagu-lagu jadul jaman saya SMA dan kuliah. Hihi.

Tapi, sejak saya nikah sama si Mas Suami, ada seseorang yang membuat saya jadi tau lagu apa yang lagi hits. Dia adalah adik ipar saya. Haha. Biasalah, anak muda (padahal sih umurnya sepantaran sama saya, hihi), jadi masih update banget soal lagu. Kebetulan, sebagian selera dia lumayan sama dengan saya. Jadi, tiap dia pulang (soalnya dia kerja di luar Jawa, jadi gak selalu di rumah), pasti deh secara gak langsung saya jadi tau lagu apa yang saat ini hits.

Pulang yang terakhir dua bulanan lalu, dia ngasih tau saya sebuah lagu baru yang menurut dia bagus. Yang pertama lagunya Afgan yang duet sama Rossa. Duh, tapi saya lupa judulnya. Saya suka lagunya, tapi ya itu... selintas lalu saja. Gak yang langsung termotivasi menghafalkan lirik. Yang kedua, lagunya Adera. bagus juga, tapi saya gak terlalu memperhatikan detail. Cuma dengar sekilas juga.

Minggu lalu, saya ubek-ubek youtube. Karena lagi bosen denger kajian dan seminar tentang parenting, saya iseng-iseng cari lagu terbaru. Eh, ketemu sama lagunya Adera yang dulu ditunjukin si adik ipar itu. Ternyata judulnya Catatan Kecil, dan saya sukaaa!

Kayaknya udah lama banget saya gak 'jatuh cinta' sama lagu. Tapi Catatan Kecil ini beda. Dia bisa bikin saya jatuh cinta lagi, walaupun jatuh cintanya tetep gak kayak dulu. Saya tetep gak masukin ke playlist di HP sih.

Kenapa suka sama lagu Catatan Kecilnya Adera ini? Karena liriknya menurut saya berisi sekali. Temanya gak tentang percintaan klise bin menye-menye seperti 98% lagu Pop Indonesia saat ini. kalau diresapi, lirik lagu Catatan Kecil bisa bikin kita merenung dan merasa, 'Oh, iya ya...'

Buat yang belum tau, ini nih lirik lengkap, ini nih saya kutipkan, ya :D

Lirik lagu: Catatan Kecil
Bila ingin hidup damai di dunia
Bahagialah dengan apa yang kau punya
Walau hatimu merasa
Semua belum sempurna sebenarnya
Kita sudah cukup semuanya
Bila dunia membuatmu kecewa
Karena semua cita-citamu tertunda
Percayalah segalanya
Telah diatur semesta
Agar kita mendapatkan yang terindah


Impianmu terbangkanlah tingi
Tapi slalu pijakkan kaki dibumi
Senyumlah kembali
Bahagiakan hari ini
Buatlah hatimu bersinar lagi

Bila ingin lebih damai di dunia
Berbagilah bahagia yang tlah kau punya
Kini hatimu terasa
Semua lebih sempurna
Karena kau hidup
Dengan seutuhnya

Impianmu terbangkanlah tingi
Tapi slalu pijakkan kaki dibumi
Senyumlah kembali
Bahagiakan hari ini
Buatlah hatimu bersinar lagi

Bila ingin lebih damai di dunia
Berbagilah bahagia yang tlah kau punya
Percayalah segalanya
Telah diatur semesta
Agar kita mendapatkan yang terindah

Kini hatimu terasa
Semua lebih sempurna
Karena kau hidup
Dengan seutuhnya

(sumber: http://www.wowkeren.com/)
Tuuu, iyaa kan, bagus kaaann?? =D

Yuk kita renungkan. Kita itu sebenarnya sering merasa hidupnya gak damai dan gak bahagia bukan karna kekurangan banyak hal. Melainkan karna kita masih sering gak bersyukur sama apa yang ada. Kita lebih sering ingat apa yang belum kita punya dan apa yang belum bisa kita raih, dibandingkan ingat apa yang saat ini kita miliki. Padahal segala sesuatu itu sudah Allah cukupkan. Semesta telah memeberi dan mengatur semua buat kita secara amat indah.

 Terus apa kita jadi gak boleh punya keinginan? Boleh, boleh banget! Tapi tetap berserah. Biarkan impian kita saja yang terbang tinggi melalui doa, namun kaki dan hati kita tetap harus ada di bumi. Impianmu terbangkanlah tingi. Tapi slalu pijakkan kaki dibumi...

Hihi, sebenernya ini saya sedang menasehati diri saya sendiri sih =))

Pokoknya sukaaa deh sama lagu Catatan Kecilnya Adera ini. Semoga akan ada lagi lagu-lagu dengan lirik berkualitas seperti ini. Gak cuma lagu-lagu yang bikin pendengarnya jadi galau. Hehe.

Tentang Rizki

on
Selasa, 06 Desember 2016

Seusai menemani ibu mertua menghadiri tasyakuran pernikahan putri teman kuliahnya hari sabtu kemarin, kami sholat dhuhur di masjid gak jauh dari lokasi acara. Setelah wudhu dan hendak mengambil mukena di almari masjid, tiba-tiba seorang wanita sebaya dengan saya menghampiri. Dengan tutur kata lembut ia mengajak sholat berjamaan, dan meminta saya menjadi imamnya. Saya sempat menolak dan meminta mbaknya saja yang menjadi imam, tapi ia kekeuh ingin saya mengimami. Baiklah, akhirnya saya bersedia.

Setelah salam dan dzikir beberapa saat, kami bersalaman. Si mbak yang menjadi makmum saya tersebut tiba-tiba berujar, 'mbak, tolong doakan saya agar segera hamil juga. Kan mbaknya lagi hamil, katanya doa ibu hamil Insya Allah mustajab'.

Masya Allah. Hati saya terenyuh seketika. Ingin sekali saya memeluknya, namun rasa canggung akhirnya membuat saya hanya mengelus-elus pundaknya sembari menjawab, 'Aamiin yaa Rabb... iya mbak, saya doakan Allah segera perkenankan seorang keturunan untuk mbak ya. Tetap tawakal dan jangan berhenti ikhtiar ya, mbak...'

Obrolan pun berlanjut. Termasuk memperkenalkan nama diri masing-masing. Mbaknya bernama Iva (bukan nama sebenarnya), umurnya sepantaran dengan saya, dan sudah tiga tahun menikah. Lalu mbak Iva bertanya dimana saya tinggal. Saya bercerita bahwa saya masih tinggal bersama mertua. Saya pun bertanya balik dengan pertanyaan yang sama. Saya kira Mbak Iva masih tinggal bersama mertua juga. Entah kenapa saya sok tau sekali. Ternyata Mbak Iva telah memiliki rumah sendiri bersama suaminya. Gak ingin merepotkan orangtua, katanya.

Ada sebersit iri yang seketika mengusik. Mbak Iva yang penampilannya amat sederhana dan pekerjaan yang gajinya pastilah gak beda jauh sama saya, ternyata sudah punya rumah sendiri. Sedangkan saya dan suami masih numpang. Perasaan itu masih sempat terbawa saat perjalanan pulang. Lalu saya sadar dan beristighafr. Bukankah takaran rizki Allah gak pernah salah dan selalu adil seadil-adilnya?! Lagipula, picik sekali rasanya jika saya iri pada Mba Iva hanya karena ia sudah memiliki rumah sendiri, dan melupakan fakta bahwa saya sudah dikaruniai Allah rizki berupa kehamilan, sedangkan Mba Iva belum.

Beginilah manusia. Seringkali lupa pada apa yang telah dikaruniakan, dan justru hanya fokus pada yang belum ada dalam genggaman.

oOo
Ingatan saya lalu terlempar pada potongan obrolan dengan seorang teman yang sudah lebih dewasa di kantor, pada hari sebelumnya.

Awalnya ia menanyakan apa perkiraan jenis kelamin anak saya menurut hasil USG.

"Insya Allah kambing dua, Pak" jawab saya. Kambing dua (untuk aqiqah) menyimbolkan bahwa anak saya Insya Allah berjenis-kelamin laki-laki.

"Lho, kalau bisa lebih dari dua kenapa tidak. Kan lebih bagus, anggap saja sedekah untuk anak" sahut teman saya tersebut.

Saya tersenyum, mengiyakan. "Doakan ada rizki ya, Pak" lanjut saya.

"Lho, kalau cuma ada rizki, gak usah doa, karena sudah pasti ada. Kan Allah menjamin rizki setiap hamba-Nya. Doanya itu, semoga ditambahkan rizki dari arah yang gak kita duga-duga, dan semoga diberikan rizki yang barakah" jawab teman saya.

Saya tertegun. Ah, iya juga ya. Kadang kalimat doa kita kurang tepat, tapi gak sadar sampai dengan ijin Allah ada yang mengingatkan. Saya sering berdoa, 'Ya Allah, berilah saya rizki', padahal gak satu detik pun Allah pernah membiarkan saya tanpa rizki. Itu hal yang sudah dijamin oleh Allah, bahkan yang atheis dan gak beriman pun Allah jamin rizkinya. Yang gak pernah dijamin itu adalah keberkahan atas rizki yang kita terima. Maka berkah haruslah kita mohonkan. Begitu juga rizki dari arah yang gak kita duga-duga. Selain perlu dimohonkan, hal tersebut harus kita usahakan.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)”

 Apa usahanya? Cukup dengan berusaha menjadi orang yang taqwa.

oOo
Ingatan saya lalu meloncat ke beberapa sosok perempuan. Mereka perempuan-perempuan muda yang baru saja ditinggalkan sang suami menghadap pencipta, sedang bersamanya ada seorang balita yang menjadi tanggu jawab.

Saya yang hanya melihat, seringkali justru resah. Bagaimana mereka menjalani hari-hari ke depan. Bagaimana ia memenuhi segala kebutuhannya bersama putri tercinta. Yang mengagumkan, tak sedikitpun mereka menampakkan keluhan ataupun keresahan seperti yang saya rasakan. Yang mereka perlihatkan justru usaha demi usaha untuk menjemput rizki yang telah dijaminkan-Nya.

Saya malu melihat mereka. Betapa memasuki umur kehamilan tujuh bulan ini, saya sering dihinggapi keresahan soal rizki. Saat ini belum lahir saja kadang keteteran mengatur keuangan agar bisa cukup. Lalu bagaimana nanti jika anak saya sudah lahir dan yang pasti pengeluaran pasti bertambah, sedangkan gaji stagnan? Bagaimana nanti jika saya gak berhasil menemukan pengasuh untuk anak saya saat saya harus bekerja? Kalau saya resign, apa cukup jika hanya bergantung pada gaji satu pintu dari suami?

Astaghfirullah...

Sedangkal itu ternyata tauhid saya :( Saya lupa bahwa Allah menjamin rizki setiap hamba-Nya. Saya lupa bahwa rizki bukan soal seberapa banyak, namun soal seberapa berkah. Yang banyak tapi gak berkah, belum tentu cukup. Sedangkan yang sedikit tapi berkah, pasti cukup. Saya tau ilmunya, tapi ternyata ilmu itu belum benar-benar merasuk ke jiwa saya.

Daripada meresahkan sesuatu yang di luar jangkauan, bukankah lebih baik saya menyibukkan diri saja dengan meminta agar Allah karuniakan keberkahan dalam setiap rizki yang saya terima?!

Menunjukkan Kemesraan di Depan Umum, Yay or Nay?

on
Jumat, 02 Desember 2016


Disclaimer: Sebelum nulis panjang lebar, saya tekankan dulu di awal, ya. Konteks yang ingin saya obrolkan di tulisan kali ini adalah pada pasangan yang sudah resmi menikah. Bukan yang masih sekedar pacaran :)

Pernah gak lihat sepasang muda-mudi anak kuliahan di warung makan yang ngobrol sambil pegangan tangan, atau sekedar saling melempar tatapan mesra?

Lebih sering mana dibanding melihat sepasang suami-istri yang terlihat ngobrol sambil pegangan tangan atau sekedar saling melempar tatapan mesra?

Kalau saya lebih sering melihat yang pertama.

Pernah gak dengar komentar yang bunyinya "semoga langgeng dan segera nikah, yaaa" saat melihat postingan foto atau kemesraan teman yang masih pacaran? Saya sering. Tapi anehnya, dan sayangnya... saya justru beberapa kali mendengar serta melihat komentar yang bunyinya "masih pengantin baru sih, yaa... coba beberapa tahun lagi tetep gitu gak?!" pada sepasang pengantin baru yang terlihat mesra.

Terdengar aneh gak?

Kita kadang beda tipis (atau bahkan lebih parah?) ya sama presenter infotainment. Lihat orang belum nikah ngobrol di ciee-cieeein, seolah melihat hal menyenangkan yang layak jadi hiburan. Eh begitu mereka sudah nikah terus gandengan tangan atau ngobrol mesra dinyinyirin, dibilang 'emang mesraan di rumah aja masih kurang?!'. Lihat orang pacaran posting foto mesra biasa aja, dimaklumin, diwajarin... eh begitu yang udah nikah pamer foto mesra dibilang itu adalah salah satu tanda rumah tangga gak bahagia. Lha piyeeee...

Terus gimana?

Menunjukkan kemesraan di depan umum, yay or nay?

Kalau saya jelas, YAY!

Ya gimana ya, udah halal sih. Apalagi gandengan tangan mesra sama pasangan halal dijanjikan Allah pahala. Sayang banget dong kalau gak dimanfaatkan?! Hehe.

Iya, saya dan mas suami termasuk yang gak segan menunjukkan kemesraan di depan umum. Tapiii, yang dimaksud kemesraan di sini pasti ada batasnya lah. Paling gandengan tangan, ngelus kepala atau saling bertatap mesra. Sebatas itu. Gak mungkin lah sampe yang ciuman, pelukan, dll gitu.

Apa motif kami? Ya karna memang suka aja sih. Saya paling gak bisa jalan sebelahan terus gak gandeng tangan. Sementara mas suami tipe orang ekspresif, yang otomatis susah menyembunyikan ekspresi cintanya pada sang istri =D Selain itu, kami juga pengen menunjukkan bahwa yang sudah nikah juga masih bisa mesra kok, gak cuma yang masih pacaran aja =P #alibi

Di depan orangtua kami (orangtua saya maupun orangtua mas suami) pun kami gak sungkan menunjukkan kemesraan. Dulu sebelum hamil, pas lagi di rumah orangtua saya, saya berkali-kali minta digendong sama mas suami tiap mau ke dapur atau ke kamar mandi. Ibu saya sampe ketawa geli melihatnya. Di depan mertua pun saya gak sungkan menyandarkan kepala ke bahu mas suami. Mas suami lebih parah. Cium-cium pipi saya juga di depan ibunya. Hihihi.

Dan karena kita sekantor, jujur kami akui, cukup susah untuk men-stop kebiasaan menunjukkan kemesraan tersebut saat di kantor. Sekali lagi, kemesraannya sekedar gandeng tangan saat pulang-pergi kantor, atau sesekali ngobrol pas lagi luang, terus mas suami ngelus kepala (yang ini jarang sih, sesekali aja).

Jadi gak profesional dong? Saya bingung sih tolok ukur profesional tu apa aja. Soalnya sejauh ini status kami sebagai suami-istri belum pernah jadi penghambat untuk menyelesaikan segala pekerjaan kami. Kalo soal ada beberapa teman yang komentar ini-itu.... yaahh, ngomongin komentar orang sih gak bakal selesai. Yang kadang bikin saya heran, beberapa teman yang komentar ini-itu adalah termasuk orang-orang yang dulu semangat banget ngompor-ngomporin saya dan mas suami, bahkan jauh sebelum saya ada rasa sama mas suami. Mereka adalah orang yang dulu terlihat bahagia sekali melihat saya dan mas suami ngobrol padahal cuma sekalimat dan itupun soal printer yang rusak. Lalu hari ini mereka bilang risih kalau lihat saya dan mas suami ngobrol (mesra)? Sekali lagi ya, mesra sama pasangan halal itu pahala mbak bro =))

Terus apa kabar dengan usaha menjaga hati teman yang masih single?

Ah, iya. Ini cukup rumit. Saya pernah merasakan jadi single juga. Dan harus saya akui, melihat kemesraan atau postingan foto mesra teman bersama pasangannya itu bikin baper maksimal. Tapi gak sampailah kayaknya saya komentar nyinyir 'coba lihat beberapa tahun lagi masih tetep gitu gak!'. Dan lagi, status single kan memang rawan banget baper. Gak usah deh lihat teman bermesraan, menerima undangan pernikahan teman aja baper pakai banget kan? Terus demi jaga hati teman yang masih single apa berarti gak usah nyebar undangan nikah? Pokoknya kalau soal jaga hati, sekeras apapun orang lain berusaha menjaga hati kita akan percuma jika kita gak berusaha menjaga hati kita sendiri.

Baca:  Tentang Menjaga Perasaan orang Lain dan Segala Kerumitannya

Lagipula, saya sih percaya sekali. Kalau single berkualitas, saat melihat kemesraan temannya dengan pasangan, justru akan mendoakan yang baik-baik sembari berdoa bahwa suatu hari akan tiba giliran untuknya. Doa terbaik saya untuk teman-teman single yang seperti ini :')

Kamu gimana, YAY or NAY menunjukkan kemesraan di depan umum?

Tips Hemat Belanja Online Untuk si Irit

on
Kamis, 01 Desember 2016

Jadi irit tak berarti pelit, irit justru pangkal makmur karena kita terbiasa mengatur keuangan semaksimal mungkin tanpa membiarkan kebiasaan memboroskan anggaran. Karena itu, hidup sebagai orang yang irit tak akan membuat kita jadi sulit, justru bikin hidup menjadi lebih teratur dan bebas dari hutang yang melilit.

Antara hidup irit dan belanja online juga bisa kerjasama kok, tak usah khawatir hobi belanja online terpaksa distop gara-gara mau mulai hidup hemat dan irit. Tenang saja, selalu ada solusi untuk setiap kondisi yang ada dan untuk tetap bisa berbelanja online dengan anggaran yang terbatas, berikut adalah tips hemat belanja online untuk si irit :
  • Berlangganan newsletter. Dengan berlangganan newsletter dari salah satu e-commerce, maka kita bisa dapat voucher spesial, selain itu juga bisa mengetahui adanya promo-promo yang diadakan oleh e-commerce tersebut lebih dahulu dibandingkan dengan kostumer yang tidak berlangganan newsletter.
  • Belanja di situs yang menawarkan cashback. Ada banyak kok situs belanja online yang menawarkan cashback. Jumlah cashback yang ditawarkan juga bervariasi, dari mulai 5% sampai dengan 15%. Semakin besar uang yang kita keluarkan untuk membeli sesuatu, semakin besar pula cashback yang akan kita dapatkan.
  • Berbelanja di hari yang tepat. Setiap online shop dan e-commerce memiliki jadwal promo khusus, misalnya hari khusus untuk dapatkan diskon sekian persen, atau hari khusus untuk beli satu gratis satu. Kita harus mengetahui promo dari setiap e-commerce atau online shop langganan supaya bisa memanfaatkan fasilitas tersebut. Lumayan kan kalau bisa dapat diskon untuk membeli kosmetik seperti Wardah atau Body Shop?
  • Belanja bareng teman supaya bisa bagi dua ongkir. Apalagi jika barang yang dibeli ringan (tak sampai satu kilogram), biasanya tetap dihitung satu kilogram dan lumayan banget ya kalau ditanggung sendiri, apalagi jika kirim ke luar pulau yang notabene ongkir bisa lebih mahal dibanding produknya itu sendiri.
  • Bersabar. Saat iseng melihat-lihat online shop pasti langsung terpikir ingin membeli ini dan itu, kan? Apalagi jika dalam rekening ada sejumlah uang yang bisa dipakai. Tetapi, jangan dulu buru-buru belanja, coba tunggu momen spesial seperti Harbolnas atau Hari Belanja Nasional. Saat itu, semua e-commerce serentak mengadakan pesta diskon, dan semua barang yang kita idamkan pasti akan mendapatkan potongan harga yang hemat abis.
Tidak ada yang melarang kita untuk berbelanja online, bahkan untuk si irit sekalipun. Tetapi, berbelanja dengan bijak dan memanfaatkan momen-momen tertentu pastinya akan memberikan kepuasan tersendiri. Bisa belanja berbagai barang kebutuhan pribadi, sekaligus dapat bonus promo dan tetap menghemat anggaran belanja, itu pasti sangat menyenangkan!

Mengajak Istri Piknik, Pentingkah?

on
Sabtu, 26 November 2016
Kemarin, seorang teman kuliah curhat pada saya lewat instant messanger. Ia mengungkapkan keinginannya untuk bisa bekerja lagi, tapi tak disetujui oleh suaminya. Saya tanya, apa alasan kamu pengen kerja lagi? Ia menjawab bahwa sejak menikah dan resign, ia merasa dunianya terkungkung. Ia bosan, karna seperti ‘terpenjara’ di rumah dan seperti gak pernah melihat dunia luar. Hampir gak pernah ada kata ‘quality time’ baginya dan suami. Sehari-hari hanya bergelut dengan kewajiban satu ke kewajiban yang lain. Bahkan weekend pun suaminya masih harus kerja sampingan. Iri sekali ia melihat teman-teman yang bisa jalan-jalan dengan suami dan anaknya meski hanya ke taman kota, karna momen itu hampir gak pernah ia dapatkan.

Dari nada berceritanya, saya tau teman saya itu sedang sangat kalut. Kejenuhannya mungkin sedang sampai puncaknya. Saya gak banyak komentar atau kasih nasehat kemarin, karna saya merasa yang paling ia butuhkan dari saya adalah telinga yang bersedia mendengarkan ceritanya dengan seksama.

Usai berbalas pesan dengan teman saya tersebut, saya merenung. Saya ingat diri saya sendiri. Weekend lalu, saya ngambek pada mas suami, karna ia berjanji akan menemani saya cari sepatu sekalian mas suami katanya mau cuci mata lihat spesifikasi Oppo F1S, tapi batal karna satu dan lain hal. Saya kecewa berat dan ngambek seharian. Gak tau kenapa minggu lalu sedang jenuh banget di rumah. Bagi saya, setelah lima hari berturut-turut bergelut dengan rutinitas kantor dan rutinitas rumah, pergi keluar rumah meski hanya ke swalayan merupakan salah satu sarana menguapkan kejenuhan.
Ah, pantas saja berbagai meme tentang istri yang merasa butuh piknik, dan istilah ‘kurang piknik’ akhir-akhir ini marak sekali. Konon, perempuan itu jauh lebih banyak menggunakan perasaannya dibanding logikanya. Mungkin itu yang menyebabkan perempuan lebih mudah merasa bad mood atau jenuh. Dan kalau sudah begitu, pasti semua berantakan. Senggol bacok istilahnya. Logika bahwa semua pekerjaan rumah adalah tanggung jawabnya dan kondisi yang memang gak memungkinkan untuk keluar rumah rasanya gak cukup mampu meredam perasaannya yang terlanjur carut marut karna jenuh.

Jadi, kalau ditanya, apakah penting bagi suami untuk mengajak istrinya piknik? Saya pribadi akan menjawab, penting! Penting sekali. Supaya istri tetap waras, karna kewaraasan adalah modal penting bagi istri untuk menjalankan segala kewajibannya, terutama sebagai ibu.

Tapi saya punya definisi sendiri soal piknik. Bagi saya piknik gak harus ke tempat-tempat wisata. Gak harus keluar kota apalagi keluar pulau. Duh, untuk piknik yang semacam itu, jujur saja saya masih lebih sayang sama dompet. Hehe. Piknik bagi saya sedehana. Keluar rumah tiga puluh menit ke swalayan beli sabun mandi dan minyak goreng sambil cuci mata lihat-lihat baju dan sepatu, itu bagi saya sudah piknik. Asal pastikan bisa mengendalikan diri biar gak kalap aja. Bahkan ada seorang teman yang bilang, sekedar ke indomaret beli pampers aja sudah terasa sebagai piknik. Hihi.

Jadi untuk para suami, alangkah baiknya jika bisa lebih peka melihat kondisi batin istrinya. Kalau sekiranya sudah terlihat senewen, jangan segan mengajaknya keluar rumah meski hanya untuk makan es krim. Percayalah, membahagiakan istri itu sebenarnya mudah dan gak bakal ada ruginya. Kalian mengajaknya menikah dulu dengan sebuah janji untuk membahagiakan, kan? Bukan untuk mengurungnya di rumah.

Menyikapi Demo Aksi Damai Bela Islam

 Credit by Okezone.com
Haduh duh duh, beberapa minggu ini timeline panas dan tegang yaaa hawanya. Gak kalah panas sama masa-masa pilpres dulu itu. Hehe. Capek sih ya bacanya, tapi kok tetep betah dan gak rela melewatkan berbagai keseruan di timeline barang sehari. Haha.

Sebagai jamaah fesbukiyah yang loyal, kalau ada rame-rame soal apapun, pasti kita bertanya dong ke diri sendiri, harus bagaimana menyikapinya. Termasuk bagaiamana menyikapi demo aksi damai bela Islam yang sempat (atau masih) ramai.

Saya pribadi, gak ujug-ujug gitu aja sih menyikapi demo aksi damai bela Islam 4 November kemarin itu, meskipun ada beberapa tokoh yang saya kagumi turut membela. Saya berusaha menggali informasi dulu tentang aksi bela Islam ini. Apa alasannya, tujuannya, dll. Saya baca-baca berita terkait aksi tersebut, tapi dari situs-situs terpercaya, bukan dari situs-situs ‘entahlah’ yang saat ini buanyak banget beredar.

Nah, setelah merasa sudah paham, baru saya berani ambil sikap. Harus saya akui saya memilih menunjukkan pada publik lewat akun facebook saya, di kubu mana posisi saya berada. Meskipun saya tau itu mungkin akan memberikan beberapa dampak. Tapi saya berusaha untuk tetap bijak dan gak berlebihan dalam menunjukkan sikap saya. Alhamdulillah, sejauh ini sih timeline saya tetap damai. Jangan sampai lah ada debat kusir di postingan saya.

Termasuk dalam menyikapi demo aksi damai bela Islam berikutnya nanti. Sampai saat ini saya belum tau bagaiamana akan bersikap di media sosial nanti sih. Soalnya saya belum punya cukup informasi soal itu. Makanya saya mulai baca-baca berita tentang demo aksi damai 2 Desember Okezone. Sekali lagi, baca berita juga harus hati-hati sekarang. Pilih situs-situs yang terpercaya dan berimbang.

Kalau kita sama-sama bijak, harusnya gak perlu ada debat kusir dan perang urat-syaraf di timeline ya saat ada kejadian-kejadian seperti ini. Plis deh, kita sudah sama-sama dewasa, kan?

Coba kalau beberapa hal aja kita lakukan, pasti gak perlu ada saling unfriend atau block antar teman. Beberapa hal itu adalah:

Saling menghargai pendapat orang lain. Kalau ada teman menunjukkan sikapnya, atau menunjukkan di kubu mana ia berada – yang ternyata berseberangan dengan kita, mbok yo sudah, gak perlu langsung kebakaran alis (soalnya gak punya jenggot, Hehe). masih ingat kan materi pelajaran PPKN? Saling menghargai pendapat. Kalau semua orang pendapatnya sama, dunia bakal sepi. Gak seru! Seperti yang Aa’ Gym bilang, ini soal rasa. Kalau sudah menyangkut soal rasa, ya gak bisa kita memaksakan semua orang punya rasa yang sama.

Kalau sudah saling menghargai, pastilah gak bakal ada yang saling nyinyir. Duh dear, apa sih enaknya nyinyir? Bikin bahagia, ya? Kalau iya, mungkin ada baiknya kita ngobrol sama psikolog. Hehe.

Satu lagi, bijak yuk ah dalam menunjukkan sikap. Mendukung atau gak mendukung itu hak kita masing-masing, tapi ya tetep sambil berusaha menahan diri. Boleh lah share berita-berita terkait, tapi jangan yang sifatnya provokatif. Pilih yang adem-adem aja.

Jadi, menurut saya sih gak masalah ya menunjukkan sikap di media sosial. Tapi alangkah indah kalau kita tetap berusaha menjaga kedamaian – meskipun hanya di media sosial. Banyak banget lho yang menggunakan media sosial sebagai sarana mencari uang. Masa iya kita masih gak aja demen memakainya sebagai sarana menyalurkan hobi debat? Rugi tauk!

Generasi Baper

on
Kamis, 24 November 2016

Pernah gak sih kalian kepikiran, dulu sebelum ada WA, BBM, Facebook dan lain sebagainya, hidup kita gak seribet hari ini?

Saya pernah. Hehe.

Saya bersyukur sih, bersyukur banget sekarang ada WA, BBM, Facebook dll. Saya itu jauh lebih suka berkomunikasi dan mengungkapkan perasaan atau pikiran lewat tulisan, gak terlalu suka lewat omongan. Makanya saya gak terlalu suka telfonan. Bahkan ke mas suami pun, saya sering menyampaikan uneg-uneg lewat tulisan. Hehe. Soalnya kalau ngomong langsung suka tiba-tiba blank! Nah, berkat WA dan BBM, saya merasa tertolong sekali. Tau kan kalo perempuan ngungkapin uneg-uneg itu bakal sepanjang apa? Kalau belum ada WA atau BBM, entah bakal berapa karakter SMS yang harus saya kirim dan entah berapa banyak pulsa yang akhirnya saya habiskan dalam sekejap. Haha.

Tapi ya itu, saya kadang merasa adakalanya WA, BBM, Facebook dll itu bikin hidup jadi makin ribet.

Kok bisa? Ribet kenapa?

Ribet karna apa-apa dibawa ke perasaan -- atau istilah masa kininya Baper.

Gini. Di BBM ada tanda 'D' sama 'R'. Pasti udah pasa tau, kan. 'D' artinya pesan telah diterima, tapi belum dibaca. Sedangkan 'R' menunjukkan pesan telah dibaca. Apa yang muncul di pikiran kalian saat pesannya sudah bertanda 'R', tapi belum juga dibalas. Misuh-misuh? Saya sih enggak ya, kan wanita sholihah. Haha. Paling nggrundel =P #GagalSholihah. Iya, jujur saya sering bete kalau BBM teman atau siapapun sudah bertanda 'R' tapi gak dibalas, padahal pesan saya saat itu jenis pesan yang butuh respon. Apalagi kalau tandanya 'D' berhari-hari, padahal orangnya bolak-balik ganti Display Picture. Pasti langsung Baper! Kok dia gitu sih, kok dia gak mau baca pesanku, kok dia cuekin aku, jangan-jangan dia bla bla bla.

WA juga gitu. Ada tanda centang satu untuk pending, centang dua abu-abu untuk terkirim dan centang dua biru untuk yang telah dibaca. Gak jauh beda sama BBM, kalau pesan udah menunjukkan dua centang warna biru dan gak segera dibalas, pasti bawaannya baper. Parahnya lagi, di WA ada keterangan last seen, kan? Lha kalau pesan 20 menit yang lalu masih centang dua warna abu-abu padahal last seen-nya satu menit yang lalu, apa gak sama saja kayak menggantung anak gadis orang? Haha.

Jujur saya sering sekali baper soal BBM dan WA. Mas Suami sering jadi korban kebaperan saya. Saya uring-uringan dan bete gara-gara WA gak segera dibalas padahal sudah dibaca, sementara fakta di lapangan adalah Mas Suami dipanggil pimpinannya saat sedang baca pesan dari saya dan belum sempat balas. Padahal kalau sudah terlanjur baper, logika saya suka kayak lumpuh untuk menerima penjelasan =((

Selain soal tanda belum dibaca-sudah dibaca, emot juga kadang suka bikin baper. Kita curhat sedih, dibalasnya beberapa kalimat plus emot ketawa. Makin baper deh pasti, menganggap teman kita menertawakan kesedihan kita. Padahal mungkin maksud teman kita adalah agar kita gak terlalu serius dan sedih. Dia sedang berusaha ngajak kita ketawa. Saya pernah salah menyebut sebuah istilah saat sedang BBM-an dengan seorang teman, eh dia balas emot ngakak guling-guling itu. Seketika saya tersinggung, baper. Saya merasa teman saya menertawakan kesalahan saja. Duh, cetek banget ya saya  -____-

Kalau facebook agak beda cerita, ya. Sebagai manusia yang memang dari sononya suka berkeluh-kesah, kita kadang tergoda untuk curhat lewat status. Sementara orang lain yang membaca status dan kenal kita, seringkali seperti punya 'panggilan jiwa' untuk berkomentar. Kalau kita curhatnya tentang keluhan, seringnya yang komentar cenderung kasih semangat dan nasehat. Saat kasih nasehat, sebenarnya mereka gak bermaksud menghakimi atau menggurui kita. Seolah reflek aja sih ya. Tapi kitanya, bukannya menyambut baik nasehat melalui komentar tersebut, malah lebih sering baper. Merasa dihakimi, dll. Duh dek, lha gimana.


Yang namanya curhat di media sosial, ya memang kudu siap dikomentari, kan? Kalau gak siap dikomentari ya statusnya dibikin status privat aja. Hehe. Soalnya, hampir gak mungkin jika kita berharap komentar yang masuk 100% isinya sesuai yang kita mau. Lha isi kepala orang kan beda-beda.

Gak cuma itu. Lihat foto teman-teman travelling, baper. Lihat teman posting foto mesra baper. Lihat status teman lagi ngomel, baper -- ngira dia lagi ngomel sama kita. Padahal friendlist-nya ada 2000 orang, kok ya yakin banget kita yang dituju =D

Ya, inilah kita (atau cuma saya?) hari ini. Para generasi baper hasil didikan media sosial dan instant messanger. Haha.

Kamu sering baper juga gak?

Belanja Online VS Belanja Offline


Dulu, saya paling anti belanja online – sepertinya saya udah pernah cerita sih soal ini. Ya selain karna emang saat itu belum pernah nyoba (tapi buru-buru bilang anti), saya juga mikir, lha ngapain sih belanja online, wong toko dan mall aja tersebar di mana-mana? Bukannya tetap lebih enak belanja offline alias belanja langsung, jadi bisa memilih dan melihat barang yang akan kita beli secara nyata – gak Cuma lihat gambar?! Gitulah pokoknya pikiran saya.

Saya juga parno, gimana caranya kita bisa percaya sama penjual yang sama sekali gak kita kenal? Lha kalo setelah kita transfer uangnya terus si penjual tiba-tiba hilang tanpa kabar kan bisa banget, kan? Apalagi kalo belanja offline kan bisa nawar. Kalau belanja online emang bisa? Duh, parah ya pikiran ‘konvensional’ saya saat itu.

Tapi sekali lagi, itu dulu, saat saya bahkan belum sekalipun mencicipi gimana rasanya belanja online. Ya gimana, nyicipin aja belum pernah kok nge-judgenya udah macem-macem banget, ya. Sampai pada suatu saat, saya lama-lama pengen lah nyobain gimana rasanya belanja online. Pertama kali, saya coba beli gamis dan ke teman jaman kuliah. Hehe, belum berani belanja di toko online yang bener-bener saya blank siapa itu penjualnya. Terus gimana pertama kali belanja online? Kecewa! ukuran, bahan dan model ternyata gak seindah di gambar. Salahnya saya sih gak baca teliti keterangan gambar tentang ukuran dan jenis bahannya. Namanya juga pengalaman pertama. Hehe.

Sampai pada akhirnya saya dijodohkan oleh Allah dengan seorang lelaki yang hobi sekali belanja online. Hihi, iya, suami saya kalau kerjaan lagi santai hobinya mantengin toko onlie =D beli HP, power bank, headset, dll hampir selalu online. Dari beliau, saya akhirnya tau ternyata belanja online dan belanja offline  itu punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jadi gak bisa dibanding-bandingkan.

Ini nih kelebihan dan kekurangan belanja online dan belanja offline menurut saya:

Kelebihan belanja online

Hemat waktu, hemat tenaga. Ini kayaknya mutlak jadi point teratas kelebihan belanja online, ya. Bagi para pekerja full-time, belanja online itu menolong banget. Setelah pagi sampai sore ada di kantor, masa iya sih malamnya masih mau keluyuran belanja di mall atau toko? Hadehhh, selonjoran di kasur kayaknya lebih enak. Weekend? Sudah ditunggu tuh sama setrikaan! Hihi. Jadi kalau mau belanja cukup buka gadget atau laptop, searching, pilah-pilih, klik beli, transfer, beres.

Selain hemat waktu dan tenaga, belanja online juga sepertinya menawarkan jauh lebih banyak promo. Contohnya, promo harbolnas mapemall yang telah berlalu dan sukses memanjakan nafsu belanja online kita. Hayoo siapa yang lepas kontrol? Haha. Satu lagi, belanja online itu memberikan keleluasaan dalam meilih yang jauh lebih luas karna gak perlu risih udah tanya macam-macam lalu ujung-ujungnya gak jadi beli. Masih banyak sih kelebihannya, tapi nanti kepanjangan.

Kekurangan belanja online

Gak bisa meraba langsung barang yang akan kita beli. Bagian ini cukup menguji hati bagi orang-orang yang saat hendak beli galaunya gak selesai-selesai – seperti saya. Hehe. Selain itu, kita juga harus benar-benar memastikan dan memilih toko online yang terpercaya, biar gak kena tipu.

Kelebihan belanja offline

Bisa meraba dan melihat langsung serta nyata barang yang hendak kita beli. Terus begitu memutuskan beli, kita bayar dan langsung bisa bawa barangnya pulang. Kalau belanja online kan harus nunggu beberapa hari pengiriman sampai barang yang kita beli datang.

Kekurangan belanja offline

Butuh meluangkan waktu dan tenaga banget. Dan itu gak gampang buat yang aktivitasnya segambreng. Terus, kadang kita suka gak puas milihnya soalnya baru tanya-tanya bentar, atau meneliti barang yang mau kita beli beberapa saat, si penjual sudah pasang wajah kurang enak seolah mau bilang, “kalo mau beli cepetan, gak usah pake lama!”. Huhu, nyebelin -_- belanja offline juga promonya saat ada event-event tertentu saja seringnya – seperti saat lebaran, misalnya.

Intinya sih belanja online VS offline sebenarnya bukan untuk dibanding-bandingkan. Semua punya kelebihan dan kekurangan. Tergantung kebutuhan dan kondisi masing-masing pribadi aja. Iya, kan?

Kalau kalian gimana, lebih suka belanja online atau offline?

Pengalaman Mengganti Simcard IM3 di Gerai Indosat Ooredoo

on
Selasa, 22 November 2016

Kurang lebih tujuh tahun terakhir ini, saya percayakan kontak pribadi saya (nomor HP) pada IM3, meski hanya sebatas layanan SMS dan telfonnya saja. Internet sih ke yang lain, hehe. Otomatis, nomor HP saya sudah dikenal oleh sebagian besar teman dan kerabat. Kalau sudah seperti ini, ganti nomor HP tentu bukan lagi perkara sederhana. Perlu banyak pertimbangan.

Saya sudah melewati masa labil di mana saya akan mudah tergoda  untuk ganti nomor HP hanya gara-gara promo dari sebuah provider sih. Masa-masa itu sudah tertinggal beberapa tahun di belakang. Tapi tiga mingguan lalu, saya sempat dilanda galau, saat mas suami sempat (agak) memaksa saya untuk ganti provider.

Gara-garanya, beberapa minggu lalu saya ganti HP. Kebetulan, HP yang ini ukuran kartunya sudah harus pakai ukuran mikro semua. Masalahnya, simcard IM3 saya ini kan simcard versi lama, jadi susah untuk dipotong menjadi ukuran mikro. Sempat dibawa mas suami ke konter HP ntuk minta dipotongkan juga pada gak sanggup, takut malah jadi gak bisa dipakai.

Ya sudah akhirnya minggu lalu, tepatnya hari Sabtu tanggal 12 November 2016, mas suami meluangkan waktu untuk membawa simcard IM3 saya ke Gerai Indosat Ooredoo di Jalan Pandanaran Semarang untuk minta ganti simcard. Sesampainya di gerai indosat Ooredoo, mas suami kecewa berat. Menurut CS gerai indosat Ooredo yang saat itu menyambut mas suami, yang datang harus si pemilik simcard sendiri. Jika yang datang orang lain, maka harus membawa surat kuasa dengan materai 6.000. Hmmm, padahal mas suami sudah bawa KTP asli saya lho. Salah kami sebenernya, kenapa gak cari info dulu tentang prosedur penggantian simcard di Gerai Indosat. Cuma ya tetep kecewa soalnya jarak rumah kami dan galeri indosat itu gak deket, apalagi hari itu mas suami bela-belain datang padahal ibu sedang terbaring di Rumah Sakit.

Kekecewaan tersebut yang bikin mas suami sempat menyarankan saya ganti provider aja. Soale untuk ukuran kota sebesar Semarang aja gerai indosat langka banget, beda sama provider sebelah yang digunakan mas suami. Galerinya di mana-mana ada. Tapi ya ituu, setelah sekian tahun saya pakai nomor IM3, ganti nomor HP bukan perkara sederhana (bagi saya). Pelan-pelan saya utarakan keinginan saya untuk tetap memakai nomor IM3 itu. Dan mas suami setuju aja, meski sepertinya dengan berat hati. Hehe.

Hari Sabtu kemarin, kami datang lagi ke Gerai Indosat Ooredoo. Kali ini saya yang disuruh mas suami ngadep sendiri ke CS-nya. Dia masih kebawa jengkel. Haha. Dan ternyataaaa, prosedurnya simpel banget. Ketika datang, seorang CS menyanyai apa tujuan saya datang. Setelah saya mengutarakan keinginan saya mengganti simcard menjadi ukuran mikro dan menjelaskan alasannya, saya ditanyai nomor IM3 yang hendak saya ganti tersebut. Masnya kemudia mencocokkan data kepemilikan yang muncul di tabletnya dengan KTP asli saya. Setelah cocok, beliau meminta simcard lama saya, memfoto saya dengan tablet di tangannya, kemudian meminta saya tanda tangan -- di tabletnya juga.

Setelah menunggu beberapa menit -- gak ada lima menit -- saya dikasih simcard baru. Dan, selesai! Masnya juga jelasin bahwa pulsa, paket yang sedang diikuti dan masa tenggang masih tetap sama. Hanya saja semua kontak yang tersimpan hilang. Udah gitu aja. Kirain bakal seribet apa -___-. Jadi ribetnya cuma pada bagian: yang datang harus pemilik simcardnya langsung, atau jika diwakilkan harus bawa surat kuasa bermaterai.

Sudah gitu aja, Alhamdulillah saya gak perlu ganti nomor HP. IM3 masih jodoh sama saya ternyata =D

Ragam Kebiasaan Masyarakat Indonesia Saat Menggunakan Media Sosial

on
Sabtu, 19 November 2016

Masyarakat Indonesia memang memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dengan masyarakat dari negara lain. Keunikan tersebut bukan sekadar tentang budaya saja, melainkan juga soal kebiasaan di media sosial. Ternyata beberapa kebiasaan berikut ini kerap dilakukan masyarakat Indonesia ketika menggunakan media sosial :

Share Beragam Informasi yang Heboh

Beragam informasi heboh mengenai pemerintahan atau gosip artis sangat mudah menyebar melalui media sosial. Hal ini tidak mengherankan sebagai masyarakat Indonesia memang menyukai berita-berita terkini yang sedang hangat dibicarakan. Bahkan dalam hitungan menit, berita bisa menyebar dengan cepat di kalangan pengguna media sosial.

Mengunggah Foto-Foto Makanan

Foto-foto makanan adalah konten menarik lainnya yang juga sering diunggah di media sosial. Biasanya tempat-tempat kuliner baru yang memiliki keunikan tersendiri akan menjadi target utama perburuan foto. Fenomena ini membuat para pebisnis kuliner berusaha menghadirkan makanan yang menggugah selera lengkap dengan lokasi yang strategis dan menarik.

Memanfaatkan Media Sosial untuk Bisnis Online

Sudah bukan rahasia lagi kalau para pengguna media sosial di Indonesia juga kerap memanfaatkan media sosial untuk berbisnis. Aneka jenis produk mulai dari makanan sampai produk fashion, semuanya tersedia di media sosial. Bahkan beberapa toko online terbesar seperti MatahariMall pun turut memanfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi dengan para pelanggan. Informasi terbaru mengenai beragam produk mulai dari harga long dress murah sampai promosi gadget bisa didapatkan melalui akun media sosial resmi MatahariMall. Pokoknya semua informasinya tersedia secara lengkap dan mudah diakses.

Follow Akun-Akun Lucu

Akun-akun media sosial yang selalu mengunggah konten lucu adalah salah satu jenis akun yang paling disukai pengguna media sosial. Karena mayoritas pengguna media sosial Indonesia memang menggunakan media sosial sebagai sarana hiburan. Beragam meme lucu yang diunggah di media sosial pun akan menyebar secara cepat di kalangan para pengguna internet.

Di antara keempat kebiasaan tersebut, manakah yang paling unik dan bermanfaat?

Apa pun kebiasaan yang disukai pengguna media sosial Indonesia, sudah seharusnya bila kebiasaan tersebut bisa membawa dampak positif ketika berkomunikasi. Kini saatnya kita menjadi pengguna media sosial yang bijak dan cerdas mengolah informasi.

Keputihan, Apa Solusinya?

on
Jumat, 18 November 2016
Keputihan merupakan sesuatu yang selalu menghantui pikiran kebanyakan wanita. Sepertinya cuma masalah sepele, ya... tapi yang pernah mengalami pasti tau bahwa keputihan sangat bikin gak nyaman. Dan yang harus kita tau, sebenarnya itu bukan hal sepele lho. Keputihan ternyata menjadi salah satu indikasi ada yang kurang beres dalam tubuh kita jika keputihan menunjukkan ciri-ciri tertentu, yaitu:

-Warna kuning atau bahkan kehijauan
-Membuat Miss V terasa gatal
-Berbau tajam

Sayangnya, masih ada saja kaum perempuan yang abai sama masalah-masalah seperti ini. Padahal ini berkaitan erat sama masa depan kita. Salah satunya soal kesehatan rahim. Beberapa waktu lalu ada seorang teman yang bercerita pada saya. Teman saya tersebut tengah menjalani program hamil, karena sudah menikah beberapa tahun dan belum dikaruniai keturunan. Namun sebelum program hamil dimulai, beliau bilang dokter harus memastikan keputihannya yang lumayan parah harus diobati dulu. Saya tanya, sudah berapa lama mengalami keputihan parah seperti itu? Saya tersentak mendengar jawabannya. Ia mengaku keputihan yang cukup parah sudah dideritanya cukup lama, tapi ia mengabaikannya karna mengira bukan hal yang berbahaya. Hmm...

Saya sendiri bisa dibilang cukup sering mengalami keputihan sejak masih single. Tapi dulu keputihannya konon merupakan keputihan hormonal. Keputihan hormonal biasanya dialami seorang perempuan setelah masa menstruasi, berwarna bening, gak berbau, dan gak bikin gatal. Kalo yang ini katanya gak perlu dikhawatirkan, behkan menjadi salah satu tanda bahwa seseorang sedang berada dalam masa subur. Itu penjelasan dari teman saya yang seorang bidan sih, koreksi ya kalau salah :)

Setelah menikah -- sebelum hamil, saya sempat mengalami keputihan yang bikin saya resah. Warna keputihan saya agak keruh, meskipun belum masuk kategori kehijauan dan belum bikin gatal atau bau. Tapi hal itu gak bikin keresahan saya berkurang. Apalagi saat itu saya bisa dibilang sedang 'ngoyo' sama keinginan untuk segera hamil. Saya yang memang tipikalnya parnoan langsung berusaha mencari berbagai info tentang solusi menghilangkan keputihan yang aman dan efektif, karna takut keputihan tersebut semakin parah dan menjadi salah satu sebab keinginan saya segera hamil tertunda.

Gayung bersambut, ketika seorang teman dekat bercerita tentang sebuah produk herbal yang katanya menjadi solusi ampuh bagi keputihan. Namanya Crystal-X. Sudah lama sih sebenarnya dia cerita soal cystal-X, tapi waktu itu hanya sekilas. Saat teman saya cerita lebih detail termasuk cerita bahwa dia sendiri pun pakai dan membuktikan manfaatnya, dia juga cerita soal kakak kandungnya yang dulu sempat keputihan parah dan alhamdulillah sembuh dengan perantara crystal-X. Saya akhirnya tertarik. Ohya, FYI, saya adalah orang yang gak mudah percaya sama promosi produk-produk tertentu yang berhubungan dengan kesehatan. Kenapa kali ini saya percaya, karna yang cerita soal crystal-X adalah teman dekat saya sendiri. Itupun sebelumnya saya bandingkan dulu dengan testimoni-testimoni di internet yang saya telusuri. Banyak banget yang mengakui keampuhan crystal-X ini.


Akhirnya, Bismillah... saya beli Crystal-X. Saya pakai, dan WOW... khasiatnya langsung terasa seketika. Keputihannya sih gak langsung ilang seketika, ya. Yang seketika terasa itu kesetnya. Pantesan teman saya bilang kalau crystal-X juga bisa bikin suami seneng. Haha, bagian ini yang udah nikah pasti paham :) Beberapa hari saya pakai, Alhamdulillah keputihan saya sirna. Hehe. Ohya, cara pakainya ada dua. Direndam dalam air beberapa menit, lalu air rendamannya dipakai untuk membasuh Miss V, atau dimasukkan langsung ke Miss V kira-kira 3 cm, dan diputar ke kanan-kiri secara bergantian. Saya pilih opsi yang pertama sih waktu itu.

Saya gak lama sih pakai crystal-X. Mungkin hanya sekitar sebulanan, karna Alhamdulillah saya dinyatakan hamil. Crystal-X gak mengandung zat bahaya apapun sebenarnya, tapi yang namanya hamil muda dan pertama kali ya lebih baik menghindari pemakaian obat apapun, kan? Penjelasannya banyak dan jelas kok kenapa crystal-X sebaiknya gak dipakai ibu hamil. Sekali lagi, bukan karna mengandung zat berbahaya.

Kalian keputihan? Crystal-X Insya Allah bisa jadi solusinya :)

Ketika Lidah Mampu Menghancurkan Hidup Seseorang

on
Rabu, 09 November 2016

Beberapa hari lalu, seorang teman lama tiba-tiba nyapa lewat FB Messanger. Dia bahas soal Hanum Salsabiela Rais yang satu dasawarsa lebih menunggu hadirnya buah hati -- yang kebetulan baru saja saya share di FB. Dia bilang terenyuh dan merinding. Lalu obrolan berlanjut dengan dia cerita soal salah satu saudaranya yang juga lama nunggu hadirnya buah hati. Baru dua tahun sih. Tapi siapa yang berani bilang dua tahun itu sebentar? Kalo yang udah pernah tau rasanya nunggu, jangankan dua tahun, dua bulan tiga bulan aja bisa terasa lama banget, kan?

Teman saya cerita, bahwa saudaranya (sebut saja Melati, ya, biar gak ribet) baru saja cerai dari suaminya. Gara-garanya, si Melati ini ternyata sudah lama sakit. Bukan, bukan penyakit fisik, tapi sakit yang... emm, mungkin semacam depresi. Saya mulai tertarik mengikuti cerita teman saya. Dan ternyata lanjutan ceritanya bikin hati saya ngilu.

Beberapa bulan setelah nikah, si Melati ini gak kunjung dinyatakan hamil. Padahal, ya pastilah sudah sangat mengidam-idamkan. Orang yang sedang menunggu hadirnya buah hati (atau jodoh) itu, tanpa ditanya ini-itu aja seringkali sudah merasa tertekan, kan? Nah, apalagi kalau ditanya ini-itu, dikomentarin begini-begitu? Ohya, si Melati ini tinggalnya di desa -- dimana desa itu tingkat 'kepeduliannya' pada tetangga tinggi banget. Bahkan kadang hal-hal yang harusnya gak perlu dipeduliin -__- Singkat cerita, lama-kelamaan si Melati menunjukkan perubahan sikap. Dia jadi sering diem, susah banget diajak ngobrol bahkan sama suaminya sendiri. Kadang tiba-tiba teriak-teriak, nangis, dll. Wallahu a'lam sebabnya, tapi pihak keluarga hanya bisa meraba satu kemungkinan,  yaitu tertekan dengar omongan orang tentang dia yang gak kunjung hamil.

Saya gak tanya detail pengobatan apa aja yang sudah diusahakan sih. Gak tanya juga sudah dibawa ke psikiater apa belum. Teman saya keburu cerita tentang suaminya yang akhirnya menyerah dan memilih untuk menceraikan istrinya =( Sumpah, sedih banget dengarnya. Betapa kasian si Melati ini. Tapi kita juga gak bisa nge-judge suaminya gak setia, dll. Kita gak pernah ada di posisi dia, kan?!


Terlepas dari apakah sebab si Melati ini depresi beneran karna omongan para tetangganya atau bukan, saya lebih milih ambil pelajaran. Kalau memang benar itu sebabnya, pelajaran apa yang bisa kita ambil? Lidah, dear, lidah. Bahwa ternyata lidah itu mampu menghancurkan hidup seseorang. Bahwa ternyata lidah itu terkadang benar-benar lebih tajam daripada pedang. Oke mungkin kita bisa bilang si Melati ini gak punya kelapangan hati bla bla bla. Tapi kalau kita mikir gitu, mungkin kita lupa bahwa kondisi psikis tiap orang itu beda. Bersyukurlah kalau kita dianugerahi psikis yang tegar dan sekokoh karang. Tapi jangan sampai bikin kita jadi gampang nge-judge orang yang yang psikisnya rapuh. Ah, gitu aja dipikirin segitunya, bla bla bla. Plis, jangan!

Sudah terlalu banyak lah bukti bahwa lidah mampu menghancurkan hidup seseorang. Jangankan seseorang, negara pun bisa. Lha aksi 4 November kemarin sebabnya kan ya gara-garanya lidah yang gak dijaga, kan? Ah, cukup, gak mau perpanjang bahas itu, hihi.

Ayolah, bareng-bareng kita mulai belajar jaga lidah. Gak perlu komentar atau nge-judge macem-macem, gak perlu juga basa-basi gak penting. Saya juga masih suka jutek dan berpotensi menyakiti orang lain sih. Makanya saya bilang, ayok bareng-bareng belajar. Ini bukan cuma soal ke seseorang yang sedang menanti hadirnya buah hati, ya. Ke teman yang belum nikah juga, atau ke seorang ibu yang gagal memberikan ASI Eksklusif pada bayinya.

Seperti yang pernah ditulis Mbak Irawati Hamid -- seorang teman Bloger dari Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, tentang hal-hal yang gak seharusnya kita katakan pada ibu yang gagal memberikan ASI Ekslusif pada bayinya. Mbak Irawati ini merupakan bloger yang dulunya juga gagal memberikan ASI Ekslusif pada bayinya, dan merasakan betapa frustasinya saat-saat seperti itu. Frustasi karena merasa gagal sebagai ibu dan merasa bersalah karena gak bisa kasih yang terbaik untuk anak. Sudah gitu, eeehh masih dikomentarin macem-macem. Coba bayangin gimana rasanya -____-. Kalau mau baca selengkapnya buat referensi untuk menjaga lidah saat ketemu teman yang gagal kasih ASI Eksklusif buat anaknya, monggo berkunjung ke blog Mbak Irawati Hamid.

Header Blog Mbak Irawati Hamid
Ohya, tambahan dikit. Di era digital gini, jaga lidah aja kayaknya gak cukup, ya. Harus jaga jari juga biar gak nyetatus nyakitin hati yang baca, atau komentar nyinyir atau bikin gak enak hati. Kalau ada orang yang sekarang gendut, jerawatan, kusut dll padahal dulunya enggak, ya cukup dibatin aja kali, yaaa... gak perlulah diungkapkan lewat komentar yang artinya bakal dibaca banyak orang. Itu beda tipis sama mempermalukan lho. Ini setengah curhat sih =P

Signature

Signature